
..."*"...
Jaya Satria memperingatkan mereka semua untuk menjauh dari sana. Karena ia akan menggunakan Keris pusaka Keris kembar naga penyegel sukma, yang digabungkan dengan jurus cakar naga cakar petir. Namun tiba-tiba ia mendapatkan hantaman sebuah tenaga dalam yang sangat kuat, sehingga ia terlempar.
"Jaya satria." Jatiya Dewa terkejut melihat itu. Ia hendak menolongnya, akan tetapi tangannya ditarik oleh kakaknya, untuk menjauhi tempat itu.
"Heh!. Kalian tidak tidak akan bisa membunuhku!. Karena aku adalah makhluk abadi!. Ahaha!."
"Kegh!." Jaya Satria meringis kesakitan, dan saat itu ia terhubung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di kerajaan Suka Damai.
"Tenanglah jaya satria. Jangan sampai gegabah. Itu sangat membahayakan dirimu jaya satria."
"Hamba akan mengusahakannya gusti prabu." Jaya Satria mengatur tenaga dalamnya. Meskipun dadanya saat ini terasa sakit, akan tetapi ia mencoba untuk kuat.
"Serahkan semuanya kepada Allah SWT." Setelah itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali berkonsentrasi agar Jaya Satria juga bisa lebih fokus ke arah depannya.
"Hei!. Kau!. Tidak ada yang abadi di dunia ini!. Hanya Allah maha Pemiliki kekuasaan." Jaya Satria menunjuk ke arah sosok merah itu.
"Hahaha!. Kata-kata itu hanya untuk orang yang tidak sanggup untuk melawan aku!. Dan kau akan mati hari ini juga!."
Jaya Satria telah siaga dengan serangan yang akan dilakukan oleh sosok merah itu. Saat itu juga Jaya Satria mengeluarkan Keris pusaka Keris kembar Naga Pembelah Bumi. Ia lempar dengan menggunakan tenaga dalamnya ke arah sosok merah itu, akan tetapi bisa dihindarinya.
Salah satu Keris pusaka Keris kembar itu menancap di sana. Sementara itu sosok merah malah menyerang Jaya Satria. Jaya Satria membalas serangan sosok merah dengan menggunakan keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma yang satunya lagi.
__ADS_1
Sedangkan mereka melihat apa yang dilakukan Jaya Satria, mereka memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh pemuda bertopeng itu. Jaya Satria membacakan surah Yasin ayat 60 Samapi 71 dengan suara yang sangat lantang, sehingga sosok merah itu kesakitan.
Tentang manusia yang dilarang bersekutu dengan setan. Telah jelas dikatakan bahwa setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia, akan tetapi malah meminta bantuan dari setan?. Maka itu adalah kesesatan yang nyata bagi umat manusia.
Sosok merah itu terlihat kesakitan, karena mendengarkan apa yang dibacakan oleh jaya Satria. Dan saat sosok merah itu melemah. Jaya Satria menghantam kuat sosok merah, hingga hampir mendekati keris kembar yang menancap tadi.
Namun sebuah keajaiban terjadi, Jaya Satria saat itu menjadi dua?. Ya, memang itu yang mereka lihat. Akan tetapi itu adalah prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang memakai pakaian yang sama dengan Jaya Satria. Kenapa itu bisa terjadi?. Itu karena latihan yang mereka lakukan, juga karena bantuan Keris kembar yang memiliki kekuatan yang mampu menarik Sukma Prabu Asmalaraya Arya Ardhana agar bisa cepat sampai ke tempat di mana pun Jaya Satria berada.
Karena Raga asli Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih berada di Istana Kerajaan Suka Damai. Meskipun itu hanyalah Sukma, namun setidaknya bisa membantu Jaya Satria untuk menyegel sosok merah itu.
"Luar biasa sekali. Dia memang orang yang hebat." Raden Jatiya Dewa merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.
"Dia melakukan itu dengan mudah?." Bahkan Raden Antakaya Dewa merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.
"Sekarang menyerah lah. Kembali lah ke jalan yang benar. Tidak ada kekuatan yang abadi di dunia ini." Jaya Satria juga menancapkan keris kembar naga penyegel sukma yang berada di tangannya. Sehingga selurusan dengan keris yang tadinya telah menancap di tanah, yang kini dijaga oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kegh." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis sakit. Karena perlawanan sosok merah itu hampir saja membuat keris kembar yang menyatu dengannya bergeser dari tempatnya.
"Jaya Satria!. Mari kita lakukan bersama."
"Baiklah. Mari kita akhiri kejahatan yang telah ia lakukan selama ini."
Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menekan kuat keris kembar naga penyegel sukma dengan menggunakan jurus cakar naga cakar petir. Disaat itulah, terlihat ada tiga naga yang keluar dari kedua keris itu. Suaranya menggelegar. Benar-benar seperti amukan petir ditengah badai yang diselimuti oleh api yang membara. Sehingga sekitar hutan itu terasa panas dan hawa petir menyengat kemana-mana.
__ADS_1
Mereka yang masih berada di sana sambil menyaksikan itu, terpaksa semakin menjauh. Karena mereka tidak ingin celaka.
"Kegh. Tempat ini semakin mengerikan karena jurus yang dimainkan orang bertopeng itu."
"Siapa dia sebenarnya?. Kenapa ia memiliki jurus berbahaya itu?."
"Hawa petir ini. Seperti jurus cakar naga cakar petir yang telah lama menghilang. Tapi kenapa ia memiliki jurus berbahaya itu?."
"Nanti akan kita tanyakan, jika ia telah berhasil membunuh setan itu."
Mereka semua menjadi saksi apa yang telah dilakukan Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka melihat betapa ganasnya jurus yang digunakan pemuda bertopeng itu untuk mengalahkan sosok jahat itu.
Tapi sosok jahat itu masih saja ingin berontak, dan ingin melepaskan diri. Tetapi Jaya Satria tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia membacakan ayat kursi dengan suara yang sangat lantang, dan ayat-ayat Al-Qur'an yang dapat menekan sosok jahat itu untuk tunjuk.
"Akh!. Kurang ajar kau orang bertopeng!. Aku tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan padaku hari ini!. Akh!." Teriakan panjang terdengar, meskipun tidak terlalu lama. Karena sosok itu berhasil disegel dengan baik oleh Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Berhasil?. Apakah jaya satria berhasil melakukannya?." Raden Jatiya Dewa sangat senang melihat Jaya Satria. Tanpa sadar ia langsung mendekati Jaya Satria.
"Rayi!." Raden Antajaya Dewa tidak bisa mencegah adiknya lagi. Ia hanya melihat adiknya yang mendekati Jaya Satria.
"Aku serahkan semuanya padamu jaya satria." Setelah itu Sukma Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meninggalkan tempat. Karena ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
"Jaya satria. Jaya satria!. Kau berhasil melakukannya." Raden Jatiya Dewa sangat senang, saat ia mendekati Jaya Satria yang terdiam di tempat. Disaat yang bersamaan, para pendekar juga mendekati Jaya Satria. Mereka ingin melihat keadaan Jaya Satria setelah berhasil menyegel sosok merah itu.
__ADS_1
"Jaya satria?." Raden Jatiya Dewa menyentuh bahu Jaya Satria, namun ia terkejut. Tangannya seperti tersengat sesuatu. "Jangan sentuh aku untuk sementara ini raden." Jaya Satria lahirnya bereaksi. Ia mengambil Keris kembar yang menancap di tanah. Dan matanya menangkap sosok manusia yang terbaring di sana.
...***...