
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sangat cemas dengan keadaan anaknya. Hatinya sangat gelisah, sehingga ia tidak bisa memejamkan matanya.
"Ada apa ibunda?. Kenapa ibunda terlihat sangat cemas sekali?. Katakan pada nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa simpati pada ibundanya.
"Ibunda tidak melihat rakamu nak. Tadi ibunda sempat melihat ia keluar. Apa yang dilakukan rakamu. Apakah ia melakukan ronda lagi nak?." Rasa cemas yang ia rasakan begitu dalam, dan sebagai seorang ibu. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya.
"Raka prabu tidak lama ibunda. Do'a kan saja raka baik-baik saja ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak tega untuk mengatakan pada ibundanya, jika Jaya Satria saat ini sedang berada di desa gaib. Pasti ibundanya akan semakin cemas, dan bisa jadi menyuruhnya untuk menyusul ke sana.
"Apakah itu benar nak?. Apakah rakamu tidak akan lama perginya?." Ratu Dewi Anindyaswari ingin memastikan jika anaknya akan segera kembali.
"Tenanglah ibunda. Raka prabu akan kembali." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meyakinkan ibundanya. "Ibunda tidak usah khawatir. Sebaiknya ibunda istirahat dulu. Dini hari kita akan makan sahur. Raka prabu hanya memberi tahu pada pendekar-pendekar yang jaga agar datang ke istana. Bukankah dua hari lagi kita akan merayakan hari kemenangan ini ibunda."
Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut. "Baiklah nak. Jika memang itu yang dilakukan rakamu." Hatinya mulai terasa lapang. "Kalau begitu ibunda istirahat dulu. Maaf mengganggumu nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencium kening anaknya. "Setelah rakamu kembali, kalian juga beristirahat lah nak. Supaya segar saat sahur nanti." Ratu Dewi Anindyaswari menatap lembut anaknya. "Nanda juga jaga kesehatan. Supaya bisa menetapkan sesuatu dengan baik, serta berjalan sesuai. dengan yang ada. Menimbang semua laporan yang masuk dengan pikiran yang lapang. Ibunda juga selalu mendoakan mu nak. Karena nanda tetaplah putra yang ibunda sayangi." Telah lama rasanya Ratu Dewi Saraswati tidak mengungkapkan perasaan sayangnya pada anaknya. "Karena itulah nanda harus tetap bersama rakamu nak. Bantu rakamu, karena ibunda yakin ia tidak akan betah bekerja di istana ini." Ratu Dewi Anindyaswari sangat hafal dengan sifat anaknya. "Sebagai raganya yang baik, yang memiliki keinginan-keinginan yang baik. Ibunda harap nanda bisa membantu rakamu nak." Itulah harapan Ratu Dewi Anindyaswari.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir saja menangis mendengarkan apa yang dikatakan ibundanya. Namum sebisa mungkin ia tahan, karena ia tidak mau memperlihatkan air matanya dihadapan ibundanya.
__ADS_1
"Insyaallah ibunda. Nanda akan selalu bersama raka prabu. Doa ibunda yang kami harapkan untuk terus melangkah maju." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menekan perasaan dihatinya. Meskipun hanya raga kedua dari Raden Cakara Casugraha, tentunya perasaan yang ia rasakan tetaplah perasaan hati Raden Cakara Casugraha. Itu tidak akan pernah terbantahkan sampai kapanpun juga.
...***...
Sementara itu, Putri Andhini Andita melaksanakan sholat malam. Ia ingin menetramkan suasana hatinya yang sangat gelisah dan tak tentu arah itu. Sholat malam dua raka'at yang ia kerjakan dengan sangat khusyuk.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Setelah mengucapkan dua salam, dan berzikir. Putri Andhini Andita berdoa kepada Allah SWT.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang membolak balikkan hati manusia. Hamba sangat memohon padamu. Hamba tidak ingin melukai adik hamba cakara casugraha. Jangan sampai hamba merasakan perasaan yang berbeda dengan adik hamba. Hilangkan perasaan cinta yang berlebihan dihati hamba. Kembalikan perasaan hamba seperti dulu tanpa perasaan cinta. Hanya kasih sayang kakak terhadap adiknya ya Allah." Dalam doanya, air matanya turut menyertai rintihan hatinya. "Hamba hanya takut padamu ya robb. Jika memang pernikahan saudara itu tidak baik. Maka ampunilah hamba yang telah memiliki keinginan yang tidak biasa itu ya Allah." Putri Andhini Andita mengungkapkan kesedihannya dalam sholat malam. Sudah beberapa hari ini ia melakukan sholat malam, dan ia sama sekali belum mampu melakukannya. Sementara itu pedang panggilan jiwa masih bergetar di dalam dirinya.
"Kau pasti bisa melakukannya andhini andita. Jangan kau turuti nafsu buruk mu yang akan mencelakai dirimu nantinya." Sukma Dewi Suarabumi seakan hadir di bilik Putri Andhini Andita. Saat ini ia sedang duduk manja di pinggiran tempat tidur Putri Andhini Andita. "Ingat, apa yang telah aku perlihatkan padamu. Jika kau tidak ingin melihat adikmu berakhir dengan darah. Maka kau harus menekan perasaan cinta yang ada di dalam dirimu andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi seakan terus mengingatkan Putri Andhini Andita agar tidak melakukan kesalahan.
Sedangkan Sukma Dewi Suarabumi memperbaiki posisi duduknya, dan setelah itu ia menghilang dengan raut wajah yang datar. Seakan ia merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita yang sama sekali tidak mempercayai dirinya.
"Hamba lebih percaya dengan takdir yang telah engkau tetapkan pada hamba ya Allah. Jika memang perasaan ini adalah ujian untuk hamba. Maka hamba akan melewati ujian ini dengan baik. Rabbana atina fiddunya hasanatau wakina azabannar, walahamdulillahirobbil a'lamiin." Putri Andhini Andita selesai melaksanakan sholat malam. Air matanya belum juga berhenti memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi jika ia masih mengungkapkan perasaan cintanya pada adiknya itu. Tidak bisakah ia menghentikan perasaan yang berlebihan itu dihatinya?.
...***...
__ADS_1
Disatu sisi, Raden Jatiya Dewa saat ini sedang mencoba memahami tulisan Al-Qur'an yang diajari syekh Asmawan Mulia. Meskipun malam telah larut, namun ia masih ingin memahami tulisan Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Sedangkan ketiga temannya telah tertidur pulas di dalam mushola saat ini.
"A-ba-ta-tsa?." Ia terus mengulang-ulang sambil terus mengingat bentuk tulisan yang masih terpisah-pisah hurufnya. Memang bacaan iqra yang diajarkan oleh Syekh Asmawan Mulia, namun Raden Jatiya Dewa sangat tertarik untuk mempelajarinya dengan baik. Hingga suara syekh Asmawan Mulia menyapa dirinya.
"Tidurlah dulu raden."
"Astagfirullah hal'azim ya Allah." Raden Jatiya Dewa sangat terkejut dengan kedatangan Syekh Asmawan Mulia. Akan tetapi, ia justru malah menertawakan Raden Jatiya Dewa.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Raden telah belajar dengan baik. Jika raden terkejut, marah, atau pun melihat sesuatu yang ganjal, maka raden mengucapkan kalimat astaghfirullah hal'azim. Jika raden merasa bersyukur setelah mengerjakan sesuatu atau mendapatkan sesuatu, maka raden ucapkan alhamdulilah hirabbli'alamin. Itu semua kalimat yang baik. Raden harus mengingatnya dengan baik."
"Alhamdulillah hirabbli'alamin syekh guru. Saya akan belajar dengan baik. Karena saya suka mengamati tulisan ini. Saya jadi ketagihan untuk terus mau membacanya." Balas Raden Jatiya Dewa.
"Istirahatlah dahulu. Sebentar lagi akan memasuki dini hari dan akan makan sahur. Tidak baik tidur memasuki subuh. Yang ada kita akan kebablasan melaksanakan sholat subuh. Besok saja lanjutkan membacanya." Syekh Asmawan Mulia sangat senang mendengarnya.
"Baiklah syekh guru. Kalau begitu saya istirahat dahulu." Raden Jatiya hanya tersenyum kecil. Matanya juga sudah terasa sangat berat.
Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...