RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
LATIHAN DIMULAI


__ADS_3

...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Pagi itu, Putri Andhini Andita dan saudaranya sedang berada di pendopo. Mereka hanya berbincang-bincang kecil, saling berkomunikasi agar lebih dekat lagi. Setelah masalah yang mereka hadapi selama ini. Namun mereka tidak mau mengingat hal yang buruk lagi. Karena dengan memaafkan hati mereka terasa lapang, sehingga tidak ada dendam lagi diantara mereka. Dan kini mereka memulai lembaran baru, dengan membicarakan bagaimana mereka akan menghadapi puasa pertama mereka nantinya.


"Dua hari lagi kita akan melaksanakan puasa. Apakah yunda, raka, juga raden rajaswa telah siap untuk berpuasa?." Putri Agniasari Ariani bertanya pada mereka. "Aku pernah berpuasa, sebagai melatih diri agar lebih bersabar. Dan itu memang agak berat melakukannya. Karena banyak sekali godaan yang datang ketika berpuasa." Ia menceritakan bagaimana puasa nya saat itu.


"Tentu saja siap rayi. Aku pasti bisa melakukannya." Raden Hadyan Hastanta dengan semangat membara menjawab pertanyaan adiknya.


"Wah, semangat sekali rayi." Putri Bestari Dhatu dan Putri Andhini Andita juga bersemangat melihat betapa semangatnya Raden Hadyan Hastanta saat ini. Begitu juga dengan Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa.


"Semangat yang luar biasa sekali gusti Putri." Raden Rajaswa Pranawa mengagumi semangat luar biasa dari Putri Andhini Andita.


"Harus semangat." Balasnya dengan senyuman ramah. Akan tetapi pada saat itu, Putri Andhini Andita mengungkapkan apa yang ia rasakan. Ada keinginan yang hendak ia lakukan. "Mungkin sebelum puasa aku mau pergi berbelanja keluar." Ia sedang membayangkan sesuatu yang akan ia beli nantinya.


"Apakah aku boleh ikut yunda?." Putri Agniasari Ariani terlihat bersemangat, karena ia ingin jalan-jalan bersama kakaknya itu.


"Tidak!. Kau temani saja kekasih mu. Abaikan saja aku." Putri Andhini Andita memalingkan wajahnya, ia tidak suka ada yang ikut dengannya?. Tapi mereka semua malah tertawa agak keras, karena Putri Andhini Andita merajuk?.


"Bagaimana raka mu ini yang menemanimu rayi?. Mau tidak?." Raden Hadyan Hastanta kali ini yang mencoba untuk menawarkan diri menemani adiknya tercinta. "Kita jalan bersama sambil mencari hadiah yang sangat bagus." Lanjutnya lagi.


"Tidak mau. Nanti raka malah menyuruhku terburu-buru berbelanja. Aku tidak mau." Bahkan ia juga menolak tawaran Raden Hadyan Hastanta?.


"Rasanya sangat sakit sekali, ditolak seperti itu." Raden Hadyan Hastanta berpura-pura menangis, sedangkan mereka malah tertawa melihat itu.


"Sabarlah kanda." Putri Bestari Dhatu mengusap punggung Raden Hadyan Hastanta, agar lebih sabar menghadapi adiknya yang sedang tidak bersahabat?. Bisa jadi itu hanya candaannya saja.


"Aku tidak ingin ditemani siapapun juga. Aku hanya ingin pergi sendirian." Putri Andhini Andita telah membuat keputusan, membuat mereka semua terkejut. Itu artinya Putri Andhini Andita tidak mau diganggu siapapun juga?.


"Jangan begitu yunda. Aku akan menemani yunda, bersama raden rajaswa. Bukankah begitu raden?." Putri Agniasari Ariani mencoba untuk membujuk kakaknya itu.


"Benar sekali gusti putri. Hamba juga ingin melihat kota raja kerajaan suka damai." Raden Rajaswa Pranawa tampak bersemangat.


"Tidak. Pokoknya tidak." Putri Andhini Andita tidak merubah pikirannya itu.


"Hadeh. Mulai keras kepala."


Mereka semua hanya memaklumi apa yang akan dilakukan oleh Putri Andhini Andita. Mungkin ada alasan tersendiri, yang membuat Putri Andhini Andita tidak ingin ditemani siapa saja.


Sementara itu, di dalam istana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang meminta izin pada kedua ibundanya, untuk melakukan tapa puasa. Karena membutuhkan waktu yang agak lama melakukannya, jadi keduanya tidak membuat Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati tidak khawatir.


"Ananda hanya ingin memastikan suatu masalah saja ibunda. Karena itulah, untuk dua hari sebelum puasa, nanda ingin melakukan semedi di ruang pribadi nanda." Jaya Satria yang berbicara duluan.


"Apakah tidak bisa ditunda nanti saja nak?. Sebentar lagi mau masuk puasa." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit keberatan.


"Benar nanda prabu. Ini pertama kalinya kita melaksanakan puasa pertama kita bersama-sama." Ratu Gendhis Cendrawati juga merasa keberatan. Karena ia takut tidak dapat merasakan sahur bersama Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

__ADS_1


"Mohon maaf ibunda. Maaf jika nanda tidak mendengarkan apa yang ibunda katakan. Hanya saja nanda takut terjadi sesuatu nantinya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kali ini yang berbicara.


"Benar itu ibunda. Kami tidak akan terlalu lama melakukannya. Karena itulah kami meminta izin pada ibunda ratu dewi anindyaswari, juga ibunda ratu gendhis cendrawati." Jaya Satria tampak sangat memohon pada keduanya.


"Baiklah kalau begitu. Nanda janji hanya dua hari saja, kan?. Ibunda sangat khawatir padamu nak." Meskipun terasa sangat berat, Ratu Dewi Anindyaswari merelakan apapun yang akan dilakukan oleh anaknya.


"Ibunda juga sangat mencemaskan keadaan nanda. Kami sangat berharap nanda baik-baik saja." Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Nanda tidak janji. Tapi nanda mengharapkan doa dari ibunda berdua. Semoga saja semuanya baik-baik saja." Jaya Satria memaklumi kegelisahan yang dirasakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Tapi sebisa mungkin kami akan melakukannya dengan baik ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. Ia berusaha untuk meyakinkan kedua ibundanya, bahwasannya semuanya akan baik-baik saja.


"Kami akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk nanda. Semoga nanda bisa menjalani kuat menghadapi semua masalah yang terjadi." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus bahu anaknya dengan sayang. Tak lupa senyum lembut yang selalu ia berikan pada anaknya.


"Ibunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk nanda prabu. Berhati-hatilah nak." Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Terima kasih ibunda. Semoga kita semua selalu dalam keadaan baik-baik saja."


Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati hanya tidak mau terjadi sesuatu pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ataupun Jaya Satria, atau Raden Cakara Casugraha. Semoga saja keduanya baik-baik saja, dan kali ini mereka berharap tidak ada dampak buruk yang dirasakan oleh anaknya.


...***...


Kerajaan Buana Dewa. Raden Jatiya Dewa hari ini menghadap ayahandanya, untuk menyampaikan apa ingin ia lakukan setelah melakukan semedi itu. Saat ini mereka berada di ruang keluarga Raja, sehingga hanya keluarganya saja yang melihat itu. Tapi Prabu Buana Dewa menimbangnya dengan matang, apa yang dikatakan oleh anak bungsunya itu.


"Mohon ampun ayahanda prabu. Sepertinya masalah roh jahat itu cukup meresahkan kerjaan ini ayahanda prabu."


"Aku saja rasanya tidak sanggup untuk menghadapi roh jahat itu rayi jatiya. Apakah kau ingin menghadapinya langsung?."


"Mohon ampun ayahanda prabu, raka antajaya. Saya telah melakukan semedi beberapa hari ini. Saya mendapatkan petunjuk, tentang bagaimana caranya mengatasi masalah roh jahat itu."


"Benarkah?. Apakah yang kau dapatkan dari semendimu itu putraku."


"Katakan pada kami semua. Biar kami semua mendengarnya."


"Mohon ampun ayahanda prabu. Dalam semedi, saya mendapatkan petunjuk. Bahwa ada pusaka kembar keris naga penyegel sukma. Hanya keris itu yang mampu membunuh roh jahat itu ayahanda prabu."


"Pusaka kembar keris naga penyegel sukma?." Mereka semua bertanya-tanya, karena mereka sama sekali tidak pernah mendengarkan nama keris itu.


"Apakah kau memiliki keris itu, atau kau mengetahui dimana keberadaan keris itu?."


"Menurut petunjuk dalam semedi saya, keris itu milik seorang raja muda ayahanda prabu."


Lagi-lagi suasana sedikit ribut, karena mereka tidak menyangka. Jika benda pusaka itu miliki seorang raja?. Apakah itu tidak hanya sekedar mimpi atau hayalan saja?.


"Siapakah raja itu. Katakan padaku. Mungkin aku mengenalinya."


"Raja tersebut bernama prabu asmalaraya arya ardhana. Raja dari kerajaan suka damai."

__ADS_1


"Oh. Aku sedikit mengetahui tentang kerajaan itu. Lalu apakah kau berniat untuk ke sana meminta keris itu padanya?."


"Rencananya, saya memang ingin melakukan itu ayahanda prabu."


"Baiklah kalau begitu. Kau akan ditemani oleh penggawa istana, juga raka mu antajaya menuju istana kerajaan suka damai. Demi memusnahkan roh jahat itu, lakukan yang terbaik. Agar prabu asmalaraya arya ardhana memberikan keris kembar itu dengan suka rela."


"Sandika ayahanda prabu."


Sepertinya Kerajaan Suka Damai akan menerima tamu istimewa. Namun bisakah pertemuan itu berjalan dengan lancar?. Temukan jawabannya.


***


Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali ke ruang pribadi Raja. Ia akan melakukan semedi untuk dua hari ini.


"Prajurit. Jangan sampai ada yang masuk ke dalam ruangan saya. Katakan pada mereka jika saya tidak mau diganggu. Jika ada keperluan, temui patih aji saka, bisa saja temui senopati mandaka sakura, atau raka hadyan hastanta untuk mewakili saya."


"Sandika gusti prabu."


Setelah itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masuk ke dalam ruangan pribadi raja dengan melakukan semedi. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melakukan belah raga. Agar mudah melakukan semedi.


"Mari kita lakukan gusti prabu."


"Baiklah jaya satria. Mari."


Keduanya duduk bersila, berkonsentrasi dan memejamkan mata. Tak lupa mereka membacakan kalimat-kalimat yang baik di dalam hatinya. Mengharapkan ridho dari Allah SWT. Semoga apa yang mereka lakukan lancar, mendapatkan hasil yang sangat baik.


Begitu di alam sukma. Keduanya membuka mata. Mengeluarkan keris kembar naga penyegel sukma. Disaat itu juga keluar dua naga api di hadapan keduanya.


"Sampurasun."


"Rampes."


"Sepertinya gusti prabu telah siap untuk melakukan latihan."


"Kami akan melakukannya dengan baik. Jangan sampai negeri ini kena imbasnya nantinya."


"Katakan pada kami, bagaimana caranya. Agar lebih mudah melakukannya."


"Sandika gusti prabu."


Kedua naga kembar itu memberikan penjelasan pada sang prabu. Karena ini akan memakan waktu yang agak lama. Jadi harus berhati-hati dalam menerapkan keduanya.


"Pertama-tama gusti prabu lakukan gerakan jurus cakar naga cakar petir, untuk memanggil naga petir itu. Karena ini alam sukma, hamba rasa bisa memanggilnya untuk datang ke sini gusti prabu."


"Baiklah kalau begitu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria bersiap-siap untuk melakukan jurus Cakar Naga Cakar Petir. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2