RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
INGATAN NYAI BESTARI DHATU


__ADS_3

"Siapa kau?. Mengapa kau malah menghalangi perjalanan kami?."


"Hei!. Jaya Satria. Apakah kau lupa dengan kejadian tiga tahun yang lalu?." Suara orang itu terdengar sangat keras, ia terdengar sangat marah karena pertanyaan Jaya Satria.


"Memangnya apa yang aku lakukan selama tiga tahun belakangan ini padamu sehingga kau mencariku?."


"Bedebah busuk!. Apakah kau sudah lupa dengan apa yang terjadi di desa gembala?. Kau hampir saja membunuhku dengan menggunakan jurus cakar naga cakar petir." Amarah pemuda itu meningkat. Raut wajahnya yang sedang menahan amarahnya.


"Dengan jurus itu. Tubuhku mati rasa, lumpuh selama dua tahun. Aku sangat dendam padamu jaya satria." Teriaknya dengan suara yang sangat keras.


"Tiga tahun yang lalu desa gembala?." Jaya Satria mencoba untuk mengingat apa yang terjadi waktu itu.


Desa Gembala?. Tiga tahun lalu?.


"Jika aku tidak salah ingat-." Jika ingatannya tidak salah, maka memang itu yang terjadi tiga tahun lalu.


"Memangnya apa yang raden lakukan hingga dia menyimpan dendam selama itu?. Nyai Bestari Dhatu berbisik menanyakan alasan semua itu.


"Itu saat aku menjalani hukuman buangan. Sambil mengembara aku melihat apa saja yang terjadi di luar istana." Balas Jaya Satria.


"Kau tidak usah berbisik-bisik jaya satria. Apakah kau takut jika kekasihmu itu mengetahui perangai burukmu dimasa lalu hah?." Pemuda itu terlihat marah karena melihat Jaya Satria dan Nyai Bestari Dhatu yang berbicara dengan nada pelan.


"Bagaimana kau menganiaya diriku waktu itu. Kau memang bedebah busuk jaya Satria. Akui saja dosa dimasa lalumu. Tidak usah kau tutup-tutupi dari kekasihmu itu, agar dia tahu bagaimana kau yang sesungguhnya." Terlihat jelas bagaimana perasaan marahnya pada Jaya Satria. Hingga ia menggebu-gebu mengatakan apa saja yang dilakukan oleh Jaya Satria memang telah menganiaya dirinya.


"Aku hanya mengatakan padanya. Jika aku hampir membunuhmu karena kau telah menganiaya seorang ibu hingga tewas. Aku tidak akan pernah mengampuni orang-orang yang berbuat kasar pada ibundanya. Bagiku orang yang menganiaya ibundanya dia adalah musuhku." Jaya Satria juga menunjukkan kemarahannya.

__ADS_1


"Apalagi kau sampai membunuh ibundamu. Kau telah berbuat kesalahan yang sangat besar!. Harusnya waktu itu aku benar-benar membunuhmu!." Lanjut Jaya Satria dengan kesalnya sambil menunjuk kiri ke arah pemuda itu.


"Keparat busuk!. Kau tidak usah mencampuri urusanku. Mau aku apakan ibuku itu adalah hakku. Dan kau dengan kurang ajarnya mencari masalah denganku." Ia sangat tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Benar-benar memancing emosi pemuda itu.


Setelah itu ia melompat ke arah Jaya Satria. Menyerang Jaya Satria dengan sangat cepat.


"Itu adalah kesalahan besar yang kau lakukan. Karena itulah aku tidak akan mengampunimu. Anak durhaka tidak tahu diri." Jaya Satria juga melompat menghindari serangan itu.


Sepertinya pertarungan mereka benar-benar tidak dapat dihindari lagi. Pertarungan dua orang yang mempertahankan kebenaran dalam diri mereka masing-masing.


"Bagi raden cakara casugraha ibu adalah orang yang pantas ia muliakan. Sungguh luar biasa sekali sikapnya pada seorang ibu, pada seorang wanita." Dalam hati Nyai Bestari merasa kagum dengan sikap Raden Cakara Casugraha. Ia bahkan ingat bagaimana waktu itu ia ditolak dengan cara yang tidak pernah dilupakannya.


Kembali masa itu.


"Jika memang begitu ceritanya. Aku harap nyai tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Karena rasa sakit hati yang dirasakan itu memang sulit untuk dilupakan." Matanya menerawang jauh ke depan.


Nyai Bestari Dhatu juga menatap laut di depannya dengan tatapan sedih.


"Tidak semua laki-laki itu jahat. Tidak juga terlalu baik. Ayahandaku juga seorang laki-laki. Tapi ayahandaku sangat menghormati semua istri-istrinya. Meskipun mereka menyakiti hati ibundaku." Ia berusaha menahan gejolak yang ada didalam hatinya.


"Mereka juga wanita. Sama seperti ibundaku. Nyai juga wanita. Karena itulah aku tidak bisa menyakiti hati nyai hanya karena memberikan harapan-harapan kasih sayang, serta cinta." Lanjutnya sambil melirik ke arah Nyai Bestari Dhatu.


"Aku tidak mau menjadi lelaki jahat hanya karena memberikan harapan mengenai permasalahan cinta dan perasaan. Sementara aku belum mengetahui apa itu cinta." Ia memberi jeda.


"Jika memang cinta itu sama. Apakah aku jatuh cinta pada ibuku sendiri hanya karena aku tidak rela ibundaku disakiti oleh orang lain?. Aku rasa tentunya berbeda." Lanjutnya lagi.

__ADS_1


Nyai Bestari Dhatu memang menyimak apa yang dikatakan Raden Cakara Casugraha yang mengungkapkan bagaimana perasaannya tentang cinta pada dua wanita.


"Bagiku saat ini. Pengembaraan yang aku lakukan aku ingin menenangkan hatiku yang terluka karena perlakuan mereka pada ibundaku." Ia mencoba menghela nafasnya dengan pelan.


"Aku tidak mau menambah luka dihati nyai. Sebab luka yang diakibatkan dendam percintaan itu lebih mengerikan dari pada dendam yang lainnya." Ya. Memang ia belum pernah merasakan cinta dari lawan jenisnya. Tapi ia tidak mau membuat dendam pada orang lain hanya karena masalah percintaan.


"Jadi begitu?." Nyai Bestari Dhatu mencoba menekan perasaan pahit dihatinya setelah mendengarkan penjelasan dari Raden Cakara Casugraha.


"Teruslah membantu orang sekitar dengan hati yang ikhlas. Aku yakin, suatu hari nanti nyai akan menemukan orang yang benar-benar mencintai nyai. Memberikan kebahagiaan pada nyai. Janganlah nyai bersedih hati hanya karena mengalami kegagalan dalam percintaan." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil.


"Aku yakin pada saat itu, aku yang akan menjadi saksi kebahagiaan yang sebenarnya nyai dapatkan dari hasil kesabaran hati yang nyai miliki." Ucapan itu tulus dari hatinya.


"Maafkan aku. Bukan bermaksud untuk menyinggung perasaan nyai. Karena nyai adalah seorang wanita. Ibundaku juga seorang wanita. Jika aku menyakiti hati nyai dengan memberikan harapan-harapan cinta. Sama saja aku telah menyakiti hati ibundaku. Maafkan aku nyai."


Kembali ke masa ini.


Ya. Nyai Bestari Dhatu masih ingat dengan apa yang diucapkan oleh Raden Cakara Casugraha saat itu. Ia sangat memaklumi kondisi Raden Cakara Casugraha yang pada saat itu dipenuhi oleh kegundahan yang luar biasa. Ia pergi dari istana dalam keadaan mencemaskan kondisi ibundanya. Bagaimana sakit hatinya ketika ibundanya diperlakukan kasar oleh permaisuri ayahandanya waktu itu.


Saat ini Nyai Bestari Dhatu memperhatikan bagaimana pertarungan Jaya Satria yang sebenarnya adalah Raden Cakara Casugraha yang bersembunyi dibalik topeng itu. Asal mula raga Jaya Satria terlahir dari mana hanya waktu yang akan menjawabnya.


Namun yang kini. Jaya Satria sedang berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki dendam masa lalu padanya. Bisakah Jaya Satria menyelesaikannya tanpa menambah dendam baru?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan cara klik favorit bagi yang belum. Klik vote. Share ceritanya agar bisa dibaca oleh pembaca yang lainnya.


Jangan jadi pembaca gelap. Karena ide baru berasal dari semangat pembaca yang memberikan masukan. Jadilah pembaca yang baik. Karena setiap kebaikan akan mendapatkan balasan yang baik pula. Semoga bermanfaat untuk kita semua.


Salam cinta untuk pembaca tercinta.

__ADS_1


__ADS_2