RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
YANG BERPERANG


__ADS_3

...***...


Raden Gentala Giandra terkejut, mendengar suara keras dari Senopati Mandaka Sakuta.


"Kau masih saja membela raja busuk itu!. Sudah jelas-jelas dia mengirim santet pada kakek prabu!." Ia sangat marah, mengapa Senopati itu masih saja membela prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.


Namun ketika mereka berdebat tiba-tiba angin kencang menerpa mereka. Suasana perang itu semakin kacau, mereka berusaha melindungi diri mereka masing-masing.


Begitu juga dengan suasana perang Raden Hadyan Hastanta melawan Raden Ganendra Garjitha. Tiba-tiba saja angin kencang menerpa mereka, para prajurit mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tidak bisa mereka lihat sama sekali.


"Apa yang terjadi sebenarnya?." Raden Hadyan Hastanta sama sekali tidak mengerti, tapi sepertinya ini sangat buruk karena pertahanan mereka bisa hancur.


...***...


Jaya Satria tiba di Istana dan muncul di ruangan pengobatan, ia segera membaringkan tubuh Putri Andhini Andita ke tempat tidur yang ada di ruangan itu.


"Ada apa tuan pendekar?. Apa yang terjadi pada gusti putri andhini andita?." Tabib istana yang kebetulan ada ruangan itu terkejut, melihat luka yang dialami oleh tuan putri raja.


"Obati saja lukanya. Aku harus segera pergi. Aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan mu itu." Jaya Satria ingat, ia harus segera kembali ke sana. Karena harus segera menyelamatkan Putri Ambarsari.


"Sandika tuan Pendekar." Tabib istana itu mengerti, dan ia segera melakukan tugasnya.


Tanpa banyak membuang waktu, Jaya Satria menghilang dari raungan itu. Ia kembali ke tempat ia bertarung tadi.


Saat ia tiba di sana, ia terkejut melihat suasana perang yang sangat kacau, mereka semua sudah bergelimpangan di tanah, termasuk putri Ambarsari.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria sangat tidak tega melihat itu, ia segera menggendongnya, membawanya ke istana.


Begitu tiba di ruang pengobatan, ia membaringkan putri Ambarsari di tempat tidur, yang tak jauh dari Putri Andhini Andita yang sedang diobati oleh tabib istana.


"Obati mereka berdua, dan rawat mereka dengan baik. Aku tidak mau keduanya terluka." Ia memberi pesan pada tabib istana.


"Sandika tuan pendekar." Ia tentunya akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan kedua putri raja, jika tidak nyawanya yang menjadi taruhannya.


Lagi-lagi Jaya Satria menghilang dari sana, ia menuju suatu tempat untuk melihat lokasi perang lainnya.


...****...


Sementara itu di gerbang istana.


Sang Prabu sedang membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk membentengi istana dari gangguan gaib. Gulungan awan hitam yang berada di langit Kerajaan Suka Damai bukanlah awan biasa, melainkan kumpul jin yang sedang membawa kedengkian, permusuhan, bahkan sifatnya dapat membunuh.


Untung saja Rakyat kota raja sudah diungsikan oleh sang prabu ke tempat aman. Jadi ia lebih berkonsentrasi dalam menyerang pasukan gaib itu dengan tenaga gaib pula. Dengan dibantu oleh Syekh Asmawan Mulia ia akan mengatasi pasukan gaib itu.


...****...


Kembali ke Jaya Satria.


Saat ini ia sampai di lokasi perang yang dipimpin oleh Raden Hadyan Hastanta. Ia menahan tubuh Raden Hadyan Hastanta, karena baru saja di serang oleh Raden Ganendra Garjitha.


"jaya satria." Raden Hadyan Hastanta melirik ke belakangnya, ia tidak menyangka akan dibantu Jaya Satria?.


"Apakah Raden tidak apa-apa?." Ia menatap lurus ke arah Raden Ganendra Garjitha yang sedang dikuasai oleh kemarahan.


"Berani sekali, kau ikut campur dalam pertarunganku!." Ia sangat marah, padahal ia sangat ingin membunuh Raden Hadyan Hastanta. Jika saja tidak ditahan oleh Jaya Satria, ia tadi akan melanjutkan serangannya.


"Tidak usah kau turuti amarahmu. Lihatlah sekitarmu, prajurit yang mau pimpin telah tewas semua." Apakah kemarahannya sudah menutup mata hatinya, untuk melihat keadaan sekitar?.


"Tidak usah kau menasehatiku!. Kau juga akan aku bunuh!. Karena kau membela raja busuk itu!." Hatinya semakin dipenuhi kemarahan.


"Jaya satria. Bukankah kau bersama rayi andhini andita?. Mengapa kau di sini?." Raden Hadyan Hastanta merasa aneh dengan keberadaan Jaya Satria di sini.

__ADS_1


"Mohon maaf sebelumnya raden. Putri andhini andita saat ini sedang terluka. Hamba telah membawanya ke istana, untuk segera di obati." Jaya Satria menjelaskannya.


"Apa?. Adikku terluka?." Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut, hatinya jadi gelisah dengan keselamatan adiknya.


"Ahahaha sepertinya adikku ambarsari, berhasil melukai adikmu, hadyan hastanta." Raden Ganendra Garjitha malah senang mendengarnya.


"Bedebah kau!." Raden Hadyan Hastanta jadi murka mendengar itu, ia hampir saja menyerang Raden Ganendra Garjitha jika tidak ditahan oleh Jaya Satria.


"Tenanglah raden. Bukan hanya gusti putri andhini andita saja yang terluka, namun putri Ambarsari  juga terluka. Hamba juga membawanya ke istana untuk diobati." Ucap Jaya Satria.


"Kurang ajar!. Apa yang kau lakukan pada adikku putri ambarsari!." Kemarahan itu semakin memuncak, membuatnya menyerang Jaya Satria.


"Jaya satria." Raden Hadyan Hastanta terkejut karena serangan itu, dan ia juga tidak bisa membantu karena luka yang ia alami.


Jaya Satria menghindari semua serangan yang dilancarkan oleh Raden Ganendra Garjitha, ia tampak marah karena mendengar kabar tentang adiknya.


"Aku pasti akan membunuhmu!." Sambil menyerang Jaya Satria dengan beberapa pukulan, dan tendangan namun berhasil di tahan oleh Jaya Satria dengan mudah.


"Kau harus tau. Bahwa ada pihak yang mencoba ikut campur dalam perang ini. Mereka menyerang dengan kasat mata." Jaya Satria menghindari serangan itu, ia menjelaskan apa yang terjadi dengan perang ini.


"Bedebah busuk!. Tidak usah membual padaku!. Kau pikir aku akan terperdaya dengan mudahnya!." Raden Ganendra Garjitha semakin gencar menyerang Jaya Satria.


"Apa maksudmu jaya satria?." Raden Hadyan Hastanta yang dalam keadaan terluka, masih bisa menangkap apa yang dikatakan oleh Jaya Satria dengan tenang.


Ia juga ingin mencaritahu penyebab dari prajurit yang tadi mendadak tumbang satu persatu karena angin aneh tadi.


Jaya Satria menghindari serangan Raden Ganendra Garjitha, ia melompat ke atas pohon. Ia duduk di atas pohon dan melihat ke arah Raden Hadyan Hastanta.


"Raden bisa melihatnya. Lihatlah kondisi prajurit yang bergelimpangan itu, kondisi tubuh mereka seperti tercakar oleh sesuatu." Ia mencoba menjelaskannya.


Sementara itu, Raden Hadyan Hastanta memperhatikan itu, memang benar yang dikatakan oleh Jaya Satria. "Memang serangan yang aneh." Raden Ganendra Garjitha juga memperhatikan itu.


"Lalu apa yang hendak kau katakan pada kami?. Kau tidak usah meyakinkan aku, dengan siasat busuk dari raja busuk itu!." Rasa dendam sepertinya tidak akan hilang di hatinya.


"Jaya satria." Raden Hadyan Hastanta sedikit terkejut, melihat sorot mata Jaya Satria. Sorot mata itu seperti sorot mata adiknya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Dengarkan aku dengan jelas. Tanpa adanya rasa benci, yang bersemayam di dalam hatimu. Bukalah mata hatimu dan lihatlah!. Bahwa benar apa yang aku katakan!. Jika ada pihak lain yang ikut campur dalam perang ini."


Jaya Satria yang hampir dikuasai kemarahan mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak boleh mengacau suasana hatinya hanya karena ucapan itu.


"Pihak lain itu adalah pasukan jin. Yang menyerang prajurit dengan jurus serap ragawi. Mereka mencakar menyerang secara gaib." Lanjutnya.


Mereka berdua mendengarkan penjelasan itu, tapi apakah benar golongan jin ikut campur?.


"Buktikan jika kau benar!. Bahwa jin itu ikut campur dalam perang ini, dan aku yakin jin itu utusan rajamu!. Untuk membunuh kami semua!." Raden Ganendra Garjitha malah menantang Jaya Satria, untuk membuktikan kebenarannya. Namun malah menuduh prabu Asmalaraya Arya Ardhana melakukan kecurangan.


"Diam kau ganendra garjitha!. Jaga ucapanmu!." Suara Jaya Satria terdengar keras, menyebut nama Raden Ganendra Garjitha. Tentunya membuat mereka berdua terkejut.


"Akan aku buktikan padamu kebenarannya." Ucapnya. Ia yang masih berada di atas pohon menatap tajam ke depan. Dari pandangan mata batinnya ia melihat ada sosok seram yang hendak menyerang Raden Hadyan Hastanta dengan jarak yang tak jauh darinya.


Jaya Satria membacakan shalawat badar dengan suara yang sangat merdu, membuat Raden Ganendra Garjitha dan Raden Hadyan Hastanta terkejut dan terdiam.


"Suaranya sangat indah. Suara itu sama persis dengan suara rayi prabu." Saat ia mendengar suara itu, ia teringat dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Namun apa yang terjadi?. Makhluk seram yang hendak menyerang Raden Hadyan Hastanta tadi terpental dan kesakitan, hingga menimbulkan suara ledakan keras.


Mereka yang melihat itu terkejut, apalagi angin kencang mendadak menyerang mereka. Suara Jaya Satria membuat jin yang menyerang mereka kesakitan, dan menampakkan diri.


"Jagat dewa batara." Keduanya terkejut melihat sosok-sosok itu menjerit kesakitan.


"Dia benar-benar seorang penyihir yang hebatnya luar biasa." Raden Ganendra Garjitha malah berpikir seperti itu?.

__ADS_1


Bacaan Sholawat itu masih di bacakan oleh Jaya Satria, ia yakin masih ada pasukan lainnya yang masih mendekat.


"Pannaaas, hentikaaaan." Seperti itulah mereka yang kesakitan, tidak tahan dengan bacaan sholawat badar.


"Pantas saja kami tidak bisa melihatnya. Mereka benar-benar dari golongan jin." Dalam hatinya merasa waspada. "Namun Jaya Satria bisa membuat mereka menampakkan diri." Raden Hadyan Hastanta merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.


"Tidak salah rayi prabu mengangkat ia menjadi abdi setianya, yang bekerja secara sembunyi-sembunyi." Ia benar-benar kagum dengan itu hingga memuji Jaya Satria.


Jaya Satria berhenti membacakan shalawat badar dan bacaan ayat Alquran lainnya, karena pasukan jin itu telah menghilang. Mereka tidak tahan mendengarkan apa yang dibacakannya tadi. Setelah itu ia turun mendekati Raden Hadyan Hastanta.


"Apakah raden baik-baik saja?. Hamba tadi melihat mereka hendak menyerang raden. Makanya hamba membacakan Sholawat badar, sekaligus membuktikan padanya, bahwa serangan itu berasal dari pihak yang ingin memanfaatkan kesempatan perang ini." Ia begitu khawatir pada Raden Hadyan Hastanta.


Raden Ganendra Garjitha yang melihat itu masih tidak percaya, dan ia malah menuduh Jaya Satria adalah dukun.


"Aku tahu kau itu memang dukun. Aku yakin yang kau bacakan tadi adalah mantram berbahaya, sehingga jin itu lari ketakutan." Masih belum bisa menerima yang ia lihat?.


Jaya Satria melihat ke arah Raden Ganendra Garjitha, ia terlihat emosi?. Entahlah.


"Kau itu benar-benar berhati batu raka!. Tidakkah kau sedikit saja tersentuh, mendengarkan apa yang dibacakan oleh jaya satria?." Raden Hadyan Hastanta malah emosi mendengar itu.


"Seperti kata syekh guru. Ketika nabi muhammad Saw menyerukan kaum kafir untuk menyembah Allah. Namun mereka tidak menanggapinya, dan malah menuduh Rasulullah Saw adalah tukang pembohong. Dan Allah SWT  berkata, baik engkau beri peringatan atau tidak engkau peringatan, mereka sama saja. Hati mereka telah membatu, tidak mau menerima apa  yang engkau sampaikan." Hawa kemarahan merah telah menguar di tubuh Jaya Satria, ia hendak marah dan menghajar Raden Ganendra Garjitha.


*Raka, aku minta satu hal padamu jika nanti saat perang kau melihat jaya Satria marah. Ingatkan dia agar tetap menjaga amarahnya, sebut saja namaku jika itu terjadi.*


Perkataan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terngiang-ngiang di dalam hatinya, dan ia langsung mendekatinya


"Jaya satria, tenangkan dirimu. Ingat apa yang dikatakan oleh rayi prabu, agar tetap menjaga amarahmu." Raden Hadyan Hastanta mencoba mengingatkan, meskipun ia tidak mengerti mengapa adiknya menyuruhnya mengatakan itu.


Jaya Satria mencoba mengatur hawa murninya. Ia melakukannya beberapa kali hingga amarahnya benar-benar reda.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ia menghela nafasnya. "Maafkan hamba. Hampir saja hamba terbawa amarah yang berlebihan." Ia merasa menyesal, karena hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Siapa orang ini?. Kenapa aura kemarahannya, seperti aura kemarahan rayi prabu?. Siapa orang dia sebenarnya?." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta bertanya-tanya.


"Kemarahannya tadi juga sama dengan rayi prabu ketika marah." Ia tidak akan pernah lupa bagaimana kemarahan adiknya waktu itu. Ia bahkan pernah kena dampak kemarahan itu. mengingatnya saja membuatnya merinding saking ngerinya kemarahan dari adiknya.


"Kalau kau masih penasaran. Buktikan saja ke istana. Aku yakin saat ini, gusti prabu juga sedang menghadapi pasukan jin, yang mencoba menghancurkan istana." Jaya Satria mengajak Raden Ganendra Garjitha ke istana, dan membuktikannya sendiri.


...***...


Di istana kerajaan Suka Damai.


Syekh Asmawan Mulia sedang mengumandangkan adzan, dan terdengar suara jeritan-teriakan yang tak kasat mata. Suara itu begitu pilu untuk didengar oleh mereka yang tidak bisa melihat sosok apa yang sedang mereka hadapi.


Namun setelah Syekh Asmawan Mulia mengumandangkan adzan, ada cahaya merah mendekati mereka. Dan sosok itu tak lain adalah prabu Wajendra Bhadrika dalam sosok roh nya saja.


"Siapa kau. Untuk apa kau ikut campur dalam perperangan ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit marah, ia seperti mengenal aura orang itu sebelumnya.


"Aku adalah prabu wajendra bhadrika. Orang yang telah membunuh raja sebelumnya. Dan aku juga akan membunuhmu!." Ia tertawa keras, ia telah melihat raja baru. Dan wajah itu memang mirip dengan raja sebelumnya.


"Jadi kau yang telah membunuh ayahandaku!." Seketika amarah menguar di tubuhnya, kemarahannya keluar begitu saja.


"ya, akulah yang telah membunuh ayahandamu!. Dan setelah itu aku akan membunuhmu." Ia semakin tertawa keras.


Tanpa diduga Sang Prabu menyerang langsung roh itu tanpa diduga membuat Prabu Wajendra Bhadrika terpental jauh.


"Astaghfirullah hal'azim, nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia terkejut melihat serangan serang mendadak itu. Ia yang tadinya berada di atas gerbang istana langsung turun mendekati sang prabu yang sedang dipenuhi amarah.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjatuhkan tubuhnya, ia memang sedang marah. Hatinya terasa sakit, ingin melampiaskannya. Sesak, sangat sesak mendengar perkataan itu


Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2