RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KISAH YANG SEBENARNYA


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita dan Putri Cahya Candrakanti saling bertatapan satu sama lain. Mereka berdua sepertinya saling membenci, dan tidak suka dengan sikap mereka yang berlawanan."


"Apa maksudmu andhini andita. Mengapa kau yang malah menjawabnya?. Aku hanya mencintai jaya satria."


"Nanda cahya candrakanti, tenangkan dirimu nak." Ratu Cahya Bhanurasmi sedikit khawatir, karena anaknya yang tersulut emosi.


"Itu karena aku tidak akan membiarkan kau mendapat jaya satria. Lagipula, jaya satria adalah adikku. Jadi aku berhak, menyaring siapa saja yang akan menjadi permaisuri adikku."


"Aku merasa berhak, menjadi pendamping jaya satria. Meskipun aku tidak mengetahui, jika jaya satria sebenarnya adalah gusti prabu asmalaraya arya ardhana."


"Putriku andhini andita. Tenangkan dirimu nak." Ratu Gendhis Cendrawati mencoba mengingatkan anaknya agar tidak bertindak gegabah.


"Yunda. Aku mohon yunda jangan melakukan kesalahan." Putri Agniasari Ariani mencoba mengingatkan kakaknya agar tidak kebablasan dalam bertindak.


"Rayi andhini andita. Tenangkan dirimu rayi." Bahkan Raden Hadyan Hastanta merasa cemas dengan sikap adiknya. Apakah segitu besar perasaan cintanya pada adiknya itu?. Pada Raden Cakara Casugraha yang merupakan satu ayah dengannya?. Apakah Putri Andhini Andita tidak menyadari ikatan darah diantara mereka?.


"Heh!. Sayang sekali. Ada seseorang yang telah duluan mendapatkan hati jaya satria. Jadi aku rasa percuma saja jika kau ingin mengatakan perjodohan ini."


Prabu Guntur Herdian dan keluarganya sangat terkejut, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.


"Benarkah itu nanda prabu?."


"Benarkah itu gusti prabu?. Jaya satria?. Katakan pada kami yang sejujurnya."


"Katakan yang sebenarnya nak. Katakan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman lagi."


"Mohon maaf paman prabu. Jika paman prabu kecewa pada saya. Tapi apa yang dikatakan oleh yunda andhini andita itu sangat benar adanya."


"Ada seseorang yang saya cintai, jauh sebelum saya menjadi seorang raja."


Mereka semua terkejut dan tidak percaya, dengan apa yang dikatakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan juga Jaya Satria yang merupakan raga asli.


"Kenapa nanda tidak mengatakannya, jika memang jaya satria adalah raga asli dari raden cakara casugraha?. Apakah nanda ingin memberikan harapan pada saya?."


"Maaf paman prabu. Pada saat itu konsentrasi saya terpecahkan, apalagi paman prabu mengatakannya dengan mendadak."

__ADS_1


"Terpecahkan karena apa?. Katakan nanda prabu."


"Mohon maaf raka prabu. Pada saat itu, nanda prabu sedang mengatasi masalah yang ada di kerajaan mekar jaya. Karena raga nanda pada saat itu memang bisa terpisah, namun karena suatu masalah, raganya sekarang telah menyatu raka prabu." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk membantu anaknya menjelaskan apa yang dialami anaknya.


"Saya telah mengatakan, jika saya tidak bisa berjanji. Dan jika paman prabu ingin mendengarkan jawaban dari-."


Deg!!!.


Belum sempat Raden Cakara Casugraha atau Jaya menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan, tiba-tiba saja raga keduanya menyatu dengan paksa. Sehingga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terjatuh, dan terjerembab. Membuat mereka semua terkejut dengan kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berteriak kesakitan.


"Keghak."


"Nanda prabu."


"Rayi prabu."


"Gusti prabu."


"Rayi prabu, apa yang terjadi padamu rayi?."


"Gusti Prabu." Raden Rajaswa Pranawa melihat dengan tatapan bingung, karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.


"Ibunda, sakit. Kegh, sakit sekali sekali ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memeluk erat ibundanya. Tubuhnya bergetar kuat menahan sakit, karena raga mereka tidak bisa berpisah untuk sementara waktu.


"Tenanglah nak. Ibunda ada di sini nak. Katakan dimana rasa sakit itu." Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat menahan tangisnya. Sungguh hatinya sangat melemah, jika anaknya kesakitan seperti ini.


"Nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati juga merasa khawatir, ia mengusap punggung Prabu Asmalaraya Arya Ardhana agar merasa lebih tenang.


"Paman prabu. Sungguh maafkan s-s-shaya. Sebagai jaya satria. S-s-shaya tidak bisa menerima perjodohan ini. Semogha, paman prabu tidak membenci saya. Juga membenci ibundha." Sambil menahan sakit yang luar biasa. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan pada Prabu Guntur Herdian. Mengenai perasannya pada Putri Cahya Candrakanti.


"Nanda Putri cahya candrakanti. Nanda telah mendengarkan langsung, apa yang dikatakan jaya satria. Ayahanda harap nanda mengerti."


"Um. Nanda mendengarkan dengan jelas ayahanda. Cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Nanda akan menerima keputusan jaya satria. Nanda akan menyimpan perasaan ini untuknya ayahanda."


"Oh putriku. Kuatkan dirimu nak."


"Ibunda." Putri Cahya Candrakanti memeluk ibundanya. Hatinya merasa sakit, namun ia tidak bisa menolak kenyataan itu, jika memang itu adalah keputusan dari Jaya Satria yang sebenarnya adalah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha?.

__ADS_1


"Maafkan saya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menatap Putri Cahya Candrakanti. Terlihat bibirnya yang pucat karena menahan rasa sakit, serta keringat yang bercucuran. Membuat mereka semua merasa simpati. "Sungguh, maafkan saya putri cahya candrakanti. Bukan saya bermaksud untuk mempermainkan perasaan putri. Namun saya memiliki seseorang yang saya cintai. Tapi untuk saat ini saya berpisah dengannya karena suatu alasan. Saya harap putri cahya candrakanti tidak dendam pada saya."


Putri Cahya Candrakanti menahan Isak tangisnya. Ia melihat kesungguhan dari ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, apalagi ketika melihat raut wajahnya yang kesakitan. "Saya yang salah. Saya yang tidak mengetahui kebenarannya. Saya hanya terkejut, dan tidak menyangka, jika jaya satria adalah gusti prabu. Suatu hal yang membanggakan bagi saya, mencintai seorang raja muda yang agung. Tentunya saya tidak akan dendam pada gusti prabu." Putri Cahya Candrakanti menghapus air matanya, tersenyum kecil walaupun terasa pahit di hatinya. "Setidaknya, ada seorang insan yang pernah mengisi relung hati ini. Yaitunya nama jaya satria. Terima kasih, telah mengatakan kejujurannya raden cakara casugraha."


"Putriku." Rasanya Prabu Guntur Herdian dan Ratu Cahya Bhanurasmi ingin menangis mendengarkan keikhlasan hati anak mereka.


"Ternyata rayi cahya candrakanti mengikhlaskan semua yang tersodor di depan matanya saat ini." Dalam hati Raden Harjita Jatiadi merasa kagum dengan ketabahan hati adiknya.


"Semoga saja, putri cahya candrakanti bertamu dengan seseorang yang lebih tulus dari saya. Jodoh tidak akan kemana, dan jika memang telah ditakdirkan, maka akan berjumpa diwaktu yang telah di tentukan garis pernikahan."


"Terima kasih raden cakara casugraha. Saya juga mendoakan, semoga saja raden bertemu dengan orang yang raden katakan."


Keduanya mencoba memahami apa yang telah terjadi. Bukan hanya keduanya saja. Melainkan mereka semua.


"Kalau begitu kami mohon pamit nanda prabu."


"Apakah paman tidak berbincang-bincang dahulu bersama. Ibunda?."


"Sepertinya keadaan nanda prabu sedang sakit. Semoga nanda prabu baik-baik saja. Meskipun saya tidak mengetahui, apa permasalahan yang sedang nanda prabu alami." Prabu Guntur Herdian tersenyum kecil, karena ia tidak tega melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang kesakitan.


"Maaf jika tidak sesuai dengan harapan paman prabu."


"Seperti yang nanda prabu katakan tadi. Jika jodoh tidak akan kemana. Paman prabu pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."


"Kami pamit dulu rayi gendhis. Sampurasun."


"Rampes."


"Ibunda gendhis. Mohon antarkan paman prabu beserta keluarga sampai di gerbang istana."


"Baiklah nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati mengikuti apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia segera menyusul Prabu Guntur Herdian beserta keluarganya.


"Rayi prabu."


Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang kini sedang bersandar di bahu Ratu Dewi Anindyaswari. Keadaannya melemah, karena raga Jaya Satria masuk dengan paksa. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2