
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
Nyai Bestari Dhatu mengatakan bahwa ia tidak bisa mengobati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan juga Jaya Satria?.
"Lakukan sesuatu nyai? Aku tidak mau kehilangan adikku juga jaya satria, lakukan sesuatu nyai." Putri Andhini Andita sangat memohon.
"Aku juga mohon padamu nyai." Ratu Dewi Anindyaswari juga terlihat sangat sedih. "Sembuhkan putraku nanda prabu, nanda jaya satria, aku tidak kuasa kehilangan keduanya sekaligus, aku mohon nyai."
"Gusti Ratu, Gusti Putri, hamba mohon bersabarlah, semuanya akan kita lakukan dengan tenang." Nyai Bestari Dhatu tidak tega melihat itu.
"Benar yang dikatakan nyai bestari dhatu." Syekh Asmawan Mulia juga tidak tega melihat itu. "Gusti Ratu, Gusti Putri, hamba akan membantu nyai bestari dhatu untuk mengobati nanda Prabu, nanda jaya satria." Syekh Asmawan Mulia mencoba menenangkan keadaan. "Serahkan semuanya kepada Allah, semoga Allah SWT membantu kita semua dalam pengobatan ini, percayalah Gusti Putri, Gusti Ratu."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tegar. "Maafkan aku nyai, karena aku terlalu memaksakan kehendak."
"Maafkan aku juga nyai." Putri Andhini Andita hanya tidak bisa menahan diri saja.
"Kalau begitu akan kami coba mengobatinya bersama-sama." Syekh Asmawan Mulia tentunya tidak tega melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang seperti itu.
"Mari Syekh." Nyai Bestari Dhatu merasa sangat terbantu.
Setelah itu Nyai Bestari Dhatu dan Syekh Asmawan Mulia mencoba melakukannya bersama-sama, sedangkan mereka menunggu sembari mengamati apa yang akan terjadi.
"Rayi dewi? Kuatkan dirimu." Bisik Ratu Gendhis Cendrawati dengan penuh simpati. "Aku juga ibunda dari nanda prabu, hatiku juga sedih karena kondisi putra kita yang saat ini sedang sakit." Ratu Gendhis Cendrawati juga menangis sedih. Ia juga merasakan kesedihan yang sama, meskipun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bukan anak kandungnya? Akan tetapi kasih sayangnya sama.
"Aku tidak kuat yunda." Ratu Dewi Anindyaswari merasa lemah saat ini. "Lagi-lagi putraku seperti ini? Hatiku sangat sedih yunda?."
Mereka semua terdiam mendengarkan apa yang dikatakan Ratu Dewi Anindyaswari. Memang sangat sedih, karena ini bukan untuk yang pertama kalinya sang prabu seperti ini.
...***...
Kerajaan Mekar Jaya.
Putri Ambarsari kembali melakukan semedi, kali ini konsentrasinya sangat kuat, hatinya sangat ingin mengetahui banyak hal yang membuat hatinya masih bertanya-tanya mengenai masalah keluarganya.
"Bukalah matamu cucuku."
Perlahan-lahan Putri Ambarsari membuka matanya, ia melihat sosok yang sangat asing baginya.
"Siapakah eyang ini? Maaf jika saya tidak mengenali eyang Prabu?."
Sosok lelaku tua itu tersenyum kecil mendengarkan pertanyaan itu. "Aku adalah eyangmu dari kakekmu nanda rahawan bimantara, namaku saka adi rahwana."
"Terimalah hormat ananda eyang prabu, maaf jika ananda sampai di kawasan ini." Putri Ambarsari memberi hormat.
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan sama sekali." Senyumannya begitu ramah. "Apa yang membuat engkau berjalan sampai sejauh ini? Dan aku merasakan ada hal yang sangat berat kau bawa saat ini."
"Begitu banyak masalah yang ananda jalani, rasanya ananda sangat bingung? Kenapa bisa seperti itu? Apakah karena kekuasaan? Seseorang akan menghilangkan hati nuraninya dan malah memusuhi keluarganya hanya karena tidak mendukung apa yang ia kerjakan?."
Terlihat sangat jelas bagaimana perasaan sedih yang ia rasakan saat itu, hatinya sangat sedih mengani keluarganya yang terpecah belah karena menginginkan tahta, ingin berkuasa.
"Kalau begitu? Aku bertanya padamu, bagimu? Tahta itu untuk apa? Bukankah sebelumnya kau juga menginginkannya?." Kali ini Sukma Saka Adi Rahwana terlihat sangat serius. "Meskipun kau sebelumnya gagal mendapatkan tahta utama? Namun sekarang kau akan mendapatkan tahta dari pihak ibundamu? Maka apa yang akan kau lakukan dengan tahta itu?." Pertanyaan itu sangat menekan. "Jika memang kau tidak ingin keluargamu terpecah belah seperti itu? Kenapa tidak kau berikan saja tahta itu pada salah satu saudaramu? Aku sangat yakin mereka akan senang, dan akan memuji dirimu karena berbaik hati memberikan tahta itu." Sorot mata Sukma Prabu Saka Adi Rahwana terlihat sangat serius.
Wush!.
Belum sempat Putri Ambarsari menjawabnya?. Tiba-tiba saja ia merasakan ada terpaan angin yang sangat kencang menerpa tubuhnya.
"Kegh!." Putri Ambarsari sedikit meringis, angin itu memberikan rasa sakit pada kulitnya.
Deg!.
Putri Ambarsari kembali pada raganya, mataya melotot lebar saking terkejutnya dengan apa yang menyerangnya secara tidak kasat mata.
"Kegh! Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa bisa seperti itu?." Dalam hatinya sangat heran. Nafasnya sedikit ngos-ngosan, tenaga dalamnya sedikit terkuras setelah apa yang terjadi tadi?. Bahkan keringat terlihat meleleh di wajahnya. "Pertanyaan itu? Bagaimana mungkin aku bisa menjawabnya?." Dalam hatinya masih bimbang ingin menjawab apa. "Jika aku memberikan tahta pada raka? Maka apa yang akan terjadi pada kerajaan ini?." Dalam hatinya bertanya-tanya jika seperti itu?.
Apakah yang akan dilakukan Putri Ambarsari dengan kegundahan yang ia rasakan?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
__ADS_1
Di sebuah desa.
Putri Agniasari Ariani baru saja selesai menikmati makan malamnya?. Sebenarnya ia hendak langsung menuju bilik penginapan yang ia pesan tadi, namun saat itu ia tidak sengaja melihat ada seorang wanita dengan perut yang membesar masuk ke halaman penginapan itu.
"Siapa dia nyi?." Rasa penasaran menghantui pikirannya.
"Sebaiknya nini jangan ikut campur, dia itu korban biadab dari senopati bumi sejagad." Bisiknya. "Malang sekali nasibnya, dan sekarang dia dibuang keluarganya karena malu."
Deg!.
Entah kenapa Putri Agniasari Ariani sangat tidak tega mendengarnya.
"Sudahlah nini, sebaiknya jangan terlibat dengan masalah apapun di desa ini."
"Tapi kasihan sekali nasibnya." Dalam hatinya sangat tidak tega melihat seorang wanita muda yang memiliki nasib tidak sebaik dirinya?. Apakah yang akan ia lakukan dalam kondisi seperti itu?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
Syekh Asmawan Mulia dan Nyai Bestari Dhatu telah berusaha untuk melakukan yang terbaik, hanya saja masih belum bisa menghilangkan hawa kegelapan yang ada di dalam tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Mohon ampun Gusti Ratu? Gusti Putri? Berikan hamba sedikit waktu untuk mencari obat yang mampu menetralkan racun yang menghambat aliran tenaga dalam mereka." Nyai Bestari Dhatu tidak tega melihat raut wajah kesedihan dua orang wanita yang sangat menyayangi prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Racun yang sangat berbahaya, dapat membuat seseorang tak sadarkan diri, bahkan dapat menyebabkan kematian." Syekh Asmawan Mulia yang saat dibantu Nyai Bestari Dhatu dapat melihat itu melalui tenaga dalamnya tadi.
"Racun?." Mereka semua terkejut mendengarkan penjelasan itu.
"Itulah yang hamba rasakan ketika memeriksa keadaan gusti prabu, juga jaya satria." Jawab Nyai Bestari.
"Begitu juga dengan hamba Gusti Ratu." Syekh Asmawan Mulia terlihat sangat sedih.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, begitu berat cobaan yang dialami putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa gamang mendengarkan penjelasan itu. Hatinya semakin gelisah, Ratu Dewi Anindyaswari tidak sanggup kehilangan kedua anaknya.
"Apakah nyai tahu bagaimana caranya menetralkan racun itu?." Raden Hadyan Hastanta ingin tahu. "Lakukan sesuatu untuk mengobati keduanya nyai."
"Katakan pada kami, apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu nyai?." Putri Andhini Andita menghapus air matanya. "Semoga saja kami bisa membantu." Mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihannya.
"Ya? Dengan mustika itu, keduanya mungkin saja keduanya bisa diselamatkan." Tiba-tiba Syekh Asmawan Mulia memotong pembicaraan Nyai Bestari Dhatu. Membuatnya menjadi pusat perhatian mereka semua.
"Syekh?."
"Mohon maaf nyai? Bisakah kita membahas masalah mustika itu berdua saja? Karena mustika itu-." Syekh Asmawan Mulia sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Baiklah Syekh, saya mengerti." Nyai Bestari Dhatu mencoba untuk memahami apa yang ingin disampaikan Syekh Asmawan Mulia padanya.
"Memangnya mustika apa yang kalian maksudkan?." Putri Andhini Andita penasaran dengan pembicaraan itu. "Mustika? Apakah ada sebuah mustika yang dapat menyembuhkan seseorang?." Ia menangkap ada sebuah rahasia yang sedang ditutupi oleh mereka.
"Mohon ampun Gusti Putri? Hamba baru ingat, mustika itu tidak bisa sembarangan disebutkan." Nyai Bestari Dhatu mencoba menjelaskannya. "Karena mustika itu tidak akan memiliki khasiat apapun jika dilihat oleh banyak orang." Lanjutnya. Ia terpaksa berbohong untuk menutupi mustika yang ada di dalam tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Tapi kita hanya membahasnya saja bukan? Bukan untuk melihatnya." Raden Hadyan Hastanta juga merasakan ada yang ganjal dengan jawaban itu.
"Mohon ampun Raden? Jangankan melihatnya? Membahasnya bersama saja mustika itu sangat sensitif." Kali Sykeh Asmawan Mulia yang menjawab sambil tersenyum kecil. "Karena itulah mohon izinkan hamba dan nyai bestari dhatu yang membahas masalah mustika itu." Syekh Asmawan Mulia mencoba meyakinkan. "Percayalah pada kami, tentang masalah cara menetralkan racun yang ada didalam tubuh nanda prabu, juga nanda jaya satria."
"Hamba mohon agar secepatnya kami menimbang masalah itu, agar cepat menemukan penawarnya." Nyai Bestari Dhatu terlihat sangat serius. "Karena jika dibiarkan terlalu lama? Akan membahayakan keselamatan gusti prabu dan jaya satria." Hatinya sangat berat mengatakannya. "Tentunya Raden? Gusti Ratu? dan Gusti Putri tidak mau kehilangan keduanya bukan?."
"Baiklah, jika itu memang bisa menyelamatkan kedua putraku." Ratu Dewi Anindyaswari hanya pasrah saja. "Aku mohon pada kalian agar bisa mendapatkan obat penawarnya sesegera mungkin, aku tidak kuasa menahan kesedihan ini lagi." Ratu Dewi Anindyaswari ikhlas. Ia menerima keputusan itu, demi kedua anaknya.
"Tapi aku mohon kalian melakukan yang terbaik demi rayi Prabu, juga jaya satria." Putri Andhini Andita terpaksa menahan dirinya agar tidak terlalu menurutkan kehendaknya.
"Aku mohon pada nyai dan Syekh agar secepatnya mengatasi racun itu, aku tidak mau kehilangan rayi Prabu." Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta.
"Lakukan yang terbaik! Jika kalian membutuhkan bantuan kami? Katakan saja! Kami akan selalu siaga." Ratu Gendhis Cendrawati juga berharap mereka bisa menyelamatkan nyawa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
Tentu saja mereka akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Tapi apakah bisa?. Simak dengan baik kisahnya.
...****...
Di sebuah tempat.
__ADS_1
Malam telah larut, namun saat itu Raden Gentala Giandra belum juga memejamkan matanya, matanya masih belum mau terpejam barang sejenak. Hanya bisa berbaring di atas dipan kecil bersama saudaranya yang telah terlelap duluan.
"Aku ini seorang putra mahkota yang sangat terhormat! Kenapa bisa jadi seperti ini?." Dalam hatinya bertanya-tanya mengenai apa yang telah ia alami beberapa bulan ini setelah kalah bertarung dari saudara-saudaranya beda ibu?. "Dari dulu rasanya aku tidak bisa hidup tenang sama sekali, bahkan aku tidak bisa mendapatan kedudukan tertinggi yang aku inginkan." Dalam hatinya merasakan sakit yang sangat sesak, apalagi jika ingat ketika ia menduduki singgasana kerajaan Suka Damai.
"Kenapa bisa seperti itu? Bagaimana mungkin ada singgasana yang bisa memilih siapa yang berhak mendudukinya?." Dari lubuk hatinya yang paling dalam merasakan itu adalah hal aneh, tidak masuk akal sama sekali. "Rasanya aku sedang dipermainkan, aku seperti orang bodoh karena tidak mengerti jalan permainan yang mereka ciptakan untuk menyingkirkan aku." Hatinya semakin membenci, tidak terima dengan nasibnya yang seperti itu.
"Kenapa bisa? Cakara casugraha itu lebih biadab dari aku! Tapi kenapa dia yang menjadi Raja?." Dalam hatinya sangat tidak terima dengan itu. "Ayahanda Prabu tidak adil, kakek prabu juga tidak adil, kenapa tahta itu malah diberikan pada ambarsari? Dia itu seorang wanita! Tidak layak memimpin sebuah negeri! Harusnya aku!." Di dalam hatinya saat itu terbesit pikiran dan keinginan untuk berkuasa yang sangat besar. Apakah ia bisa menjadi Raja hebat yang ditakuti oleh semua orang?. Temukan jawabannya.
...***...
Di Kerajaan Mekar Jaya.
Di bilik Ratu Ardiningrum Bintari.
Hatinya masih saja bersedih karena belum juga mengetahui bagaimana keadaan kedua anaknya. Hatinya tidak bisa tenang sebelum mendengar kabar jika anaknya masih hidup?.
"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya masih takut.
"Dinda?."
Deg!.
Ratu Ardiningrum Bintari tersentak terkejut ketika mendengarkan suara yang sangat tidak asing baginya.
"Kanda Prabu?." Hatinya bergetar dan menyebutkan nama itu. "Kanda Prabu kawiswara arya ragnala? Apakah itu kanda?." Matanya memperhatikan biliknya dengan seksama, mencari sosok yang telah memanggilnya?.
"Dinda ardiningrum bintari?."
Deg!.
Ratu Ardiningrum Bintari semakin gamang karena telinganya mendengarkan suara Prabu Kawiswara Arya Ragnala berasal dari arah belakangnya?. Dengan hati-hati Ratu Ardningrum Bintari membalikkan badannya.
Deg!.
Matanya terbelalak terkejut ketika melihat sosok itu, sosok yang sangat ia rindukan di dalam hidupnya.
"Kanda Prabu!." Tanpa pikir panjang lagi?. Ratu Ardningrum Bintari. "Kanda Prabu? Jangan tinggalkan dinda."
"Tenanglah dinda, jangan menangis." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menenangkan Ratu Ardningrum Bintari.
"Kanda, dinda mohon berikan tahta kerajaan suka damai pada putra dinda!." Setelah berkata seperti itu Ratu Ardningrum Bintari melepaskan pelukannya.
"Kenapa seperti itu dinda? Kenapa kanda harus memberikan tahta kerajaan suka damai pada putra dinda?."
"Sebab yang berhak menjadi Raja setelah kanda adalah putra pertama, yaitunya putra dinda yang paling berhak!." Tegasnya sambil menangis.
Prabu Kawiswara Arya Ragnala terdiam sejenak. "Tidak semua putra pertama mendapatkan tahta, jika ia tidak memiliki sikap yang terdapat pada salah satu pedang panggilan jiwa yang telah diwariskan eyang Prabu bahuwirya jayantaka byakta."
"Pedang panggilan jiwa?! Kanda Prabu tidak mengatakannya!." Hatinya sedang dipenuhi oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
"Kanda telah menjelaskan pada mereka semua mengenai pedang panggilan jiwa, dan siapapun berhak mendapatkan tahta kerajaan suka damai, asalkan dia lah yang memegang pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi."
"Kenapa harus seperti itu kanda? Itu tidak adil namanya! Kenapa harus seperti itu?!." Rasanya tidak terima sama sekali dengan penjelasan itu.
"Karena pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi adalah pondasi utama yang menopang kerajaan suka damai." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak salah dalam mengingat itu. "Pedang pertama yang menjadi pondasi utamanya adalah pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi! Nanda cakara casugraha berhasil menggetarkan pedang panggilan jiwa, karena ia memang ingin menjadi pondasi utama kerajaan suka damai, ia ingin semuanya hidup damai dalam atap yang sama." Sorot mata Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat sangat serius. "Nanda cakara casugraha telah bertekad di dalam hatinya, bahwa ia akan melakukanya dengan sungguh-sungguh untuk melindungi kerajaan suka damai dengan tangannya, itulah alasan kenapa pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi memilihnya sebagai Raja yang akan menopang semuanya, ia telah membelah perasaan dendamnya pada kalian semua di masa lalu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala merasakan perasaan sesak.
"Kenapa kanda malah membanggakan anak terkutuk itu?! Dia ingin membunuh putra dinda!." Ratu Ardiningrum Bintari masih belum bisa menerima penjelasan itu, dan justru malah menyalahkan Raden Cakara Casugraha?.
"Kanda mohon pada dinda, segeralah berubah ke arah yang lebih baik." Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat sangat sedih. "Dinda telah durhaka kepada ayahanda Prabu rahwana Bimantara, berubah lah dinda! Sebelum karma datang menghampiri dinda!."
"Tidak! Aku tidak akan berubah! Aku tidak akan berubah sebelum anakku mendapatkan tahta yang ia inginkan! Tidak!."
Deg!.
Ratu Ardiningrum Bintari terbangun dari tidurnya sambil berteriak keras, hatinya sangat sakit mengingat apa yang telah dikatakan Prabu Kawiswara Arya Ragnala padanya?.
"Tidak!." Ratu Ardiningrum Bintari sesegukan karena terbawa suasana mimpi yang dialaminya. "Aku tidak akan bisa terima! Putraku yang seharunya menjadi Raja di kerajaan suka damai! Bukan anak terkutuk itu!." Hatinya sekarang diisi oleh perasaan dendam dan marah yang sangat membuncah. "Kenapa hidup kami seperti ini? Bahkan kanda Prabu kawiswara arya ragnala tidak mendukung sama sekali keinginanku." Dadanya sangat sesak setelah mengalami mimpi itu?. "Kenapa takdir tidak mengizinkan putraku yang menjadi Raja?! Kenapa?!." Ratu Ardiningrum Bintari sangat putus asa karena anaknya tidak bisa menjadi Raja?.
Apakah yang akan dilakukan Ratu Ardningrum Bintari?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
__ADS_1
...****...