RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SOSOK MISTERIUS


__ADS_3

...***...


Nini Kabut Bidadari mencoba menerawang, melalui air telaga warna bidadari. Ia mengucapkan mantra-mantra pemanggil sosok gambaran orang yang ia cari.


"Mataku pandang, batinku melihat, rupa-rupa yang tidak bisa dilihat oleh mataku, namun biarkan batinku melihatnya."


Nini Kabut Bidadari merapal mantramnya, ada beberapa sosok bertopeng hitam yang muncul. Namun hilang lagi, karena sosok-sosok itu bisa ia terawang siapa orangnya. Dan ia mengenali beberapa sosok itu, tidak mungkin mereka yang melakukannya.


Nini Kabut Bidadari melakukannya berkali-kali, hingga akhirnya muncul satu sosok yang tidak bisa ia lihat, atau ia kenali. Selain hanya melihat mengenakan topeng hitam penutup wajahnya.


"Ada apa Nini?. Apa kah kau sudah menemukan orang itu?."


Ki Dharma Seta melihat Nini Kabut Bidadari seperti kebingungan. Apa yang sebenarnya dilihat oleh Nini Kabut Bidadari, hingga raut wajahnya seperti itu?.


"Coba kakang lihat. Aku sungguh tidak percaya, dengan apa yang ditangkap, oleh penerawangan yang ditampilkan, oleh air telaga warna bidadari ini."


Nini Kabut Bidadari tidak percaya. Baru kali ini ada seorang pendekar, yang memiliki aji halimun yang sangat kuat, untuk melindungi dirinya. Bahkan air telaga warna bidadari saja tidak dapat menembusnya. Itu artinya ia memiliki kesaktian yang luar biasa?.


Sementara itu, Ki Dharma Seta mencoba melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Nini Kabut Bidadari. Sosok itu seorang laki-laki yang masih tampak muda?.


"Air telaga warna bidadari ini, hanya bisa menangkap sosok ini kakang. Tapi tidak tahu siapa sosok yang berada di balik topeng ini Kakang."


Nini Kabut Bidadari merasa heran, mengapa air telaga warna bidadari tidak dapat menangkap, atau memperlihatkan wajah asli dari orang itu?.


"Masih muda, tetapi memiliki ajian halimun yang sangat hebat."


secara tidak langsung Ki Dharma Seta, mengakui kehebatan ilmu Kanuragan, yang dimiliki oleh pendekar yang sangat misterius itu.


"Benar-benar orang yang sangat misterius kakang." Nini Kabut Bidadari juga merasa kagum pada pemuda itu.


"Tapi setidaknya, aku bisa mengetahui ciri-ciri orangnya. Dengan begitu, aku bisa memaksa orang itu, untuk mengatakan dimana dia menyembunyikan anak buahku."


ki Dharma Seta merasa marah. Ternyata begitu sulit untuk mengetahui identitas orang itu. Tapi dengan melihat penampilan orang itu, ia bisa mencarinya di suatu tempat, atau ia akan memancing orang itu keluar dengan cara membuat kerusuhan di tempat anak buahnya kemarin dihajar orang misterius itu.


ya, ia akan melakukannya. ia menemui Nini Kabut Bidadari hanya untuk mengetahui keberadaan anak buahnya saja. Mana tahu dia bisa membebaskan anak buahnya, tanpa harus bertarung dengan sosok misterius itu. Tapi sepertinya tidak semudah yang ia bayangkan.


Sepertinya ia memang harus berhadapan langsung sosok itu, agar ia bisa mengambil paksa anak buahnya, yang disandera oleh orang misterius itu.


Apakah Ki Dharma Seta bisa melakukannya?. Baca terus ceritanya.


...***...


Di lingkungan Istana.


Di kamar Raden Hadyan Hastanta.


Sepertinya keadaan Raden Hadyan Hastanta sudah terlihat baik-baik saja. Namun masih dalam pemulihan, ia sedang meminum obat yang diberikan tabib, agar racun yang ada di dalam tubuhnya benar-benar hilang.


Raden Hadyan Hastanta tidak sendirian, ada ibundanya Ratu Gendhis Cendrawati, juga Ratu Ardiningrum Bintari, juga kedua putranya Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra.


"Bagaimana keadaanmu rayi?. Apakah kau sudah baikan?."


Raden Ganendra Garjitha begitu perhatian pada adik tirinya itu. Ia duduk di samping kanan Raden Hadyan Hastanta, sementara itu Raden Gentala berdiri di belakang kakaknya. Sedangkan Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Ardiningrum Bintari duduk di sebelah kiri ranjang Raden Hadyan Hastanta.


"Aku baik-baik saja raka. Aku tidak merasakan sakit lagi."


Jawab Raden Hadyan tersenyum kecil. Ia tidak menyangka, akan mendapatkan perhatian, dari saudara beda ibu seperti ini.


"Syukurlah putraku, nanda hadyan hastanta, ibunda lega mendengarnya."


Ratu Ardiningrum Bintari tersenyum kecil, menatap Raden Hadyan Hastanta. Mereka terlihat sangat akur di dalam istana.


"Terima kasih ibunda ratu, telah mengkhawatirkan keadaan nanda."


Raden Hadyan Hastanta merasa terhormat mendengarkan apa yang dikatakan oleh ratu Ardiningrum Bintari, ia merasa bersyukur memiliki ibunda seperti ratu Ardiningrum Bintari.


Mereka semua senang mendengarnya, betapa akrabnya mereka saat ini. Saling mencemaskan satu sama lain, namun dibalik semua itu.


"Tapi aku penasaran, mengapa rayi hadyan hastanta bisa terkena jarum beracun?. Siapa yang telah berani mencelakaimu rayi?."


Raden Ganendra Garjitha begitu penasaran, bagaimana bisa Raden Hadyan Hastanta terkena jarum beracun?. Ppasti ada penyebabnya bukan?. Hingga adiknya ini hampir kehilangan nyawanya.


"Benar rayi. Memangnya apa yang kau lakukan saat itu?. Katakan pada rakamu ini."


Raden Gentala Giandra juga ingin mengetahuinya, ia begitu penasaran dengan apa yang dialami oleh adiknya.

__ADS_1


"Saat itu aku sedang berjalan-jalan keluar istana. Aku ingin melihat suasana luar, tapi aku dihadang oleh kawanan perampok."


Raden Hadyan Hastanta menjelaskan kepada mereka kejadian yang ia alami saat itu.


"Aku berhasil menghajar mereka, tapi aku tidak menyangka, mereka mendapatkan bantuan dari orang lain yang menyerangku, dengan cara yang curang. Diam-diam dia menyerangku dengan menggunakan jarum beracun."


Raden Hadyan Hastanta masih sangat mengingat kejadian itu.


"Lalu apa yang terjadi padamu setelah itu, putraku."


Ratu Gendhis Cendrawati begitu terlihat cemas, ia mencemaskan putranya meskipun kejadian itu sudah berlalu.


"Saat aku sedang kesakitan, tiba-tiba aku melihat ada orang misterius yang datang menolongku. Dia sepertinya mengenali salah satu dari mereka."


Meskipun dalam keadaan terluka, Raden Hadyan Hastanta masih dapat melihat, siapa yang menolongnya walaupun ia tidak mengenali sosok itu.


"Orang misterius?."


Mereka serentak bertanya, karena bingung dengan apa yang mereka dengar.


"Benar. Orang misterius itu menolongku."


Jawab Raden Hadyan Hastanta mengiyakan yang menjadi tanda tanya bagi mereka semua.


"Lalu apakah mereka sempat bertarung?."


Tanya Raden Ganendra Garjitha penasaran, apakah sosok itu berhasil mengalahkan kawanan perompak itu juga ketua mereka?.


"Tidak raka. Ketua perampok itu sepertinya ketakutan, melihat orang misterius itu, dan menyuruh anak buahnya mundur."


Rasanya memang sangat aneh, apakah mereka sempat bertemu sebelumnya?. Entahlah, mereka semua tidak tahu, termasuk Raden Hadyan Hastanta sendiri juga tidak mengetahuinya.


"Tapi setidaknya aku bersyukur, putraku baik-baik saja." Senyuman mengembang diwajahnya. Anaknya masih diberikan keselamatan oleh sang pencipta.


"Kita harus menuntut nanda prabu asmalaraya arya ardhana." Ucapnya. "Dia harus bertanggung jawab, atas keselamatan keluarga istana." Ratu Ardiningrum Bintari terlihat serius, ia terlihat marah, kesal dengan apa yang terjadi.


"Apa maksud yunda berkata seperti itu?." Tentunya Ratu Gendhis Cendrawati bertany, mengapa Ratu Ardiningrum Bintari, ingin menuntut Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Tuntutan apa yang ia inginkan?.


"Bukankah dia harus bertanggung jawab, atas keselamatan keluarga istana?." Ia balik bertanya.


Ucapan Ratu Ardiningrum Bintari. Seharusnya sebagai kepala keluarga istana tertinggi, ia menjenguk Raden Hadyan Hastanta. Namun selama dua hari ini belum ia lakukan juga.


"Ibunda benar. Rayi prabu asmalaraya arya ardhana, benar-benar tidak bertanggungjawab sebagai raja." Raden Ganendra Garjitha membenarkan apa yang dikatakan oleh ibundanya.


"Iya juga ya. Kenapa rayi prabu asmalaraya arya ardhana, tidak melakukannya?. Apakah ia tidak tahu mengenai kejadian ini?." Raden Gentala Giandra juga memikirkan hal yang sama, ia tidak melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendatangi Raden Hadyan Hastanta. Bukankah sudah jelas?. Sebagai seorang raja ia harusnya memperhatikan keadaan keluarga istana?.


Lalu kemana prabu Asmalaraya Arya Ardhana pergi?. Apakah tidak ada rasa kepeduliannya, pada Raden Hadyan Hastanta?.


"Aku memang belum melihatnya, sejak putraku dipindahkan ke kamarnya. Nanda prabu selalu disibukkan oleh masalah istana." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sesak.


Memang ia akui prabu Asmalaraya Arya Ardhana, belum sama sekali melihat keadaan anaknya. Hanya Ratu Dewiewi Anindyaswari, dan putrinya saja yang melihat, dan bertanya kondisi putranya.


Apakah melalui perwakilan mereka?. Namun rasanya tidak masuk akal.  Apapun alasannya, tetap saja melihat sebentar saja, tidak akan memakan waktu yang lama. Tapi sang prabu tidak melakukannya.


"Kau tidak boleh diam saja rayi. Kau harus menemui nanda prabu. Katakan padanya, untuk bertanggungjawab atas keselamatan putramu nanda hadyan hastanta."


Ratu Ardiningrum Bintari sepertinya, sedang memanasi suasana hati Ratu Gendhis Cendrawati. Bisa dilihat dengan jelas apa yang ia rencanakan. Yaitunya mengadu domba mereka agar bermusuhan.


"Kau juga rayi. Keselamatan kita itu berada ditangan rayi prabu. Tapi dia tidak peduli sama sekali, dengan keadaanmu sekarang. Sungguh, ia tidak peduli sama sekali padamu rayi."


Raden Ganendra Garjitha juga memanasi hati Raden Hadyan Hastanta, agar menuntut keadilan pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Apakah yang akan dilakukan Ratu Gendhis Cendrawati dan putranya Raden Hadyan Hastanta?. Baca terus ceritanya.


...***...


Masih di lingkungan Istana.


Di kaputren tempat anak-anak perempuan, dan permaisuri raja tinggal.


Putri Andhini Andita terlihat merenung, ia sedang memikirkan sesuatu. Ia memang membenci kedua adiknya, anak dari Ratu Dewi Anindyaswari.


Namun disisi lain, ada rasa penasaran yang menghinggapi hatinya. Didalam kebencian yang ia rasakan terhadap mereka.


Penasaran akan sosok misterius, yang bersama adiknya Cakara Casugraha. Juga pernah bersama mendiang ayahandanya.

__ADS_1


"Sampurasun, rayi andhini adnita."


Sapa Putri Ambarsari dengan suara pelan, ia duduk di samping adik tirinya itu.


"Rampes."


Balas Putri Andhini Andita, sambil mengalihkan pandangannya. Ia melihat kedatangan kakaknya putri Ambarsari, yang sedang tersenyum kecil padanya.


"Apa yang sedang kau pikirkan rayi. Mengapa kau melamun panjang seperti itu?. Katakan padaku."


Putri Ambarsari ingin mengetahui, apa yang dilakukan adiknya. Tidak biasanya ia melihat adiknya merenung begitu.


Jika dilihat seperti itu, keduanya memang sangat akur sebagai adik kakak. Namun sayangnya mereka tidak terlalu dekat dengan putri Agniasari Ariani. Mungkin itu adalah pengaruh dari ibunda mereka, yang mengatakan bahwa, Ratu Dewi Anindyaswari adalah, seorang putri kerajaan yang telah menggoda, serta memaksa menikah dengan ayahanda mereka. Karena ratu Dewi Anindyaswari telah hamil duluan.


Karena perkataan-perkataan seperti itu, keduanya. Ah tidak, bukan hanya kedua putri mendiang prabu Kawiswara Arya Ragnala saja, bahkan ketiga putranya juga membenci putri Agniasari Ariani juga membenci Raden Cakara Casugraha.


kembali pada kedekatan kedua putri cantik ini.


"Aku tidak apa-apa yunda. Aku hanya sedang bosan saja"


Raut wajah putri Andhini Andita terlihat merengut, ia cemberut. Sedangkan putri Ambarsari tertawa kecil melihat betapa lucunya ekspresi adiknya saat ini.


Meskipun jarak usia mereka hanya terpaut lima tahun, namun kedekatan mereka memang sangat akrab seperti adik kandung asli. Tidak pernah mereka bertengkar sedikitpun, ataupun membenci satu sama lain.


"Benarkah?. Tapi kenapa kau malah cemberut seperti itu?."


Putri Ambarsari menjahili adiknya itu, ia malah menertawakan adiknya. Mereka sedang bercanda ria saat ini, dan Putri Andhini Andita malah mengerjai kakaknya balik.


"Wah, ada pangeran Ardapati."


Dengan jahilnya putri menyebut nama pangeran Ardapati, seorang pangeran yang sedang jatuh hati pada kakaknya.


Putri Ambarsari yang memang menyukai pangeran Ardapati, spontan melihat ke arah yang ditunjuk adiknya itu. Namun matanya tidak melihat keberadaan sang pangeran pujaan hatinya.


"Rayi!. Beraninya kau menipuku!."


kali ini putri Ambarsari terlihat cemberut, ia kesal dengan kejahilan adiknya. Sehingga mereka main kejar-kejaran di sekitar kaputren.


Begitulah kedekatan kedua putri mendiang prabu Kawiswara Arya Ragnala di dalam istana.


Lalu bagaimana dengan Putri Agniasari Ariani?.


Saat ini ia sedang berada di luar istana. Matanya ia ingin berguru. Mencari guru untuk belajar ilmu Kanuragan, juga guru yang dapat membantunya belajar agama Islam. Seperti yang dilakukan oleh adiknya Raden Cakara Casugraha.


Putri Agniasari Ariani mengatakan, jika ia belajar dari adiknya tentang agama Islam. Akan terapi ia takut, jika ia akan mengganggu adiknya yang kini sebagai raja, yang memiliki tugas mendadak.


Putri Agniasari Ariani memutuskan untuk belajar di luar, walaupun ia berat pergi meninggalkan ibundanya, tapi ia percaya bahwa adiknya akan selalu menjaga ibundanya.


...****...


Di ruang pertemuan raja


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja selesai menggelar rapat, membahas masalah yang dihadapi desa-desa terdekat Istana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan, untuk memberikan bantuan pada rakyat-rakyat kecil, yang sedang mengalami kesulitan bahan pangan. Atau yang membutuhkan pengamanan, dari kawanan perampokan yang mengancam keselamatan mereka.


Mentri, Adipati, lurah dan sebagainya yang berjajaran sesuai pangkat, telah menerima keputusan baik dari sang prabu. Mereka semua setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang Prabu yang begitu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.


Namun beberapa selang mereka semua meninggalkan sang prabu, ratu Gendhis Cendrawati datang menemui sang Prabu.


"Hormat hamba ananda prabu."


Meskipun hatinya saat ini dipenuhi oleh kemarahan, ia mencoba untuk bersikap hormat, kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebagai seorang raja.


"Duduklah, ibunda gendhis cendrawati."


Sambut prabu Asmalaraya Arya Ardhana sambil tersenyum kecil, meskipun ia merasa lelah setelah rapat tadi, namun ia masih menunjukkan sikap ramahnya pada salah satu Ratu kerajaan Suka Damai.


"Rerima kasih, nanda prabu."


Ratu Gendhis Cendrawati duduk, di salah satu kursi yang ada, di hadapan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Apakah yang akan dibicarakan oleh Ratu Gendhis Cendrawati pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Apakah ia benar-benar akan menuntut keadilan keselamatan putranya pada sang prabu?.


Lalu apa tanggapan sang prabu?. Jangan sampai ketinggalan, baca terus ceritanya. Dan semangat pembaca tercinta selalu author tunggu. Like, Vote, Share ceritanya, dan komentar agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya. Salam semoga kita sehat selalu dalam keadaan apapun ya.


next halaman.

__ADS_1


__ADS_2