
...***...
Namun belum sempat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjawab, tiba-tiba saja tubuhnya seakan ditarik paksa, dari alam sukma.
"Astaghfirullah hal'azim astaghfirullah, gusti prabu." Jaya Satria terkejut, karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghilang dari sana.
"Berhati-hatilah gusti prabu. Sepertinya, alam sukma ini memang sangat berbahaya." Tombak Kelana Jaya yang berada ditangan Jaya Satria memberi peringatan.
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
"Astaghfirullah hal'azim, ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut, karena ia terlempar dari alam sukma itu?. Hatinya sangat gelisah, karena tidak bisa terhubung dengan Jaya Satria?.
"Ya Allah. Semoga Jaya Satria baik-baik saja. Hamba mohon perlindungan untuk jaya satria." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berharap, semoga Jaya Satria bisa mengatasi masalah yang terjadi.
...***...
Kembali ke alam sukma.
"Ya Allah. Hamba meminta petunjuk mu. Sesungguhnya hanya engkaulah maha mengetahui, apa yang tersembunyi di alam nyata, atau di alam sukma. Hanya kepadamu lah, hamba berserah diri." Jaya Satria berdoa kepada Allah. Semoga Allah SWT, memberikan petunjuk kepadanya.
"Nanda jaya satria. Percayalah pada kekuatan adzan. Kumandangkan adzan, semoga dengan adzan, nanda dapat membuka jalan menuju ke istana gaib milik Ratu gaib teluk mutiara."
"Suara syekh guru?." Jaya Satria sangat mengenali suara itu. "Baiklah syekh guru. Nanda akan mencobanya." Jaya Satria akan melakukan apa yang dikatakan oleh Syekh Asmawan Mulia?. Tapi apakah itu memang suara gurunya?. Entahlah. Namun yang pasti, ia tidak boleh membuang-buang waktu lagi.
Jaya Satria melepaskan Tombak Kelana Jaya. Tombak itu melayang, seakan memiliki nyawa sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim." Jaya Satria bersiap-siap, mengundangkan adzan dengan suara merdunya.
Entah mengapa, suara adzan merdu itu seakan sampai di dunia nyata. Mereka yang dari tadi melihat apa yang dilakukan Jaya Satria, mereka semua terheran-heran. Suara merdu milik siapa itu?. Apakah itu berasal dari Jaya Satria?.
"Apa yang dibacakan oleh raden cakara casugraha?. Mengapa suara itu terdengar sangat merdu sekali?." Dalam hati mereka yang penasaran, bertanya-tanya. Apa yang mereka dengar, sungguh berbeda dengan yang mereka dengar selama ini.
...***...
Kembali ke alam sukma.
Setelah Jaya Satria selesai mengumandangkan adzan. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, suara yang tidak bisa mereka lihat. Tapi dengan segala kebaikan dari Allah SWT. jaya Satria saat ini berada di sebuah pantai yang sangat sunyi.
__ADS_1
"Tidak salah lagi gusti prabu. Ini adalah jalan menuju istana gaib itu gusti. Hamba masih ingat sedikit-sedikit." Perlahan-lahan ingatan Tombak pusaka Kelana Jaya mulai kembali tertuju pada sebuah pantai yang ada di depan mereka.
"Jadi begitu?." Jaya Satria tidak mengerti sama sekali.
Tapi yang membuatnya terkejut, tiba-tiba ada pasukan jin, yang datang menyerangnya. Jaya Satria menyadari serangan itu, hingga ia bisa membendung serangan yang datang padanya.
"Gunakan hamba untuk menghadapi mereka gusti prabu." Tombak Pusaka Kelana Jaya mempersilahkan Jaya Satria menggunakan dirinya?.
"Kenapa?."
"Karena gusti prabu, telah memperbolehkan hamba untuk tinggal di dalam tubuh gusti prabu. Serta bersedia mempertemukan hamba, dengan pemilik asli dari tuan hamba. Dan maaf, jika hamba membawa kutukan bagi gusti prabu."
"Baiklah, anggap saja ini imbalan yang pantas." Dengan senang hati Jaya Satria menggunakan Tombak pusaka Kelana Jaya.
"Bismillahirrahmanirrahim." Jaya Satria berharap, dengan menggunakan Tombak pusaka itu, ia dapat mengusir mereka.
Entah itu hanya kebetulan atau apa, dengan mahirnya Jaya Satria menggunakannya. Seakan-akan ia pernah menggunakan tombak itu sebelumnya.
"Bagus gusti, memang seperti itu cara menggunakan hamba."
Dan entah mengapa juga, Tombak Pusaka itu seakan senang, karena gerakan jurus yang dimainkan oleh Jaya Satria, benar-benar menyatu dengannya.
Namun ketika Jaya Satria hendak menghabisi dua pasukan jin yang tersisa.
"Hentikan!."
Dari dalam laut, terdengar suara yang cukup kuat. Membuat Jaya Satria terkejut, hingga ia menghentikan serangannya.
Dari arah laut, terlihat kereta kencana emas mendekati mereka. Dari dalam kencana itu, seorang wanita cantik mendekati Jaya Satria.
"Berani sekali kau!. Menghabisi anak buahku.!"
Wanita itu adalah Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara. Tapi saat ini ia menatap tidak suka pada Jaya Satria.
"Siapa kau?!. Mengapa kau bisa memiliki tombak pusaka kelana jaya?." Ratu gaib teluk Mutiara sangat mengenali tombak yang dipegang oleh Jaya Satria. "Jangan-jangan, kaulah yang mencuri tombak itu sebelas tahun yang lalu?." Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara tampak murka.
"Tunggu!."
__ADS_1
Jaya Satria menahan gerakan Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara, yang hendak menyerang dirinya.
"Jangan terlalu terburu-buru dalam bertindak. Tombak pusaka kelana jaya ini bisa menjadi saksinya." Lanjut Jaya Satria. "Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman diantara kita, hingga menimbulkan dendam." Ucapnya lagi.
Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara tampak berpikir. Ada benar juga apa yang dikatakan oleh pemuda asing menurutnya itu.
"Tombak pusaka kelana jaya. Aku mohon, jelaskan pada ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara. Bahwa bukan aku yang mencurimu, dari gusti prabu maheswara jumanta."
"Sandika gusti prabu."
"Aneh. Tidak biasanya tombak pusaka kelana jaya, mau mengikuti perintah seseorang, jika bukan aku yang menyuruhnya." Dalam hati Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara mengamati keanehan itu. Hingga keningnya mengkerut begitu.
"Mohon ampun gusti ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara. Sebelas tahun yang lalu, bukanlah gusti prabu asmalaraya arya ardhana yang mencuri hamba." Tombak pusaka Kelana Jaya, mencoba untuk menjelaskannya.
"Sebelas tahun yang lalu, hamba diambil paksa oleh seorang pendekar dari golongan hitam. Kekuatannya sangat dahsyat, memiliki kemampuan ilmu Kanuragan yang sangat kuat, serta kelicikannya lah, yang membuat gusti prabu maheswara jumanta kalah bertarung. " Lanjutnya sambil mengingat kejadian itu.
"Setelah dibawa olehnya. Hamba selalu menanggung beban sumpah, yang telah diucapkan oleh gusti prabu maheswara jumanta." Meskipun benda mati, namun karena kekuatan gaib yang ada di dakam tombak itu, ia mendengarkan sumpah kutukan dari sang prabu.
"Barang siapa yang memiliki hamba, maka ia akan selalu dihantui ketakutan-ketakutan masa lalu." Ia benar-benar menceritakan semuanya. "Tapi tidak ada yang bertahan, karena mereka menemui ajal mereka. Masa lalu yang mereka tanggung sangat berat, sehingga mereka mengakhiri hidup mereka sendiri."
.jaya Satria benar-benar merinding mendengarkan penjelasan itu. "Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah. Atas keselamatan yang Engkau berikan, hingga saat ini hamba masih bisa bertahan dari mimpi buruk itu. Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Jaya Satria berkata dalam hatinya. Mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT.
"Meskipun banyak kabar yang beredar tentang kutukan itu. Masih saja ada orang yang memperebutkan hamba gusti ratu."
Belum ada tanggapan dari Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara. Ia masih mau mendengarkan penjelasan dari Tombak pusaka Kelana Jaya.
"Terakhir, hamba dicuri oleh sepasang pendekar pemburu benda pusaka. Mereka menyegel hamba dengan mantram aneh. Sehingga kutukan hamba tidak berpengaruh pada keduanya."
Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara sedikit bingung. Tapi masih belum memberi tanggapan.
"Akan tetapi, disaat mereka berhasil dikalahkan oleh gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Saat itulah hamba masuk dengan suka rela ke dalam tubuh gusti prabu." Ia masih melanjutkan ceritanya.
"Akan tetapi, hamba tidak menyangka. Jika kutukan yang hamba bawa, membuat gusti prabu asmalaraya arya ardhana menanggungnya. Menyeret kesadarannya, untuk menemukan keberadaan gusti prabu maheswara jumanta." Tombak pusaka Kelana Jaya, telah menceritakan semuanya.
Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara dan Jaya Satria mendengarkan dengan baik-baik, apa yang disampaikan oleh Tombak pusaka Kelana Jaya.
Lalu apa tanggapan dari Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.
__ADS_1
...***...