RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
HATI MENCINTAI


__ADS_3

...***...


Kembali ke masa ini.


Putri Andhini Andita serta rombongan Prabu Guntur Herdian telah sampai di Istana Kerajaan Suka Damai. Mereka segera masuk ke istana.


Hanya di sambut emban, dan beberapa Prajurit. Karena keadaan Istana yang sedang kosong?.


"Mana jaya satria?. Apa yang terjadi padanya bibik emban." Putri Andhini Andita ingin mengetahui keberadaan Jaya Satria.


"Mohon ampun gusti putri. Pendekar Jaya Satria saat ini berada di ruang pengobatan. Karena keadaannya yang terluka parah." Jawab salah satu emban.


Putri Andhini Andita segera menuju ruang pengobatan. Ia ingin melihat keadaannya.


"Mohon maaf gusti prabu. Keadaan istana saat ini sedang kosong. Karena kami menghadiri acara lamaran ke kerajaan angin selatan." Putri Agniasari Ariani menjelaskan pada Prabu Guntur Herdian keadaan Istana saat ini.


"Jadi begitu?. Artinya saat ini kami datang diwaktu yang tidak tepat. Maafkan kami nimas." Prabu Guntur Herdian merasa bersalah.


"Tidak apa-apa gusti prabu. Jika gusti prabu berkenan menunggu. IsnyaAllah rayi prabu akan kembali dalam beberapa hari lagi." Putri Agniasari Ariani mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi tamu yang tersedia di dalam istana.


"Bagaimana kanda?. Apakah kita kembali saja?. Rasanya tidak baik berkunjung di saat tuan rumahnya tidak ada." Ratu Cahya Bhanurasmi merasa tidak enak.


"Mungkin kami akan kembali lagi, kami hanya kebetulan melewati perbatasan kerajaan suka damai." Ucap Prabu Guntur Herdian. "Kami baru kembali ke kerajaan rupat utara. Kami menerima undangan jamuan pernikahan di sana." Lanjut sang prabu dengan senyuman kecil.


"Sekali lagi maafkan saya gusti prabu. Karena kami belum bisa menerima tamu untuk saat ini." Putri Agniasari Ariani merasa tidak enak. Apalagi ia tidak jamin mereka akan menunggu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nimas." Prabu Guntur Herdian mencoba untuk memahami situasi yang terjadi di Istana Kerajaan Suka Damai saat ini.


Mari kita lihat Putri Andhini Andita yang menemui Jaya Satria yang berada di ruang pengobatan.


"Jaya satria." Putri Andhini Andita segera mendekati Jaya Satria. "Jaya satria, kau baik-baik saja?." Putri Andhini Andita begitu perhatian terhadap Jaya Satria.


"Hamba tidak apa-apa gusti putri. Sungguh hamba sudah baikan." Jaya satria meyakinkan Putri Andhini Andita bahwa ia baik-baik saja.


"Kami semua mengkhawatirkan dirimu jaya satria. Karena itulah aku segera kembali ke sini." Putri Andhini Andita merasa bersyukur karena keadaannya tidak parah.


"Maaf, karena telah membuat gusti putri khawatir." Jaya Satria memberi hormat pada Putri Andhini Andita.


"Dengan melihatmu baik-baik saja seperti ini, sudah cukup bagiku jaya satria." Putri Andhini Andita tersenyum lembut. Ia mengusap pelan kepala Jaya Satria dengan sayang.


Sementara itu, Putri Cahya Candrakanti merasa iri dengan kedekatan putri Andhini Andita dengan Jaya Satria.


"Ya Allah. Perasaan hamba tidak enak." Dalam hati Jaya Satria seakan menangkap, akan ada api percikan diantara kedua putri kerajaan besar.


"Aku ini seorang putri raja. Yang sangat dekat dengan abdi istana. Jadi tentunya aku harus tahu, apa saja yang akan terjadi pada abdinya." Jawab Putri Andhini Andita dengan perasaan bangga.


"Jadi kau hanya menganggap jaya satria sebagai abdi saja?." Putri Cahya Candrakanti ingin mengetahui hubungan kedekatan mereka.


Putri Andhini Andita tersenyum lebar. Ia mendekati Putri Cahya Candrakanti, dan berbisik. "Ini bukan masalah abdi atau tidak. Tapi ini masalah hubungan. Ikatan yang terjalin antara aku dan jaya satria yang telah menyatu sejak lama. Bahkan ketika kami lahir. Kami akan terus terhubung, meskipun jarak memisahkan kami. Ingat itu baik-baik, tuan putri cahya candrakanti." Ucapnya dengan pelan.


Setelah itu ia kembali mundur beberapa langkah. Mendekati Jaya Satria, dan memperhatikan Jaya Satria.

__ADS_1


Sementara itu, Putri Cahya Candrakanti tidak menyangka akan mendengarkan bisikan yang entah mengapa membuat dadanya terasa sesak. Artinya putri Andhini Andita menyadari, jika dirinya menyukai Jaya Satria?. Apakah terlihat jelas Dimata Putri Andhini Andita, sehingga ia berkata seperti itu padanya?.


Seakan-akan ia tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan cintanya Jaya Satria?. "Apa yang harus hamba lakukan ya Allah." Dalam hatinya merasa sedih, apalagi melihat bagaimana perlakuan istimewa Putri Andhini Andita terhadap Jaya Satria.


"Apakah aku harus menyerah dengan perasaan yang aku miliki terhadap Jaya satria?." Dalam hatinya ingin mengatakan jika ia sangat menyukai Jaya Satria, sejak pertama kali ia bertemu dengan Jaya Satria. Meskipun ia tidak melihat wajah pemuda itu bagaimana, namun itu cukup membuatnya merasa tidak nyaman. Hari-harinya dipenuhi oleh Jaya Satria.


Apakah ia akan menyerah begitu saja pada perasaannya hanya karena Putri Andhini Andita yang berkata seperti itu padanya?.


"Tidak. Aku tidak akan menyerah." Ia telah membulatkan tekadnya. Jika ia datang ke sini, bukan hanya sekedar melihat Jaya Satria saja. Namun ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada pemuda itu. Dan ia tidak bisa menahan perasaannya lagi.


"Jaya satria." Putri Cahya Candrakanti menyebut nama itu dengan mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki.


Tentunya Jaya Satria dan Putri Andhini Andita melihat ke arahnya. Mereka melihat raut wajah tertahan, seperti ingin mengatakan sesuatu namun hatinya sangat berat.


"Semoga kau cepat sembuh. Nanti saya akan kembali lagi." Ternyata hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Perasaan yang ingin ia sampaikan tertahan di tenggorokannya.


Ia tidak berani untuk mengatakan jika ia menyukai Jaya Satria. "Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Setalah itu ia pergi meninggalkan ruang pengobatan. Ia tidak bisa berlama-lama berada di sana. Karena ia tidak tahan lagi.


Sementara itu, Jaya Satria dan Putri Andhini Andita?.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Namun entah mengapa, ia merasakan jika Putri Cahya Candrakanti sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Hanya perasaannya saja atau memang ia menangkap ada pancaran kecemburuan ketika Putri Andhini Andita memperhatikan dirinya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Jangan sampai ada perasaan seperti itu." Jaya Satria tidak bisa membayangkan, jika ada perasaan ikatan rasa asing yang menghambat tali persaudaraan diantara mereka nantinya.


"Aku tahu kau menyukai jaya satria." Dalam hati Putri Andhini Andita. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan jaya satria dengan mudahnya. Bahkan sampai sekarang, aku pun tidak bisa mendapatkannya. Jadi jangan salahkan aku jika kau harus bersaing dulu denganku, jika kau ingin mendapatkannya." Dalam hatinya tidak akan membiarkan Jaya Satria menerima wanita lain selain dirinya.

__ADS_1


Bagaimana asmara yang akan terjalin di antara mereka?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2