RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
NAMA JAYA SATRIA


__ADS_3

...***...


Kembali ke masa itu.


Telah hampir tujuh hari Raden Cakara Casugraha berada di tempat Syekh Asmawan Mulia. Perlahan-lahan ia belajar kesabaran, meskipun sesekali kadang amarahnya itu kadang kambuh. Hampir mendekati subuh, Raden Cakara Casugraha dibangunkan oleh Syekh Asmawan Mulia.


"Makan sahur?. Apa itu syekh guru?."


"Kita akan melakukan puasa. Jadi kita harus makan sahur. Yiatunya makan malam, sebelum waktu subuh masuk."


"Apakah harus?."


"Makan sahur itu sunnah, yang artinya lebih baik dikerjakan, karena pahalanya akan menghapus dosa yang ada di dalam diri kita."


"Ooo jadi begitu ya syekh guru."


"Kalau begitu mari kita makan sahur."


"Mari syekh guru."


Setelah itu mereka makan sahur bersama. Namun ada pertanyaan bagi Raden Cakara Casugraha.


"Mengapa nyi ayudiyah tidak sahur?. Apakah nyi ayudiyah tidak menginginkan pahala?."


"Nah, nanda harus harus mengingatnya. Ada beberapa orang yang diwajibkan berpuasa, dan ada juga yang boleh tidak berpiasa."


"Mengapa demikian syekh guru?. Bukankah itu tidak adil namanya?."


Syekh Asmawan Mulia dan Nyi Ayudiyah Purwati tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Memang di dalam al-qur'an dijelaskan, diwajibkan atas orang-orang yang beriman untuk berpuasa. Namun ada orang-orang tertentu yang tidak bisa ikut berpuasa. Seperti orang yang sedang melakukan perjalanan jauh atau musafir, lalu orang tua yang sudah rentan atau karena usianya yang sudah tidak sanggup lagi untuk berpuasa. Orang gila, anak-anak kecil yang belum mencapai usia baligh. Seorang wanita yang dalam keadaan haid, wanita yang dalam keadaan hamil, atau sedang menyusui anaknya."


"Jadi alasan mengapa nyi ayudiyah tidak berpuasa, karena dalam keadaan mengandung?."


"Nah, itu benar sekali. Nanda sangat pintar mendengarkan apa yang syekh guru ucapkan. Karena keadaan nini ayudiyah yang seperti ini, jadi nini ayudiyah tidak bisa menjalankan ibadah puasa. Sebab, harus memperhatikan kondisi janin yang ada di dalam kandungannya. Jangan sampai kekurangan tenaga, jadi tidak bisa melakukan ibadah puasa."


"Jadi seperti itu ya. Rasanya memang agak berat."


"Raden telah belajar tentang kesabaran, jadi raden seharusnya bisa."


"Nanda akan mencobanya."


"Tapi sebelum itu, nanda harus ingat. Jika nanda tidak boleh melanggar pantangan saat berpuasa. Seperti makan atau minum sebelum pada waktunya. Tidak boleh marah yang berlebihan, sehingga membatalkan puasa. Tidak boleh muntah dengan sengaja. Apakah nanda mengerti?."

__ADS_1


"Rasanya memang berat, tapi nanda akan berusaha sekuat tenaga syekh guru."


"Alhamdulillah hirabbli'alamin, jika Nanda mengerti, dan nanda juga mau berusaha untuk mau belajar dengan baik."


Setelah itu, Raden Cakara Casugraha memperhatikan gerakan sholat yang dilakukan Syekh Asmawan Mulia. Banyak sekali yang diajarkan oleh Syekh Asmawan Mulia padanya.


Paginya. Terik matahari lumayan menyengat. Raden Cakara Casugraha sedang memotong kayu bakar. Rasanya tenggorokannya sangat kering. Hingga tanpa sadar, ia mengambil sedayung air yang berada di dalam kendi yang lumayan besar.


Akan tetapi, tentunya dilihat oleh Nyi Ayudiyah Purwati, juga Syekh Asmawan Mulia. Membuat Raden Cakara Casugraha teringat sesuatu.


"Oh iya, maaf. Nanda lupa, jika nanda sedang berpuasa. Maafkan nanda, sungguh tidak bermaksud untuk membatalkan puasa."


Syekh Asmawan Mulia dan Nyi Ayudiyah Purwati tersenyum kecil mendengarkan itu. Rupanya Raden Cakara Casugraha menang ingat, jika dirinya sedang berpuasa.


"Baiklah, kalau begitu nanda beristirahatlah dahulu. Nanti lanjutkan pekerjaannya."


"Terima kasih syekh guru.'


Raden Cakara Casugraha benar-benar bersungguh-sungguh belajar bersama Syekh Asmawan Mulia. Hingga akhirnya ia mengucapkan kalimat syahadat, menyatakan dirinya masuk agama Islam. Perjuangannya untuk belajar dalam tuntunan agama yang baik tidaklah mudah. Hingga suatu hari, ayahandanya datang menemui dirinya.


"Ayahanda prabu."


"Syukurlah nanda baik-baik saja. Ayahanda sangat bersyukur, nanda dapat melalui cobaan ini dengan tenang."


"Nanda hanya belajar, demi ayahanda, ibunda, juga yunda."


"Tapi mengapa ayahanda terlihat sedih?. Apakah ayahanda prabu sedang mengalami masalah?. Apakah ayahanda prabu mendapatkan kesulitan saat ini?. Katakan pada nanda, ayahanda prabu. Semoga nanda bisa membantu ayahanda prabu."


"Terima kasih, karena nanda begitu perhatian pada ayahanda. Rasanya sangat bahagia sekali, diperhatikan oleh putra ayahanda."


"Apakah nanda tidak boleh perhatian pada ayahanda prabu?."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala tertawa kecil. Anaknya masih sama, walaupun hanya amarahnya yang sedikit berbeda. Sementara itu, Syekh Asmawan Mulia dan Nyi Ayudiyah Purwati yang melihat itu juga ikut bahagia. Kedekatan antara ayah dan anak.


"Jika nanda bersedia, ayahanda ingin bantuan pada nanda. Ayahanda ingin nanda menyelesaikan beberapa masalah yang ada di desa damai abdi."


"Tentu saja nanda bersedia ayahanda. Nanda akan membantu ayahanda prabu."


"Terima kasih nak. Tapi nanda tidak bisa dalam wujud raden cakara casugraha. Karena nanda masih menjalani hukuman buang."


"Lalu apa yang harus nanda lakukan untuk membantu ayahanda Prabu?. Bagaimana caranya nanda bisa membantu ayahanda prabu?."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengeluarkan sehelai pakaian hitam, serta sebuah topeng. Ia serahkan pada anaknya, untuk dipakai anaknya.

__ADS_1


"Gunakanlah ini nak. Semoga dengan mengenakan ini, nanda bisa membantu ayahanda."


"Sandika ayahanda prabu."


"Selain itu, nanda harus menggunakan nama jaya satria. Agar nanda lebih leluasa berjalan di kerajaan suka damai."


"Jaya satria?. Apakah ayahanda memberikan nama itu untuk nanda?."


"Tentu saja nak. Dengan nama jaya satria, ayahanda berharap, jiwa kesatria yang dimiliki oleh nanda, membawakan kejayaan bagi ibunda, ayahanda, yunda, juga kerajaan suka damai."


"Subhanallah, sungguh nama yang sangat bagus ayahanda prabu. Semoga saja, nanda bisa mewujudkan keinginan ayahanda prabu, sesuai dengan arti nama yang ayahanda prabu berikan pada nanda."


"Dengan menggunakan topeng ini, nanda juga bisa leluasa masuk ke istana. Tapi nanda tidak boleh mendekati ibunda dewi anindyaswari. Nanda hanya bisa melihat ibunda, serta yunda dari jauh saja. Karena nanda benar-benar harus menyelesaikan hukuman itu."


"Terima kasih ayahanda. Terima kasih karena memberikan kesempatan pada nanda, untuk melihat ibunda juga yunda, walaupun dari jarak yang jauh. Terima kasih ayahanda telah menyayangi nanda. Maafkan nanda, karena nanda tidak bisa mengendalikan kekuatan kutuan ini ayahanda prabu."


Raden Cakara Casugraha menangis haru, sekaligus sedih. Setidaknya ayahandanya memberikan kesempatan padanya. Rasanya ia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Kerinduannya pada ibunda, serta kakaknya.


"Oh putraku. Tentu saja ayahanda menyayangimu nak. Ayahanda juga ingin selalu berada didekat nanda. Ingin memanjakan nanda. Nanda adalah putra kesayangan ayahanda. Terim kasih, nanda bersedia membantu ayahanda nak."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk anaknya. Rasanya sangat bahagia, jika anaknya bersedia membantunya. Ia hanya ingin salah satu anaknya mengurangi beban yang ia tanggung saat ini.


...***...


Kembali ke masa ini.


"Jadi nama jaya satria itu adalah pemberian dari ayahanda prabu?."


"Benar gusti Putri. Gusti prabu yang memberikan nama itu pada nanda cakara casugraha."


"Jadi dengan bersembunyi dibalik topeng itu, rayi cakara casugraha terus membantu ayahanda prabu?."


"Begitulah yang terjadi gusti ratu agung. Nanda cakara casugraha membantu gusti prabu dibalik topeng itu."


"Rasanya saya sangat malu. Sangat malu pada diri saya sendiri."


"Mengapa nanda ratu agung berkata seperti itu?. Apa alasan nanda ratu agung berkata seperti itu?."


"Nanda sangat malu ibunda. Disaat Rayi prabu menjalani hukuman buang, rayi prabu dengan sekuat tenaga membantu ayahanda prabu. Sementara kami, berusaha mencari-cari kesalahan ibunda dewi, rayi agniasari ariani. Bahkan nanda juga malah mempengaruhi kedua adik nanda untuk melakukan perbuatan yang tidak patut untuk dicontoh."


"Yunda benar. Kita sama sekali tidak membantu ayahanda prabu, justru kita malah menambah beban pikiran ayahanda prabu."


"Rasanya sangat menyesal sekali, tidak bisa membantu ayahanda prabu."

__ADS_1


Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara, Raden Cakara Casugraha, dan Putri Andhini Andita merasakan penyesalan yang luar biasa. Mereka ingin kembali dimana ayahanda mereka masih hidup. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2