RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
HUKUMAN


__ADS_3

...****...


"Bagaimana pendapatmu, putraku cakara casugraha. Ayahanda serahkan padamu nak." Rasanya sangat berat, karena itulah ia bertanya pada anaknya.


"Nanda akan menerima hukuman itu ayahanda. Tapi ananda mengajukan satu syarat."


Kening mereka mengkerut aneh, mendengarkan Raden Cakara Casugraha mengajukan syarat pada mereka?.


"Apa yang nanda inginkan?. Katakan pada ayahanda."


"Mereka harus menjauhi ibunda ratu, juga yunda. Jika mereka berani mendekati ibunda atau yunda agniasari ariani. Nanda bersumpah!. Nanda benar-benar akan menghabisi mereka. Karena mereka hanya akan menyakiti ibunda, serta yunda." Raden Cakara Casugraha menatap tajam mereka semua. "Hanya syarat itu yang nanda ajukan ayahanda. Tolong pisahkan, ibunda serta yunda dari mereka semua. Karena nanda tidak ingin mereka membuat ibunda, juga yunda agniasari ariani bersedih hati, karena ucapan busuk mereka."


"Kau tidak bisa mengajukan syarat itu cakara casugraha!."


"Jika ibunda ratu ardiningrum bintari keberatan dengan syarat yang nanda ajukan, maka nanda juga keberatan dengan hukuman yang akan ibunda berikan."


"Kau benar-benar licik cakara casugraha!." Mereka semua menatap tidak suka pada Raden Cakara Casugraha.


"Itu terserah kalian. Aku tidak mau dirugikan oleh kalian. Aku yakin kalian memiliki rencana jahat, untuk menyakiti ibunda, juga yunda ku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


"Kanda prabu. Lihatlah putramu itu. Dia berani sekali berkata seperti itu."


"Dinda terima syaratnya. Atau putraku cakara casugraha aku suruh pergi dari sini. Dan kalian aku hukum, karena telik sandi istana telah melaporkan padaku. Apa saja yang kalian rencanakan pada dinda dewi."


Mereka semua terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka dengarkan. Jadi Prabu Kawiswara Arya Ragnala memata-matai gerak-gerik mereka melalui telik sandi istana?.


"Baiklah!. Akan dinda terima syarat itu. Dinda akan memukul seratus kali tangan nanda cakara casugraha, dan dinda ingin dinda dewi juga putrinya menyaksikan anaknya cakara casugraha dinda hukum."


"Dinda jangan keterlaluan!. Tidak perlu melibatkan orang lain dalam masalah ini. Apalagi melibatkan dinda dewi." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Sudah cukup ia bersabar ketika istrinya itu meminta ingin menghukum Raden Cakara Casugraha.


Sementara itu, mereka semua terkejut dengan suara bentakan sang Prabu. Mereka tidak menduga Prabu Kawiswara Arya Ragnala akan marah?.


"Baiklah kanda Prabu. Kalau begitu, akan dinda hukum sekarang juga." Ratu Ardiningrum Bintari sakit hati mendengarkan bentakan suaminya. Padahal tadi ia ingin melihat reaksi Ratu Dewi Anindyaswari, ketika melihat anaknya dihukum oleh tangannya.


"Putraku ganendra garjitha. Ambil sebilah bambu, biar ibunda pukul tangan cakara casugraha yang kejam itu."


"Baiklah ibunda." Raden Ganendra Garjitha segera pergi keluar, mengambil bambu yang akan digunakan ibundanya untuk memukul tangan Raden Cakara Casugraha.


"Persiapkan dirimu rayi. Aku yakin kau akan merengek minta ampun pada ayahanda prabu. Agar dibebaskan dari hukuman itu." Putri Andhini Andita menyeringai lebar, melihat Raden Cakara Casugraha.


"Tidak usah memanasi keadaan yunda. Jika aku kelepasan marah, nanti tanganku terasa gatal untuk menghajarmu lagi."

__ADS_1


"Coba saja kalau berani cakara casugraha. Kau pikir kau bisa menyentuh rayiku."


"Cukup!. Tidakkah kalian menghormati aku sebagai ayahanda kalian?. Sehingga kalian berani berdebat kurang ajar dihadapanku!."


"Mohon ampun ayahanda prabu. Maafkan nanda."


"Maafkan kami ayahanda prabu."


"Oh putra putri ku malah dalam masalah." Ratu Gendhis Cendrawati yang sedari tadi diam memperhatikan itu merasa gelisah. Karena anak-anaknya juga dimarahi oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Sudahlah rayi andhini andita, rayi hadyan hastanta. Jangan berdebat lagi dengan cakara casugraha. Tidak akan ada habisnya."


"Benar yang dikatakan oleh rayi ambarsari. Sebaiknya kita lihat saja apa yang akan terjadi."


"Baiklah raka gentala giandra."


Akhirnya mereka memilih mengalah, dari pada memancing emosi Raden Cakara Casugraha, nanti yang ada hukuman itu bisa batal.


"Ke sini lah nak." Ratu Gendhis Cendrawati memanggil putrinya.


"Ibunda." Putri Andhini Andita mendekati ibundanya. Ia bergelayut manja pada ibundanya.


"Mereka semua benar-benar menguji kesabaran dari putraku cakara casugraha." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala dapat menangkap apa yang ingin mereka lalukan. Sikap mereka yang membenci putranya Raden Cakara Casugraha.


"Ini ibunda." Raden Ganendra Garjitha menyerahkan bambu tersebut pada ibundanya.


"Nanda cakara casugraha bersedia menerima hukumannya. Dan kalian juga harus menepati syarat yang telah diajukan nanda cakara casugraha."


"Baiklah kanda prabu. Dinda akan menerima syarat itu."


"Dinda juga akan menerima syarat itu kanda."


"Kami juga menerima syarat itu ayahanda prabu."


Mereka telah setuju dengan syarat yang diajukan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Nanda cakara casugraha. Mereka telah setuju. Setelah ini ayahanda akan memindahkan ibunda dan yundamu ke bangunan baru di daerah selatan untuk nanda, ibunda serta yundamu tepati."


"Terima kasih ayahanda prabu. Ananda merasa bahagia, karena ayahanda mengabulkan permintaan nanda."


"Itu karena ayahanda juga tidak ingin dinda dewi juga nanda putri agniasari ariani merasa tersakiti. Terima kasih nanda selalu melindungi dinda dewi juga yunda mu nak." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala merasa bersyukur dengan kebaikan anaknya Raden Cakara Casugraha.

__ADS_1


"Kalau begitu, cepat jalani hukuman mu cakara casugraha."


"Tentu saja aku akan menjalani hukumanku. kalian tidak usah khawatir, jika aku lari dari hukumanku." Sebenarnya Raden Cakara Casugraha merasa takut, karena sorot mata Ratu Ardiningrum Bintari sangat mengerikan.


"Kemari kan tanganmu yang kejam itu." Perintah Ratu Ardiningrum Bintari.


Dengan berat hati Raden Cakara Casugraha mengulurkan kedua tangannya. Jantungnya berdegup kencang, ia yakin pukulan itu akan menyakiti tangannya.


"Terimalah hukuman mu anak kurang ajar." Dalam hati Ratu Ardiningrum Bintari dengan perasaan marah yang luar biasa. Ratu Ardiningrum Bintari mulai mengayun bilah bambu yang ada di tangannya dengan sekuat tenaga.


Duakh


"Aaaakgh." Raden Cakara Casugraha merintih sakit. Karena pukulan itu sangat kuat, dipenuhi oleh amarah yang berlebihan.


"Dinda ardiningrum bintari!. Jangan dinda keterlaluan menghukum putra kita." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak tega mendengarkan rintihan dari anaknya.


"Ini belum seberapa dengan apa yang ia lakukan kanda prabu. Hukuman ini belum sepadan dengan yang kami rasakan selama ini."


"Benar kanda prabu. Dinda bahkan merasakan ketakutan luar biasa ketika nanda cakara casugraha mengamuk."


"Ayahanda prabu. Apa yang rayi cakara lakukan belum bisa membuat hati kami tenang."


"Benar ayahanda prabu. Tubuh nanda merasa gamang saat dihajar tanpa ampun oleh rayi cakara casugraha."


"Apa yang ibunda lakukan, belum seberapa ayahanda prabu."


"Itu hukuman yang pantas untuknya ayahanda prabu."


"Biarkan saja rayi cakara casugraha menerima hukumannya. Agar ia berpikir lagi, jika ia ingin melukai orang lain ayahanda prabu."


"Tidak apa-apa ayahanda prabu. Biarkan mereka melakukan apapun pada nanda. Asalkan setelah ini, mereka tidak mengganggu kehidupan ibunda, serta yunda lagi. Nanda akan menerima dengan lapang dada, apa yang mereka inginkan pada nanda hari ini ayahanda prabu."


"Oh putraku cakara casugraha. Kuatkan dirimu nak. Ayahanda akan selalu bersamamu." Rasanya sangat berat ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya.


"Bagus kalau begitu. Kau masih anak laki-laki yang tidak lari dari hukuman mu cakara casugraha."


"Lakukan saja ibunda ratu. Atau aku akan berubah pikiran. Dan menghajar ibunda lagi." Raden Cakara Casugraha sengaja berbisik, agar suaranya hanya didengar oleh Ratu Ardiningrum Bintari.


Namun apa yang terjadi?.


Temukan jawabannya. Jangan lupa vote untuk dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2