RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SIDANG DI ISTANA


__ADS_3

...***...


"Kenapa kalian malah menyerang prajurit?. Apa kesalahan mereka, sehingga tanpa belas kasihan, kalian menyerang mereka?." Tanya orang itu dengan herannya. Namun mereka hanya diam tidak bersuara, hanya diam menunduk.


"Apakah begitu berat, pertanyaanku?. Sehingga kalian tidak ingin menjawabnya?."


"Kami hanya mengikuti sayembara. Barang siapa yang menang, akan menjadi pengawal seorang putri kadipaten. Dengan imbalan seratus kepeng uang emas."


Ada seorang pemuda yang menjawab. Ia terlihat babak belur karena habis bertarung.


Jaya Satria, yang tak lain sosok misterius itu menatap di depannya. Ada beberapa pemuda yang berpenampilan sama dengan pemuda itu.


"Apakah kalian tidak sadar?. Jika yang kalian lakukan itu adalah, hal yang salah?." Ia memperhatikan mereka semua dengan teliti. "jika kalian tidak melakukan hal yang salah, maka prajurit istana tidak akan menyuruh kalian untuk berhenti." Lanjutnya lagi.


Dan mereka melihat ke arah prajurit, yang sedang terluka.


"Lihat dengan baik!. Lihatlah dengan mata kalian!. Lihat wanita itu!." Jaya Satria Agam sedikit marah, sambil menunjuk ke arah yang ia sebutkan.


"Dia sudah lemah tak berdaya. Lihat anak itu terluka!. Akibat perbuatan kalian, yang sudah tergiur dengan upah yang akan kalian dapatkan." Kemarahannya seakan hendak menghajar mereka satu persatu.


"Prajurit!. Bawa mereka yang terluka, obati mereka." perintah Jaya Satria pada prajurit istana.


"Baik tuan pendekar." Prajurit istana langsung melakukan, apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Prajurit-prajurit itu membawa seorang wanita, dan dua anak kecil sedang terluka ketempat pengobatan.


"Astaghfirullah hal'azim." Kembali mata itu melihat ke arah mereka semua. "Lihat juga keadaan kalian yang bertarung." Jaya Satria melanjutkan ucapannya. Ia mencoba menguatkan hatinya untuk tidak marah.


"Setahuku, seorang putri kadipaten tidak akan mencari pengawal, dengan cara seperti itu. Ia akan mendapatkan hukuman dari raja, jika berbuat seperti itu." Ia menjelaskan pada mereka, tentang aturan menjadi pengawal putri kadipaten. "Tapi kalian malah tertarik, dengan hal yang merugikan seperti itu?."Jaya Satria bertanya kepada mereka, yang tadinya ikut bertarung karena sayembara itu?.


Sementara itu, di tempat yang agak jauh dari mereka.


"Kenapa kau malah menyeretku dari sana!." Putri Gempita Bhadrika merasa kesal.


Semara Layana sangat kurang ajar, telah merusak kesenangannya. Ia menatap kesal ke arah laki-laki itu.


"Aku membawamu karena aku tidak ingin, kau dikenali oleh orang bertopeng itu!." Semara Layana juga kesal. padahal ia sudah berbaik hati, melindungi putri Gempita Bhadrika, agar tidak dikenali oleh orang itu. Tapi malah ia yang kena marah?.


"Jadi dia?. Orang bertopeng yang mengalahkan ki dharma seta?." Tanya Nini Kabut Bidadari. Ia memang pernah melihat orang bertopeng itu, melalui penerawangan air telaga warna bidadari.


"Benar nini, dialah orangnya." Mayang Sari tidak akan pernah lupa, dengan orang yang telah menahannya. Meskipun ia tidak melihat wajahnya, namun dari ciri-ciri pakaiannya ia masih ingat itu.


"Kurang ajar!. Aku pasti akan membalas kematian kakang dharma seta." Hatinya telah dipenuhi oleh dendam membara. dmdadanya terasa sesak, namun ia harus menahan diri. Agar tidak bertindak ceroboh, yang nantinya akan merusak rencana mereka.


Kembali pada Jaya Satria.


"Allah SWT, telah melimpahkan kita akal untuk berpikir. Membedakan mana yang baik dan mana yang benar." Jaya Satria menasihati mereka, agar tidak gegabah jika mendapatkan suatu berita.


"Janganlah kita saling menyakiti satu sama lain. Tapi berbuat baiklah kalian, kepada siapa saja yang membutuhkannya. Allah SWT jelas mengatakan dalam Alquran." Jaya Satria mengingatkan mereka semua.


"Janganlah kita menolong orang lain, hanya karena imbalan. Hingga kita menyakiti diri sendiri, dan bahkan menyakiti orang lain."


Tidak ada bantahan atau komentar dari mereka, saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Mereka seperti terpaku oleh kewibawaan, yang terpancar dari Jaya Satria, meskipun wajah itu ditutupi oleh topeng.


"Perintah untuk berbuat baik tercantum dalam Al Quran surat Al Isra ayat 7


اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا


"


Jaya Satria membacakan ayat tersebut, dengan suara yang sangat merdu. Membuat mereka semakin terpaku dan merasa kagum.


"Yang artinya. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan Jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” jaya Satria membacakan arti dari ayat yang ia bacakan. Agar mereka memahaminya dengan baik.

__ADS_1


"Dari ayat tersebut kita dapat menyimpulkan. Baik buruknya yang kita lakukan, pasti akan mendapatkan balasan." Jaya Satria benar-benar menasehati mereka semua.


"Jadi berpikirlah sebelum bertindak. Apakah kita mau dibalas kebaikan, atau keburukan oleh Allah SWT." Ia mencoba untuk bersabar juga, dalam mengeluarkan pendapat. Agar mereka benar-benar mendengarkan apa yang ia sampaikan.


"Kalau begitu aku pamit. Sampurasun." Jaya Satria pergi dari sana, ia juga tidak mau berlama-lama di sana.


"Rampes."


Balas mereka semua sambil melihat kepergian jaya Satria. Sepertinya mereka mulai berpikir, apalagi saat melihat keadaan sekitar.


Keadaan sekitar memang parah, setelah pertarungan mereka tadi. Apakah mereka masih mau berperilaku seperti?. Hanya mereka yang menjawabnya.


"Orang itu sepertinya bukan orang biasa." Putri Gempita Bhadrika memperhatikan orang bertopeng itu. Wibawanya yang begitu kental, sehingga mereka tidak bisa melawannya?.


"Lain kali, akan aku uji. Seberapa tinggi ilmu kanuragan yang ia miliki." Terlintas dibenak Nini Kabut Bidadari, untuk berhadapan langsung dengan Jaya Satria. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengumpulkan para Pedanda istana, yang mengerti tentang agama. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin membahas sesuatu dengan mereka.


"Hari ini saya ingin membahas masalah, tentang beberapa agama." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memulai musyawarah. "Ada beberapa agama, keyakinan yang mulai tersebar di kerajaan ini." Lanjutnya lagi.


"Diantaranya, agama Islam, dan agama hindu-budha." Sang prabu memperhatikan mereka semua yang hadir.


"Seperti yang kita ketahui. Bahwa keluarga istana kerajaan dari zamannya eyang kakek prabu bahuwirya jayantaka byakta. Telah menganut agama hindu-budha." Sang prabu sedikit menyinggung masalah itu pada mereka semua.


Sementara itu, mereka masih menyimak apa yang dikatakan oleh Raja mereka dengan baik.


"Sedangkan saya. Dimasa pemerintahan saya sekarang. Saya telah masuk agama Islam, empat tahun sebelum saya diangkat menjadi raja. Dan itu adalah saran langsung dari mendiang ayahanda prabu kawiswara arya ragnala."


Sekarang mereka mengetahui, mengapa Raja muda mereka menganut agama yang berbeda dari keluarga istana yang lainnya.


"Saya tidak ingin, kedua agama ini terpecah belah. Kita memiliki hati nurani untuk memilih agama yang baik dan benar. Jadi jangan ada permusuhan kedepannya, hanya karena menentukan agama mana yang paling benar." Itulah harapan dari sang prabu.


"Tidak ada paksaan seseorang untuk memilih agama, seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT.


لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ


yang artinya :


Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”


Mereka semua menyimak dengan jelas, apa yang disampaikan oleh sang Prabu kepada mereka semua.


"Dan Allah juga menjelaskan


لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ


yang artinya. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik, dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu, karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” (QS Al-Mumtahanah: 8)"


Sang prabu menatap gurunya Syekh Asmawan Mulia dengan senyuman ramah.


"Subhanallah. Manda prabu memang luar biasa. Dapat mengamalkan semua yang ia pelajari selama ini."


Dalam hati Syekh Asmawan Mulia merasa bangga dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jadi, sebagai sesama saudara yang lahir di tanah yang sama. Saya mohon jangan ada perpecahan, antara kita karena masalah agama." Sang prabu sangat berharap itu.


"Kita bisa memilihnya tanpa ada perbedaan diantara kita. Karena kita memiliki keyakinan agama masing-masing, untukmu agamamu dan untukku agamaku." Sang Prabu telah menjelaskan kepada mereka semuanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya juga ingin mendengarkan pendapat hadirin sekalian." Rasanya tidak enak juga, jika hanya ia saja yang banyak berbicara.


"Katakanlah semua yang dirasakan. Agar kita bisa mendengarnya bersama-sama di sini." Sang Prabu mempersilahkan mereka, untuk mengeluarkan pendapat.


"Mohon ampun Gusti prabu. Sepertinya kami setuju dengan pendapat gusti prabu." Pedanda Istana sangat setuju?.


"Meskipun hati nurani dapat memilih agama baik dan benar. Entah itu agama hindu-buddha atau Islam. Tapi agama sebelumnya tidaklah mudah untuk ditinggalkan." Pedanda Istana memberi jeda dari ucapannya. "karena begitu kentalnya ajaran yang terkandung, pada ajaran itu tersebut. Mohon ampun gusti prabu, jika hamba hanya mengutarakan pendapat pribadi hamba." Pedanda Istana juga berhati-hatilah dalam berbicara, agar tidak terjadi kesalahpahaman saat mereka mendengarkan apa yang ia sampaikan.


Penjelasan dari Pedanda istana, tentu saja dimengerti oleh mereka semua. Memang tidak mudah diterima begitu saja di suatu negeri, tentang masalah agama ini.


Dan parahnya adalah, terjadi penyerangan terhadap orang yang berdakwah. Tapi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berharap, itu tidak terjadi di negerinya, kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini.


"Saya mengerti dengan kondisi itu. Karena saya dulunya juga sulit melakukannya. Rasanya sangat berat untuk saya lakukan. Akan tapi guru saya, syekh asmawan mulia."


Sang prabu dengan sopannya, memperkenalkan guru agamanya kepada mereka semua. Syekh Asmawan Mulia memberi hormat kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga kepada hadirin di ruangan itu.


"Beliau dengan sabar membimbing saya. Mengajari saya tentang agama Islam. Saya sangat berterima kasih kepada syekh guru." prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat ingat, bagaimana awalnya ia belajar kesabaran.


Belajar menahan marah, belajar tentang menahan diri dari segala cobaan. Ia tidak dapat menahan senyumnya, mengingat apa saja yang ia lewati selama ini.


"Terima kasih juga kepada nanda prabu. Karena ananda prabu memperkenankan syekh guru hadir di sini."


Suatu kehormatan bagi Syekh Asmawan Mulia, bisa hadir di sini atas undangan muridnya yang merupakan seorang raja.


"Saya membawa syekh guru, untuk memperkenalkan agama Islam. Karena beliau lebih banyak mengetahui agama islam dari pada saya." Itulah alasan mengapa Syekh Asmawan Mulia, bisa ikut hadir.


"Bagaimana pendapat syekh guru, mengenai penyebaran agama Islam di kerajaan ini." prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta pendapat dari gurunya.


"Terima kasih nanda prabu, karena telah mengizinkan hamba untuk memberikan pendapat." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil, sambil memberi hormat pada sang prabu.


"Hadirin sekalian. Seeperti yang dijelaskan oleh nanda prabu. Bahwa agama Islam itu, bukanlah agama yang memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu." Syekh Asmawan Mulia mencoba untuk memberikan gambaran pada mereka semua.


"Akan tetapi, agama islam dijadikan sebagai pedoman hidup. Sebagai agama yang menyempurnakan agama yang sudah ada." Lanjut Syekh Asmawan Mulia.


"Suatu negeri, atau suatu kaum akan diuji oleh penciptanya, oleh perbedaan. Tapi apakah mereka bisa melakukan toleransi dalam beragama?. Itulah yang akan kita hadapi bersama-sama setelah ini." Ada raut wajah kekhawatiran yang tersirat di sana.


"Toleransi merupakan sikap terbuka, dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan. Baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa, serta agama. Seperti yang dijelaskan dalam Alquran.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)


Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujurat: 13)"


Mereka semua juga terpaku dengan penjelasan dari Syekh Asmawan Mulia. Mereka sekarang mengerti, pantas saja sang prabu begitu mantap dalam menyampaikan tentang agama jika gurunya saja seperti ini.


Dalam hati mereka mulai menerima dengan baik, dan membandingkan dengan agama yang sudah ada.


"Kira-kira seperti itulah pendapat hamba, gusti prabu." Syekh Asmawan Mulia telah menyampaikan pendapatnya.


"Terima kasih syekh guru." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman yang ramah.


Mereka semua Kembali membahas masalah agama. Mereka benar-benar saling menyimak satu sama lain dengan apa yang disampaikan, tanpa adanya pertentangan diantara mereka.


"Terima kasih atas penjelasan hadirin semua. Semoga dengan pertemuan ini, kita semua bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita dengarkan." Ucap Sang prabu penuh harapan.


"pertimbangkan dengan baik-baik sesuai hati nurani, jangan hanya mengikuti arus yang ada. Karena kita bisa hanyut sia-sia, jika tidak memiliki pegangan yang kuat." Tambah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Ia senang karena mereka semua tertib dalam mengikuti, pertemuan kali ini yang membahas tentang agama. Bahwa agama salah satu toleransi yang sangat penting, agar suatu negeri tidak mengalami perpecahan.


Apakah sang prabu bisa membimbing rakyatnya dengan adil, dalam memilih agama yang dianut oleh rakyatnya?. Tanpa menimbulkan perselisihan diantara mereka?. Temukan jawabannya, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Next halaman.

__ADS_1


...***...


__ADS_2