
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
"Berhati-hatilah nak. Jagan yunda kalian dengan baik. Ibunda selalu mendo'akan semoga kalian semua aman diperjalanan."
"Terima kasih ibunda. Tentunya kami akan menjaga yunda ambarsari dengan baik."
"Insyaallah ibunda. Ibunda tidak perlu cemas. Kami pasti akan menjaga yunda dengan sekuat tenaga kami."
"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika memang seperti itu nak."
"Syukurlah kalau begitu. Kami merasa aman melepaskan kepergian nanda semuanya."
"Terima kasih ibunda. Nanda pamit menuju istana kerajaan mekar jaya."
"Berhati-hatilah nak. Jika nanda putri merasa lelah, katakan saja adik-adikmu untuk tetap beristirahat. Jangan memaksakan diri untuk terus berjalan."
"Tentu saja ibunda. Mungkin kami akan banyak istirahat, karena rayi prabu melaksanakan sholat lima waktu. Jadi ibunda tidak perlu cemas."
"Benar yang dikatakan yunda ambarsari. Lagi pula kami juga tidak akan sanggup berjalan selama dua hari tanpa istirahat ibunda."
Mereka tertawa kecil mendebarkan apa yang dikatakan oleh Raden Hadyan Hastanta. Setidaknya sebelum pergi mereka masih sempat bercanda untuk menghilangkan kegelisahan yang mereka rasakan.
"Rayi prabu, jaga gusti ratu dengan baik, supaya tidak kelelahan selama diperjalanan."
"Benar. Nanti apa jadinya jika seorang ratu pucat dihadapan rakyatnya."
Di saat seperti ini Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari masih bisa bercanda. Membuat mereka semakin tertawa.
"Nanti jika hari pengangkatan tiba, saya akan mengirim surat kepada ibunda, juga rayi sekalian agar datang menghadiri acara tersebut."
"Tentu saja putriku. Kami akan hadir di hari bahagia nanda."
"Itu benar putriku. Ibunda akan selalu mendoakan kebahagiaan nanda putri."
"Terima kasih ibunda. Rasanya sangat bahagia memiliki ibunda yang sangat perhatian." Senyuman kebahagiaan terpancar di wajah mereka semua. Kebahagiaan setelah sekian lama akhirnya mereka satu jalan beriringan.
"Jaya satria. Aku percayakan ibunda, juga yunda padamu. Jaga ibunda juga yunda dengan baik. Semoga saja syekh guru juga paman perapian suramuara datang ke sini untuk membantumu menjaga istana ini."
"Sandika gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Hamba akan melakukan apa yang gusti prabu perintahkan pada hamba."
__ADS_1
"Terima kasih jaya satria." Sang Prabu merasa lega dengan apa yang dikatakan Jaya Satria.
"Kami pamit dulu ibunda. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan ibundanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Berhati-hatilah nak, ibunda akan selalu mengiringi nanda dengan do'a."
"Terima kasih ibunda."
"Nanda pamit dulu ibunda. Sampurasun."
"Rampes."
"Berhati-hatilah yunda. Kami sangat menyayangi yunda. Kami akan menunggu kabar bahagia dari yunda."
"Semoga yunda selalu mendapatkan kebahagiaan. Sampaikan salam kami pada kakek prabu."
"Ya, sampaikan salam sayang kami pada ayahanda prabu rahwana bimantara."
"Semoga ayahanda prabu rahwana bimantara cepat sembuh."
"Tentu saja salam kalian semua akan saya sampaikan. Terima kasih atas do'a terbaiknya ibunda, rayi."
Senyuman Putri Ambarsari kali ini benar-benar tulus dari hatinya. Sehingga kecantikannya terpancar dengan jelas di wajahnya. Cantik karena ketulusan itu adalah hal yang luar biasa untuk dilihat.
"Semoga saja putraku baik-baik saja ya Allah. Lindungilah ia selama diperjalanan." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari berdoa keselamatan anaknya. Ia hanya takut dengan cerita Putri Andhini Andita yang mengatakan jika anaknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pernah ditikam dengan keris oleh Raden Ganendra Garjitha.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu di sebuah tempat. Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra masih menghimpun kekuatan untuk memerangi Kerajaan Mekar Jaya. Mereka sangat berambisi untuk menguasai Kerajaan Mekar Jaya.
"Bagaimana menurut mu rayi?. Ini adalah kekuatan yang berhasil kita kumpulkan saat ini."
"Ini baru sedikit raka. Mestinya kita harus mencari lebih banyak lagi sekutu raka. Agar kita benar-benar sempurna menaklukkan kerajaan itu. Dengan bantuan pendekar serta raja-raja yang ingin membebaskan diri dari kerajaan mekar jaya."
"Ya, kau benar rayi. Namun saat ini aku sedang mengusahakannya rayi. Ini memang masih kurang. Walaupun lawan kita hanyalah kaki tua juga adik kita, namun kita harus tetap menghimpun kekuatan yang lebih besar lagi."
"Ya, raka. Kita kali ini tidak boleh setengah-setengah. Karena setelah berhasil menaklukkan kerajaan mekar jaya, maka kekuatan lebih besar lagi akan kita kerahkan ke kerajaan suka damai."
"Kalau begitu ayo kita cari mereka yang ingin bergabung dengan kita. Kalau perlu dari golongan pendekar yang mampu menggunakan sihir. Agar kita lebih mudah untuk menaklukkan dua kerajaan besar."
__ADS_1
"Ya. Kita harus melakukannya dengan baik. Agar persiapan matang kita tidak sia-sia seperti sebelumnya."
"Kali ini harus berhasil raka. Kita berikan ibunda hadiah yang paling sempurna di dunia ini."
"Tentu saja raka. Aku akan menanyai mereka lebih lagi. Agar kita lebih mudah untuk menghimpun kekuatan yang lebih banyak lagi. Aku yakin mereka memiliki kumpulan yang lebih banyak lagi."
"Aku juga akan melakukan hal yang sama. Rasanya itu ide yang luar biasa rayi."
"Tentu saja itu luar biasa raka. Aku ini kan cerdas, dalam memikirkan apapun dalam keadaan terdesak sekalipun."
Raden Ganendra Garjitha tertawa keras mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya. Entah mengapa Raden Gentala Giandra juga ikut tertawa. Mereka berdua merasakan kebahagiaan tersendiri sehingga mereka tertawa seperti itu.
"Kau memang adikku yang cerdas. Aku bersumpah rencana ini akan berhasil dengan sempurna."
"Tentu saja raka. Kita akan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam untuk merayakan kemenangan kita raka."
"Ahahaha itu pasti rayi. Kita harus merayakannya dengan berpesta selama tujuh hari tujuh malam."
Lagi-lagi mereka tertawa bahagia. belum dilaksanakan apa yang mereka rencanakan, namun mereka telah merasa bahagia duluan. Sungguh penuh angan-angan mereka berdua saking ingin menguasai dan mendapatkan tahta. mereka membayangkan dengan mudahnya mereka menaklukkan kerajaan Mekar Jaya hanya karena yang akan mereka hadapi adalah Putri Ambarsari yang tidak akan mungkin melawan mereka, juga Prabu Rahwana Bimantara. Pasti keduanya mudah dikalahkan. itulah yang ada di dalam pikiran mereka, sehingga mereka tertawa dengan bahagianya. Apa yang akan terjadi?. Apakah mereka benar-benar bisa mendapatkan apa yang mereka impikan?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.
Malamnya, Syekh Asmawan Mulia dan Paman Perapian telah sampai di istana. Saat ini mereka sedang berbincang-bincang dengan Jaya Satria di pendopo depan Istana.
"Apakah nanda masih akan mengenakan topeng besok, ketika bertemu dengan gusti prabu guntur herdian besok?."
"Kami akan mencobanya syekh guru. Jika memang gusti prabu guntur herdian ada keperluan dengan gusti prabu asmalaraya arya ardhana, maka nanda akan melepaskan topeng ini." Ia menyentuh topeng yang ia kenakan.
"Gusti, ah maksudku jaya satria. Aku akan selalu bersamamu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Jadi jangan khawatir masalah itu."
"Terima kasih paman perapian suramuara, juga syekh guru. Karena telah berkenan hadir di istana ini."
"Kami akan selalu ada untuk nanda. Sebagai seorang guru, saya akan selalu menemani nanda."
"Nanda sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang yang baik."
Mereka tersenyum ramah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Mereka tentunya sedikit banyak mengetahui bagaimana masa lalu yang dilalui oleh Jaya Satria hingga menjadi seperti ini.
"Dalam pertemuan besok, syekh guru jangan khawatir. Karena sebenarnya kami benar-benar terhubung dengan baik. Kami memiliki penglihatan yang sama. Bahkan apa yang nanda lihat, juga bisa dilihat oleh gusti prabu, begitu juga dengan sebaliknya."
__ADS_1
Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Bagaimana tanggapan mereka?. Temukan jawabannya. Jangan Lupa vote untuk dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...