
...***...
Mereka semua sangat panik ketika melihat Prabu Rahwana Bimantara tidak sadarkan diri. Mereka segera membawanya ke ruang pengobatan.
"Bagaimana bisa ayahanda prabu tiba-tiba pingsan?." Ratu Ardiningrum Bintari sangat panik mengetahuinya.
"Tidak tahu ibunda. Pada saat kami sedang membicarakan masalah perang, tiba-tiba kakek prabu meringis kesakitan dan pingsan." Putri Ambarsari menangis karena tidak mengerti apa penyebabnya.
"Benar ibunda. Kami sangat takut, jika kakek prabu mengalami sesuatu." Raden Ganendra Garjitha juga terlihat panik.
"Jangan-jangan ini adalah ulah rayi prabu." Dalam keadaan panik seperti ini, Raden Gentala Giandra malah berpikiran. Apa yang dialami oleh Prabu Rahwana Bimantara, itu adalah ulah prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
Mereka nampak berpikir sejenak, dan mencerna perkataan itu. Kemarahan mereka semua memuncak, dan semakin dendam.
"Kurang ajar!." Hatinya telah dipenuhi amarah yang berlebihan. Ia mengepalkan kuat tangannya. Ia ingin melampiaskan amarah yang mendesak dadanya.
"kurang ajar kau rayi prabu!." Amarahnya seakan mengalahkan gemuruh langit, yang sedang menggulung di atas langit Kerajaan Mekar Jaya.
"Aku pasti akan menghajarnya!. Kita harus segera mungkin meluluh lantakkan istana kerajaan suka damai, dan membunuh si bedebah itu!." Raden Ganendra Garjitha sangat marah, hingga ia ingin mempercepat perang itu terjadi.
"Tapi putraku. Sebaiknya kita tunggu kakek prabu siuman dulu. Ibunda tidak mau penyerangan itu tanpa ayahanda prabu." Ratu Ardiningrum Bintari berpikir lain, ia ingin ayahandanya yang memimpin perperangan itu.
"Tapi kita tidak bisa menunggunya lagi ibunda. Jika kita tidak segera menyerangnya, aku takut dengan dukunnya itu,dia akan lebih membuat kakek prabu lebih menderita lagi ibunda." Raden Ganendra Garjitha hanya mencemaskan keadaan Prabu Rahwana Bimantara, jika tidak bertindak dengan cepat.
"Itu benar raka. Kita harus segera membunuhnya. Agar tidak lagi bermain dukun, menyerang kita dengan pengecut seperti itu." Raden Gentala Giandra merasa marah, ia tidak terima sama sekali dengan apa yang menimpa Prabu Rahwana Bimantara.
Ratu Ardiningrum Bintari tidak bisa berkata apa-apa lagi. Benar yang dikatakan oleh anak-anaknya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana harus segera dibunuh, jika tidak ayahandanya yang akan terbunuh karena dukun itu.
Bagaimana kelanjutannya?. Baca terus ceritanya.
...***...
Sementara itu. Di Kerajaan Suka Damai.
"Ada apa nanda prabu?. Kenapa nanda prabu tampak gelisah?. Apa yang nanda prabu pikirkan?." Syekh Asmawan Mulia bertanya pada sang prabu.
"Entahlah syekh guru. Nanda merasakan perasaan yang tidak enak sejak tadi malam." Sang prabu bingung dengan perasaan aneh yang menghinggapi hatinya saat ini.
"Perang memang membuat kita semua merasa cemas nanda prabu. Apalagi rakyat yang menginginkan hidup aman, damai dan rukun. Namun saat ini mereka takut sewaktu-waktu ada serangan yang datang." Syekh Asmawan Mulia menatap Sang Prabu.
"Bukan hanya itu saja syekh guru. Nanda merasakan, ada pihak lain yang sepertinya ikut campur dalam perperangan ini syekh guru." Entah mengapa perasaanya mengatakan seperti itu.
"Astaghfirullah hal'azim. Nanda prabu jangan terlalu berlebihan dalam mencemaskan perang. Tetaplah berpegang teguh kepada Allah SWT, dalam keimanan nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia mengingatkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, agar tidak terlalu memikirkan masalah perang.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan pikirannya. Ia tidak mau pikirannya kacau, karena kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada perang nanti.
"Sampurasun." putri Andhini Andita, Senopati Mandaka Sakuta, dan Raden Hadyan Hastanta mengucap salam ketika mereka menemui sang prabu.
"Rampes." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Syekh Asmawan Mulia.
Mereka saat ini berada di halaman istana, berada di pondok tempat berteduh di halaman istana ketika ingin menikmati suasana istana.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria juga mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Syekh Asmawan Mulia.
"Apa yang bisa kami bantu Gusti prabu." Senopati memberi hormat pada sang prabu yang terlihat gelisah.
"Benar rayi prabu. Katakan saja pada kami, apa yang bisa kami bantu." Raden Hadyan Hastanta ingin menghilangkan kegundahan yang dirasakan oleh adiknya itu.
"Saya hanya gelisah saja." Jawabnya agak ragu. "Tapi saya harap kalian mau melakukannya dengan baik." Lanjutnya.
"Apa itu?. Katakan saja rayi prabu." Putri Andhini Andita nampak antusias, dengan apa yang akan diperintahkan oleh adiknya.
__ADS_1
"Saya merasakan firasat yang tidak enak tentang perang ini." Jawab sang prabu.
"Jadi kegelisahan yang hamba rasakan ini benar?. Bahkan gusti prabu juga merasakan keanehan akan terjadi?." Dalam hati Jaya Satria sedikit merasa aneh. Perasaannya terhubung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Kenapa bisa?. Temukan jawabannya.
"Senopati mandaka sakuta. Segera berjaga di bagian istana selatan. Dan arahkan pada Pendekar untuk melindungi rakyat. Segera ungsikan mereka secepat mungkin." Sang prabu memberikan perintah pada senopatinya.
"Raka hadyan hastanta. Segera pergi ke bagian utara kerajaan. Lindungi daerah itu jangan sampai menjadi taklukan mereka nanti. Jaya satria dan yunda andhini andita menuju arah hulu sungai yang membatasi kerajaan ini." Lanjutnya.
"Saya mendapatkan firasat, bahwa kita akan segera di serang oleh pihak lawan. Jadi kita harus segera mencegah mereka, agar tidak masuk dengan mendadak di istana ini." Sang prabu memberikan perintah pada mereka agar segera berada di tempat yang telah di tetapkan.
"perintah gusti Prabu akan segera kami laksanakan. Sandika gusti Prabu." Mereka semua memberi hormat pada sang prabu. Setelah itu menuju tempat tugas masing-masing, juga tidak lupa para sepuh yang sebagian ikut dalam perang ini.
"Ya Allah. Semoga saja firasat ini tidak salah ya Allah." Dalam hati sang prabu berharap firasatnya salah. Dan pihak lawan belum menyerang ketika mereka lengah, atau fokus pada pelatihan prajuritnya.
"Ya Allah. Lindungilah negeri kami dari ancaman perperangan yang sangat merugi. Aamiin ya rabbal aalaamiin." Dalam hatinya syekh Asmawan Mulia juga mendo'akan yang terbaik untuk kerajaan ini.
...****...
Raden Hadyan Hastanta, Senopati Mandaka Sakuta, Putri Andhini Andita, Jaya Satria dan beberapa pendekar pilihan dari sang prabu telah siapa di tempat masing-masing sesuai dengan perintah sang prabu.
"Aku yakin sebentar lagi mereka akan ke mari." Ucap Jaya Satria dengan sangat yakinnya.
Saat ini Jaya Satria dan Putri Andhini Andita mengintai dari jarak yang aman bersama para prajurit.
"Maksudmu. Rayi prabu tadi gelisah, karena merasakan akan ada serangan yang akan datang ke kerajaan ini?." Ia ingin memastikan bahwa itu yang dikhawatirkan oleh sang prabu, dan memerintahkan mereka agar segera bersiap-siap?.
"Hamba rasa seperti itu gusti putri." Jawabnya. Namun mata itu menatap tajam ke arah depannya.
Mereka semua sedang bersiap di tiap arah kerajaan, sesuai perintah sang Prabu. Agar perang ini tidak menganggu ketenangan rakyat suka damai, jadi bisa mencegah mereka masuk ke wilayah kerajaan.
Dan benar saja, mereka melihat pasukan kerajaan Mekar Jaya yang hendak memasuki kerajaan Suka Damai. Namun Jaya Satri masih belum memberi aba-aba pada mereka untuk menyerang. Hanya menunggu mereka sedikit lengah, dan terkena jebakan mereka.
Dengan perasaan berdebar-debar mereka menunggu itu. Menunggu prajurit Kerajaan Mekar Jaya untuk masuk ke perangkap yang telah mereka buat.
Begitu mereka sampai dekat pohon itu, prajurit yang tidak menyadari serangan itu, mendapatkan serangan berupa serangan jarum yang tak kasat mata.
Mereka semua terkejut melihat beberapa teman mereka tumbang, dan tidak bergerak lagi?. Mereka semua jadi panik, dan ketakutan melihat itu.
"Tetap berada di jalur kalian!. Jangan takut!. Hadapi dengan baik!. Jangan panik!." Suara seorang wanita mengarahkan mereka agar tetap tenang, ia mencoba menghalau serangan itu.
Dengan kekuatan tenaga dalamnya, ia mencoba menghancurkan jarum-jarum yang menyerang prajurit yang ia pimpin, ia tidak bisa menerima itu. Ia tidak mau kehilangan prajurit sebelum mulai berperang. Atau mereka sudah mulai berperang, dan mendapatkan serangan gaib?.
"Kurang ajar!. Tenyata mereka sudah mempersiapkan jebakan ini." Ia merasa kesal karena begitu banyak jarum-jarum yang akan ia halau. Namun akhirnya ia atasi, ia bisa menguasai keadaan juga menenangkan prajuritnya.
"Hei!. Kalian para pengecut!. Keluarlah!." Suara itu terdengar sangat keras, dicampur dengan amarah yang bergemuruh di dalamnya.
Putri Andhini Andita, dan juga Jaya Satria keluar dari persembunyian bersama prajurit yang mereka pimpin.
"Tenyata kalian para pengecut yang bersembunyi dibalik semua ini!." Wanita itu tidak lain adalah Putri Ambarsari.
"Oh. Uunda ambarsari." Ia sudah melihat dengan jelas siapa yang akan ia lawan. "Heh!. Aku sudah menduganya." Ia mendengus kecil.
"Diam kau penghianat!. Aku tidak sudi kau panggil yunda, dengan mulut kotormu itu!." Ia sangat marah, sampai menunjuk kiri ke arah putri Andhini Andita. Ia menghardiknya dengan penuh amarah.
"Aku juga tidak sudi, memiliki yunda biadab seperti kau!." Balas Putri Andhini Andita dengan perasaan marah yang tiba-tiba muncul dihatinya.
"Kurang ajar!. Apa kau pikir, kau sudah memiliki ilmu Kanuragan yang cukup, sehingga kau berani berkata seperti itu padaku. Hah?!." Suaranya terdengar sangat keras, begitu juga dengan hatinya yang telah dipenuhi oleh dendam.
"Kita lihat saja." Ia malah menantang Putri Ambarsari, hingga tidak dapat lagi menahan amarahnya.
"Kalian!. Serang mereka!." Perintah putri Ambarsari pada prajuritnya yang masih tersisa setengahnya.
"Kalian semua!. Serang mereka!." Jaya Satria juga memberi perintah pada prajurit, yang telah siap di belakangnya, untuk mencegah mereka menyerang mereka dan masuk ke wilayah kerajaan Suka Damai.
__ADS_1
Pertarungan itu sudah tidak dapat dihindari lagi, perang telah terjadi. Dentingan senjata terdengar memilukan. Sanggupkah kau mendengar rintihan dari gesekan senjata itu?. Tidak ada yang tahu jika dalam keadaan hidup dan mati. Musuh atau kawan, serta hak dan keinginan.
"Aku ke sini memang ingin menghajar kalian berdua. Dan siapa sangka aku langsung berhadapan dengan kalian." Putri Ambarsari telah siap dengan jurusnya.
"Jangan terlalu banyak bicara!. Kau lah yang akan aku ringkus!. Karena beraninya kau memberontak, dan menyerang negerimu sendiri!." Putri Andhini Andita juga telah siap dengan jurus-jurusnya.
Lalu bagaimana dengan Jaya Satria?. Ia hanya melihat kedua putri raja yang sedang adu mulut. Ia pada akhirnya nanti akan menghentikan pertarungan keduanya, jika mereka melewati batas yang wajar sebagai saudara.
Kali ini ia biarkan keduanya melepaskan amarah mereka masing-masing melalui pukulan. Agar mereka saling memahami satu sama lain.
Saat ini ia sedang fokus untuk mengahalau prajurit yang mau masuk ke wilayah kerajaan Suka Damai.
...****...
Disisi lainnya.
Hal yang tidak pernah diduga sama sekali, oleh pasukan yang dipimpin oleh Raden Gentala Giandra. Bagaimana mungkin ia salah masuk ke wilayah Istana?. Dari tadi mereka hanya berputar-putar saja tak tentu arah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?. Mengapa dari tadi kami belum sampai-sampai juga?. Dan kami malah melewati jalan yang sama?." Ia mulai merasakan ada yang ganjal, dengan perjalanannya menuju wilayah kerajaan Suka Damai.
"Berhenti!." Ia memberikan kode pada pasukannya, agar tidak meneruskan perjalanan mereka.
"Ada apa raden?. Apakah ada sesuatu yang aneh?." Rakesh Penampihan ikut membantu rombongan Raden Gentala Giandra.
"Apakah kau tidak menyadari ada yang aneh dengan hutan ini?. Rasanya kita hanya berjalan di jalur yang sama." Jawabnya dengan raut wajah yang cemas.
"Hamba juga merasakannya raden. Apakah ini adalah jebakan yang disiapkan oleh pasukan musuh pada kita?." ia merasakannya, hanya saja ia belum yakin.
"Ya. Kalian benar. Kalian memang kami bimbing masuk ke hutan yang menyesatkan. Jika kau raden gentala giandra. Pasti kau tahu hutan menyesatkan berada di mana bukan?." Suara itu seakan menjawab pertanyaan mereka yang penasaran, mengapa mereka tidak kunjung masuk ke wilayah kerajaan Suka Damai.
"Bedebah!. Keluar kau!. Hadapi aku secara jantan!." Sumpah serapah keluar dari mulutnya yang telah lancang itu.
Namun mereka hanya mendengarkan suara itu tertawa keras. Suara iti menimbulkan dampak seperti berputar mengelilingi mereka. Membuat mereka semua waspada, karena angin yang bertiup kencang di sekitar mereka, hingga pandangan mereka terganggu.
"Kau tidak perlu mengatakan bertarung secara jantan!. Namun biadabnya kalian menuduh rajaku, melakukan perdukunan. Hanya untuk menutupi betapa lemahnya kalian!." Suara itu terdengar dengar jelas, namun tidak bisa dilihat siapa sosok itu.
"Kurang ajar!. Ternyata mereka mengetahui kedatangan kami. Aku yakin, ini sudah diketahui oleh rayi prabu, setelah kami mengetahui bahwa dialah yang telah membuat kakek prabu tidak sadarkan diri." Raden Gentala Giandra malah membuat pandangan sendiri dengan kondisinya yang sekarang.
"Kalian akan kehabisan tenaga di hutan ini." Suara itu seperti memberikan ancaman pada mereka. "Karena hutan menyesatkan ini adalah hutan yang dihuni oleh para lelembut, yang haus darah manusia hingga mereka menyesatkan manusia." Ucapnya lagi.
"Manusia biadab seperti kalian, lebih cocok mati di hutan ini, dan menjadi santapan mereka." Suara itu terdengar sangat bahagia karena, pasukan Raden Gentala Giandra masuk dalam jebakan, yang diciptakan salah satu pendekar kepercayaan gusti prabu, untuk menjaga mereka masuk ke istana melalui hutan itu.
"Baiklah. Kalau kau ingin mencoba ilmu Kanuraganku." Raden Gentala Giandra merasa kesal. Ia ingin segera menghabisi orang, yang berani telah menyesatkan mereka dalam hutan yang lebat ini?. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa ia adalah pangeran rimba dari kerajaan Suka Damai?.
Apa yang akan terjadi?. Baca terus ceritanya.
...***...
Sementara itu di istana Suka Damai
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendapatkan laporan dari telik sandi yang melihat perang yang sudah dimulai.
"Mohon ampun Gusti prabu. Pasukan yang dipimpin raden hadyan hastanta, jaya satria, putri andhini andita, senopati mandaka sakuta, dan pasukan yang dipimpin oleh para pendekar sudah memulai perperangan gusti prabu." prajurit itu mengatakan situasi ditiap-tiap tempat yang sedang berperang.
"jadi firasatku benar. mereka sudah menyerang istana ini dengan terburu-buru." Dalam hatinya harus kuat menerima bahwa firasat buruknya menjadi kenyataan.
"Nanda prabu harus kuat. kita harus kuat menerima kondisi apapun." Syekh Asmawan Mulia berusaha untuk menguatkan hati Sang Prabu.
"Semoga saja syekh guru." Sang prabu juga sedang menguatkan hatinya.
"ternyata benar apa yang dicemaskan oleh nanda prabu." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia merasakan kegundahan yang luar biasa.
apakah yang akan dilakukan sang prabu?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...