
...***...
Malam itu di rumah musyawarah di Desa Gamang Kuasa, menyusun kembali apa yang akan mereka lakukan saat itu.
"Kami tidak tahan dengan apa yang telah mereka lakukan, sungguh sangat tidak manusiawi! Sangat kejam dan bengis! Memaksa kami untuk berlatih ilmu kanuragan hanya untuk menerangi kerajaan suka damai!." Ucap Gelang Manda yang merupakan kepala prajurit istana. Kesedihan yang ia rasakan membuat mereka bersimpati padanya.
"Lalu mengapa engkau pergi dari istana dan menyusul putri ambarsari?."
"Karena hamba tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh raden ganendra garjitha tentang kedatangan gusti putri ambarsari."
"Memangnya apa yang mereka katakan sehingga kalian menyusulku?."
"Karena kami mau memberitahukan, bahwa ada beberapa pendekar golongan hitam-."
"Memangnya apa yang mereka rencanakan dengan menyewa pendekar golongan hitam?!."
"Tenanglah gusti putri, dengarkan baik-baik apa yang akan sampaikan." Syekh Asmawan Mulia mencoba menenangkan Putri Ambarsari.
"Hufh!." Putri Ambarsari menghela nafasnya pelan.
"Tenanglah yunda, jangan sampai terbawa amarah." Raden Hadyan Hastanta juga ikut menenangkan kakaknya. "Kita harus mendengarkan penjelasannya, supaya kita bisa mengetahui dengan pasti apa alasannya."
"Benar yunda, amarah hanya akan menambah masalah, aku mohon bersabarlah." Putri Agniasari Ariani juga. "Mari kita dengarkan dulu penjelasannya, ya?."
"Baiklah rayi, maafkan saya." Ia merasa bersalah.
"Lanjutkan, katakan saja." Raden Hadyan Hastanta mempersilahkan mereka untuk melanjutkan penjelasannya.
"Mereka menyewa beberapa pendekar dari golongan hitam, bekerjasama untuk menyerang istana kerajaan suka damai, ketika Gusti Putri sampai di istana mekar jaya."
"Benar Gusti Putri, kami mendengarkan semua apa yang mereka rencanakan, termasuk rencana pembunuhan terhadap prabu asmalaraya arya ardhana dengan bantuan para pendekar golongan hitam itu."
Deg!.
Mereka semua terkejut mendengar itu, penjelasan yang sangat menguras emosi jiwa yang membara.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia dan Putri Agniasari Ariani mencoba menenangkan diri dengan istighfar.
"Sungguh kurang ajar sekali mereka!." Putri Andhini Andita tidak dapat menahan amarahnya. "Berani merencanakan pembunuhan terhadap adikku?! Mereka akan aku bunuh semuanya!." Hati putri Andhini Andita sangat panas mendengar itu.
"Memang sangat kejam! Apakah mereka sudah kehilangan hati nurani sehingga merencanakan hal keji seperti itu?." Putri Agniasari Ariani merasakan kemarahan yang luar biasa.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Berani sekali mereka merencanakan merencanakan pembunuhan terhadap adikku!." Begitu juga dengan raden Hadyan Hastanta. "Mereka itu memang bukan manusia!." Hatinya sangat sakit mendengar rencana itu.
"Oh? Dewata yang agung? Mengapa semua ini bisa terjadi?." Tanpa sadar air mata Putri Ambarsari menetes membasahi pipinya. "Bagaimana mungkin mereka bisa memikirkan hal buruk seperti itu? Rasanya aku sangat malu memiliki saudara seperti mereka." Dalam hati Putri Ambarsari sangat sedih.
"Astaghfitullah hal'azim ya Allah, sepertinya perang besar memang akan terjadi" Dalam hati syekh Asmawan mulia merasa tidak nyaman. "Apa yang akan nanda cakara casugraha lakukan dalam situasi seperti ini?." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat cemas pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Apakah Gusti Prabu bisa mendengarkan itu?." Jaya satria sedang berusaha untuk berkomunikasi dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Astaghfirullah hala'zim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang terhubung dengan Jaya Satria tidak menduga akan mendapatkan informasi sangat mengejutkan seperti itu?. "Tolong katakan pada mereka, tetap pada rencana semula, agar tetap tenang? Coba pikirkan dengan baik-baik apa yang harus dilakukan." Sang Prabu sangat khawatir dengan apa yang ia dengar. "Mari kita pikirkan baik-baik cara yang tepat untuk mengatasi masalah ini."
"Baiklah jika memang seperti itu Gusti Prabu." Dalam hati Jaya Satria sedang memikirkan jalan terbaik dalam situasi yang rumit.
"Aku akan kembali ke istana kerajaan suka damai malam ini juga." Raden hadyan hastanta memberikan pendapat. "Aku harus menyampaikan pada rayi Prabu mengenai masalah ini." Raden Hadyan Hastanta hendak melangkah keluar, akan tetapi pada saat itu?.
"Mohon ampun Raden, serta gusti putri? Jika hamba diperkenankan untuk berbicara? Hamba ingin menyampaikan sesuatu."
Untuk sesaat mereka saling bertatapan satu sama lain, karena tidak biasanya Jaya Satria terlibat dalam pembicaraan?.
"Katakan pada kami jaya satria." Putri Andhini Andita mempersilahkan Jaya Satria untuk berbicara.
"Apakah kau memiliki saran yang lebih bagus dalam menyelesaikan masalah ini?." Putri Agniasari Ariani juga ingin mendengarkannya.
"Sepertinya nanda satria berbicara atas saran nanda prabu." Dalam hati syekh Asmawan Mulia dapat merasakan itu. "Syukurlah jika nanda Prabu cepat tanggap dalam mengatasi masalah." Dalam hatinya sangat bersyukur.
"Kecemasan yang dirasakan oleh raden, sampai juga pada Gusti Prabu? Mereka berdua benar-benar terhubung dengan baik." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu seakan melihat kedekatan antara Jaya Satria dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Perasaan itu memang milik Raden cakara casugraha." Dalam hatinya tersenyum lembut menatap ke arah Jaya Satria.
Seakan ia melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang duduk di belakang Jaya Satria sambil membisikkan apa saja yang hendak ia sampaikan pada mereka.
"Kita tetap pada rencana mengantar Gusti Putri ambarsari ke istana kerajaan mekar jaya."
"Apa?!."
Mereka semua sangat terkejut, karena tidak menduga jika itu yang dikatakan Jaya Satria.
"Hei! Jaya satria?!." Bentak Raden Hadyan Hastanta. "Apakah kau tidak menyadari? Jika nyawa rayi Prabu dalam keadaan bahaya?! Aku harus segera kembali-!."
"Raden tenang saja, bukankah Raden telah mengetahui jika hamba terhubung dengan Gusti Prabu? Tentunya Gusti Prabu akan mendengarkan apa yang kita bicarakan saat ini."
Mereka menyimak dengan sangat baik apa yang dikatakan Jaya Satria, tentu saja mereka mengetahui itu kecuali Putri Ambarsari.
"Baiklah, aku ingat itu jaya satria." Raden Hadyan Hastanta mencoba tenang. "Jika kau memang bisa terhubung dengan rayi Prabu? Apakah kau bisa mengatakan pada rayi Prabu? Jika situasinya sangat kacau? Apa yang harus kami lakukan?."
"Kalau begitu izinkan hamba untuk bersemedi beberapa saat, dan pagi harinya akan hamba sampaikan pesan Gusti Prabu kepada Raden? Juga Gusti Putri sekalian."
"Lantas apa yang akan kita lakukan saat ini?."
"Untuk malam ini kita istirahat saja terlebih dahulu, jangan sampai kita kelelahan ketika berada di istana mekar jaya nantinya."
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju dengan ucapan jaya satria." Putri Andhini Andita tidak membantah, ia hanya menurut saja. "Aku yakin jaya satria bisa memberikan jalan keluar yang baik untuk kita semua."
"Baiklah, kalau begitu Syekh akan meminta izin pada penduduk desa agar memberikan tempat menginap untuk kita semua."
"Terima kasih syekh."
Malam itu mereka beristirahat, mereka pasti akan melakukan yang terbaik demi kebaikan semua orang yang terlibat dalam masalah itu. Apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
****
Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya. Meskipun itu adalah ide yang mendadak, namun ia berharap dengan rencana itu Jaya Satria mampu melakukannya tanpa ketahuan sedikitpun.
"Mau sampai kapan mereka akan bersikap seperti itu? Apa yang salah sebenarnya?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka. "Apakah benar kami terlahir dari ayah yang sama? Aku rasa ayahanda Prabu tidak memiliki sikap yang jahat seperti itu?." Kepala sang Prabu terasa berdenyut memikirkan perangai saudaranya dari keluarga Ratu Ardiningrum Bintari.
"Sifat manusia bukan hanya dari keturunan saja nanda Prabu." Seseorang menyapa dirinya dengan ramah.
"Eyang Prabu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bangkit dari duduknya dan memberi hormat pada Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Sifat jahat dan sifat baik bukan hanya bawaan dari keturunan orang tua saja, namun ada unsur lain yang menodainya." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum kecil. "Nanda harus bisa mengatasi masalah itu dengan hati yang dingin, jangan sampai salah dalam mengambil keputusan."
"Nanda akan mencobanya eyang Prabu, nanda sangat takut dengan perang antar saudara, perang yang sangat tidak nanda inginkan." Suasana hatinya sangat gelisah.
"Perang antar saudara itu akan selalu ada, bahkan Raja sebelum nanda? Perang saudara telah terjadi di istana ini karena merebutkan tahta."
"Apakah mendiang ayahanda Prabu kawiswara arya ragnala termasuk pernah berperang melawan saudaranya?."
"Termasuk mendiang ayahandamu, ia pernah berperang dengan raka nya karena perebutan wilayah kekuasaan."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menduga jika mendiang ayahandanya juga pernah berperang melawan saudara sendiri?.
...**...
Keesokan harinya, di kerajaan Mekar Jaya.
"Ampun Gusti prabu, hamba ingin melaporkan bahwa gusti putri ambarsari sudah kembali."
"Benarkah? Lalu dimana ia berada? Kenapa tidak langsung kau bawa adikku masuk?."
"Mohon ampun gusti prabu, itu karena gusti putri datang dengan membawa rombongan."
"Membawa rombongan? Rombongan siapa?."
"Ini sangat mencurigakan Raka prabu."
"Benar putraku, berhati-hatilah."
"Kalau begitu ayo kita lihat siapa mereka?."
Setelah itu mereka pergi ke depan gerbang istana. Begitu mereka di sana.
"Sembah hormat saya raka prabu."
"Oh? Rayi ambarsari?." Wajahnya terlihat sangat sumringah melihat mahkota kebesaran kerajaan Mekar Jaya yang dibawakan adiknya.
"Selamat datang kembali rayi."
"Selamat datang kembali putriku."
"Terima kasih raka, ibunda." Ia hanya tersenyum kecil melihat ibunda dan kakaknya.
"Tapi, siapa yang ikut bersamamu rayi?."
Ya, akhirnya muncul juga pertanyaan siapa yang ikut bersama adiknya?.
"Mohon ampun raka Prabu? Apakah raka Prabu lupa apa yang saya sampaikan dipesan yang saya kirimkan?."
"Oh? Jadi ini kebahagiaan yang rayi janjikan itu?." Mungkin yang dimaksud oleh adiknya itu?.
"Benar sekali raka Prabu! Mereka semua adalah utusan dari kerajaan peniti benang, kerajaan bawahan dari kerajaan mekar jaya! Kebetulan saat itu saya bertemu dengan mereka sebelum saya menuju istana ini." Jawabnya.
"Jadi mereka datang ke sini untuk menyaksikan aku menjadi raja baru di kerajaan mekar jaya ini?."
"Tentu saja raka Prabu! Apalagi tujuan mereka datang ke sini kalau bukan untuk itu?."
"Oh? Putriku? Kau sangat baik sekali." Ratu Ardiningrum Bintari memeluk sayang putrinya. Ia tidak menyangka anaknya memang memikirkan kebahagiaan putranya yang akan menjadi raja.
"Kalau begitu mari silahkan masuk, selamat datang di kerajaan mekar jaya." Sambut Prabu Ganendra Garjitha dengan wajah yang berseri-seri.
"Terima kasih gusti." Balas Raja muda itu dengan sopan. "Hamba adalah prabu mandera dupasura, hamba mewakili kerajaan peniti benang, ingin sekali menyaksikan penobatan gusti Prabu menjadi Raja."
"Oh? Tentu saja? Aku sangat senang, jika ada yang menyambut baik pengangkatan tahta ku nantinya." Balasnya.
"Nanti kenalkan padaku siapa saja yang ikut bersamamu, mari kita masuk." Ajaknya.
"Terima kasih gusti prabu telah berkenan mempersilahkan saya masuk."
Rombongan itu masuk ke dalam istana, tanpa disadari oleh mereka bahwa Jaya Satria sedang mengintai di tempat yang cukup aman.
Mau tau rencana apa yang sedang ia lakukan?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...**...
Di kerajaan Suka Damai, Ratu Dewi Anindyaswari baru saja menyelesaikan sholat duha. Ia begitu cemas memikirkan bagaimana keselamatan anak-anaknya yang berangkat ke istana mekar Jaya.
"Ya Allah, jangan biarkan hati hamba melemah? Jangan biarkan rasa resah ini membuat hamba berpikir buruk, dengan apa yang akan terjadi pada mereka nantinya ya Allah?." Ia selalu berdoa untuk meminta kekuatan hati, serta kekuatan iman.
"Dinda? Teruslah berdoa kepada sang pencipta, semoga kita semua dalam keadaan baik-baik saja."
Ratu Dewi Anindyaswari melihat ke arah sumber suara itu. Ia melihat sosok suami yang sangat ia rindukan.
"Kanda? Kanda prabu?." Ia segera bangkit, menghampiri suaminya, serta memeluk erat suaminya.
"Dinda? Janganlah dinda berpikiran buruk dengan kepergian mereka semua, terutama pada putramu."
"Maafkan dinda kanda prabu, sungguh! Maafkan dinda."
Ia melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya dengan penuh kelembutan kasih sayang yang biasa ia berikan padanya.
"Kanda percaya bahwa mereka mampu mengatasinya, yang mereka perlukan adalah doa yang baik-baik dari dinda." Sang Prabu mengelus sayang kepala istrinya, setelah itu mencium kening istrinya dengan lembut. "Dinda terlihat sangat cantik sekali dibalut dengan telekung, rasanya kanda ingin berlama-lama dengan dinda, karena kanda merasakan kedamaian dihati ini, dinda."
Tanpa sadar Ratu Dewi Anindyaswari meneteskan air matanya, karena perkataan itu begitu menyentuh relung hatinya.
"Oh? Kanda prabu?." Ia ingin memeluk suaminya, namun yang ia peluk hanyalah angin, karena suaminya telah pergi meninggalkan dirinya.
"Rayi?! Rayi?! Bangun rayi! Apa yang terjadi padamu?!." Ratu Gendhis Cendrawati berusaha membangunkan Ratu Dewi Anindyaswari.
Begitu ia sadar, ia dalam keadaan menangis?.
"Rayi? Mengapa rayi menangis sambil memangil kanda prabu? Apa yang terjadi rayi?."
"Yunda?." Ia memeluk ratu Gendhis Cendrawati sambil menangis.
"Tenanglah rayi, jangan menangis."
"Yunda? Aku sangat merindukan kanda Prabu, sangat merindukannya, yunda." Begitu besar rasa rindu yang ia rasakan.
"Oh? Dewata yang agung? Aku juga sangat merindukan kanda prabu." Dalam hatinya juga merasakan kerinduan. "Tenangkan dirimu rayi, kita sama-sama merindukan kanda prabu, jangan menangis rayi." Hanya itu yang dapat ia katakan. Rasa bersalah terngiang-ngiang dibenaknya jika mengingat bagaimana ia selalu berusaha untuk menjauhkan Ratu Dewi Anindyaswari dari prabu Kawiswara Arya Ragnala.
...***...
Kembali ke Istana kerajaan Mekar Jaya. Rombongan di sambut baik oleh mereka. Namun setelah itu mereka beristirahat di Wisma tamu kerajaan.
sementara itu, Prabu Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, dan Ratu Ardiningrum Bintari sedang berbincang-bincang dengan putri Ambarsari.
"Hari ketujuh dalam bulan ini, acara penobatanku sebagai raja akan dilaksanakan."
"Tujuh hari? Mengapa tidak besok saja raka?."
"Tidak rayi! Aku telah menyiapkan rencana setelah aku memastikan kembalinya dirimu dari istana kerajaan suka damai."
"Rencana apa Raka? Mengapa saya tidak tahu sama sekali?."
Mereka bertiga tersenyum lebar, ada bentuk kebahagiaan yang sedang ingin mereka pamerkan.
"Perencanaan menyerang kerajaan suka damai yang dilakukan oleh Pendekar golongan hitam untuk membunuh cakara casugraha."
"Ya, pengangkatan raja sekaligus untuk perayaan kemenangan kita atas penaklukan kerajaan besar, kerajaan suka damai."
"Karena itulah, ibunda menyarankan untuk menunda pengangkatan itu! Kita akan mendapatkan dua kebahagiaan diwaktu yang sama!."
"Ya, kita akan menjadi orang yang paling bahagia, karena berhasil memegang dua kerajaan besar."
Itulah alasan mereka menunda pengangkatan raja baru.
"Lalu bagaimana dengan tamu kita raka Prabu?."
"Biarkan saja mereka beristirahat di sini sampai pengangkatan itu, kita hanya perlu menunggu waktu saja."
"Kita jamu saja sebaik-baiknya selama menunggu kabar bahagia itu."
"Kalau masalah itu tidak usah rayi pikirkan, meskipun aku tidak menduga bahwa rayi membawa tamu penting." Balasnya.
"Aku sangat berterimakasih padamu rayi, kau memang adikku yang terbaik."
"Suatu kehormatan bagi saya bisa menyenangkan hati raka prabu."
Mereka semua senang mendengarnya.
"Kalau begitu saya akan ke wisma tamu, karena mereka adalah tamu saya."
"Baiklah rayi, berhati-hatilah."
"Saya pamit dulu ibunda, raka."
Setelah itu ia pergi menuju wisma tamu istana untuk menyampaikan kepada utusan. Bahwa akan ditunda acara penobatan pengangkatan Raja baru selama tujuh hari.
"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh prajurit! Aku yakin mereka sudah mulai bergerak! Aku harap jaya Satria bisa mengatasi masalah di sana! Sementara aku akan terus mengalihkan perhatian di istana ini." Dalam hatinya berharap semua rencana yang dilakukan oleh Jaya Satria akan berjalan dengan lancar. Mencegat perjalanan para pendekar golongan hitam yang sedang menuju ke istana kerajaan Suka Damai.
Apakah yang akan mereka lakukan untuk mencegah golongan hitam untuk mencelakai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...