RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MIMPI


__ADS_3

...***...


Di Istana Mekar Jaya.


Prabu Ganendra Garjitha menerima surat dari adiknya yang berada di Kerajaan Suka Damai.


"Apa yang dikatakan rayimu putraku? Cepat bacakan surat itu, ibunda ingin mendengarnya."


"Tenanglah dulu ibunda." Balasnya dengan senyuman ramah. "Aku akan membuka pesan dari rayi ambarsari, dengarkan dengan baik-baik ibunda."


"Bacakan segera raka, kami sudah tidak sabar lagi mendengarnya."


"Baiklah, akan aku baca." Ia membuka gulungan itu dengan cepat, dan membacanya.


"Dengan segala hormat, saya atur sembah pada raka prabu, maafkan keterlambatan saya dalam memberi tahu kabar berita bahagia ini pada raka Prabu, bahwa kakek prabu sudah tewas." Senyuman mengembang di wajahnya. "Saat ini saya sedang berada di kerajaan suka damai sedang memainkan sandiwara dengan berpura-pura ikut berduka dengan kematian kakek prabu." Ia memberi jeda ucapannya, terlihat dengan jelas wajah kebahagiaan terpancar di wajah mereka.


"Kakek prabu tewas?."


"Ayahanda tewas?."


Mereka sedikit terkejut mendengarkan kalimat itu.


"Lanjutkan raka." Raden Gentala Giandra malah bersemangat.


"Kemungkinan dua atau tiga hari lagi saya akan kembali ke istana dengan membawa mahkota yang telah saya janjikan? Semoga raka tidak kecewa dengan saya? Salam hormat dari saya, ambarsari."


Mereka mencerna setiap kata yang tertera di daun lontar itu. Rasa bahagia yang mereka dapatkan setelah membaca surat itu.


"Lihatlah? Rayiku ambarsari memang tidak pernah mengecewakan aku." Ia tertawa dengan bahagianya?. "Sebentar lagi aku akan sah menjadi seorang Raja!." Suasana hatinya sangat bahagia saat itu.


"Dengan begitu raka prabu benar-benar akan menguasai kerajaan mekar jaya dengan sepenuhnya!." Raden Gentala Giandra mendukung kakaknya sepenuhnya. "Kita akan menguasai kerajaan ini!." Suasana hatinya sangat bahagia saat itu.


"Ini adalah kabar bahagia yang aku tunggu-tunggu putraku." Begitu juga dengan Ratu Ardiningrum Bintari. "Ibunda tidak akan melewati kesempatan emas ini!."


"Benar ibunda! Rasanya aku ingin menyusul rayi ambarsari ke istana kerajaan suka damai."


Entah mengapa mereka malah tertawa dengan ucapan itu?. Apa yang mereka pikirkan?. Kenapa malah merasa bahagia dengan ucapan itu?.


"Bersabarlah raka prabu, kita tunggu saja kedatangan rayi ambarsari dengan membawa mahkota itu."


"Kau ini memang tidak sabaran sekali putraku."


Terbuat dari apa hati mereka sehingga tidak merasa sedih kabar duka kematian prabu Rahwana Bimantara?. Bahkan ratu Ardiningrum Bintari, anak kandung sang prabu?.


Ayah kandungnya meninggal, tapi tidak ada sedikitpun simpati yang ia rasakan?. Apakah hatinya sudah mati karena buta akan kekuasaan untuk anaknya?.


...**...


Sementara itu, jalan menuju perbatasan antara kerajaan Mekar Jaya dengan Kerajaan Telapak Tiga. Saat ini Syekh Asmawan Mulia, Jaya Satria, Putri Ambarsari, Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta, Nyai Bestari Dhatu, Putri Cahya Candrakanti, dan Raden Harjita Jatiadi, saat ini sedang menuju ke sana.


"Saya sangat terkejut, jika kau memang bawahannya prabu asmalaraya arya ardhana." Putri Cahya Candrakanti saat ini sedang berjalan di samping Jaya Satria. "Sangat luar biasa sekali." Ia sangat kagum pada Jaya Satria.


"Begitulah gusti putri." Balas Jaya Satria.


Sementara itu, Putri Andhini Andita sedang memperhatikan mereka dari belakang.


"Takut!." Putri Agniasari Ariani malah merapat ke arah Nyai Bestari Dhatu, ia merinding melihat bagaimana aura yang ditunjukkan kakaknya.


"Berdoalah! Semoga tidak ada pertumpahan darah sebelum waktunya." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu berharap jika semuanya akan baik-baik saja.


"Rayi andhini andita memang mengerikan kalau marah?." Dalam Putri Ambarsari berharap jika adiknya tidak mengamuk. "Apakah dia memang menyukai jaya satria? Sehingga ia memperlihatkan hawa membunuh itu?." Dalam hatinya. "Sudahlah rayi! Kekasihmu itu tidak akan serong! Dia hanya ingin akrab saja." Bisik putri Ambarsari dengan jengahnya.


"Hmph!." Ia memalingkan wajahnya, merasa kesal. Kenapa hatinya selalu sakit jika melihat jaya Satria bersama wanita lain?.


"Jadi kamu juga muridnya Syekh asmawan mulia?."


"Benar gusti putri, hamba banyak belajar masalah agama bersama syekh asmawan mulia, begitu juga dengan gusti Prabu asmalaraya arya ardhana"


"Syekh asmawan mulia sungguh luar biasa bisa mengajari dua orang hebat." Ia merasa kagum dengan itu.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin gusti putri." Balas Syekh Asmawan Mulia.


"Sepertinya adik saya mencoba akrab dengan orang bertopeng itu, meskipun dia tidak pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang? Namun saya sangat yakin, itu adalah perasaan hatinya tentang laki-laki selain ayahanda, dan juga saya." Raden Harjita Jatiadi dapat menangkap gelagat itu dari adiknya. Ia tidak menyangka akan melihat hal yang berbeda dari yang sebelumnya. Sebagai seorang kakak, ia harus menjaga adiknya agar tidak terluka karena masalah cinta nantinya. Apalagi orang  bertopeng itu, tidak ia ketahui sama sekali identitasnya seperti apa. "Meskipun ia adalah orang kepercayaan gusti prabu asmalaraya arya ardhana, tapi aku tetap saja harus waspada terhadapnya." Batinnya lagi.


...***...


Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini berada di biliknya. Ia melakukan sholat istikharah. Meminta petunjuk sekaligus menenangkan hatinya yang gundah dengan kepergian mereka.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


Setelah salam ke kiri dan kanan, kemudian berzikir dan berdoa.

__ADS_1


"Janganlah engkau merasa cemas, putraku."


"Ayahanda? Ayahanda prabu?." Ia langsung menghampiri ayahandanya, memeluk erat ayahanda yang ia rindukan.


"Tenanglah putraku! Percayakan semua masalah ini kepada dewata yang agung, semuanya sudah berjalan dengan takdir yang telah ditetapkan oleh sang pencipta." Ia melepaskan pelukan anaknya, ia usap kepala anaknya, setelah itu ia cium puncak kepala anaknya.


"Ananda sangat mencemaskan mereka semua ayahanda, ini adalah perang yang kedua kalinya dengan raka ganendra garjitha."


"Ayahanda sangat sedih karena itu, tapi ayahanda tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan padamu, putraku."


"Jika dilihat dari hati nurani, memang terasa berat berat berhadapan dengan saudara sendiri? Seperti menusuk diri sendiri, ayahanda." Ia menghela nafasnya dengan beratnya.


"Ya, itu memang benar, putraku! Tapi kita memang tidak bisa menghindari hal yang seperti itu, namun sebisa mungkin kita harus tetap tabah menghadapinya." Matanya menerawang jauh.


"Sebagai seorang raja yang melindungi rakyatnya? Ayahanda prabu rahwana bimantara juga merasa sedih, karena penghianatan yang dilakukan oleh dinda ardiningrum bintari, juga kedua rakamu."


"Semoga saja kami bisa mengatasi masalahnya dengan damai, ayahanda."


"Ayahanda akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, putraku."


Setelah itu prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang.


"Lakukan dengan sekuat hatimu meskipun ia adalah saudaramu? Tapi kejahatan tetaplah kejahatan! Ayahanda yakin kau bisa melakukannya, putraku."


Suara ayahandanya masih dapat ia dengar dengan baik.


"Putraku?."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memalingkan wajahnya.


"Ibunda?." Ia bangkit dari duduknya, segera mendekati ibundanya yang duduk ditepian tempat tidurnya.


"Kenapa nanda menangis? Katakan pada ibunda nak?." Ia usap air mata putranya.


"Rasanya ananda tidak sanggup, ibunda."


"Oh? Putraku?." Ia dapat merasakan kesedihan putranya yang sangat dalam.


"Kuatkan hatimu nak, sebab jika nanda merasa lemah, maka nanda prabu tidak akan bisa melangkah."


"Nanda mengerti, ibunda." Ia cium kedua tangan ibundanya dengan penuh kasih sayang.


"Ya Allah? Kuatkanlah hati putra hamba." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari berdoa untuk anaknya. "Ibunda percaya nanda prabu bisa melakukannya dengan baik." Ia cium puncak kepala anaknya. Rasanya memang sangat berat apa yang telah diputuskan oleh putranya.


...***...


Rasanya ia berjalan di suatu tempat yang asing. Namun tiba-tiba ia melihat ayahandanya berdiri di depannya dengan wajah pucat, mata melotot marah?.


"Apa yang ayahanda inginkan dariku?! Seharusnya ayahanda sudah mati?! Kenapa ayahanda berada di sini?! Berada di hadapanku?."


"Aku datang kepadamu karena aku mengutukmu! Kau telah menyakiti hatiku! Jiwa serta ragaku terluka akibat semua perbuatan biadabmu!."


"Pergilah ayahanda! Tidak seharusnya ayahanda berada di sini." Teriaknya penuh ketakutan.


"Aku tidak akan pergi! Sebelum aku mengajakmu ikut serta bersamaku! Kau harus bertanggungjawab padaku! Aku yang telah membesarkanmu degan penuh cinta yang aku miliki! Namun apa yang kau berikan setelah kau dewasa? Kau mengkhianati aku! Kau suruh kedua anakmu untuk menusukku!."


"Diamlah ayahanda! Diamlah! Pergilah! pergilah!."


Namun apa yang terjadi?. Prabu Rahwana Bimantara malah semakin mendekati Ratu Ardiningrum Bintari, membuatnya semakin ketakutan.


"pergilah!." Ia berteriak ketakutan hingga ia terbangun dari tidurnya?. Ternyata ia bermimpi buruk, ia didatangi oleh ayahandanya.


"Ingatlah putriku?! Aku akan selalu datang menghantuimu! Aku tidak ikhlas dengan apa yang kau lakukan padaku! Aku bersumpah akan mengambilnya kembali darimu! Aku tidak akan pernah rela kau menyakiti rakyatku! Menodai kerajaanku dengan kejahatan yang kau lakukan padaku!." Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya, hingga membuat ia semakin ketakutan.


"Padahal ayahanda sudah mati?! Tapi mengapa ayahanda malah datang menghantuiku?!." Ia bertanya-tanya mengapa ayahandanya membayanginya?.


Apakah rasa bersalah terhadap apa yang telah ia lakukan pada ayahanda telah merasuki jiwanya yang masih memiliki kebaikan?.


"Tidak! Itu hanyalah ilusi! Aku yakin ayahanda benar-benar sudah mati! Seperti apa yang dikatakan oleh putriku ambarsari!." Ia berusaha untuk menolak kenyataan itu.


...**...


Disisi lain.


"Dimana aku? Kenapa tempat ini sangat terasa sempit? Dan juga gelap?." Ia bertanya-tanya pada dirinya, mengapa ia berada di tempat ini?.


"Itu adalah kuburanmu, ganendra garjitha!."


Mata itu terbelalak terkejut melihat prabu Rahwana Bimantara berada di atasnya?.


"Kakek prabu?! Apa yang kakek prabu lakukan padaku?." Ia sangat panik, mengapa ia berada tempat aneh.


"Sudah aku katakan padamu! Bahwa itu adalah kuburanmu! Kau akan segera mati! Menyusulku ke alam kematian! Kau akan merasakan rasa sakit yang lebih kejam dari apa yang kau berikan padaku, cucu tidak tahu diri!."

__ADS_1


Kemarahan itu sangat besar, hingga seperti membakar sekitar. Raden Ganendra Garjitha dapat merasakan itu.


"Hentikan! Hentikan kakek Prabu! Kakek prabu sudah mati! Tidak seharusnya kakek menyiksaku. Jangan kakek prabu tinggalkan kutukan padaku!."


"Aku memang mengutuk apa yang kau lakukan padamu! Kau pikir aku tidak sakit hati dengan apa yang telah kau lakukan padaku?! Kau memang cucu durhaka!."Suara itu semakin menggema walaupun tidak terlihat wujudnya.


"Panas! Panas! Panas!." Teriaknya dengan suara yang keras, hingga ia terbangun dari tidurnya.


Nafasnya tidak teratur, naik-turun seperti orang habis berlari. Keringat membasahi tubuhnya. Mimpi yang ia alami terasa seperti nyata.


"Ingatlah ganendra garjitha! Aku akan datang padamu! Menghantuimu sampai kau mengembalikan tahta itu padaku!."


Kata-kata itu seakan bergema di kepalanya.


"Bedebah! Mengapa ia malah mengganggu tidurku? Hidup saja membuatku susah?! Apalagi setelah kematiannya?!." Gerutunya dengan kesalnya. Ia berusaha untuk mengatur nafasnya kembali agar lebih tenang.


...***...


Disisi lainnya.


Chekh!.


Sebuah keris tajam menikam perutnya sangat dalam. Hingga ia merasakan kesakitan yang luar biasa.


"Kakek Prabu? Apa yang kakek prabu lakukan padaku?." Ia tidak menyangka jika prabu Rahwana Bimantara yang menusuknya dengan keris itu?.


"Aku hanya melakukan apa yang pernah kau lakukan padaku! Namun rasanya ini belumlah sebanding dengan apa yang kau lakukan padaku?!." Mata itu menusuk ke dalam matanya. Sehingga ia dapat merasakan betapa dendam dan benci sang prabu pada dirinya.


"Apa maksudmu kakek Prabu? Harusnya kakek prabu sudah mati?!."


"Apakah kau lupa dengan apa yang kau lakukan padaku? Sakit yang aku rasakan membuatku menderita dalam kesakitan yang telah kau berikan padaku!." Aura kemarahan itu membuatnya merasa sesak, sulit untuk ia bernafas.


"Jangan siksa aku! Jangan siksa aku kakek Prabu!." Ia juga terbangun dari tidurnya dengan nafasnya sesak. Rasanya saluran pernafasannya tercekik dengan kuatnya hingga ia sulit untuk bernafas.


"Aku tidak rela dengan apa yang telah kau lakukan padaku! Ingatlah gentala giandra! Bahwa di dunia ini ada karma yang akan membalas apa yang kau lakukan pada orang lain?! Terutama kepadaku!."


Ya, kata-kata itu telah menghantui pikirannya. Hatinya bergetar takut dengan apa yang ia rasakan di alam mimpinya itu. Begitu terasa nyata sehingga ia tidak bisa membedakannya lagi.


Rasa bersalah, atau memang itu karma?. Ya. Jika kita melakukan kejahatan pada orang lain, di dalam diri yang terdalam tanpa disadari akan merasakan penyesalan karena telah melakukan kejahatan, kecuali hatinya benar-benar telah mati.


...**...


Mereka telah sampai di desa gamang desa, namun sebelum mereka masuk ke gerbang desa itu.


"Sampurasun."


"Rampes."


Mereka melihat beberapa prajurit istana Kerajaan Mekar Jaya.


"Apa yang kalian lakukan di desa ini?." Putri Ambarsari  mencurigai kedatangan para prajurit itu.


"Mohon ampun gusti putri? Kami datang ke sini bukan karena perintah dari raden ganendra garjitha."


"Benar gusti putri? Kami datang ke desa ini karena kami ingin menyusul gusi putri ke kerajaan suka damai."


"Menyusulku?."


Mereka semua yang ada di sana saling bertatapan satu sama lain.


"Mengapa kalian ingin menyusulku? Mengapa kalian malah melewati desa gamang kuasa?."


"Mohon ampun gusti putri, karena melalui desa ini, kami agak merasa aman, karena di perbatasan menuju kerajaan suka damai, di sana telah dijaga oleh ratusan prajurit jaga, karena mereka waspada jika ada tentara suka damai yang datang, ataupun orang-orang dari kerajaan suka damai yang mendekat."


Mereka semua terkejut dengan penjelasan dari prajurit itu.


"Tunggu dulu? Apakah kalian tidak menipu kami? Rasanya sangat ganjal sekali." Putri Andhini andita curiga.


"Mohon ampun gusti putri, kami tidaklah menipu karena kami tau kalau kalian adalah orang-orang baik."


Mereka semua mencoba untuk menenangkan diri, apakah mereka berkata jujur atau tidak?.


"Kalau begitu ayo kita ke rumah balai musyawarah desa ini, untuk mendengar apa saja yang bisa kita dapatkan dari mereka?."


"Benar syekh guru, kita harus mendengarnya dengan baik, mungkin kita bisa mengetahui situasi Kerajaan mekar jaya dari mereka."


"Saya rasa itu keputusan yang tepat, jaya satria." Nyai Bestari Dhatu setuju dengan itu.


"Baiklah! Kita segera ke sana, sekaligus beristirahat malam ini di sana." Putri Cahya Candrakanti mengajak mereka menuju rumah musyawarah.


Apa yang akan mereka bahas?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya?. Agar author yang tidak berwujud ini semangat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2