RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KECEMASAN KARENA MARAH


__ADS_3

...***...


Dengan perasaaan marah, Putri Andhini Andita berkata pada Wunitari. Perasaannya yang membuncah, ketika Wunitari mengatakan jika ia mengincar adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kau benar-benar kurang ajar!. Setelah apa yang kau lakukan pada adikku putri agniasari ariani, dan kau malah menginginkan adikku yang merupakan seorang raja?."


"Prabu asmalaraya arya ardhana sepertinya lebih tampan dari raden rajaswa. Karena itulah aku menginginkannya. Akan tetapi, sang prabu telah memiliki calon. Sayangnya aku tidak bisa melihat siapa calonnya itu."


"Kau ini memang wanita tidak tahu diri!. Akan aku hajar kau!. Kau harus bertanggungjawab, atas apa yang telah kau lakukan pada adikku."


Putri Andhini Andita menyerang wanita itu, hingga terjadi pertarungan antara keduanya. Sedangkan Jaya Satria mencoba untuk melihat situasi. Akan berbahaya jika ia ikut, karena Putri Andhini Andita terlihat sangat marah.


"Itulah, mengapa alasan aku tidak mau yunda andhini andita ikut. Selain tidak sabaran dan pemarah, ia juga tidak akan pernah mendengarkan perkataan orang lain jika ia telah mengetahui orang itu terbukti bersalah."


Jaya Satria melihat bagaimana Putri Andhini Andita bertarung dalam keadaan marah. Suasana hatinya yang saat ini dipenuhi oleh amarah yang luar biasa. Ia ingin menghentikan kemarahan itu, tapi rasanya bukan waktu yang tepat. Karena kakaknya sedang fokus berhadapan dengan musuhnya. Ia hanya perlu waspada, jika terjadi sesuatu pada kakaknya nantinya.


...***...


Di sebuah tempat. Ada sepasang pendekar yang memasuki wilayah kerajaan Suka Damai. Mereka terlihat mencurigakan, karena mereka bertanya tentang Raden Cakara Casugraha. Apa yang membuat mereka ingin mencari Raden Cakara Casugraha?.


"Maaf kisanak, apakah benar ini menuju kota raja?. Menuju istana kerajaan suka damai?."


"Benar tuan. Jalan lurus ke arah hutan itu, setelah itu tuan telah memasuki kota raja."


"Memangnya tuan mau mencari siapa?."


"Kami ingin mencari raden cakara casugraha."


"Ooh raden cakara casugraha sekarang telah menjadi raja tuan."


"Jika tuan ingin bertemu dengan gusti prabu. Tuan langsung bisa ke istana."


"Baiklah kalau begitu. Kami akan ke istana. Terima kasih atas informasi yang kalian berikan pada kami."

__ADS_1


"Sama-sama tuan."


Seorang laki-laki dan seorang wanita. Setelah mendapatkan informasi yang mereka inginkan, mereka pergi dari sana. Meskipun ada kecurigaan terhadap kedua orang itu, namun mereka tidak ingin berburuk sangka.


"Tidak biasanya ada pendekar yang menanyai tentang gusti prabu."


"Semoga saja mereka tidak membawa malapetaka bagi gusti prabu."


"Semoga saja. Semoga Allah SWT selalu melindungi gusti prabu dari marabahaya yang mengancam keselamatannya."


Mereka hanya tidak ingin kehilangan raja muda yang baik hati. Mereka hanya berdoa keselamatan sang prabu.


...***...


Di Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang berada di ruang pribadi raja. Ia mencoba untuk berkomunikasi dengan Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria. Ia berharap Jaya Satria baik-baik.


"Hamba baik-baik saja gusti prabu. Hanya saja yunda andhini andita saat ini sedang berhadapan dengan wanita tukang teluh itu."


"Gusti prabu tenang saja. Untuk saat ini semuanya bisa diatasi oleh yunda. Semuanya baik-baik saja."


"Baiklah kalau begitu jaya satria. Aku harap, kau jangan sampai lengah, atau membiarkan yunda terluka."


"Tentu saja aku akan selalu melindungi yunda. Gusti prabu tidak perlu khawatir masalah keselamatan yunda."


"Terima kasih jaya satria. Tapi waktu kita tidak banyak. Aku harap kau bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik."


"Hamba mengerti gusti prabu. Terima kasih karena telah mengingatkan hamba."


Setelah itu Jaya Satria fokus melihat pertarungan Putri Andhini Andita. Sepertinya Wunitari merasa kewalahan berhadapan dengan Putri Andhini Andita. Terlihat sangat jelas bagaimana raut wajahnya saat ini. Matanya liar, memikirkan bagaimana caranya mengalahkan Putri Andhini Andita.


"Kau boleh unggul dalam ilmu kadigjayaan. Tapi ingat!. Aku ini adalah dukun santet. Akan aku buat kau menderita, dengan ilmu santet yang aku miliki."


"Kau memang seorang pengecut!. Beraninya hanya menyerang orang lain melalui tak kasat mata. Kalau kau seorang wanita ksatria. Hadapi aku dengan senjata!."

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Yang aku inginkan adalah, aku berhasil mengalahkan semua musuh yang menghalangi aku, mendapatkan apa yang aku inginkan."


Sepertinya Wunitari tidak main-main dengan ucapannya. Ia mengucapkan sebuah mantram aneh, membuat hawa sekitar sepi tanpa suara. Benar-benar hening, seakan tidak memiliki suara.


Putri Andhini Andita memasang kuda-kuda siaga, ia takut mendapatkan serangan yang tak terduga. Dan benar saja, tubuhnya terjajar ke belakang, seakan ada yang menerjangnya dari depan, membuatnya terkejut dan meringis sakit. Tentunya Jaya Satria alias Raden Cakara Casugraha tidak akan membiarkan kakaknya terluka, karena serangan gaib itu.


"Astaghfirullah hal'azim yunda."


Lagi. Putri Andhini Andita mendapatkan serangan secara gaib. Jaya Satria mencoba untuk membantu Putri Andhini Andita menghadapi musuh gaib itu.


"Rayi. Orang itu menggunakan ilmu santetnya, sehingga ia dapat menyerangku secara gaib."


"Yunda tenanglah. Aku akan mencoba mengatasinya."


Jaya Satria membacakan ayat kursi, surah Al-fatihah, serta surah An-Nas. Saat itu juga, keluar tiga makhluk mengerikan. Mereka adalah pasukan setan yang memang bersekutu dengan manusia.


"Panas. Lagi-lagi aku merasakan panas seperti waktu itu." Wunitari berteriak keras, karena ia tidak dapat menahan rasa panas saat mendengarkan apa yang dibacakan oleh Jaya Satria. Begitu juga dengan ketiga setan itu.


"Yunda. Mundurlah untuk sementara waktu. Biarkan aku yang menghadapi mereka bertiga."


"Baiklah rayi. Aku harap kau berhati-hati. Sepertinya mereka bukan lawan yang mudah."


Putri Andhini Andita menuruti apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Karena tenaga dalamnya sedikit terkuras, setelah mendapatkan serangan gaib tadi.


"Hei!. Kau!. Sungguh merugi sekali hidupmu. Karena kau telah bersekutu dengan bangsa jin. Allah SWT telah mengenaskan, bahwa jin dan setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Tapi mengapa kau malah meminta bantuan darinya."


"Kau tidak usah banyak bicara orang bertopeng. Aku mau bersekutu dengan siapa itu adalah urusanku. Yang aku inginkan hanyalah kesenangan. Jadi kau tidak usah merusak kesenanganku!."


Ketiga setan itu menyerang Jaya Satria, setelah mendapatkan perintah dari Wunitari untuk menyerang Jaya Satria. Dengan gerakan yang sangat cepat, ketiga setan itu melancarkan serangan. Namun Jaya Satria tidak mudah untuk dikalahkan. Sambil membaca surah Ya sin ayat enam puluh sampai enam puluh tiga. Jaya Satria berhasil memusnahkan ketiga setan itu. Namun apa yang terjadi?. Wunitari berteriak kesakitan, wajahnya berasap, seperti habis terbakar.


Wunitari berteriak lebih keras lagi sambil berguling di tanah. Ia tidak dapat menahan rasa sakit yang mendera dirinya. Apa yang terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2