RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MEMINTA BANTUAN DAN PERASAAN CEMAS


__ADS_3

Raden Cakara Casugraha telah kembali ke istana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang, karena ia melihat raga asli Raden Cakara Casugraha telah kembali. Tentunya ia sangat senang bukan?. Karena raga aslinya baik-baik saja, itu patut disyukuri.


"Tapi sayangnya nasib istana serta kerajaan utara bunga tidak bisa dikuasai siapapun." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa heran, jika Raden Cakrawala Dirja tiada, lalu siapa yang akan meneruskan kerajaan itu?. Bukankah akan sangat berbahaya jika sebuah istana serta wilayah kerajaan tidak memiliki seorang raja?. Apakah ia berniat untuk menguasai kerajaan itu?. Atau membiarkan kerajaan lain untuk menguasai kerajaan itu?.


"Tenang saja rayi prabu. Istana kerajaan utara memiliki banyak penjaga." Jaya Satria sangat ingat dengan apa yang telah ia sepakati dengan mereka semuanya pada saat itu. "Meskipun dijaga oleh makhluk halus, namun setidaknya mereka akan aman. Istana kerajaan utara bunga telah banyak dijaga, serta kedamaian di sana telah di jamin." Jaya Satria tersenyum lembut saat menjelaskan masalah yang ada di kerajaan Utara Bunga.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika memang itu raka prabu. Syukurlah masalah yang kita hadapi dengan baik." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang dengan apa yang dijelaskan oleh Jaya Satria.


"Kalau begitu mari kita bahas masalah lain. Karena masih ada banyak masalah yang melibatkan masalah masa lalu." Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria sempat mengatasi beberapa masalah yang ada di wilayah kerajaan suka damai. Kali ini masalah apa yang akan mereka hadapi?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Sementara itu, Putri Andhini Andita menuju sebuah bangunan yang sangat megah. Itu adalah rumah salah satu pejabat istana yang mengawasi daerah tersebut. Mereka menemui Demang yang bertanggungjawab atas keselamatan penduduk yang ada di sekitar.


"Mohon ampun gusti. Hamba menghadap, karena ada yang ingin hamba sampaikan pada gusti." Wanita tua itu memberi hormat.


"Apa yang ingin mbah sampaikan pada kami?. Apakah itu sangat penting?. Katakan saja, semoga saja aku menyanggupinya." Demang Wahyuno memberi hormat pada nenek tua itu. "Tapi, sebelum itu. Siapa yang datang bersamamu saat ini?." Matanya menangkap seorang wanita muda yang mengenakan pakaian seorang pendekar pengembara.


"Cah ayu, katakan semuanya tentangmu, karena ada hal yang sangat penting yang ingin kami minta tolong padamu." Nenek itu mengatakan sesuatu pada Putri Andhini Andita.


"Apa yang bisa saya bantu tuan." Putri Andhini Andita memberi hormat pada pasangan suami istri yang sedang tampak gelisah.


"Kami memiliki seorang putra. Namun saat ini ia sedang terjebak di alam sukma. Sudah banyak dukun yang mencoba mengobatinya, namun tidak berhasil sama sekali." Nyai Warti, sebagai seorang ibu merasa iba, dengan apa yang terjadi pada putranya.

__ADS_1


"Saat ini katanya putra kami seperti berjalan mengitari desa ini, namun ia tidak bisa masuk kembali ke tubuhnya. Seakan-akan ada penghalang yang membuatnya tidak bisa kembali." Demang Dirgantara Wira menjelaskan pada Putri Andhini Andita. "Dari banyak dukun yang mengobati anakku. Dia mengatakan, jika kami harus mencari seseorang yang bisa melihat anakku yang berada di sekitar wilayah ini. Maka dia bisa membantu anakku untuk kembali." Lanjutnya lagi.


Putri Andhini Andita melirik ke arah nenek yang membawanya ke sini. "Tapi bisa saja pemuda lain yang saya lihat saat itu." Putri Andhini Andita agak ragu.


"Tapi tidak ada pemuda lain di sini selain anak kami. Karena mereka semua telah meninggalkan tempat ini, karena takut mengalami hal yang sama dengan putra kami." Jawan nyai Warti dengan perasaan sedih yang luar biasa.


"Meninggalkan tempat ini?." Putri Andhini Andita sangat heran dengan apa yang ia dengar.


"Untuk menghilangkan kutukan itu, kami mohon padamu agar bisa membantu kami. Tolong selamatkan anak kami." Nyai Warti menangis iba, sambil memohon pertolongan pada Putri Andhini Andita. Apakah ia bisa membantu anak mereka?. Simak terus ceritanya.


...***...


Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.


"Apakah ronda kali ini mengalami masalah nak?. Sehingga nanda begitu lama kembali." Agak hati-hati Ratu Dewi Anindyaswari bertanya. Karena perasaan khawatir selalu menghantui pikirannya.


"Maafkan nanda, ibunda. Maaf jika nanda telah membuat ibunda khawatir." Jaya Satria melepaskan topeng yang menutupi sebagian wajahnya itu. "Sungguh, maaf nanda." Ia mencium tangan ibundanya, sebagai permintaan maafnya pada ibundanya.


"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus sayang kepala anaknya. Tidak seharusnya ia terlalu berlebihan khawatir pada anaknya. "Setidaknya nanda harus berjanji, nanda akan menjaga diri nanda. Karena ibunda tidak mau terjadi sesuatu padamu nak." Ratu Dewi Anindyaswari selalu mencoba untuk tegar. "Kalian adalah putra ibunda. Putra yang sangat ibunda cintai." Ia mencoba untuk tersenyum, tidak ingin memperlihatkan kesedihan yang ia rasakan.


...***...


Putri Andhini Andita mencoba untuk melakukan apa yang ia bisa. Namun sebelum itu ia melakukan sholat duha. Ia memohon dan meminta pertolongan kepada Allah SWT.

__ADS_1


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Tiada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan-Mu. Karena itulah bantu hamba dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di desa ini. Hamba hanya takut pada-Mu, hamba yang tidak mengetahui apa yang ada di dunia ini hanya meminta petunjuk dari-Mu, agar bisa mengatasi masalah yang terjadi. Sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini ya Allah. Hamba mohon berikan petunjuk-Mu. Aamiin ya rabbal aalaamiin." Putri Andhini Andita baru saja selesai melaksanakan sholat duha.


Sedangkan Nyai Warti, Demang Dirgantara Wira melihat dari kejauhan, apa yang sedang dilakukan oleh Putri Andhini Andita. Mereka melihat cara yang berbeda dilakukan oleh wanita muda itu dari dukun-dukun yang pernah menolong mereka untuk mencari keberadaan anaknya.


"Apa yang ia lakukan sebenarnya pak?. Kok beda sekali ya?." Nyai Warti bertanya karena penasaran.


"Entahlah nyi. Kita lihat saja, semoga ia bisa membantu kita dalam mengobati anak kita." Matanya menatap anaknya yang sedang terbaring di tempat tidur. Sedangkan Putri Andhini Andita melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sama sekali.


Bukan hanya itu saja yang mereka lihat, mata mereka menangkap putri Andhini andita mengeluarkan sesuatu dari buntalan yang ia bawa. Dan ia membacakan dengan suara yang sangat indah?.


"Apa yang ia bacakan pak?." Lagi, nyai Warti bertanya. "Tapi suaranya sangat indah sekali pak." Ia merasa kagum dengan suara Putri Andhini Andita yang sangat merdu saat membacakan Al-Qur'an.


"Entahlah nyi. Mungkin saja itu mantram yang ia gunakan untuk memanggil Sukma seseorang." Demang Dirgantara Wira juga tidak mengerti apa yang dibacakan oleh Putri Andhini Andita. Karena memang ia tidak mengerti makna bacaan itu sama sekali.


Namun, saat itu tiba-tiba saja terdengar suara rintihan kesakitan, serta jeritan yang membuat bulu kuduk merinding. Mereka sampai bersembunyi takut, karena ada suara, tapi tidak ada wujud sama sekali.


"Suara apa itu pak?." Nyai Warti memeluk kuat lengan suaminya.


"Tidak tahu nyi." Demang Dirgantara Wira juga takut.


Sedangkan Putri Andhini Andita yang sedang membacakan Al-Qur'an, dapat merasakan ada hawa jahat yang mendekatinya. Namun hancur karena tidak kuasa mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan olehnya. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2