
...***...
Rasanya mereka semakin merasakan keanehan dari apa yang telah dijelaskan oleh Syekh Asmawan Mulia mengenai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka sama sekali tidak mengerti, dan tidak bisa membantu sama sekali.
"Jalan satu-satunya adalah dengan memasuki alam sukma."
"Tapi kita semua tidak bisa memasuki alam sukma syekh."
"Maafkan nanda, ibunda ratu dewi. Jika saja nanda tidak dalam keadaan hamil, Nanda akan berusaha memasuki alam sukma."
Mereka semua terdiam, karena memang tidak bisa memaksakan kehendak. Ada dua nyawa yang akan menjadi ancaman, jika Putri Bestari Dhatu memaksa memasuki alam sukma.
"Tidak apa-apa nak. Harapan kita hanya pada paman perapian suramuara. Semoga saja nanda andhini andita bisa membawanya ke istana ini."
"Semoga saja rayi dewi. Kita semua sangat khawatir dengan keselamatan nanda prabu."
"Ya, Allah. Semoga saja yunda andhini andita bisa membawa paman perapian suramuara ke istana ini ya Allah."
Mereka semua berdoa dalam hati masing-masing berharap akan ada kebaikan yang akan mereka terima hari ini. Dan sepertinya nasib baik telah datang kepada mereka ketika mereka melihat kedatangan Putri Andhini Andita bersama seseorang?.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Yunda?."
"Rayi?."
"Nanda andhini andita?."
Mereka semua mendekati Putri Andhini Andita. Mereka berharap dapat kabar baik darinya.
"Yunda telah kembali?. Lalu dimana paman perapian suramuara?."
"Benar nak. Dimana paman perapian suramuara nak?."
"Mengapa nanda datang sendirian?. Dan siapa dia?."
__ADS_1
"Apakah rayi bertemu dengan paman perapian suramuara?."
"Bolehkan aku menjawabnya satu persatu ibunda, rayi, yunda." Ia mendekati pendekar wanita yang ia bawa paksa?. Bisa jadi seperti itu.
"Dia adalah seorang tabib, yang bisa memasuki alam sukma." Ia memperkenalkan pendekar wanita itu pada mereka semua. "Maaf, karena tidak mau membuang waktu, aku tidak bertemu dengan paman perapian suramuara. Aku takut akan kehabisan waktu, jika aku tertlambat kembali ke istana ini."
"Oh putriku. Baiklah nak."
"Benarkah nisanak bisa memasuki alam sukma?."
"Hamba gusti ratu. Insyaallah hamba bisa melakukannya."
"Jadi nisanak adalah adalah seorang muslim?."
"Hamba seorang muslim gusti putri."
"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika nisanak juga seorang muslim."
"Rayi agniasari ariani. Nanti saja bertanya banyak hal padanya. Nisanak, segera lakukan tugasmu. Kami tidak ingin berlama-lama lagi. Kasihan gusti prabu jika terlalu lama dibiarkan seperti itu."
"Mari." Putri Andhini Andita membimbing Pendekar wanita itu mendekati tempat tidur Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun rasanya ada yang ganjal menurut mereka semua.
Kata gusti prabu yang keluar dari mulut Putri Andhini Andita membuat mereka ingin bertanya-tanya. Tidak biasanya ia menyebut Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sebutan gusti prabu. Mungkin mereka akan mendengarkan penjelasan dari Putri Andhini Andita nanti setelah pengobatan itu berhasil. Semoga saja kali ini bisa di obati.
"Maaf sebelum itu. Bolehkan hamba mengambil air wudhu sebelum memasuki alam sukma, dan hamba meminjam alas sajadah, serta telekung?."
"Kalau begitu ikuti aku."
"Terima kasih gusti putri."
Pendekar wanita itu mengikuti Putri Agniasari Ariani menuju mushala istana. Sembari menunggu, mereka berusaha bersabar. Mereka semua berharap akan kesembuhan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Sementara itu, di alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia tampak kebingungan, karena ada empat sukma naga yang sedang bertarung. Ia sama sekali tidak bisa menghentikan mereka semua. Bahkan dirinya diserang oleh mereka semua.
Sukma naga dari pedang pelebur sukma berdekatan dengan pedang sukma naga dari pedang sukma naga Pembelah bumi. Sedangkan Sukma naga dari mustika naga merah delima berdekatan dengan sukma naga dari batu Nirwana Dewa. Dua lawan dua, pedang melawan batu?.
"Ya Allah. Bagaimana mungkin mereka bisa bertentangan di dalam tubuh hamba?. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah." Tenaga dalam Raden Cakara Casugraha seakan terkuras habis oleh mereka yang sedang bertarung. Sangat ganas dan tidak bisa dihentikan begitu saja.
__ADS_1
Namun sayup-sayup ia seakan mendengarkan suara seseorang yang sedang membacakan sesuatu. Sesuatu yang sangat tidak asing di telinganya.
Sementara itu di alam nyata. Pendekar wanita itu melaksanakan sholat hajat. Kenapa sholat?. Karena ia menginginkan kesembuhan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Bukankah banyak keinginan?. Ya, keinginan salah satunya dalam sholat itu tujuannya dalam melaksanakan sholat itu adalah keinginan kesembuhan sang Prabu, serta keinginannya yang lain adalah. Pengobatan yang ia lakukan dimudahkan oleh Allah SWT.
Saat sholat itu sedang berlangsung, mereka menyaksikannya dengan seksama. Pengobatan yang memang berbeda dari Putri Bestari Dhatu. Mereka seperti melihat cahaya putih yang memasuki tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Subhanallah. Sungguh tabib wanita itu memiliki kepandaian yang luar biasa."
Mereka semua melihat ke arah Syekh Asmawan Mulia yang merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh Pendekar wanita itu. Saat sedang sholat ia bisa mengalirkan cahaya penenang kepada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Cahaya itu sangat indah syekh. Dia adalah wanita yang sangat suci." Bahkan Ratu Dewi Anindyaswari juga sekilas dapat melihatnya.
"Cahaya apa rayi dewi?."
"Entahlah yunda. Namun cahaya itu sangat indah sekali."
"Siapa dia sebenarnya?. Mengapa dia seperti itu ketika melaksanakan sholat?." Dalam hati Putri Andhini Andita bertanya-tanya. Karena ia merasa heran, apa yang dilihat oleh Syekh Asmawan Mulia dan Ratu Dewi Anindyaswari?.
Sedangkan Pendekar wanita itu, baru saja selesai melaksanakan sholat hajat. Ia berdoa, dan dalam doanya.
"لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لَاتَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضَا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ."
Setelah membaca doa tersebut, seakan-akan sukmanya terbang memasuki alam tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sukma itu menuntunnya menuju sang Prabu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau yang kini terlihat Jaya Satria?. Tapi bagaimana bisa?. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Ia membalikkan badannya menghadap ke belakang. Melihat siapa yang sedang mengucapkan salam padanya. Matanya melihat ke sosok seorang wanita. Rasanya ia tidak asing dengan sosok itu.
"Lama tidak bertemu, jaya satria."
Jaya Satria tersadar, ia mencoba menyentuh wajahnya yang ternyata mengenakan topeng?. Serta pakaian hitam yang ia kenakan. Ya, itu adalah wujudnya Jaya Satria.
"Jangan terlihat bingung seperti itu jaya satria. Bukankah ini adalah alam sukma. Alam yang membuat kita merasakan kegundahan." Ia tersenyum kecil, dan tatapan mata itu teralihkan oleh suara teriakan naga yang saling menyerang satu sama lain. "Sepertinya mereka kali malah menyerang tubuhmu, meskipun mereka bertarung. Namun tubuhmu yang merasakan sakitnya, jaya satria."
Jaya Satria kali ini membalikkan tubuhnya menghadap ke depan. Menatap keempat sukma naga yang sedang bertarung, memperebutkan siapa yang berhak bersemayam di dalam tubuh sang prabu. Pedang sukma naga, atau batu sukma naga yang akan bertahan?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1