
...***...
Suasana Istana kerajaan Suka Damai hari ini tentram, meskipun ada beberapa laporan yang masuk. Namun sang prabu masih bisa mengatasinya.
"Bagaimana menurutmu mengenai yunda andhini andita?. Apakah dia sudah ada sedikit perubahan?." Sang prabu yang berada di ruang pribadinya bersama Jaya Satria.
"Hamba sudah memberikan beberapa penjelasan padanya. Semoga Allah membuka pintu hatinya agar berbuat lebih baik lagi." Ia memang melihat ada perubahan, meskipun secara perlahan.
"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?. Aku rasa tidak mungkin kita terus saling membenci satu sama lain dalam keadaan apapun." Ia berharap saudara-saudaranya bisa akur.
"Bukan hanya masalah istana saja yang harus aku urus. Apa artinya aku menjadi raja jika mereka membenciku." prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin menyatukan mereka dalam satu langkah.
"Hamba mengerti apa yang gusti prabu inginkan. Tapi hamba rasanya agak sulit." Ya. meyakinkan kebaikan pada seseorang tidaklah mudah.
"Tapi kita harus tetap mencobanya. Kita hanya berserah diri kepada Allah SWT." Ia selalu berdoa agar keluarga besarnya bisa bersatu dengan baik tanpa adanya perselisihan diantara mereka.
"Hamba akan memulainya dari putri andhini andita dulu. Karena menurut hamba dia yang paling cerdas.mudah memahami apa saja. Jadi hamba yakin ia cepat mengerti apa yang hamba katakan padanya." Entah mengapa ia begitu yakin dengan itu.
"Ya, aku setuju.akukan dengan baik. Aku sangat berharap padamu, juga kepada Allah SWT yang maha pemilik pemilik hati manusia. Allah yang mampu membolak-balikkan hati seseorang." Ia merasa lega mendengarnya.
"Semoga saja berhasil gusti prabu." Jaya Satria juga berharap jika itu berhasil.
"Lalu bagaimana dengan wilayah yang jauh dari istana?. Apakah mereka masih aman?." pembahasan kali ini mengenai keamanan wilayah kerajaan Suka Damai.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Semuanya aman. Hamba bahkan menyuruh prajurit untuk berjaga-jaga di sana. Juga beberapa pemuda yang memiliki ilmu Kanuragan untuk menjaga keamanan desanya." Ternyata ia telah bertindak dengan cepat.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Terima kasih karena kau melakukannya dengan baik." Ia merasa bangga dengan yang dilakukan oleh jaya Satria.
Namun setelah itu Jaya Satria pergi dari sana, meskipun sebagian penghuni Istana sudah mengetahui dirinya adalah abdi sang prabu. Tapi tetap saja ia harus waspada.
"Sampurasun gusti prabu. Maaf hamba datang mengganggu gusti prabu." Setelah mengucapkan salam, ia masih berdiri agak jauh dari pintu ruang pribadi Raja.
"Rampes." Sang prabu menjawabnya. "Sda apa senopati mandaka sakuta." Sang prabu ingin mengetahui alasan mengapa senopatinya datang menghadap.
"Mohon ampun gusti prabu. Ada kabar penting yang hendak hamba sampaikan." Ia mengatakan tujuannya.
"Katakan. Kabar penting apa itu." Sang prabu ingin tau, dan mendengarnya.
"Mohon ampun gusti, di gerbang istana, prabu rahwana bimantara datang dengan beberapa pengawal gusti." Itulah yang ia sampaikan kepada rajanya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit terkejut, ia tidak menyangka akan kedatangan salah satu Raja besar yang ada di negeri ini.
"Baiklah. Saya akan segera ke sana menyambutnya. Dan kau senopati mandaka sakuta. Persiapkan hidangan untuk jamuan." perintah prabu Asmalaraya Arya.
"Akan hamba laksanakan perintah gusti prabu dengan sebaik-baiknya." Senopati Mandaka Sakuta mengerti dengan tugasnya. "Hamba pamit gusti prabu. Sampurasun." Ia meninggalkan ruangan itu untuk mengerjakan perintah rajanya.
"Kakek prabu rahwana bimantara?. Kedatangannya sungguh mendadak sekali. Spa yang ia inginkan?." pertanyaan besar bagi sang prabu.
"Berhati-hatilah gusti prabu. Hamba sangat cemas dengan kedatangannya mendadak." Jaya Satria masih berada di ruangan itu?.
"Ya, meskipun aku tidak tahu maksud kedatangannya. Rasanya hatiku sangat gelisah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakannya.
"Apakah hamba perlu mengawal gusti prabu sampai ke gerbang istana?." Jaya Satria sangat cemas pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sebaiknya jangan. Aku hanya tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, apalagi ibunda ratu ardiningrum bintari belum melihatmu. Aku takut terjadi fitnah nantinya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak ingin menimbulkan masalah jika ia bersama Jaya Satria.
"Tapi satu permintaanku. Katakan pada bibi ayudiyah purwati untuk tetap bersama ibundaku selama perjamuan itu. Jangan biarkan ibunda keluar dari biliknya." prabu Asmalaraya Arya juga mencemaskan keadaan ibundanya. Ia cemas nantinya ibundanya juga kena imbasnya.
"Sandika gusti prabu. Kalau begitu akan hamba sampaikan pada bibi ayudiyah purwati." Ia mengerti kekhawatiran yang dirasakan oleh sang prabu. "Hamba harap gusti prabu berhati-hati. Hamba akan selalu berada di dekat gusti prabu jika terjadi sesuatu nantinya." Lanjutnya lagi. Karena ia mencemaskan keselamatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Sementara itu di depan gerbang istana. Prabu Rahwana Bimantara baru saja turun dari kudanya. Ia bersama sepuluh orang prajurit, dan ada juga beberapa pendekar yang menyertainya.
__ADS_1
"Selamat datang di kerajaan suka damai ayahanda prabu." Ratu Ardiningrum Bintari menyambut kedatangan ayahandanya dengan senyuman bahagia.
"Kakek prabu." Anak-anaknya juga menyambut kedatangan kakek mereka dengan wajah gembira.
"Kalian sudah besar. Aku sangat merindukan kalian semua." Ia menyambut pelukan dari ketiga cucunya itu.
"Kami juga merindukan kakek prabu." Balas mereka semua.
"Maafkan kami karena belum sempat melihat kakek." Raden Ganendra Garjitha merasa bersalah pada kakeknya.
"Benar kakek prabu. Rencananya kami mau menemui kakek prabu. Tapi ibunda mengatakan nanti saja." Raden Gentala Giandra pandai mencari alasan.
"Loh?. Kenapa malah melibatkan ibunda?." Ratu Ardiningrum Bintari merasa keberatan, dan mereka malah tertawa?.
"Raka hanya mencari alasan saja kakek prabu." putri Ambarsari membela ibundanya, membuat mereka semakin tertawa.
Saat kegembiraan itu mereka rasakan, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana datang menghampiri mereka.
"Sampurasun. Kakek prabu." Dengan senyuman ramah, ia mengucapkan salam itu.
"Rampes." Balas Prabu Rahwana Bimantara mencoba untuk bersikap ramah.
"Selamat datang di kerajaan suka damai. Maaf jika ananda tidak melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan kakek prabu di istana ini." Senyuman ramah itu, senyuman yang menenangkan hati yang masih damai melihatnya.
"Terima kasih karena nanda prabu menyambut kedatanganku kemari." prabu Rahwana Bimantara melihat pancaran seorang raja dari penampilan Raja muda itu.
"Rasanya aku sedang melihat mendiang menantuku prabu kawiswara arya ragnala di dalam dirinya. Begitu berwibawa dan penuh kehangatan dalam menyambut siapa saja." Dalam hatinya ia merasa kagum pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Silahkan masuk kakek prabu." Ia mempersilahkan prabu Rahwana Bimantara memasuki istana, dan ia berjalan berdampingan. Sedangkan Ratu Ardiningrum Bintari berjalan di belakangnya, mengiringi mereka. Begitu juga rombongan kerajaan.
"Seperti yang dikatakan ibunda waktu itu. Kakek prabu benar-benar datang ke istana ini." Dalam hati Raden Ganendra Garjitha merasa bahagia, perkataan ibunda terbukti.
"Sepertinya peristiwa penting ini akan menjadi sebuah sejarah yang baik, untuk keluarga bimantara karena menguasai kerajaan besar ini." Dalam hati Ratu Ardiningrum Bintari tidak sabar lagi mendekatkan tahta itu. Membayangkannya saja hatinya bahagia, apalagi jika memang mendapatkannya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana duduk di singgasananya, dan ia mempersilahkan prabu Rahwana Bimantara duduk di kursi yang telah ia siapkan di samping kanannya.
"Istana ini sama sekali tidak berubah. Aku dapat merasakannya, sejak mendiang prabu kawiswara arya ragnala yang menjadi raja. Ketika pernikahan anakku dilangsungkan di sini." Ia masih ingat itu. Bahkan ketika beberapa kali ia berkunjung ke istana ini.
"Kami tidak akan merubahnya kakek prabu. Suasana di istana ini juga akan tetap sama, ketika mendiang ayahanda prabu kawiswara arya ragnala masih hidup." prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakannya.
"Apakah itu ayahanda dari ibunda ratu ardiningrum bintari?." Bisik putri Andhini Andita pada kakaknya
"Aku rasa iya. Dulu dia juga pernah datang berkunjung kemari. Waktu itu kita masih kecil." Balas Raden Hadyan Hastanta masih mengingat wajah itu, walaupun ada perubahan dari segi penampilan.
Ternyata kedua anak dari Ratu Gendhis Cendrawati ikut dalam perjamuan itu, karena diberitahu oleh Senopati Mandaka Sakuta tadi.
"Semoga kakek prabu kerasan berada di istana ini." prabu Asmalaraya Arya Ardhana berharap kakeknya itu betah berada di istana ini.
Jamuan hari itu berjalan dengan lancar, tanpa adanya gangguan. Prabu Rahwana Bimantara merasa senang dengan suasana itu.
Namun siapa sangka, prabu Rahwana Bimantara malah mengajak prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengadu kesaktian para pendekar yang ia bawa dari kerajaannya
"Aku harap nanda prabu tidak keberatan untuk saling tegur sapa, dengan mereka barang beberapa jurus dengan pendekar istana ini." Senyuman itu, senyuman yang mencurigakan.
"Ya Allah. Kuatkan lah hati hamba" kecemasan yang ia takutkan terjadi.
"Mohon ampun kakek prabu. Selama sejauh ini ananda belum menerima para pendekar untuk membela istana ini. Jadi ananda tidak bisa menerima tawaran dari kakek prabu." Dengan berat hati ia mengatakan itu.
"Nampus kau. Kena jebakan dari kakek prabu yang cerdas." Dalam hati Raden Ganendra Garjitha merasa senang mendengarkan penolakan dari adiknya.
Namun siapa sangka, tiba-tiba ada senjata tajam mengarah cepat ke arah sang prabu, dan siapa sangka juga senjata berupa belati kecil itu patah menjadi dua. Karena ada pelindung tak kasar mata melindungi sang prabu dari serangan tersebut.
Mereka yang melihat itu terkejut, termasuk para petinggi istana?. Tentu saja mereka terkejut karena itu bisa mengancam keselamatan sang prabu.
__ADS_1
"Sepertinya, kakek prabu tidak suka dengan penolakan ananda." Meskipun ia tersenyum, namun matanya dapat memperhatikan tangan siapa yang tadinya menyerangnya.
Prabu Rahwana Bimantara hanya diam, ia tidak menanggapi perkataan itu. Namun lirikan mata itu menandakan tantangan untuk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Baiklah. Jika kakek prabu masih penasaran." Sang prabu mengerti. "Senopati mandaka sakuta. Siapkan aula pertandingan. Kita akan melakukannya." prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak punya pilihan selain mengikuti kehendak dari Prabu Rahwana Bimantara.
"Terimakasih nanda prabu." Senyuman puas terlihat jelas di sana.
"Ya Allah. Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada kami semua." Sang prabu berharap Allah melindungi mereka semua.
Saat mereka melakukan persiapan, Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta mendekati keluarga Bimantara.
"Dimana ibunda kalian?. Aku tidak melihatnya." Meskipun tidak terlalu dekat, ia sedikit tau mengenai anak-anak dari mendiang menantunya siapa saja.
"Ibunda saat ini sedang menyeka kuburan kakek. Jadi ibunda tidak ada di istana saat ini." Balas Raden Hadyan Hastanta dengan sopan.
"Jadi begitu?." Prabu Rahwana Bimantara mengerti alasan ia tidak melihat ratu Gendhis Cendrawati di sini. Mereka berbincang-bincang sedikit agar terlihat lebih akrab.
Setelah itu mereka berkumpul di luar istana, karena adu tanding pendekar kerajaan Suka Damai dengan kerajaan Mekar jaya.
"Salam hormat kepada semua tamu dan hadirin berbahagia. Saat ini kita akan menyaksikan adu tanding persahabatan antara dua kerajaan besar. Kami harap jangan ada dendam atau kebencian yang lahir setelah pertarungan ini. Kami sebagi tuan rumah hanya berharap salam perdamaian untuk kita semua." Senopati Mandaka Sakuta memimpin berjalannya acara itu sesuai permintaan rajanya.
Mereka semua memperhatikan dengan seksama, mereka ingin menikmati pertandingan yang langka ini.
"Peraturan dari pertandingan ini. Yang pertama tidak boleh membunuh lawannya. Kedua jangan berbuat curang selama bertanding. Ketiga, lawan boleh menyerang dengan senjatanya untuk bertahan. Keempat jika lawannya menyerah, maka ialah pemenangnya. Dan selanjutnya akan diberitahu oleh gusti prabu asmalaraya arya ardhana bagi yang menang."
Senopati Mandaka Sakuta mempersilahkan sang prabu menambahkan ucapannya.
"Bagi yang menang, akan aku angkat menjadi prajurit khusus untuk melindungi istana ini. Selain itu ia akan tinggal di wisma prajurit, menjadi pasukan pemimpin prajurit dalam bertugas ke wilayah-wilayah yang aku tentukan." Begitulah janji sang prabu kepada pemenang.
Mereka semua menjadi saksinya, dan mereka senang dengan hadiah tersebut. Mereka tidak sabar ingin segera bertanding.
"Kalau begitu mulailah bertanding" sang prabu mempersilahkan mereka memulainya.
Dari kerajaan Suka Damai ada beberapa pendekar yang dilatih oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana diam-diam melalui Jaya Satria. Jadi tidak ada yang tahu kekuatan mereka. Para pendekar yang memeluk agama Islam bersama sang prabu.
"Namaku sembara. Aku dari gunung setangga." Ia memperkenalkan dirinya seperti itu, asal usulnya dari mana.
"Namaku Rakesh Penampihan dari bukit Penampihan." Ia juga memperkenalkan dirinya.
"Mulai." Senopati Mandaka Sakuta mempersilahkan mereka untuk memulai pertandingan.
Awalnya memang pertandingan berjalan dengan aman, damai, dan anteng. Beberapa jurus-jurus mereka mainkan untuk menjatuhkan lawannya. Mereka sama kuatnya, hingga mereka sulit untuk menentukan siapa yang menjadi pemenangnya.
"Sepertinya akan berjalan dengan seru yunda." putri Andhini Andita melihat gerakan hebat dari kedua pendekar itu.
"Ya, kau benar rayi. Tapi aku berharap yang menjadi pemenangnya adalah pendekar dari kakek prabu." Putri Ambarsari sangat berharap itu.
"Entah kenapa. Aku merasakan perasaan tidak enak dari pertandingan ini." Ia merasa gelisah. Seperti akan terjadi sesuatu. Matanya melihat ke arah adiknya prabu Asmalaraya Arya yang sedang duduk di kursi istimewa.
"Kenapa aku begitu mencemaskannya?. padahal selama ini aku begitu membencinya. Apakah ini karena pengaruh ucapan jaya satria?." Dalam hatinya berpikir seperti itu. Tidak mungkin kegelisahan itu datang secara tiba-tiba bukan?.
Sorak Sorai penonton dari prajurit lainnya menambah heboh suasana pertandingan, mereka menyemangati mereka yang bertanding tanpa menjatuhkan mental keduanya.
Sementara itu, dari kejauhan Jaya Satria memperhatikan pertarungan itu. Ia juga memperhatikan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mungkin ada sesuatu diluar dugaan nantinya yang akan terjadi.
"Aku harus tetap waspada, karena keselamatannya juga keselamatanku." Dalam hatinya bertekad tidak akan lengah sedikitpun. Demi keselamatan prabu Asmalaraya Arya, ia harus tetap waspada. Ia telah memberitahu kepada Ayudiyah Purwati agar tetap bersama ratu Dewi Anindyaswari sesuai permintaan rajanya.
Bisakah pertarungan itu berjalan dengan lancar tanpa adanya bumbu kecurangan dari kedua belah pihak?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berharap semuanya berjalan dengan baik tanpa melahirkan permusuhan.
Next halaman.
...***...
__ADS_1