
(Nagih doank bacanya tapi enggak kasih komentar. Duuuuh sedih banget we. Tinggalin jejaknya jangan jadi pembaca gelap. Nanti kena tilang ditengah cerita baru nyesal deh hehehe.
Yuk lanjut baca.)
Sepertinya keadaan sudah mulai aman. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berkumpul bersama keluarga besarnya.
"Syukurlah kalian baik-baik nak. Ibunda sangat mencemaskan kalian." Ratu Gendhis Cendrawati tersenyum senang lembut menatap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ibunda. Kami baik-baik saja karena bantuan nyai bestari dhatu. Terima kasih nyai." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman menawan sambil menatap Nyai Bestari Dhatu.
"Hamba hanya melakukan sebisa hamba sebagai seorang tabib gusti prabu." Nya Bestari Dhatu tersenyum kecil. Mereka juga tersenyum ramah padanya. Menyambut baik kehadirannya di Istana kerajaan Suka Damai.
"Tapi kami juga berterima kasih pada yunda andhini adnita juga raka hadyan hastanta yang membantu nyai bestari dhatu mengambil air telaga warna bidadari."
"Bagiku kesembuhan kalian adalah yang paling utama. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua. Aku sangat takut ketika kalian tidak sadarkan diri" Putri Andhini Andita sudah baikan juga. Setelah mendapatkan pengobatan dari Nyai Bestari Dhatu.
"Aku juga tidak mau kehilanganmu rayi. Istana serta kerajaan ini, kau memang pantas untuk mengaturnya rayi prabu." Ucap Raden Hadyan Hastanta.
"Terima kasih yunda, raka. Tanpa yunda dan raka yang membantu, aku tidak akan bisa berdiri sendiri."
"Kami akan selalu bersamamu rayi prabu. Jika kami masih diberikan kesehatan oleh dewata agung." Raden Hadyan Hastanta sangat yakin dengan perasaan yang ia miliki. Ia sudah menetapkan hatinya untuk terus bersama adiknya ini.
"Benar yang dikatakan oleh raka hadyan hastanta. Aku akan selalu bersamamu rayi prabu." Putri Andhini Andita merasa lebih baikan.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Ibunda sungguh sangat bahagia dengan kedekatan kalian nak." Ratu Dewi Anindyaswari terharu melihat itu. "Terimakasih kasih kalian selalu bersama, menjaga satu sama lain. Ibunda sangat bahagia karena kalian saling menyayangi sebagai saudara."
"Tentu saja rayi. Kita ini adalah keluarga. Sudah seharusnya kita saling menjaga satu sama lain." Ratu Gendhis Cendrawati juga tersenyum menatap mereka semua.
Hari ini mereka memang sedang diselimuti oleh kebahagiaan karena mereka mendapatkan nikmat kesehatan kembali dari Allah SWT.
__ADS_1
"Hamba juga ingin mengucapkan terima kasih kepada raden hadyan hastanta, gusti putri andhini adnita, juga nyai bestari dhatu yang telah membantu hamba." Jaya Satria juga mengucapkan rasa terima kasihnya pada Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita dan Nyai Bestari Dhatu.
Jaya Satria telah pulih, dan ia mengenakan topeng penutup wajahnya saat ini.
"Kau juga bagian dari keluarga ini jaya satria. Jadi sudah sepantasnya kami melindungimu. Bukankah begitu rayi prabu?."
"Benar raka. Jaya satria juga bagian dari keluarga kita."
"Terima kasih Raden."
"Jangan sungkan seperti itu." Raden Hadyan Hastanta terlihat begitu ramah pada Jaya Satria.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah. Keluarga hamba yang tersisa masih bisa akur." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat bersyukur.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah. Kehadiran nanda jaya satria diterima oleh mereka meskipun nanda jaya satria masih mengenakan topeng itu." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa bahagia karena anaknya Jaya Satria diterima dengan baik.
"Aku berharap lebih dari keluarga, jaya satria. Aku akan selalu menunggumu." Dalam hati Putri Andhini Andita yang selalu berharap bahwa Jaya Satria akan menyadari perasaannya.
Disuatu tempat. Ia sedang merenung jauh seakan pandangannya tidak memiliki batas hingga matanya terlihat kosong. Ia duduk di atas pohon yang lumayan tinggi sambil melihat jauh ke depan.
Namun pikirannya sedang memikirkan sosok bertopeng yang dimasa lalu telah menyengsarakan dirinya. Membuat dirinya menderita dihantui ketakutan luar biasa setelah bertarung dengan Jaya Satria?.
"Jaya Satria. Aku tidak akan pernah melupakan nama itu." Ia terlihat geram menyebut nama itu. Rasanya ingin ia habisi segera orang yang bernama Jaya Satria itu.
Memangnya apa yang dilakukan oleh Jaya Satria sehingga pemuda itu menaruh dendam?.
"Tiga tahun sejak hari itu. Aku selalu dihantui ketakutan-ketakutan karena apa yang kau lakukan padaku jaya Satria." Pemuda itu tampaknya memiliki dendam yang sangat membara pada Jaya Satria.
Selama itukah ia menyimpan dendam itu?. Ia bahkan tidak melupakannya begitu saja?.
__ADS_1
"Aku akan mencarimu, akan aku bunuh kau." Pemuda itu menggenggam erat kepalan tangannya. Hatinya dipenuhi kebencian pada Jaya Satria dimasa lalu.
Kabar yang ia dengar, Jaya Satria mengabdi pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku akan mencari keberadaanmu sampai aku bisa membalaskan rasa sakit hati yang aku miliki."
Dendam yang ia rasakan sangat berkobar membara. Tidak ada kata ampun lagi dihatinya yang sedang bergejolak saat ini.
"Kakang. Lebih baik kakang tidak berwajah seperti itu." Dari bawah seorang wanita muda berteriak dengan suara keras agar terdengar oleh kakaknya?.
Entahlah. Karena wanita muda itu memanggilnya dengan sebutan kakang?.
"Hyop." Pemuda itu turun ke bawah. Ia mendekati wanita muda itu dengan wajah yang kesal.
"Tidak ada gunanya kakang marah-marah di atas sana. Kasihan pohonnya menerima hawa kemarahan kakang. Lihat tuh pohonnya hampir saja mati karena kakang." Wanita muda itu merengut manyun karena ulah kakaknya.
"Jaga bicaramu ayu." Dengan jengkelnya ia menyetil kening adiknya yang ia panggil dengan nama Ayu.
"Ish, kakang telah melakukan penganiayaan pada ayu." Ia mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Siapa bilang kakang melakukan penganiayaan?." Bukannya merasa bersalah, ia malah balik bertanya.
"Kakang menyebalkan." Ayu, adiknya yang baru menginjak usia remaja terlihat jengkel pada kakaknya itu. Namun siapa sangka kakaknya itu malah menggelitikinya, hingga Ayu tertawa terpingkal-pingkal.
"Hentikan kakang, hentikan. Ayu tidak mau digelitiki sama kakang." Ayu berusaha untuk menghindari kakaknya. Akan tetapi kakaknya tetap mengejarnya.
"Itu karena ayu mengatai kakang menyebalkan. Ayu harus minta maaf." Entah itu sebuah candaan atau apa, tapi ia tidak suka adiknya berkata seperti itu padanya. Meskipun hatinya dipenuhi oleh dendam Namun kasih sayangnya pada adiknya tidak akan bisa mengalahkan dendamnya.
Dendam dimasa lalunya pada Jaya Satria karena kalah dalam pertarungan. Karena jurus-jurus yang dimiliki Jaya Satria sangat berbahaya menurutnya pada saat itu hingga menimbulkan trauma dalam dirinya. Karena itulah dendam itu harus ia bayar. Karena tiga tahun belakangan ini, tubuhnya setengah lumpuh akibat jurus cakar naga cakar petir milik Jaya Satria. Tiga tahun belakangan ini ia berjuang dalam ketakutan untuk memulihkan keadaannya. Adiknya Ayu dengan penuh kesabaran merawatnya. Menjaga dirinya dari ancaman apapun.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya?. Apakah dendam itu memang ia lampiaskan pada Jaya Satria atau itu hanya sekedar kemarahan biasa?. Temukan jawabannya.
Jadilah pembaca yang baik dengan selalu meninggalkan jejak. Salam cinta untuk pembaca tercinta.