RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KABAR BURUK


__ADS_3

...***...


Di bilik Putri Andhini Andita.


Entah kenapa suasana hatinya sangat gelisah, karena kakaknya belum juga kembali dari pantai selatan. Saat itu juga terbesit di dalam hatinya sambil bertanya-tanya mengenai perasaannya pada Jaya Satria.


"Apakah aku memang jatuh hati padanya? Tapi kenapa?." Dalam hatinya merasakan bimbang. "Apakah hanya karen ia memiliki wajah yang sama dengan rayi cakara casugraha?." Dalam hatinya masih bertanya-tanya. "Aku jadi penasaran dengan wajah asli jaya satria seperti apa?." Kali ini ia terkekeh kecil sambil membayangkan wajah asli Jaya Satria. "Rasanya aku sangat sakit jika membayangkan wajah jaya satria? Tapi malah muncul wajah rayi cakara casugraha, rasanya aku malah menyukai adikku sendiri, pada hal yang aku sukai itu jaya satria, bukan rayi Prabu." Dalam hatinya merasa aneh jika membayangkan itu semua.


Kali ini ia terlihat murung sambil menopang dagunya dengan menggunakan telapak tangannya, pikirannya sangat jauh membayangkan hal yang buruk.


"Aku sangat cemas dengan keadaan mereka yang seperti itu." Dalam hatinya merasa tidak berdaya sama sekali. "Rasanya aku sangat menyesal sekali tidak belajar dengan baik mengenai ilmu kanuragan, juga ilmu pengobatan." Hatinya sangat sedih. "Andai saja aku bisa mengobati kalian? Pastilah aku menjadi orang yang sangat beruntung karena bisa menyembuhkan kalian." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja karena ia sama sekali tidak berdaya saat itu.


...***...


Bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Tak henti-hentinya Ratu Dewi Anindyaswari membacakan ayat Alquran setelah ia selesai sholat Ashar. Dengan air mata yang jatuh berderai ia berharap ayat Alquran yang ia bacakan sampai pada kedua putranya.


"Ibunda?." Suara itu terdengar sayup-sayup ditelinga Ratu Dewi Anindyaswari.


Sementara itu di alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Jaya satria? Apakah kau bisa mendengar suara ibunda? Sepertinya ibunda sedang mengaji, suara ibunda sangat merdu sekali."


"Ya, aku mendengarnya." Ia tersenyum kecil. "Suara ibunda sangat jelas sekali." Jaya Satria dapat mendengarkannya dengan baik. "Subhanallah, suara ibunda begitu menenangkan hati."


Keduanya dapat merasakan ketenangan. Secara perlahan hati mereka mulai merasa tenang. Senyuman mengembang di wajah mereka yang masih terlihat pucat.


"Ibunda?." Keduanya sangat ingin berada didekat Ratu Dewi Anindyaswari. Memeluknya, mengatakan bahwa mereka sangat menyayanginya.


Sementara itu di alam nyata. Ratu Dewi Anindyaswari seperti sedang membayangkan dirinya saat ini sedang membaca Alquran bersama kedua putranya, membimbingnya membaca Alquran dengan baik dan benar.


"Putraku berkata? Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar." Ratu Dewi Anindyaswari kembali mencoba untuk bersikap tegar. "Karena itulah jangan pernah takut dengan apa yang terjadi? Selalu mengingat Allah, insyaallah! Allah juga akan mengingatmu." Ratu Dewi Anindyaswari mengingat semua apa yang dikatakan oleh putranya.


Tapi apakah bisa?. Hatinya sangat sedih melihat kondisi kedua anaknya yang seperti itu.


"Berikan hamba kesabaran ya Allah, hamba hanya ingin selalu bersama kedua putra hamba ya Allah." Dalam hatinya sangat berharap, jika saat ini kedua anaknya bersama dirinya saat ini.


"Ibunda? Kami akan selalu bersama ibunda."


Rasanya Ratu Dewi Anindyaswari yang masih membaca Alquran, mendengarkan suara itu. Seakan ia merasakan kehadiran kedua anaknya di ruangan ini. Begitu sangat dekat, hampir membuatnya menangis karena membayangkan betapa dekatnya ia bersama kedua anaknya itu.


Ratu Dewi Anindyaswari baru saja selesai membacakan ayat suci Alquran. Ratu Dewi Anindyaswari mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang masih terbaring. Matanya juga menatap Jaya Satria yang terbaring di samping Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Putraku nanda prabu, nanda jaya satria? Ibunda ingin sekali berkata pada kalian berdua, bahwa ibunda sangat merindukan kalian nak, ibunda sangat bersama kalian berdua, kapan kita bisa berkumpul duduk bersama nak?." Ia genggam tangan anaknya yang terasa dingin. Hatinya sangat miris melihat kondisi kedua anaknya saat ini.


Ratu Dewi Anindyaswari membacakan Sholawat badar. Ia tahu kedua anaknya sangat suka membacakan Sholawat badar dengan suara yang merdu. Ratu Dewi Anindyaswari juga membacakan Sholawat badar untuk menenangkan hati anaknya, juga dirinya.


Tanpa sadar, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menangis. Air mata mereka jatuh membasahi sudut mata mereka tanpa disadari oleh Ratu Dewi Anindyaswari.


Kembali ke alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Suara sholawat badar ibunda sangat merdu, aku tidak dapat menahan air mataku."


"Ya, Gusti prabu benar." Jaya Satria dapat merasakannya. "Hatiku juga terasa nyaman, tentram dan damai saat ibunda melantunkan sholawat badar."


Keduanya dapat mendengarkan sayup-sayup suara itu. Mereka tidak salah mendengarkan suara itu.


Tapi, pertanyaannya?. Apakah keduanya bisa diselamatkan?. Temukan jawabannya. Simak dengan baik ceritanya.


...***...


Di suatu tempat.


Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra saat itu sedang latihan, keduanya tampak sangat serius dengan apa yang mereka lakukan, keduanya melakukan gerakan yang sangat lincah.


Pukulan, tendangan, dan bahkan menguji seberapa besarnya ilmu kanuragan yang mereka miliki saat itu. Kekuatan mereka sangat berbeda dari yang sebelumnya, tidak tertandingi sama sekali?.


"Cukup!." Suara seseorang menghentikan mereka yang masih ingin latih tanding.


"Guru?." Keduanya memberi hormat pada sepasang pendekar tua.


"Kalian telah melakukannya dengan sangat baik, untuk hari ini cukup dulu latihannya."


"Tapi guru?."


"Kalian jangan terlalu memaksakan diri, itu tidak baik untuk fisik kalian." Ia menatap keduanya. "Jaga fisik kalian, jurus itu akan membahayakan fisik kalian jika kalian memaksakan diri untuk tetap latihan."


"Baiklah nyai, aki, kami akan istirahat setelah ini."


"Ya, itu lebih baik, dan jangan lupa siapkan semuanya."

__ADS_1


"Baik nyai."


Raden Gentala Giandra dan Raden Ganendra Garjitha hanya patuh saja, karena keduanya memang ingin belajar ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Nyai Gempar Raya dan Aki Gunung Agung. Keduanya berpura-pura menjadi orang biasa demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan tentu saja balas dendam mereka masih besar.


"Bagaimana menurut raka? Apakah dengan ini kita bisa melakukannya?."


"Aku sangat yakin jika kita bisa, namun sebelum itu kita bawa ibunda dari istana terkutuk itu! Aku sangat yakin ibunda pasti menunggu kita saat ini."


"Ya, raka benar." Hatinya saat itu hanya diisi dengan kemarahan dan dendam yang sangat luar biasa. "Aku tidak akan membiarkan ibunda terlalu lama di sana, ambarsari si pengkhianat itu! Dia pasti akan aku bunuh!."


"Aku tidak peduli lagi! Aku tidak menganggap dia sebagai adikku setelah apa yang telah ia lakukan pada kita."


"Dendam ini, kita harus melampiaskan pada mereka semua!."


Ya, dendam itu masih besar di dalam hati mereka saat itu. Tidak mudah bagi mereka untuk menyimpan dendam itu begitu saja, mereka merasa terhina atas apa yang terjadi di kerajaan Mekar Jaya.


"Dan jangan lupa andhini andita! Aku pasti akan membunuhnya!." Hati Raden Ganendra Garjitha memanas ketika ingat kejadian itu. "Dia juga akan mendapatkan hukuman dariku nantinya."


"Ya! Aku juga dendam padanya raka! Dia yang saat itu berani menghina kita! Aku pasti akan membunuhnya!."


Gejolak di dalam hati keduanya tidak kan bisa dilupakan begitu saja. Tapi apakah mereka mampu melampiaskan rasa dendam itu?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Singkatnya.


Malam telah menyapa. Raden Hadyan Hastanta berhasil membawa Nyai Bestari Dhatu.


"Oh, syukurlah raka? Mari masuk nyai." Putri Andhini Andita sangat bahagia ketika mendapatkan laporan dari prajurit yang mengatakan jika kakaknya sudah datang bersama Nyai Bestari Dhatu.


Raden Hadyan Hastanta hanya mengikuti keduanya. Ia tidak bisa berkata-kata karena rasa lelah menyapa dirinya. Ia hanya diam saja, karena hatinya dipenuhi oleh kegelisahan yang luar biasa. Mereka bertiga segera menuju bilik Begitu sampai di bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Sampurasun." Nyai Bestari Dhatu mengucap salam kepada mereka semua.


"Rampes." Balas mereka semua. Terlihat raut wajah kesedihan di wajah mereka semuanya.


"Nyai bestari dhatu? Aku ucapkan terima kasih karena mau datang jauh-jauh dari pantai selatan menuju istana kerajaan suka damai." Ratu Dewi Anindyaswari mewakili mereka semua menyambut baik Nyai Bestari Dhatu. "Maaf, jika kami merepotkanmu."


"Dengan senang hati hamba akan segera datang jika hamba diperlukan gusti ratu." Balasnya dengan senyuman yang begitu ramah. "Kalau begitu, izinkan hamba untuk memeriksa keadaan prabu asmalaraya arya ardhana serta jaya Satria." Lanjutnya lagi. Tujuannya datang ke istana memang untuk mengobati keduanya.


"Aku mohon lakukan sesuatu agar rayi Prabu dan jaya satria bisa sembuh kembali nyai."


"Syukurlah kalau begitu, kami sangat berharap padamu nyai."


"Alhamdulillah hirobbil, semoga nanda prabu dan jaya satria bisa diselamatkan, aamiin ya Allah." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat berharap itu.


"Kalau begitu hamba akan mencoba memeriksa keadaan prabu asmalaraya arya ardhana terlebih dahulu." Nyai Bestari Dhatu meminta izin pada mereka semua.


"Silahkan nyai."


Tentunya mereka dengan senang hati memperbolehkan Nyai Bestari Dhatu untuk melakukan yang seharusnya dilakukan oleh seorang tabib yang ahli dalam pengobatan.


"Semoga saja rayi prabu bisa diselamatkan malam ini." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat berharap, bahwa adiknya akan segera sadar setelah mendapatkan pengobatan.


"Rayi prabu? Cepatlah bangun! Karena banyak yang menunggu kepemimpinan untuk hari esok." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta sangat berharap adiknya akan baik-baik. "Kita baru saja berkumpul bersama, bertarung bersama? Tetapi kau sendiri yang terus mendapatkan luka? Rasanya sangat tidak adil rayi Prabu." Raden Hadyan Hastanta begitu mencemaskan keadaan adiknya. Ia seperti tidak memikirkan dirinya lagi


"Nanda Prabu? Semoga saja nanda Prabu baik-baik saja, ibunda juga mengkhawatirkan dirimu nak." Ratu Gendhis Cendrawati mengamati bagaimana Nyai Bestari Dhatu mengobati putranya itu.


"Semoga saja dengan pengobatan dari nyai bestari dhatu, nanda prabu dan nanda jaya satria bisa diselamatkan." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia juga sangat berharap. "Ya Allah, hamba mohon padamu berikanlah kesembuhan pada kedua murid hamba ya Allah, karena keduanya sangat diperlukan untuk menjaga, melindungi serta memimpin kerajaan ini ya Allah." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat berharap seperti itu.


...***...


Kerajaan Telapak Tiga.


Putri Cahya Candrakanti merasa aneh, malam ini rasanya ia tidak nyaman sama sekali.


"Tidak biasanya ibunda masuk, dan ingin tidur dengan ananda malam ini, apa yang terjadi sebenarnya ibunda?." Putri Cahya Candrakanti merasa heran.


"Apakah ibunda tidak boleh menemanimu tidur malam ini? Rasanya kau terlalu cepat dewasa, hingga sebentar lagi kau akan dibawa oleh pangeran dari negeri lain."


"Apa?!." Putri Cahya Candrakanti spontan menjauh dari ibundanya dan berdiri dengan sangat gugupnya. "Apa yang ibunda katakan? Kenapa tiba-tiba saja ibunda berkata seperti itu?." Rona merah menghiasai pipinya yang putih itu.


"Ibunda mendapatkan kabar buruk dari rakamu, jika kau jatuh hati pada nanda jaya satria, pangeran yang telah menolong ananda dari ancaman pendekar pemburu benda pusaka." Ratu Cahya Bhanurasmi terlihat sangat dramatis. "Ibunda belum siap sebenarnya kehilanganmu, jadi ibunda ingin tidur denganmu selama mungkin sebelum pangeran jaya satria memboyong ananda ke istana kerajaan suka damai."


"I-i-i-ibunda jangan berkata yang tidak-tidak!." Putri Cahya Candrakanti semakin panik, ia tidak menduga jika kakaknya itu telah mengatakan itu pada ibundanya?.


"Jangan malu-malu seperti itu, kami sangat menunggunya dengan penuh kesabaran." Raut wajah Ratu Cahya Bhanurasmi terlihat sangat bahagia.


"Tidak! Jangan mudah percaya begitu saja dengan kabar buruk dari raka harjita jatiadi! Ibunda jangan terlalu banyak bermain sandiwara! Aku tidak memiliki perasaan apapun pada jaya satria!." Putri Cahya Candrakanti sangat malu, ia takut mengatakan yang sebenarnya.


"Ibunda anggap itu tanda iya." Ratu Cahya Bhanurasmi malah tertawa cekikikan melihat tingkah anaknya seperti itu.

__ADS_1


"Ibunda, jangan lanjutkan lagi pembicaraan ini." Rasanya ia sangat malu, ia tidak menduga ibundanya terlihat sangat bersemangat?. "Lalu bagaimana dengan tanggapan ayahanda Prabu mendengar kabar itu?."


"Ayahandamu sangat sedih."


"Sedih?."


"Ya, katanya belum siap untuk melepaskan anak gadisnya."


Putri Cahya Candrakanti hanya pasrah saja, ia juga sebenarnya masih ragu, namun perasaan suka itu pasti ada.


...***...


Putri Agniasari saat itu berhenti di sebuah desa, malam ini ia sangat beruntung karena berhasil singgah di desa.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, malam ini aku tidak tidur di hutan lagi." Dalam hatinya sangat lega.


Putri Agniasari Ariani melangkah masuk ke dalam sebuah warung makan, karena perutnya lapar.


"Selamat datang nini." Sambut seorang pelayan itu dengan sangat ramah.


Putri Agniasari Ariani tersenyum ramah sambil duduk, dan ia memperhatikan sekitarnya. Matanya saat itu menangkap bagaimana kondisi warung makan itu sangat ramai walaupun pada malam hari.


"Mau pesan apa nini?."


"Aku pesan nasi putih, sayur asem kalau ada? Wedang jahe sekalian, malam ini sangat dingin sekali."


"Baik nini, apakah ini saja?."


"Apakah di sini ada penginapan? Aku ingin beristirahat satu malam saja di desa ini."


"Ada satu bilik yang masih kosong nini."


"Aku pesan bilik itu, terima kasih nyai."


"Sama-sama nini."


Setelah itu pelayan setengah tua itu langsung pergi meninggalkan tempat itu untuk mempersiapkan pesanan Putri Agniasari Ariani. Namun sembari menunggu?. Telinganya tidak sengaja mendengarkan percakapan beberapa orang di sana.


"Kabar buruk! Besok senopati bumi sejagad akan datang ke desan kita!."


"Ah! Itu memang sangat gawat! Anak gadis di desa ini akan menjadi mangsanya!."


"Lantas apa yang akan kita lakukan? Aku tidak rela jika di datang ke sini hanya untuk berburu wanita perawan saja!."


"Tapi kalau kita membunuhnya di sini?! Kita akan mendapatkan marabahaya!."


"Kalau begitu kita harus mencari cara untuk membunuhnya! Aku sangat dendam padanya karena anakku dan aku harus menanggung malu seumur hidup karena perbuatan bejadnya itu!."


Mereka sangat tidak suka dengan kedatangan Senopati Bumi Sejagad, bagi mereka itu adalah kabar buruk yang membawa bencana besar.


"Sepertinya mereka mengalami masalah yang sangat serius." Dalam hati Putri Agniasari Ariani sedang mempertimbangkan masalah yang ia dengar itu. "Apakah aku akan lancang? Jika aku ikut campur dalam urusan mereka?." Dalam hatinya merasa bimbang dengan perasaannya.


Apakah yang akan dilakukan Putri Agniasari Ariani untuk memastikan masalah itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Mereka menunggu dengan perasaan yang sangat gelisah ketika melihat Nyai Bestari Dhatu yang sedang mengobati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Sepertinya ini lebih parah dari apa yang aku duga." Dalam hatinya sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu. "Mustika itu pun bahkan ikut tercemar saking kentalnya kegelapan yang mereka sedot melalui pedang pelebur sukma." Dalam hatinya sangat gelisah, dan hampir saja menangis melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


Tak lama kemudian, Nyai Bestari Dhatu menghentikan pengobatannya, raut wajahnya terlihat sangat sedih.


"Mohon ampun Gusti Ratu." Nyai Bestari Dhatu memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari.


"Apa yang terjadi pada putraku? Apakah mereka bisa disembuhkan malam ini?." Dengan perasaan takut Ratu Dewi Anindyaswari memberanikan diri untuk bertanya.


"Sepertinya akan membutuhkan waktu yang agak lama, karena hamba harus memasuki alam sukma Gusti Prabu, juga jaya satria." Jawabnya dengan hati-hati.


"Lakukan sesuatu nyai, aku mohon sembuhkan rayi Prabu, sembuhkan jaya satria." Putri Andhini Andita menangis sedih. "Aku mohon sembuhkan keduanya." Begitu pilu, hingga dadanya terasa sakit menahan sesegukan tangisnya.


"Ya Allah? Apa yang terjadi pada putraku sebenarnya?." Ratu Dewi Anindyaswari juga menangis mendengarnya. "Putraku tidak bisa sembuh dalam waktu yang dekat ini?." Hatinya semakin sedih, dan air matanya telah menjadi ungkapan kesedihan itu.


"Rayi Prabu? Jaya satria?." Putri Andhini Andita menangis, mendekati adiknya. "Aku mohon kalian bertahanlah, jangan membuat aku menangis seperti ini! Aku mohon pada kalian tetap bertahan!." Ia tidak mau adiknya terjebak selamanya didalam jurus serap jiwa Kegelapan.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia juga tidak tega melihat itu. "Keduanya tidak bisa melawan kegelapan itu, karena mustika naga merah delima tercemar." Dalam hatinya sangat sedih. "Apakah aku harus memanggil kakang jarah setandan untuk memurnikan hawa kegelapan yang menyelimuti mustika naga merah delima? Tapi itu akan memakan waktu yang sangat lama." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia juga memikirkan waktu pemulihan yang akan mereka lakukan. "Ya Allah, berikanlah kami kemudahan untuk menyembuhkan nanda cakara casugraha." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat berharap semuanya baik-baik saja.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria bisa diselamatkan?.


...***...

__ADS_1


__ADS_2