RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERASAAN HATI


__ADS_3

...***...


Singkatnya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan keluarganya telah berangkat menuju Kerajaan Angin Selatan. Sesuai dengan janji, mereka akan melamar Putri Bestari Dhatu.


Sementara itu, di Istana Kerajaan Angin Selatan.


Di kamar Putri Bestari Dhatu. Saat ini sedang gelisah menunggu kedatangan Raden Hadyan Hastanta dan keluarganya.


"Semoga saja mereka sampai dengan selamat ibunda."


Ratu Gendari Candramaya tersenyum kecil menatap putrinya yang tampak gelisah.


"Tenanglah putriku. Mereka akan sampai ke sini dengan aman." Ia mencoba untuk menenangkan anaknya.


"Ananda hanya khawatir saja ibunda." Raut wajahnya terlihat mengkerut karena saking khawatir dirinya.


"Khawatir karena tidak sabar bertemu dengan calon suami itu memang membuat kita cemas." Ratu Gendari Candramaya mencoba menggoda anaknya.


"Ibunda. Aku sungguh mencemaskannya." Entah mengapa ia merasa berdebar-debar saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibundanya.


Ratu Gendari Candramaya hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya. "Ibunda sangat faham nak." Ucapnya dengan lembut, sambil menggenggam erat tangan putrinya. "Ibunda dulu juga mengalami kecemasan yang ananda putri rasakan." Ia mengelus rambut anaknya dengan sayang.


"Ayahandamu saat melamar dan menikahi ibunda. Menunggu kedatangannya, membuat ibunda merasa khawatir. Apakah ia bisa mengatakannya pada ayahanda prabu." Ratu Gendari Candramaya seperti kembali mengingat kenangan indah yang telah ia lewati masa itu.


"Ibunda sangat cemas. Apakah kanda prabu bisa berbicara dengan lancar mengatakan niatnya datang menghadap ayahanda."


"Lalu bagaimana?. Apakah ayahanda prabu bisa mengatakannya dengan lancar?."


Ratu Gendari Candramaya tampak berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat lagi masa itu.


"Ayahanda berkata, jika kanda prabu mengalami kesulitan saat mengatakan tujuannya. Kanda prabu gugup mengatakan tujuannya. Ayahanda Prabu hampir sangat bosan menunggunya. Bahkan hampir saja menolak lamaran itu." Ratu Gendari Candramaya masih mengingat dengan jelas, bagaimana kejadian itu.


"Ayahanda prabu pernah hampir gagal melamar ibunda?." Putri Bestari Dhatu sangat terkejut, ia tidak menyangka akan mendengarkan cerita menarik itu dari ibundanya.

__ADS_1


"Ya. Hampir saja gagal melamar ibunda. Tapi akhirnya, dengan penuh keberanian kanda prabu mengatakan dengan sekuat tenaganya." Jawabnya dengan senyuman yang sangat luar mengembang di wajahnya.


"Hufff syukurlah ibunda." Putri Bestari Dhatu malah yang merasa lega?. Tapi mengapa?. Sungguh aneh rasanya.


"Bagaimana dengan raden hadyan hastanta nanti ibunda." Lagi-lagi ia menghela nafasnya yang terasa berat. "Apakah raden hadyan hastanta berani mengatakan tujuannya nanti?." Hatinya bertanya-tanya karena ia takut akan mengalami kegagalan.


"Tenanglah. Percayalah takdirmu memang bersama raden hadyan hastanta." Ratu Gendari Candramaya hanya tidak ingin berpikiran buruk mengenai acara lamaran nanti.


"Tenangkan saja pikrianmu putriku." Ucapnya dengan lembut. "Tidak baik, nanti jika nanda putri menyambut mereka dengan raut wajah yang cemberut. Tersenyumlah nak." Ucapnya lagi. "Sambutlah calon suamimu dengan wajah penuh kebahagiaan. Jangan sampai nanda putri sakit, hanya karena dipenuhi oleh beban-beban kemungkinan buruknya."


"Maafkan ananda putri ibunda." Ada rasa penyesalan dalam dirinya. "Ananda putri tidak akan memikirkan hal yang buruk dihari bahagia ananda nantinya." Ia mencoba untuk tersenyum. Menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang menguasai dirinya.


"Nah, seperti itu seharusnya. Wajahmu yang ayu, harus tetap tersenyum. Agar ananda putri bisa dengan lapang hati menyambut calon suamimu nantinya."


"Terima kasih karena ibunda telah memperhatikan ananda." Putri Bestari Dhatu mulai sedikit tenang.


Putri Bestari Dhatu hanya ingin hari terbaik, ketika acara lamarannya nanti. Ia sangat berharap, jika hari itu berjalan dengan lancarnya. Sungguh ia tidak bermaksud lain, hanya cemas menunggu kedatangan Raden Hadyan Hastanta.


Sementara itu di perjalanan Raden Hadyan Hastanta menuju istana Kerajaan Angin Selatan.


Mereka sempat berhenti, karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Putri Agniasari Ariani, dan Ratu Dewi Anindyaswari melaksanakan sholat magrib. Dan mereka juga tidak bisa meneruskan perjalanan, karena hari akan gelap.


Setelah melaksanakan sholat magrib, makan malam, mereka berkumpul sambil berbincang-bincang.


"Rasanya nanda sangat gugup ibunda." Ungkap Raden Hadyan Hastanta sambil menggenggam erat buku-buku tangannya sendiri.


Mereka yang mendebarkan itu hanya tertawa kecil. Memaklumi apa yang sedang dirasakan oleh Raden Hadyan Hastanta.


"Waah,, raka sudah tidak sabar lagi ya, ingin bertemu dengan nyai bestari dhatu." Putri Andhini Andita malah menggoda kakaknya itu. Hingga terlihat rona merah di pipinya.


"Jangan menggodaku rayi." Ucapnya dengan malu-malu. Membuat mereka semakin tertawa geli.


"Apa yang membuat raka merasa gugup. Apakah karena acara lamaran nanti?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang saat ini hanya mengenakan pakaian biasa layaknya rakyat biasa, begitu juga dengan mereka semuanya. Namun wibawa sang prabu masih terlihat dengan jelas di raut wajahnya yang sangat damai saat ini.


Raden Hadyan Hastanta menghela nafasnya pelan. "Memang itu yang mungkin menjadi beban pikiranku rayi." Jawabnya.

__ADS_1


"Tenang saja. Nanda pasti pasti bisa mengatakan tujuan kedatangan nanda lancar. Ibunda percaya, jika nanda mampu melakukannya." Ucap Ratu Gendhis Cendrawati dengan senyuman yang manis.


"Ibunda juga percaya, jika nanda mampu melakukannya dengan baik." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari dengan senyuman yang tulus. "Nanda hanya perlu percaya diri saja. Cobalah untuk mengurangi pikiran yang memikirkan kemungkinan buruknya." Lanjutnya. "Dengan begitu nanda bisa agak lebih tenang."


"Nanda akan mencobanya ibunda." Raden Hadyan Hastanta sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kedua ibundanya.


"Benar apa yang dikatakan oleh ibunda." Kali ini putri Agniasari Ariani yang berbicara. "Raka hanya perlu percaya diri saja. Karena jika tidak percaya diri, maka semuanya akan terasa gugup." Lanjutnya.


"Kami akan selalu bersama raka. Jadi raka tidak perlu khawatir." Tambah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Raka memiliki kami semua. Raka tidak akan melakukannya sendirian." Tambahnya lagi.


Kata-kata itu membuat Raden Hadyan Hastanta merasa lebih baik.


"Benar yang dikatakan oleh rayi prabu." Timpal Putri Andhini Andita dengan senyuman lembut. "Kami tidak akan membiarkan raka berdiri sendiri. Karena itulah kami ada di sini bersama raka."


"Ya. Itu betul nak. Kami selalu ada untuk nanda. Kami tidak akan pernah meninggalkan nanda sendirian."


"Kami akan selalu bersama nanda. Bahkan ketika nanda tidak kuasa lagi berdiri. Kami akan menjadi penopang nanda untuk bangkit lagi."


"Semangatlah raka. Kami yakin raka bisa melakukannya. Jangan menyerah hanya karena memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi, cobalah untuk memikirkan kemungkinan bahagia yang akan raka lalui nantinya."


"Ya. Berpikir lah ke arah yang baik raka. Kami selaku mendoakan yang terbaik untuk raka. Kami akan selalu mendukung demi kebahagiaan raka."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Ratu Dewi Anindyaswari, Putri Agniasari Ariani, Ratu Gendhis Cendrawati, dan Putri Andhini Andita begitu tulus menyemangati Raden Hadyan Hastanta.


"Kenapa raka malah menangis?." Putri Agniasari Ariani dan Putri Andhini Andita tertawa geli. Karena melihat Raden Hadyan Hastanta yang menangis?.


"Sungguh bahagia sekali hidup ini." Ia mencoba untuk menghapus air matanya. Ia mencoba untuk tersenyum kecil. "Memiliki keluarga yang selalu memberikan dukungan seperti ini. Rasanya hidup saya sangat sempurna." Kebahagiaan yang tidak pernah ia lupakan.


Keluarganya mendoakan kebahagiaan untuknya, bahkan akan menjadi tongkatnya ketika ia gagal nantinya?.


"Semoga kebahagiaan akan selalu menyertai perjalanan kita semua. Aamiin aamiin ya rabbal aalaamiin." Dalam hati sang prabu sangat berharap kepada Allah SWT.


Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.


Tidak like?. Tidak kasih hadiah?. Tidak vote?. Tidak komentar?. Maka tidak follow Dan jangan lupa klik add agar dapat notifikasi lanjutan ceritanya

__ADS_1


Jangan jadi pembaca gelap, mari kita sama-sama menghargai. Tak kenal maka tak follow.


...***...


__ADS_2