
...****...
Tiga hari berlalu.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta telah sampai di kerajaan Suka Damai. Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga Istana, untuk menceritakan kepada mereka semua tentang apa saja yang terjadi di Istana Kerajaan Mekar Jaya. Ratu Dewi Anindyaswari menanyakan kabar Prabu Rahwana Bimantara, meskipun putranya Jaya Satria mengatakan bahwa beliau telah meninggal, ia hanya ingin memastikannya. Memang agak berat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakannya lagi.
"Bagaimana keadaan ayahanda prabu nak?. Apakah ayahanda sudah baikan?. Sehingga nanda berdua kembali dari istana mekar jaya."
"Katakan pada kami nanda prabu. Bagaimana keadaan ayahanda prabu?. Semoga saja ayahanda prabu baik-baik saja."
"Rasanya, ibunda merindukan nasehat ayahanda prabu."
"Benar rayi dewi. Nasehat yang diberikan ayahanda prabu sangat menyentuh hati. Rasanya aku ingin lama berbincang-bincang dengan beliau."
"Kapan kita akan bertemu dengan ayahanda prabu."
"Mungkin, setelah acara pernikahan nanda hadyan hastanta, rayi dewi."
Rasanya sangat sedih, mendengarkan Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati bertanya tentang keadaan Prabu Rahwana Bimantara. Apa yang akan mereka katakan kepada kedua Ratu Kerajaan Suka Damai?.
"Maaf ibunda. Kami tidak bisa menyelamatkan kakek prabu."
"Maafkan nanda juga ibunda. Karena nanda tidak bisa menyelamatkan kakek prabu."
"Apa maksud nanda berdua?."
"Raka. Memangnya apa yang terjadi pada kakek prabu?."
"Rayi prabu, kakek prabu baik-baik saja kan?."
"Maaf ibunda, yunda. Kakek prabu meninggal, karena ditikam oleh ibunda ratu ardiningrum bintari."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Sungguh keterlaluan sekali apa yang dilakukan oleh yunda ardiningrum bintari. Mengapa tega sekali melakukan itu?."
"Demi dewata yang agung. Mengapa yunda ardiningrum bintari sangat tega sekali, membunuh ayahanda prabu?."
"Ya Allah. Mengapa ibunda ratu ardiningrum bintari melakukan perbuatan kejam pada kakek prabu?."
"Lalu bagaimana dengan yunda ambarsari?. Apakah yunda baik-baik saja?."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, yunda ambarsari baik-baik saja."
"Yunda ambarsari baik-baik saja."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, ibunda bersyukur jika nanda ambarsari baik-baik saja."
__ADS_1
"Tapi mengapa nanda berdua meninggalkan yunda kalian nak?. Apakah situasinya sudah aman?."
"Benar raka, rayi prabu. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada yunda ambarsari?."
"Mengapa raka, juga rayi prabu ceroboh sekali meninggalkan yunda ambarsari sendirian di istana kerajaan mekar jaya?."
"Betul itu nak. Ibunda sangat mencemaskan keadaan nanda putri ambarsari. Semoga saja Allah SWT melindunginya."
"Ibunda, yunda. Tenanglah dulu, kami akan menceritakan semuanya."
"Benar ibunda, rayi putri. Kami belum mengatakan semuanya."
"Kalau begitu katakan kepada kami semuanya nak. Agar kami tidak salah paham."
"Katakan semuanya pada kami."
"Baiklah ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta sedikit menghela nafas, karena memang berat untuk menceritakannya.
"Setelah ibunda ratu ardiningrum bintari menikam kakek prabu. Kami menangkap mereka semua. Setelah itu dimasukkan ke dalam penjara."
"Yunda ardiningrum bintari dipenjara?."
"Raka ganendra garjitha, raka gentala giandra juga dipenjara ibunda."
"Apa yang terjadi setelah itu raka, rayi prabu?."
"Tentunya kematian kakek prabu diketahui oleh dewan istana kerajaan mekar jaya. Karena sebuah kerajaan tidak boleh kosong, maka diadakan pemilihan siapa yang akan memimpin kerajaan. Karena kakek prabu berpesan pada nanda, agar yunda ambarsari menjadi ratu agung. Meskipun sempat tidak setuju, akhirnya yunda ratu dinobatkan menjadi ratu agung bahuwirya ambarsari bimantara."
Mereka semua yang mendengarnya merasa bahagia, jika memang Putri Ambarsari dinobatkan sebagai Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara?. Nama gabungan dua keluarga yang sangat hebat.
"Yunda ratu. Jadi aku akan memanggul yunda ambarsari dengan sebutan yunda ratu agung."
"Itu terdengar sangat luar biasa yunda. Rasanya aku tidak sabar ingin bertemu dengan yunda ratu agung bahuwirya ambarsari bimantara."
"Tapi yunda menitipkan salam maaf pada ibunda, serta rayi putri. Karena tidak bisa mengundang dihari penobatan itu."
"Tentu saja kami memahaminya nak. Apalagi nanda ratu agung sedang masa berkabung."
"Acara penobatan itu juga mendadak. Rasanya tidak mungkin kami datang dalam waktu yang sangat singkat."
"Tapi setidaknya yunda ratu agung akan menjadi ratu yang baik nantinya."
"Ya, itu benar. Mungkin kita bisa berkunjung ke istana mekar jaya, setelah pernikahan raka hadyan hastanta selesai."
__ADS_1
"Benar juga itu rayi agniasari ariani."
Mereka semua tersenyum kecil. Namun ada hal yang lebih penting disampaikan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kepada mereka.
"Tapi tunggu dulu rayi prabu. Bagaimana hukuman yang didapatkan ibunda ratu ardiningrum bintari, raka ganendra garjitha, juga raka gentala giandra?."
"Katakan pada kami bagaimana nasib mereka nak."
"Ya, katakan pada kami."
"Mereka mendapatkan hukuman mati, atas apa yang telah mereka lakukan ibunda, rayi."
Tentu saja mereka semua sangat terkejut mendapatkan kabar itu. Jantung mereka berdebar-debar, mendapatkan kabar mengejutkan itu.
"Apakah tidak ada pertimbangan lain, selain hukuman mati nak?."
"Apakah hukuman itu telah dilaksanakan?."
"Tidak ada ibunda. Hanya hukuman mati yang mereka dapatkan, karena sudah dua kali melakukan pengkhianatan. Dua kali mengancam kakek prabu hingga meninggal."
"Meskipun sebenarnya, yunda ratu telah membuat kesepakatan, untuk meringankan hukuman. Namun ibunda menolak, hingga akhirnya menerima hukuman mati pada saat itu juga ibunda. Karena dewan istana sangat marah mendengarkan, apa yang dikatakan oleh ibunda ratu, serta raka."
"Ya Allah. Mengapa sampai berakhir seperti itu?. Lalu bagaimana dengan keadaan yunda kalian nak?."
"Apakah nanda ratu agung baik-baik saja?."
"Keadaannya baik-baik saja ibunda."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, ibunda sangat tenang mendengarnya."
"Ibunda juga merasa bersyukur mendengarnya nak. Sungguh malang sekali nasib mereka."
"Sungguh. Itu adalah perbuatan sia-sia. Padahal niatnya ingin membantu meringankan hukuman. Akan tetapi, karena tidak mau mendengarkan ucapan orang lain, berakhir dengan buruk. Kasihan yunda ratu agung. Rasanya aku ingin segera ke sana, menenangkan yunda ratu agung."
"Tenang saja yunda. Aku telah mengatakan pada yunda ratu, untuk datang ke istana satu purnama. Kita akan mengadakan syukuran, serta kerjasama yang baik dengan kerajaan mekar jaya. Selain itu, untuk mengadakan acara pernikahan raka hadyan hastanta di istana ini, juga penobatan yunda ratu agung. Di istana ini, kita menyatukan kedua acara yang tidak bisa dihadiri oleh yunda ratu, ataupun ibunda, yunda saat acara berlangsung."
"Subhanallah. Itu sungguh usulan yang bagus nanda prabu. Nanda prabu memikirkan kebahagiaan kita semua."
"Terima kasih, karena nanda akan membuat acara seperti itu di istana ini. Rasanya ibunda ingin menangis, karena haru mendengarkan rencana yang nanda prabu buat untuk kami."
"Ibunda benar. Tapi, rasanya tiba-tiba ada bawang merah, yang membuat mataku terasa perih."
"Ah rayi ini berlebihan sekali."
Mereka semua tertawa melihat tingkah Putri Agniasari Ariani yang menangis haru. Ia benar-benar tidak bisa menahan perasaannya, karena merindukan kakaknya itu.
__ADS_1
Apakah mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang mereka inginkan?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentar, biar semangat lanjutin ceritanya.
...***...