RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
CERITA DAN KESEDIHAN


__ADS_3

...***...


"Kami tidak sengaja bertemu, ketika bertemu di suatu tempat yunda."


"Benarkah itu putraku rajaswa Pranawa?."


"Benar ayahanda prabu. Tapi nanda tidak menyangka, jika nimas adalah seorang putri raja?."


"Nama saya bahuwirya agniasari ariani. Dan ini yunda saya bahuwirya andhini andita."


"Jadi nanda putri adalah anak dari mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala?."


"Kami memang putri dari ayahanda kawiswara arya ragnala paman prabu."


"Waah, aku tidak menyangka akan bertemu langsung dengan kalian."


"Jadi paman prabu mengenali ayahanda prabu?."


"Aku adalah sahabat dekat kanda prabu kawiswara arya ragnala. Sayang sekali, saat kanda prabu tiada. Aku tidak bisa hadir melihat pemakamannya."


"Bagaimana kita mencari tempat yang enak untuk berbincang-bincang ayahanda. Tidak enak berbicara sambil berdiri, apalagi bersama dua orang putri raja yang terhormat."


Mereka tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Rajaswa Pranawa.


"Mari paman prabu. Kita cari tempat duduk yang enak untuk berbincang-bincang."


"Mari paman prabu."


Namun ketika mereka hendak duduk, mereka tidak sengaja berpas-pasan dengan Ratu Dewi Anindyaswari.


"Yunda dewi?. Benarkah ini yunda dewi?."


"Dinda prabu nitisara pranawa?."


Sepertinya keduanya juga saling mengenal satu sama lain. Tentunya ini adalah takdir yang tidak kebetulan bukan?.


"Ibunda mengenali paman prabu?."


"Ibunda memang mengenali dinda prabu. Karena dulu, waktu kalian masih kecil, dinda prabu sering berkunjung ke istana. Kami malah menjodohkan kalian, hanya saja memang kalian belum bertemu sebelumnya."


"Dijodohkan?."


Tentunya Putri Agniasari Ariani, dan Raden Rajaswa Pranawa terkejut. Mereka sama sekali tidak mengetahui masalah ini.

__ADS_1


"Bffhh." Putri Andhini Andita malah tertawa melihat wajah malu-malu keduanya.


"Kenapa yunda malah tertawa?. Memangnya apa yang lucu dari pembicaraan ini yunda?."


"Apakah kau tidak menyadarinya rayi. Bahwa ini adalah takdir yang telah digariskan dewata yang agung."


"Apa maksud yunda."


"Ayolah rayi. Masa kau belum mengerti juga dengan apa yundamu katakan?."


Tiba-tiba saja, kedua pipinya memerah merona, ia menyadari dari perkataan mereka tadi.


"Kenapa memangnya nak?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit penasaran.


"Begini ibunda. Jika memang rayi agniasari akan dijodohkan dengan raden rajasawa pranawa, maka tidak perlu kenalan terlalu lama ibunda."


Prabu Nitisara Pranawa, dan Ratu Dewi Anindyaswari belum berkomentar, mereka menunggu penjelasan dari Putri Andhini Andita.


"Ternyata mereka berdua telah saling mengenal satu sama lain saat melakukan pengembaraan. Daan saat ini mereka bertemu di sini. Bukankah itu takdir ibunda. Takdir untuk hidup bersama, seperti raka hadyan hastanta, juga nyai bestari dhatu."


"Yu-yunda jangan berkata yang tidak-tidak. Kami hanya kenalan biasa."


"Be-benar, kami tidak terlalu dekat."


Tingkah mereka yang malu-malu itu, membuat Prabu Nitisara Pranawa, Ratu Dewi Anindyaswari, dan Putri Andhini Andita tertawa geli. Mereka seperti memiliki benang takdir, yang telah menyatukan keduanya.


"Sebagai seorang ayah, rasanya memang sangat berat untuk melepaskan kepergian putrinya. Apalagi setelah sekian lama tidak bertemu."


"Maafkan raka saya, yang tidak ingin berlama-lama memberikan harapan kasih sayang pada seorang wanita. Karena itulah saya menyarankan untuk menikah, karena itu akan lebih baik. Dari pada mengumbar cinta, setelah bosan, akan meninggalkan luka."


"Nanda prabu benar. Memang, penyebab putriku pergi dari istana, karena rasa sakit hati ditinggalkan kekasihnya." Prabu Kawanda Labdagati sangat mengingat dengan jelas, bagaimana anaknya saat itu. "Karena tidak sanggup untuk mengingat kenangan pahit itu, ia memutuskan untuk pergi dari istana. Dan siapa sangka, ketika ia kembali, ia akan pergi lagi dari istana ini."


"Kehidupan ini tidak ada bisa menebaknya paman prabu. Kita hanya berjalan sesuai dengan garis nasib, yang telah ditulis oleh Allah SWT, sejak kita terlahir di dunia ini."


"Ya, nanda prabu benar. Tapi aku hanya tidak menyangka, akan berhubungan baik dengan keluarga kerajaan istana suka damai. Rasanya aku sedang bermimpi panjang."


"Semoga saja kita bisa terus berhubungan baik paman. Jika diperbolehkan, nanda ingin belajar lebih banyak lagi, tentang pemerintahan bersama paman prabu."


"Dengan senang hati aku akan berbagi pengalaman dengan nanda prabu. Jika aku berkunjung suatu hari nanti ke istana kerajaan suka damai, aku juga ingin melihat bagaimana negeri yang nanda pimpin."


"Dengan senang hati juga, nanda menunggu kedatangan paman prabu ke istana kerajaan suka damai. Semoga saja paman prabu kerasan berada di istana suka damai."


Kembali Pada Putri Agniasari Ariani, Putri Andhini Andita, Raden Rajaswa Pranawa. Mereka sedang berbincang-bincang. Sementara itu, Ratu Dewi Anindyaswari dan Prabu Nitisara Pranawa sedang berbincang-bincang di tempat yang tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Jadi dinda rantika permasutri telah tiada karena sakit?."


"Ya, setelah kami kembali dari kerajaan suka damai. Dinda rantika mulai sakit-sakitan. Menurut dukun yang mengobati, dinda terkena santet oleh seseorang yang dendam pada dinda rantika."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh tega sekali mereka dinda prabu. Mengapa mereka mengincar dinda rantika?. Apa salah dinda rantika padanya?."


Prabu Nitisara Pranawa menghela nafasnya dengan pelan. "Katanya, karena dendam pada dinda rantika. Karena aku memilih dinda rantika darinya. Rasanya sangat sedih yunda ratu."


"Tentunya aku juga merasakan kesedihan yang dinda prabu rasakan. Karena aku juga kehilangan kanda prabu."


"Maaf, karena aku tidak bisa datang, meskipun kabar duka-."


"Tidak apa-apa dinda prabu. Tapi kita tidak boleh larut dalam kesedihan, karena masih ada yang harus kita perhatikan."


"Ya, yunda benar. Rasanya aku merasa bersalah pada putraku. Karena aku tidak memperhatikannya, ia mengembara. Jarang pulang ke istana. Mengikuti kata hatinya."


"Putriku agniasari ariani juga suka mengembara. Katanya pikirannya lebih tenang saat mengembara." Ia memperhatikan anaknya yang sedang berbincang-bincang dengan Putri Andhini Andita, dan Raden Rajaswa Pranawa. "Tapi siapa sangka, malah bertemu dengan putra dinda prabu. Aku rasa mereka memang berjodoh."


"Semoga saja yunda dewi. Tapi aku juga tidak menyangka mereka bertemu di luar. Walaupun dulu kita melarang mereka bertemu."


"Ya, dinda prabu benar. Kanda prabu yang dulunya melarang, supaya mereka tidak bertemu."


Mereka berbincang banyak hal. Dari masa lalu hingga mereka berpisah.


"Semoga nanti kita bertemu lagi nimas."


"Semoga saja,,, aku harap kita bisa melakukan pengembaraan bersama lagi."


"Kalau begitu kami pamit dulu yunda dewi. Lain kali, kami akan berkunjung ke istana suka damai."


"Berhati-hatilah dinda prabu. Juga nanda rajaswa. Nanda bisa menemui nimas agniasari ariani di istana kerajaan suka damai."


"Terima kasih gusti ratu. Jika memang ayahanda prabu akan berkunjung ke istana suka damai, nanti nanda akan juga ikut."


"Kami akan menunggu kedatangan paman prabu juga raden. Kami juga akan kembali ke istana suka damai, setelah acara ini selesai."


"Kalau begitu kami pamit dulu yunda ratu. Sampurasun."


"Rampes."


"Aku pamit dulu nimas. Sampurasun."


"Rampes."

__ADS_1


Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani melihat kepergian Prabu Nitisara Pranawa dan Rajaswa Prabawa. Apakah mereka akan bertemu lagi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya.


...***...


__ADS_2