RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
DENDAM DAN AMARAH SANG PRABU


__ADS_3

...***...


Jaya Satria membantu proses pemakaman keluarga Prabu Bumi Jaya. Setelah itu ia menghadap sang Prabu. Karena ada banyak hal ingin ditanyakan oleh Prabu Bumi Jaya padanya. Termasuk tentang rencana mereka yang ingin balas dendam atas kematian Raden Raksa Wardhana dan Selir Ratna Wardhani.


"Aku telah kehilangan dua orang yang sangat aku kasihi dengan cara yang mengenaskan." Prabu Bumi Jaya tidak kuasa menahan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Hatinya sangat sedih, ketika pemuda bertopeng itu mengantarkan kasak kedua orang yang ia cintai?. "Siapa kau sebenarnya anak muda?. Bagaimana mungkin kau mengetahui, jika mereka berasal dari kerajaan ini?." Tentunya Prabu Bumi Jaya ingin mengetahuinya bukan?. Tidak mungkin orang asing mengetahui bahwa mereka adalah keluarga istana Kerajaan Restu Agung. Meskipun keluarga Raja mudah diketahui, namun bukan berarti orang asing juga mengetahuinya juga kan?.


Jaya Satria membuka topeng yang menutupi wajahnya. Sehingga terlihat wajahnya yang sangat tampan rupawan itu. "Mohon ampun gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Hamba adalah cakara casugraha, adik dari putri andhini andita. Seorang putri yang akan dilamar oleh putra gusti prabu, raden raksa wardhana." Jaya Satria menyebutkan nama aslinya?.


"Jadi kau berasal dari kerjaan suka damai?. Adik dari putri yang akan dilamar putraku?." Prabu Bumi Jaya tidak menyangka jika yang mengantar jasad kedua orang yang ia cintai adalah keluarga istana kerajaan Suka Damai?.


"Hamba berasal dari kerajaan suka damai gusti prabu. Adik dari putri yang akan dilamar oleh salah satu putra gusti prabu." Jaya Satria kembali memberi hormat, sambil mengatakan siapa dirinya sebenarnya?.


"Apa yang terjadi?. Kenapa istri serta putraku dalam keadaan seperti itu?. Apakah kau bisa menjelaskan semuanya?!." Kemarahannya sangat memuncak, dan ia belum bisa menerima kenyataan itu.


"Aku mohon, agar tuan menjelaskannya. Kenapa bisa terjadi peristiwa malang itu?. Aku mohon agar tuan menjelaskannya pada kami." Raden Bumi Putra terlihat sedih, karena adiknya yang meninggal dalam keadaan mengenaskan.


"Ketika dalam pertemuan di istana kerajaan suka damai. Hamba merasakan ada yang ganjal. Karena hamba memiliki kemampuan untuk melihat keadaan seseorang tanpa memasuki alam sukma." Bukannya bermaksud untuk memamerkan kemampuan, tapi mereka harus mengetahuinya sedikit. "Hamba melihat jiwa yang kosong dari gusti ratna wardhani, juga raden raksa wardhana. Dan setelah hamba lihat secara dalam, ternyata mereka hanyalah sukma yang memiliki keinginan baik. Sehingga mereka sampai di kerajaan suka damai dalam keadaan seperti itu." Jaya Satria dengan hati-hati menjelaskan pada mereka.


"Apa maksudmu sampai ke istana kerajaan suka dengan sukma saja?." Prabu Bumi Jaya masih belum mengerti apa yang dijelaskan oleh Jaya Satria.

__ADS_1


"Karena raga mereka telah dibunuh oleh orang-orang yang berada di perbatasan kerajaan tebing alas. Mereka terkenal dengan kekejaman yang sangat tidak manusiawi. Di sana lah hamba menemukan jasad mereka semua." Jaya Satria menjelaskan lagi.


"Oh, Dewata yang agung. Tapi kenapa kau mengetahui mereka tewas di sana?. Kau tidak terlibat dalam masalah itu kan?." Hatinya yang dipenuhi gejolak yang ia rasakan sangat bergemuruh.


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba hanya mengikuti arah yang ditunjukkan gusti ratna wardhani, juga raden raksa wardhana. Hanya itu saja gusti prabu." Jaya Satria tidak ingin mereka salah faham.


Namun tidak ada tanggapan dari Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra. Karena saat ini mereka sedang menahan amarah yang membara di dalam hati mereka.


"Hamba juga melihat, saat bedati itu memasuki daerah itu. Awalnya mereka hanya ingin merampas harta milik mereka saja. Namun siapa sangka, ada banyak pembunuh bayaran dengan senjata panah terus menghujani mereka semua. Raden raksa wardhana berusaha melindungi ibundanya. Sehingga ia tidak bisa menggunakan kekuatannya. Hingga ia tewas dengan keadaan mengenaskan seperti itu." Jaya Satria menangis sedih sambil menceritakan apa yang ia lihat saat itu. Hatinya sangat sakit melihat apa yang terjadi di sana. "Hamba bersumpah, hamba akan mencari mereka semua. Hamba akan menuntut balas atas kematian raden raksa wardhana. Seorang pangeran yang dicintai oleh yunda hamba." Jaya Satria kembali menggunakan topeng penutup wajah. Hatinya saat ini dipenuhi oleh kebencian yang mendalam. Bahkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di istana kerajaan Suka Damai tidak dapat menghalangi apa yang akan dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha yang asli. "Hamba tidak akan mengampuni orang-orang yang telah membuat yunda hamba menangis. Penantian dalam rasa bahagia, namun mereka telah memberikan luka pada yunda andhini andita. Hamba tidak akan mengampuni mereka. Karena itulah gusti prabu, izinkan hamba yang menjadi alat untuk balas dendam atas apa yang mereka lakukan pada putra gusti prabu." Jaya Satria telah menguatkan tekad yang ia rasakan saat ini.


"Aku akan membantumu. Aku juga akan membalas apa yang telah mereka lakukan pada anakku. Aku tidak akan mengampuni mereka semua yang telah membunuh anak dan istriku." Prabu Bumi Jaya sangat marah. Kemarahan yang sangat membuncah yang ia rasakan.


Tekad mereka yang dibumbui oleh dendam yang sangat tidak wajar. Hati mereka yang tidak bisa berpikir jernih lagi. Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu di kerajaan Suka Damai.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan keadaan istana saat ini. Ia tidak mungkin menyembunyikan dari mereka semua. Apalagi ia juga mengetahui, jika Raden Jatiya Dewa sangat mencintai kakaknya Putri Andhini Andita. Ia menduga kedatangan Prabu Lingga Dewa, ada hubungannya dengan acara lamaran?. Mungkin itu hanya dugaannya sementara. Dan kebetulan sekali, Syekh Asmawan Mulia bertanya kemana keluarga istana yang lainnya.

__ADS_1


"Mohon maaf nanda prabu. Tidak biasanya istana agak sepi. Memangnya gusti ratu, juga yang lainnya kemana?."


"Mohon maaf syekh guru. Sebenarnya keadaan saat ini sedang berduka. Karena itulah keadaan istana agak sepi."


"Berduka?."


Mereka bertiga sangat heran mendengarkan kata berduka yang keluar dari mulut prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tentunya mereka bertiga bertanya, kejadian apa yang menimpa keluarga istana sehingga berduka?.


"Apa yang terjadi nanda prabu?. Apakah terjadi sesuatu yang sama sekali tidak kami ketahui?." Syekh Asmawan Mulia terlihat sangat cemas.


"Apa yang tejadi nanda prabu?. Coba ceritakan pada paman. Mungkin paman bisa membantu." Prabu Lingga Dewa merasa heran.


"Benar gusti prabu. Apa yang tejadi sebenarnya?. Kami mohon penjelasan dari gusti prabu." Raden Jatiya Dewa juga penasaran dengan apa yang terjadi.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan pelan. "Sebenarnya, ada seorang pangeran dari kerajaan restu agung yang telah berjanji dengan yunda andhini andita. Bahwa mereka akan bertemu di istana ini. Tapi, ada kejadian malang yang menimpa pangeran tersebut. Sehingga yunda andhini andita sangat sedih. Karena orang yang ia tunggu tewas dibunuh di perbatasan kerajaan tebing alas." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berusaha menahan gejolak yang ada di dalam dirinya saat ini. Sedangkan mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Bagaimana reaksi mereka setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2