
...***...
Saat ini putri Andhini Andita sedang mengamati Raden Raksa Wardhana. Berlatih mengasah kemampuan ilmu kanuragan yang ia miliki. Meskipun kemampuan ilmu kanuragan yang ia miliki sebelumnya sangat hebat, namun kendala yang ia rasakan saat ini adalah penglihatannya saja yang bermasalah. Karena itulah ia tidak bisa melakukan apapun.
"Raden harus tenang, karena dengan ketenangan yang raden miliki, raden bisa. Ini adalah ujian untuk raden, jadi raden jangan menyerah." Putri Andhini Andita terus menyemangati Raden Raksa Wardhana agar tidak menyerah begitu saja. Putri Andhini Andita menuntun Raden Raksa Wardhana agar melakukan apapun yang ia katakan.
"Ya, seperti itu raden. Teruslah berlatih dengan seperti itu. Semoga raden bisa melakukannya." Rasanya Putri Andhini Andita hampir saja menangis, melihat ketekunan dan pantang menyerah yang dimiliki oleh Raden Raksa Wardhana saat ini. "Ya Allah. Mudahkanlah segala urusan yang dialami oleh raden raksa wardhana saat ini. Hamba mohon ringankan langkahnya ya Allah." Dalam hati Putri Andhini Andita mencoba untuk menguatkan hatinya. Meskipun ia melihat Raden Raksa Wardhana beberapa kali hampir saja terjatuh, atau terkena hantaman bambu tempat latihan itu. Ia terus menyuarakan dengan semangat pada Raden Raksa Wardhana.
"Aku dapat merasakannya, aku bisa merasakannya." Dalam hati Raden Raksa Wardhana merasa bersemangat, dan entah mengapa ia bisa melihat saat ini. Walaupun masih rabun, namun samar-samar ia dapat melihatnya. Hatinya sangat senang, dan ia tidak menyangka akan pulih perlahan-lahan?. "Oh dewata yang agung. Apakah hamba akan bisa melihat lagi?." Dalam hatinya sangat bahagia yang luar biasa. Apakah itu adalah sebuah keajaiban yang patut ia syukuri?. Tapi bagaimana ia bisa melihat?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Kawanda Labdagati beserta keluarga telah berpulang ke Istana Kerajaan Angin Selatan. Setidaknya mereka telah melepaskan rindu pada Putri Bestari Dhatu. Namun saat itu, Ratu Gendhis Cendrawati terlihat sangat sedih, karena ia teringat dengan anaknya yang entah dimana saat ini.
Di pendopo kaputren. Saat ini Ratu Gendhis Cendrawati terlihat sedang merenung jauh, sambil memikirkan nasib anaknya yang jauh dari jangkauannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, yunda." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati Ratu Gendhis Cendrawati.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, rayi dewi." Balas Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk tersenyum, meskipun terasa sangat pahit.
__ADS_1
"Apa yang sedang yunda pikirkan?. Tatapan mata yunda sangat jauh sekali. Apakah terjadi sesuatu pada yunda?. Katakan saja yunda, semoga saja aku bisa membantu yunda." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat mencemaskan keadaan Ratu Gendhis Cendrawati.
Ratu Gendhis Cendrawati terlihat menghela nafasnya dengan pelan. "Aku hanya sedang memikirkan putriku." Kegelisahan yang ia rasakan saat ini membuat ia merasa sangat sesak. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan keselamatannya." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sangat gelisah, dan tidak bisa tenang.
Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil mendengarnya. "Yunda harus lebih bersabar. Karena ananda andhini andita, saat ini sedang belajar lebih bersabar, serta menguatkan dirinya." Ratu Dewi Anindyaswari menguatkan hati, serta perasaan yang dimiliki Ratu Gendhis Cendrawati.
"Rasanya aku sangat bersalah padamu rayi dewi." Sorot matanya kali ini menyimpan kesedihan yang sangat mendalam.
"Apa yang yunda maksudkan?. Kenapa yunda berkata seperti itu?." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat heran dengan sikap Ratu Gendhis Cendrawati.
"Dimasa lalu, aku berusaha untuk menyingkirkan putramu agar tidak mendapatkan hak waris kerajaan ini. Kami selalu saja mencari kesalahan nanda cakara casugraha. Hingga akhirnya ia terusir dari istana ini." Hatinya sangat sedih mengingat apa yang terjadi dimasa lalu. "Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan cemas yang kau rasakan rayi dewi. Perasaan cemas memikirkan keselamatan nanda cakara casugraha yang entah bagaimana nasibnya saat ini." Ratu Gendhis Cendrawati tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan sedihnya. "Saat ini aku merasakannya, bagaimana kecemasan yang kau rasakan pada saat itu rayi dewi." Suasana hatinya sangat bergemuruh, karena memikirkan nasib anaknya.
...***...
Sementara itu, Raden Raksa Wardhana kembali ke Istana Kerajaan Restu Agung. Kedatangannya disambut oleh ibundanya, Selir Ratna Wardhani yang terlihat sangat cemas dengan keadaan anaknya.
"Oh putraku." Ia memeluk anaknya dengan perasaan cemas. "Mengapa setiap pulang keadaanmu terluka seperti ini nak?. Apa saja yang telah kau lakukan di luar sana?." Selir Ratna Wardhani sangat cemas. Setelah itu ia melepaskan pelukan anaknya, dan memperhatikan penampilan anaknya yang sangat kacau.
"Ibunda tenang saja. Nanda baik-baik saja, jadi ibunda tidak perlu khawatir." Ia mencoba untuk tersenyum kecil.
__ADS_1
"Tapi nak. Sebentar lagi, sebentar lagi akan diadakan pertarungan itu. Ibunda sangat cemas dengan keadaanmu yang sekarang. Ibunda tidak mau kehilangan dirimu nak." Selir Ratna Wardhani menangis sedih, ia tidak sanggup harus kehilangan satu-satunya anak yang ia cintai.
"Ibunda tenang saja. Semoga saja nanda bisa melakukan ini. Saat ini nanda bertemu dengan seorang dewi yang membantu nanda untuk menghadapi pertarungan mau itu nantinya ibunda." Raden Raksa Wardhana hanya tidak mau membuat ibundanya mencemaskan dirinyalah.
"Apakah itu benar nak?. Apakah yang kau katakan itu sangat benar?." Ada perasaan senang, dan setitik harapan yang ia miliki saat mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya. "Kau tidak berbohong pada ibunda kan nak?." Air matanya tidak bisa ia tahan lagi, dan itu telah jatuh menetes membasahi pipinya.
"Ya, itu benar ibunda." Balas Raden Raksa Wardhana dengan sangat yakin.
"Katakan pada ibunda siapa orangnya. Karena ibunda ingin mengucapkan rasa terima kasih ibunda padanya." Selir Ratna Wardhani ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membantu anaknya.
"Untuk saat ini nanda tidak bisa mengatakannya ibunda. Tapi nanti, pada saatnya setelah nanda berhasil melewati pertarungan maut itu. Nanda akan memperkenalkan dewi yang telah membantu nanda." Raden Raksa Wardhana hanya tidak ingin terburu-buru memperkenalkan Putih, nama wanita yang telah memberikan harapan padanya. Putih mengatakan, ada hal yang ingin ia pastikan dalam semedinya. Karena itulah ia tidak mau bertemu dengan siapa saja, termasuk dengan Selir Ratna Wardhani.
"Jadi begitu?. Tapi setidaknya kau dalam keadaan baik-baik nak. Ibunda sangat mencemaskan keadaannya nak." Selir Ratna Wardhani kembali memeluk anaknya.
"Untuk saat ini nanda baik-baik saja ibunda." Balasnya dengan sangat yakin. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik demi ibundanya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1