
...***...
Jaya Satria Satria telah kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai bersama Nyai Bestari Dhatu. Keduanya telah disambut oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Selamat datang nyai, sudah lama tidak bertemu."
"Terima kasih atas sambutannya Gusti Prabu."
Saat ini mereka menuju bilik prabu Rahwana Bimantara. Tentu saja mereka tidak ingin membuang waktu lagi.
"Rasanya hamba tidak percaya dengan apa yang hamba lihat, namun rasanya itu keputusan itu sangat tepat."
"Pandangan nyai tidak berubah sama sekali." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Selalu saja bisa melihat apa yang terjadi padaku."
"Aura Gusti Prabu yang mengatakan itu dengan sangat jelas." Matanya melirik ke arah Jaya Satria.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sama-sama menghela nafas mendengarkan ucapan itu.
"Tapi untuk saat ini aku meminta bantuan dari nyai agar menyembuhkan kakek Prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskannya. "Karena akan berbahaya jika kerajaan mekar jaya dipimpin oleh orang yang salah."
"Sandika Gusti Prabu, akan hamba lakukan dengan sebaik-baiknya."
Setelah itu mereka masuk ke bilik besar itu, melihat prabu Rahwana Bimantara yang masih terbaring di dipan.
"Jaya satria? Kau sudah kembali." Putri Andhini Andita sangat senang melihat kedatangan Jaya Satria, hingga ia mendekatinya.
"Hamba baru saja kembali Gusti Putri." Jaya Satria memberi hormat.
"Sepertinya ada kejadian yang sangat menarik di sini." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu dapat melihat itu dengan sangat baik.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, putraku telah kembali." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari senang melihat kedatangan Jaya Satria. "Syukurlah kau kembali dengan selamat anakku." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat bersyukur.
"Kalau begitu kita mulai saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak mau membuang waktu terlalu lama.
"Sandika Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu memberi hormat. Ia mulai mengobati Prabu Rahwana Bimantara yang terlihat lemah karena pengaruh dari keris berbahaya.
Mereka memperhatikan bagaimana dengan lihainya memeriksa keadaan Prabu Rahwana Bimantara.
"Tidak aku sangka, dengan perangainya yang ganas dimasa lalu? Rayi prabu memiliki kenalan yang sangat cantik, baik hati, wanita ahli obat yang hebat? Sangat beruntung sekali." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta begitu terkesan dengan itu, juga mengagumi kecantikan Nyai Bestari Dhatu. "Ah! Tidak! Apa yang kau pikirkan hadyan hastanta?." Dalam hatinya cepat menepis perasaan aneh itu.
"Apakah rayi prabu memiliki hubungan yang khusus dengan ahli obat ini?." Dalam hati Putri Andhini Andita berpikiran ke arah sana. "Aku harap tidak ada hubungannya dengan jaya satria, aku tidak akan mengampuni siapa saja yang berani mengambil jaya satria dariku." Dalam hatinya telah bertekad bahwa Jaya Satria hanya miliknya seorang.
"Yunda?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat tidak tega melihat bagaimana rekasi yang ditunjukkan oleh Prabu Rahwana Bimantara ketika diobati. "Pasti rasanya sangat sakit sekali." Hatinya merasa ia melihat itu.
"Tenanglah rayi dewi." RAtu Gendhis Cendrawati mencoba menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari. "Ayahanda pasti akan baik-baik saja, sepertinya nyai bestari dhatu sangat ahli dalam pengobatan."
"Ibunda." Putri Agniasari Ariani juga ikut menenangkan ibundanya. "Berdoa saja semoga Allah memberikan kesehatan pada kakek Prabu."
"Baiklah putriku." Ratu Dewi Anindyaswari juga sedang berusaha menenangkan dirinya.
Mereka semua berharap semuanya baik-baik saja, tidak ada kendala pengobatan.
Apakah Prabu Rahwana Bimantara berhasil disembuhkan?. Temukan jawabannya
...**...
Sementara itu
Di Desa Gamang Kuasa.
Setelah melakukan shalat isya, mereka kembali menyimak pelajaran yang diberikan oleh syekh Asmawan Mulia.
Kaum laki-laki belajar bersama Syekh Asmawan Mulia dan Raden Harjita Jatiadi. Sedangkan kaum wanita belajar bersama Putri Cahya Candrakanti.
"Mengapa kita belajarnya terpisah dengan kaum laki-laki dan kaum perempuan?." Pertanyaan itu ia ajukan pada mereka. "Apalagi ketika kita melaksanakan sholat? Apakah ada yang mengetahui apa alasannya?." Ia ingin melihat bagaimana reaksi dan tanggapan meraka.
Namun sayangnya mereka sama sekali tidak bisa menjawabnya, karena mereka belum memahaminya dengan baik.
"Kami tidak mengetahuinya syekh!." Ucap mereka dengan serentak, sehingga membuat Syekh Asmawan mulia tersenyum kecil.
"Jawabannya karena kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, ingat?."
"Ingat syekh!."
"Selain itu menjaga pandangan antara kaum laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrimnya, karena itulah syaf dalam shalat dipisahkan, apakah ada yang mengerti?." Sykeh Asmawan Mulia menjelaskannya dengan sangat hati-hati.
"Jadi itu alasan mengapa ketika duduk seperti ini? Kita tidak boleh duduk bercampur dengan syaf nya perempuan?." Ada seorang pemuda yang memberanikan dirinya untuk bertanya seperti itu.
"Ya, itu sangat benar." Jawab Syekh Asmawan Mulia. "Selain dapat membatalkan wudhu? Sholat kita juga akan terganggu, sehingga tidak tepat bacaannya karena terpaku dengan kecantikan atau ketampanan di sekitarnya."
"Ah, itu tepat sekali syekh." Pemuda lainnya dengan semangat berkata seperti itu. "Bisa rusaklah amalan sholatnya kalau begitu."
__ADS_1
Mereka tertawa mendengarkan ucapan pemuda itu, hingga suasana tidak terlalu kaku. Mereka tidak menduga akan mendapatkan ilmu baru ketika dalam proses masuk islam.
"Baiklah? Perhatikan apa yang akan saya sampaikan." Sykeh Asmawan Mulia mencoba menenangkan mereka.
Mereka semua kembali menyimak dengan baik apa yang akan disampaikan oleh Sykeh Asmawan Mulia.
"Didalam sholat? Kita juga belajar tentang kebersamaan. Maksudnya, ketika kaki kita dirapatkan, atau di dempetkan, kita telah membuat tiang yang kuat." Kembali ia menjelaskan pada mereka. "Sehingga setan tidak akan bisa meruntuhkan kekuatan iman kita."
Namun kali ini meraka terlihat sedang memikirkan dengan sangat baik penyampaian Syekh Asmawan Mulia.
"Maaf syekh guru, apakah saya boleh bertanya?."
"Ya, silahkan saja."
"Apa manfaat sholat yang kita lakukan? Kenapa kita harus melakukan sholat? Mohon penjelasannya syekh guru."
"Itu pertanyaan yang sangat bagus sekali." Syekh Asmawan Mulia sangat senang mendengarnya. "Keutamaan sholat berjamaah itu pahalanya sangat besar dari pada sholat sendirian." Syekh Asmawan Mulia dan Raden Harjita Jatiadi menjelaskannya dengan pelan agar mereka mudah memahaminya. "Selain itu kita mendapatkan perlindungan dari Allah SWT dari hal-hal yang buruk."
Begitu juga dengan Putri Cahya Candrakanti yang menjelaskan pada para wanita mengenai pakaian yang sopan ketika sholat.
"Alasan kita mengenakan kain telekung ini adalah untuk menutup aurat ketika sholat." Putri Cahya Candrakanti menjelaskannya dengan hati-hati. "Selain itu agar lebih sopan ketika menghadap kepada Allah SWT. Allah SWT sangat menyukai umatnya yang rapi ketika menyembah-Nya."
Mereka dengan serius menyimak apa yang dijelaskan. Karena mereka memang sangat ingin mengubah dirinya ke arah yang lebih baik.
"Karena itulah, pakai pakaian yang lebih sopan ketika masuk ke dalam mushola, karena kita masuk ke rumah yang suci."
"Kalau berpakaian biasa saja? Apakah tidak boleh nimas?." Salah satu dari mereka memberanikan diri.
"Bukannya tidak boleh, hanya saja tidak pantas saja." Jawabnya. "Kita kaum wanita sangat sensitif mengundang hawa nafsu kaum laki-laki." Lanjutnya. "Jika kaum wanita yang berada di syaf depan, atau berada di samping mereka? Takutnya sholat kita tidak sah, malah kita yang berdosa karena mengundang hawa nafsu laki-laki yang tidak kuat imannya, apakah sejauh ini apakah saudaraku mengerti?."
"Kami mengerti nimas." Jawab mereka dengan serentak.
"Lalu apalagi yang harus dipelajari nimas?." Salah satu dari mereka kembali bertanya.
"Kita akan mempelajari tata cara wudhu, alasan mengapa harus berwudhu sebelum melaksanakan sholat?." Ia menjelaskannya dengan pelan, karena ia berharap ilmu yang ia berikan bermanfaat bagi mereka semua.
Mereka kembali mendengarkan dengan seksama apa yang akan dijelaskan Putri Cahya Candrakanti, mereka sangat serius ingin belajar ke arah yang lebih baik.
"Yang pertama untuk membersihkan diri, membersihkan tubuh agar suci dari kotoran, najis yang dapat membatalkan sholat kita." Jawabnya.
Untuk sesaat mereka memikirkan ucapan itu, mencoba mencerna dengan baik penyampaian yang mereka dengar.
"Tayamum?." Mereka terlihat bingung dengan kalimat itu, karena bagi mereka itu memang ucapan yang baru saja didengar.
"Tayamum memang membersihkan diri dengan debu halus yang bersih, tapi bukan berarti kita melumuri badan kita dengan debu, hanya mengusapnya dengan pelan saja, sebagai bentuk syarat saja jika air tidak ada lagi kita temukan."
Begitulah yang dilakukan oleh Syekh Asmawan Mulia, Raden Harjita Jatiadi selama berada di desa Gamang Kuasa. Apakah mereka bisa mempelajarinya dengan baik?. Temukan jawabannya.
...***...
kembali ke Istana kerajaan Suka Damai.
Nyai Bestari Dhatu telah berhasil mengobati Prabu Rahwana Bimantara, keadaannya telah membaik walaupun saat ini sedang dalam kondisi tertidur.
"Untuk saat ini biarkan prabu Rahwana Bimantara untuk tidur." Ia melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Dengan begitu tubuhnya bisa mengistirahatkan sejenak syaraf-syaraf yang terkana serangan keris itu."
"Terimakasih nyai telah mengobati kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat lega mendengarnya.
"Suatu kehormatan bagi hamba bisa membantu keluarga Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu memberi hormat.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin, aku merasa terbantu sekali." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memberi hormat. "Nyai sangat baik sekali, maaf aku harus membawa nyai ke istana karena keadaan kakek Prabu yang sangat mencemaskan."
"Jangan sungkan begitu gusti prabu, hamba mengerti keadaannya."
"Kalau begitu tinggallah barang satu atau dua hari di istana." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan penawaran. "Aku yakin nyai merasa lelah dan letih, aku akan memberikan jamuan yang baik untuk nyai."
"Terima kasih banyak gusti prabu." Nyai Bestari Dhatu kemabli memberi hormat pada sang prabu, ia senang diperlakukan dengan baik.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan Prabu Rahwana Bimantara untuk beristirahat dengan aman tanpa adanya gangguan. Namun saat itu kedekatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Nyai Bestari Dhatu menjadi pusat perhatian kedua kakaknya yang sangat penasaran hubungan kedekatan mereka seperti apa?.
"Lihatlah yunda? Rayi Prabu sepertinya begitu baik pada nyai bestari dhatu." Putri Agniasari Ariani hanya heran saja. "Tidak biasanya rayi Prabu sangat akrab dengan wanita lain selain keluarganya." Putri Agniasari Ariani menaruh curiga atas kedekatan adiknya dengan Nyai Bestari Dhatu.
"Benar rayi." Putri Andhini Andita sangat setuju. "Aku jadi penasaran bagaimana mereka bisa akrab seperti itu? Apakah di masa lalu mereka memiliki hubungan khusus? Sehingga tidak ada perasaan canggung lagi diantara mereka." Bahkan keningnya terlihat mengkerut karena memikirkan itu. "Rayi Prabu bahkan tidak segan-segan menyebut nama wanita itu untuk menyembuhkan kakek prabu."
"Ya, aku rasa yunda memang benar." Putri Agniasari Ariani seakan-akan menangkap apa yang dikatakan kakaknya mengenai padangan mereka tentang hubungan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan Nyai Bestari Dhatu.
"Hahaha! Mereka ini seenaknya saja." Dalam hati Jaya Satria merasa tidak enak mendengarnya. "Tapi ada dengan raka hadyan hastanta?." Dalam hatinya merasa tidak enak ketika melihat ke arah Raden Hadyan Hastanta yang melotot ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Nyai Bestari Dhatu. "Ini hanya perasaanku saja atau memang ada-? Seperti itu?." Dalam hati Jaya Satria bertanya-tanya saat melihat tatapan mata Raden Hadyan Hastanta.
"Oh? Dewata yang agung? Begitu dekatkah hubungan mereka?." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta merasakan aneh. "Entah mengapa hamba merasakan kecemburuan yang luar biasa, pada hal ini pertama kalinya rayi Prabu membawa wanita yang sangat cantik ke istana ini." Entah mengapa Raden Hadyan Hastanta merasakan sakit aneh di dadanya, dan ia tidak mengerti sama sekali. Perasaannya sungguh luar biasa aneh menurutnya. "Pada hal rayi Prabu membawanya hanya untuk mengobati kakek Prabu? Tapi kenapa hatiku malah berpikiran aneh seperti ini?." Sungguh, ia tidak pernah berpikir akan merasakan perasaan gila yang bergejolak di dalam hatinya.
"Nyai bestari dhatu sangat terlihat akrab dengan nanda Prabu." Ratu Dewi Anindyaswari juga memperhatikan kedekatan anaknya dengan sosok wanita cantik yang telah mengobati Prabu Rahwana Bimantara. "Aku tidak menduga jika putraku memiliki kenalan ahli obat yang sangat cantik." Senyumannya mengembang begitu saja.
__ADS_1
"Ya, rayi benar." Ratu Gendhis Cendrawati juga ikut mengamati itu. "Bahkan mereka tampak serasi, apakah rayi tidak memperhatikan itu?." Dengan nada yang bersemangat ia berkata seperti itu.
"Iya, yunda benar sekali." Ratu Dewi Anindyaswari sangat setuju. "Mereka terlihat sangat serasi dengan kedekatan yang baik seperti itu." Lanjutnya. "Apakah putraku akan meminang nyai bestari dhatu dan menjadikannya permaisuri pertama di kerajaan ini?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari malah berpikiran seperti itu.
Apakah memang seperti itu yang akan terjadi nantinya?. Simak dengan baik kisahnya.
...****...
Keesokan harinya.
Dengan sekuat tenaga ia berusaha masuk ke gerbang istana, tenaganya benar-benar terkuras habis karena perjalanan jauh. Namun saat ia masuk ke dalam istana demi bertemu dengan orang yang sangat ingin ia lihat keadaanya.
"Yunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut melihat keadaan kakaknya.
Kebetulan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Nyai Bestari Dhatu, Jaya Satria, dan Putri Andhini Andita ada di sana. Mereka saat itu sedang mengelilingi istana sambil menempel pada Nyai Bestari Dhatu?. Namun siapa yang menduga malah melihat keadaan Putri Ambarsari yang sangat mengenaskan?.
"Rayi Prabu?." Putri Ambarsari tertatih sambil mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Ia masih menguatkan langkahnya untuk mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun begitu ia berhasil mendekat, ia jatuhkan tubuhnya, mendekap kaki sang prabu, membuat mereka semua terkejut.
"Rayi! Rayi prabu! Hiks! Rayi Prabu." Ia menangis terisak sambil memeluk kaki adiknya dengan erat.
"Yunda ambarsari?." Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani hampir tidak percaya melihat itu.
"Yunda? Apa yang terjadi yunda." Saking terkejutnya dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak tau harus berkata apa selain bertanya?.
"Ampuni saya rayi! Hiks! Ampuni saya! Hiks! Ampuni saya rayi prabu!." Ia mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali.66
"Yunda?." Putri Andhini Andita tidak percaya jika itu adalah kakaknya?.
"Berdirilah yunda, tenangkan diri yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba membantu kakaknya berdiri.
"Rayi prabu? Bagaimana keadaan kakek prabu?." Dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya ia bertanya seperti itu?. "Rayi prabu menolong kakek prabu, kan?! Hiks! Katakan pada saya jika kakek prabu baik-baik saja, kan?! Rayi prabu!." Begitu dalam kesedihan yang ia rasakan saat itu.
Mereka semua dapat merasakan kesedihan itu, rasa cemas, sedih, bercampur aduk menjadi satu. Tentu saja mereka semua memahami dengan sangat baik apa yang telah ditanyakan Putri Ambarsari dalam tangisnya itu.
"Yunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Alhamdulillah hirobbil 'alamin kakek Prabu sudah baikan, sekarang sedang masa pemulihan."
"Benarkah itu rayi prabu?! Hiks! Bolehkah saya melihatnya rayi? Izinkan saya untuk melihat keadaan kakek Prabu." Putri Ambarsari terlihat sangat memohon.
"Tentu saja, mari yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membimbing Putri Ambarsari menuju Prabu Rahwana Bimantara.
Begitu sampai ditujuan.
"Kakek prabu? Oh? Kakek Prabu." Putri Ambarsari langsung duduk bersimpuh dihadapan Prabu Rahwana Bimantara. Tangisnya semakin pecah saat melihat Prabu Rahwana Bimantara.
"Cucuku ananda putri ambarsari?." Prabu Rahwana Bimantara mengelus kepala cucunya, ia tidak menyangka melihat cucunya datang menemuinya.
"Putri ambarsari datang?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati bersamaan mungkin berpikiran seperti itu.
"Kakek prabu? Ampuni saya kakek Prabu, ampuni saya." Ucapnya dalam tangisnya. "Saya merasa berdosa karena telah membiarkan kakek Prabu pergi dalam keadaan terluka, ampuni saya kakek Prabu." Tangisnya begitu pilu untuk didengar.
"Duduklah cucuku." Prabu Rahwana Bimantara membimbing Putri Ambarsari agar duduk dengan benar. "Aku baik-baik saja, aku sekarang baik-baik saja." Ucapnya dengan senyuman ramah.
"Syukurlah jika memang seperti itu kakek Prabu." Putri Ambarsari sangat bersyukur.
"Aku baik-baik saja karena kebaikan mereka semua terhadapku." Prabu Rahwana Bimantara menatap mereka semua dengan senyuman lembut. "Jadi kau tidak perlu menangis seperti itu cucuku, semuanya baik-baik saja karena bantuan dari mereka."
Putri Ambarsari menatap mereka satu persatu dengan tatapan sedih. "Ibunda ratu?." Ia langsung sungkeman pada kedua Ratu Suka Damai.
"Putriku ambarsari."
Keduanya juga ikut menangis karena keadaan Putri Ambarsari yang terlihat kacau.
"Duduklah nak, tenangkan dirimu."
"Putriku, tenanglah nak."
"Terima kasih karena ibunda ratu telah merawat kakek Prabu."
"Kita ini keluarga, jadi sudah sewajarnya saling membantu."
"Ibunda." Ia merasa tersentuh mendengar itu, apalagi ketika ratu Dewi Anindyaswari menyeka air matanya.
"Untuk apa yunda ambarsari datang ke sini?." Putri Andhini Andita terlihat sangat curiga. "Apakah yunda datang ke sini hanya untuk memastikan kematian kakek Prabu?."
"Astaghfirullah hal'azim yunda andhini andita?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut mendengarnya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1