RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya terkena jurus pukulan Telapak dewa kematian. Sedangkan disaat yang bersamaan, Ki Dharma Seta juga terkena jurus cakar naga cakar petir milik jaya Satria.


Tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlempar jauh, karena jurus itu agak berbeda. Mengandung hawa racun yang berbahaya.


Namun siapa sangka tubuh itu ditangkap oleh seorang laki-laki tua, yang belum mereka ketahui. Lalu bagaimana dengan Jaya Satria?. Tubuhnya juga ditangkap oleh seseorang?. Kenapa dengan Jaya Satria?. 


Tubuh Jaya Satria seperti terkena hantaman tak kasat mata. Tubuhnya juga terlempar jauh, dan seseorang menangkap tubuh itu agar tidak terbentur pohon.


Sementara itu, Ki Dharma Seta yang terkena jurus mematikan milik Jaya Satria berteriak keras, seluruh tubuhnya seakan terkena sengatan listrik yang sangat kuat, hingga tubuhnya seperti hangus terbakar.


"Aki dharma seta."


Mayang Sari dan Semara Layana yang lolos dari Kematian terkejut, melihat kondisi ketua mereka dan segera menghampirinya.


"Aki dharma seta."


Mayang Sari melihat ketuanya yang sedang sekarat, sepertinya ketuanya itu tidak bisa diselamatkan lagi.


Lalu bagaimana dengan dua orang yang menyelamatkan Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Mereka membawa keduanya dari sana, mereka berdua harus segera diobati.


Jurus Telapak dewa kematian merupakan jurus yang memiliki dua tingkatan. Yang digunakan oleh Ki Dharma Seta tadi tingkat ke dua. Bukan hanya pukulan tangan besar saja, namun hawa yang yang dibawanya, langsung menyerang tubuh lawannya, berupa racun yang sangat berbahaya. Jadi mereka harus segera mengobatinya, dari pada nyawa sang prabu terancam.


"Bangunlah ki!." Mayang Sari tidak menyangka, bahwa ketuanya mati?. Ia tidak percaya jika lelaki sakti itu dapat dikalahkan?.


"Sudahlah mayang sari. Ayo kita tinggalkan tempat ini."


"Tapi, mereka-."


"Sudahlah, tidak ada gunanya menangisi mereka. nyawa kita juga akan mati, jika terlalu lama berada di hutan ini."


Semara Layana menyeret tangan Mayang Sari agar meninggalkan tempat itu. Hanya saja Mayang Sari tidak tega untuk meninggalkan ketuanya di sana tanpa menguburkan jenazahnya, juga dua orang temannya yang tewas, akibat serangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tadi.


...***...


Di Istana kerajaan Suka Damai.


Putri Andhini Andita masih berada di istana?. Bukannya dia tadi berniat, untuk mengikuti prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Ia tidak menyangka, jika adiknya itu pergi begitu cepat, hingga ia tidak bisa mengejarnya. Ia lupa jika ia tidak mempunyai ilmu Kanuragan, seperti kakaknya putri Ambarsari ataupun adiknya Agniasari Ariani yang kini pergi berguru.


"Rasanya sangat menyesal, aku sama sekali tidak bisa belajar ilmu Kanuragan." Ucapnya dengan kesalnya. Ia kembali ke kamarnya, ia terlihat cemberut.


"Lagi-lagi kau terlihat cemberut rayi." Tiba-tiba Putri Ambarsari menyapa adiknya yang terlihat merungut.


"Yunda?." Putri Andhini Andita melihat wajah kakaknya yang sumringah. Ia jadi bertanya-tanya, apakah kakaknya ini baru bertemu dengan pujaan hatinya?.


"Yunda terlihat bersemangat sekali. Apakah ada sesuatu yang menyenangkan. Apa yang yunda dapatkan?." Putri Andhini Andita ingin tahu hal yang sebenarnya, ia tidak mau menebak yang membuatnya merasa penasaran dan salah menebak.


Putri Ambarsari membawa adiknya itu ke tempat sepi, membuat Putri Andhini Andita sedikit kebingungan. Apakah ada hal yang penting, ingin disampaikan oleh kakaknya hingga mereka menyepi?.


"Dengarkan aku Rayi. Kami telah membuat rencana untuk menyingkirkan rayi prabu."


Ucap Putri Ambarsari dengan senyuman penuh kepuasan, seperti ada bentuk kebahagiaan luar biasa disana.


"Apa?. Kenapa yunda berkata seperti itu?."


Putri Andhini Andita terkejut dengan apa yang ia dengar. Apakah Yundanya ini tidak takut hukuman?. Jika berusaha untuk menyingkirkan seorang raja?.


"Aku serta saudara-saudara kita yang lainnya, telah membuat rencana untuk membunuh rayi prabu. Saat perjalanannya menuju hutan taring belati raga. Kami menemui pendekar pembunuh bayaran, yang dapat mengalahkannya." Putri Ambarsari menceritakan pada adiknya, itulah rencana mereka semua.


"Tapi kenapa yunda dan raka tidak mengajakku?."


Putri Andhini Andita bertanya pada kakaknya. Mengapa ia tidak dilibatkan dalam rencana besar itu?. Putri Ambarsari tersenyum kecil, ia mengelus rambut adiknya.


"Kami hanya tidak ingin, adik kecil kami kenapa-kenapa, jika kau ikut dengan kami menemui pembunuh bayaran itu." Jawab putri Ambarsari. Ia begitu menyayangi adiknya itu, namun tidak dengan putri Agniasari Ariani.


"kami berempat hanya menginginkan kau, yang nantinya menjadi rajanya. Kami berempat yang akan menjadi penggawamu yang setia" Lanjutnya lagi, dengan senyuman tulus. 


Putri Andhini Andita tidak menyangka, akan mendengarkan perkataan seperti itu dari kakaknya?. Apakah benar seperti itu nantinya?. Siapa yang tahu bukan?. Tapi hatinya merasa berat, jika menyingkirkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan cara seperti itu. Apa yang akan ia lakukan?.


...***...

__ADS_1


Sementara itu, di sebuah pondok.


"Demi Dewata yang agung, aku tidak tega melihat keadaan mereka."


"Aku juga tidak tega melihatnya kakang."


Keduanya menghela nafas. Rasanya sesak, melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan juga Jaya Satria terbaring lemah seperti ini.


"Semoga Allah SWT, selalu memberikan ketabahan pada keduanya kakang. Rasanya aku gagal, aku malu pada mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala."


"Setidaknya kita sudah berusaha adi. Kita hanya menunggu reaksi obat saja. Semoga dewata agung masih menyayangi keduanya."


"Semoga saja kakang. Aku sangat berharap sekali. Aku tidak akan memaafkan diriku, jika aku gagal melindunginya."


"Kuatkan hatimu adi. Aku yakin, keduanya adalah orang yang kuat."


Siapakah keduanya?. Apa hubungannya dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria?. Temukan jawabannya.


...***...


Di bawah alam sadar Jaya Satria.


Ia seperti sedang bertemu dengan Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala, sosok yang sangat ia rindukan.


"Gusti prabu."


Air matanya menetes deras dibalik topeng penutup wajahnya. Ia ingin sekali memeluk prabu Kawiswara Arya Ragnala. Namun ia tidak bisa melakukannya, karena saat ini kondisi tubuhnya sangat lemah, bahkan untuk bergerak sedikit saja tidak bisa.


"Tenanglah. Aku selalu bersamamu, disetiap langkahmu."


Sang prabu yang memeluk Jaya Satria, ia tidak tega melihat ketidakberdayaan Jaya Satria.


"Gusti Prabu." Jaya Satria menangis, karena tubuhnya sangat tidak bisa digerakkan.


"Tenanglah. Aku yakin kau kuat menghadapi masalah ini, karena kau orang yang kuat, dalam kondisi apapun."


Sang prabu memeluk erat tubuh itu, mengusap punggung itu penuh dengan kasih sayang, dan ia sesekali mencium puncak kepala Jaya Satria agar ia tenang.


"Hamba telah berusaha dengan baik. Namun hamba, malah menyakitinya dengan ketidakmampuan hamba, gusti prabu."


Jaya Satri masih menangis terisak, ia merasa gagal melindungi prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Tidak, ia baik-baik saja. Rasakanlah keadaannya, karena sesungguhnya, Kau dan dirinya bisa saling terhubung. Jadi, kau bisa mengetahui dirinya, melalui dirimu sendiri."


"Benarkah itu gusti prabu?."


"Percayalah. Maka kau akan mengetahui kebenarannya."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala, selalu meyakinkan Jaya Satria, agar percaya dengan apa yang ia katakan.


...***...


Dipinggir telaga warna bidadari.


Akhirnya putri Gempita Bhadrika sampai di telaga warna bidadari. Ia sangat senang, karena telah berada di tempat yang sudah lama ia cari.


"Aku harus segera mengambil airnya, agar ayahandaku bisa selamat dari kematian."


Putri Gempita segera mengambil botol kecil, yang ia bawa untuk menyimpan air itu. Namun ketika ia hendak mengambil air itu, tiba-tiba ada sosok wanita yang melompat ke arahnya, mencegahnya mengambil air telaga warna bidadari.


"Hei!. Siapa kau!."


Tegur wanita itu, yang tak lain adalah Nini Kabut Bidadari, yang terlihat marah padanya.


"Siapa kau!. Berani sekali mengambil air itu tanpa izin dariku!."


Suara Nini Kabut Bidadari terdengar cukup keras, ia benar-benar tidak suka, ada yang masuk ke wilayahnya tanpa izin. Apalagi mengambil air telaga warna bidadari.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku!. Aku hanya membutuhkan air telaga ini, untuk menyembuhkan ayahandaku, minggir kau!." Balas Putri Gempita Bhadrika, ia juga membentak balik wanita itu. Mengapa ia mencegahnya untuk mengambil air itu?. Apakah ia pemiliknya?.


"Kau berani memasuki wilayah ini, dan kau berani menyuruhku minggir?. Apa kah kau sudah tidak tau sopan santun, masuk wilayah orang, hah?."

__ADS_1


Nini kabut Bidadari sangat jengkel, siapa wanita muda ini?. Mengapa sorot matanya itu terlihat sedang dendam?.


"Aku tidak perlu izin dari siapapun!. Untuk melakukan apapun, karena aku ini adalah, seorang putri penguasa dunia ini."


Balas Putri Gempita mengatakan dirinya adalah seorang putri dari seorang Raja penguasa?. Yang artinya ia berkuasa segala-galanya?.


"Kurang ajar!. Kau memang harus aku beri pelajaran!. Agar kau tahu, tidak semuanya bisa kau kuasai, termasuk air telaga warna bidadari ini!."


Nini Kabut Bidadari benar-benar dibuat marah, oleh wanita muda itu. Nini Kabut Bidadari menyerang Putri Gempita Bhadrika, yang menurutnya sangat tidak sopan, dan malah menyombongkan diri padanya. Apakah wanita muda ini ingin merasakan jurus mematikan miliknya?.


Pertarungan terjadi diantara mereka berdua. Nini Kabut Bidadari menyerangnya, dengan memberikan pukulan ke arah tubuh kiri Putri Gempita Bhadrika.


Namun putri Gempita Bhadrika, tidak membiarkan diserang. Ia menangkis serangan yang datang padanya,  ia malah menyerang balik Nini Kabut Bidadari, dengan menggunakan pedang yang ia bawa sebagai senjatanya.


Sedangkan Nini Kabut Bidadari mencabut salah satu daun itu, dan ia mengubah daun itu menjadi sebuah senjata berupa cambuk. Apakah pertarungan mereka akan berlangsung seru?. Baca terus ceritanya.


...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memacu cepat kudanya. Namun ditengah perjalanan, ia dicegat oleh dua orang pendekar yang berlagak sombong. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit terkejut, begitu juga dengan kuda yang ia tunggangi. Hampir saja ia jatuh dari kudanya jika saja ia tidak memegang kuat tali pengekang kudanya.


"Turun kau!."


Ucap salah satu dari mereka dengan suara keras. Sementara sang prabu sedang berusaha, untuk menenangkan kudanya yang terkejut, karena kehadiran mereka yang mendadak. Setelah kudanya tenang, sang prabu turun dari kudanya, dan mengikat kudanya agar tidak melarikan diri nantinya.


"Apa yang kalian inginkan dariku?. Hingga kalian mencegat perjalananku kisanak?."


Sang Prabu mencoba untuk bersikap ramah pada mereka berdua.  Dan mereka saling bertatapan satu sama lain, setelah itu mereka tertawa keras?. Tentunya membuat sang Prabu kebingungan, apa yang mereka tertawakan?. Apakah ada yang lucu dengan ucapannya tadi?. Namun kebingungan sang prabu terjawab karena ucapan salah satu dari mereka.


"Kami menginginkan kematianmu!."


Suara itu semakin tinggi, apalagi saat mengatakan menginginkan kematian sang prabu, setelah itu mereka kembali tertawa aneh.


"Astaghfirullah hal'azim." Sang prabu merasa aneh dengan sikap mereka. Ia sedikit menghela nafasnya dengan pelan.


"Allah SWT yang telah menciptakan aku, namun belum menginginkan kematianku. Tapi mengapa manusia seperti kalian, malah menginginkan kematianku?." Sang prabu menatap mereka dengan aneh. "Apa salahku pada kalian?."


"Banyak bicara kau!. Prabu asmalaraya arya ardhana." Ucap salah satu dari mereka dengan nada membentak.


"Ya Allah. Siapa mereka?. Mengapa mereka mengenali hamba?. Bahkan ketika hamba mengenakan topeng seperti ini?." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa cemas.


Sang prabu tidak mengerti, padahal tujuannya mengenakan topeng ini adalah agar dirinya tidak dikenali, namun siapa sangka ada yang mengenalinya?.


"Siapa yang kaliam maksudkan?. Aku ini hanyalah seorang pengembara, yang ingin meneruskan perjalanannya. Sepertinya kalian salah orang."


Prabu Asmalaraya Arya mencoba mengelabui mereka, akan tetapi. Tetap saja mereka tidak percaya, dan malah semakin menertawakan sang prabu?.


"Kami tahu kau siapa." Mereka malah semakin menyebut nama sang prabu?. Tidak usah berlagak lagi, karena sebentar lagi, kau akan mati ditangan kami."


Setelah berkata seperti itu, mereka berdua malah menyerang sang Prabu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yanh menyadari serangan itu, ia cepat menghindarinya, bahkan membalas serangan kedua pendekar itu.


"Aku rasa mereka ini adalah orang suruhan. Jika tidak, mana mungkin mereka mengenaliku."


Batin prabu Asmalaraya Arya Ardhana memikirkan kemungkinan itu, mengapa mereka menyerang dirinya, sementara belum banyak mengetahui sosoknya yang sekarang.  Prabu Asmalaraya Arya Ardhana  kembali menyerang dengan jurus-jurusnya, karena ia sedang terburu-buru.


"Jaya Satria, tunggulah aku. Aku akan segera ke sana, setelah aku berhasil mengalahkan mereka. Jadi aku mohon bertahanlah."


Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha, agar tidak membuang-buang waktu, hanya untuk meladeni kedua penjahat itu. Tapi sayangnya, tidak semudah itu melewati kedua orang itu karena mereka memiliki ilmu kanuragan yang cukup mempuni.


Berbagai serangan yang ia terima. Mulai hantaman, tendangan, baik pukulan ia terima dari keduanya disaat yang bersamaan. Seakan mereka ingin memecahkan konsentrasi prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Pertarungan itu terasa cukup lama, membuat sang Prabu merasa gusar, karena memikirkan keadaan Jaya Satria. Apakah ia masih bisa bertahan, sebelum ia sampai ke sana?. Pikiran buruknya mendadak keluar begitu saja.


"Jaya Satria, bertahanlah!."


Teriaknya sekuat tenaga. Hingga tanpa sadar tubuh itu terbangun?. Terbangun dengan cepat?. Apakah yang terjadi?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut, hingga ia terbangun?.


Begitu juga dengan raga Jaya Satria yang tadinya duduk malah mendadak bangun karena terkejut. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke samping kanannya, namun ia tidak menemukan siapapun.


Saat ia menoleh ke arah kiri, ia melihat sosok yang mengenakan topeng, juga duduk disampingnya. Entah mengapa ia merasa lega melihat sosok itu, hingga tanpa sadar ia memeluknya, membuat Jaya Satria sedikit heran.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Baca terus ceritanya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Selamat malam pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2