RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

...****...


Di ruang pribadi Raja. Prabu Kawiswara Arya Ragnala masih memikirkan apa yang dilakukan oleh putranya Raden Cakara Casugraha.


"Putraku cakara casugraha memang orang yang pemarah. Namun jika menyangkut kakaknya, ia selalu melindungi kakaknya." Dalam hati sang Prabu dapat melihat bagaimana kasih sayang yang ditujukan putranya saat itu.


Tindakannya yang menutup telinga kakaknya, yang seakan tidak memperbolehkan kakaknya mendengarkan perkataan yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Ayahanda. Apa yang harus nanda lakukan dalam situasi seperti ini?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat bimbang.


"Kau harus bisa, melihat dengan mata batin mu putraku." Guindara Arya Jiwatrisna atau nama aslinya Bahuwirya Manggala Mahatma. Ayahanda dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala seakan sedang hadir, mendengarkan panggilan dari anaknya.


"Nanda cakara casugraha, hanya membela haknya. Dia selalu memperhatikan saudarinya, serta ibundanya. Tapi nanda harus memberikan hukuman yang seimbang, agar tidak terjadi ketimpangan ketika mereka menerima keputusan nanda."


"Nanda akan berusaha sebaik-baiknya ayahanda prabu. Semoga saja mereka semua tidak kecewa dengan apa yang telah nanda putuskan."


"Ayahanda akan selalu bersamamu putraku. Tetaplah menjadi seorang raja serta ayah yang baik untuk anak-anaknya."


"Terima kasih ayahanda prabu." Prabu Kawiswara Arya memberi hormat pada ayahandanya. Setelah itu Prabu Guindara Arya Jiwatrisna menghilang dari sana.


"Semoga saja aku bisa memberikan keputusan yang tepat." Dalam hatinya merasa gundah yang membuatnya hampir tidak bisa membuat keputusan.


"Maaf ayahanda prabu. Apakah nanda boleh masuk?."


"Masuklah putraku. Ayahanda telah menunggu nak."


Raden Cakara Casugraha memasuki ruangan itu.


"Hormat nanda, ayahanda prabu."


"Duduklah nak."


"Terima kasih ayahanda prabu."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap anaknya dengan tatapan lembut. "Sepertinya nanda telah mengendalikan amarah nanda."


"Hamba akan berusaha untuk mengendalikan amarah nanda, jika kemarahan itu tidak dipancing oleh ucapan mereka ayahanda prabu."


"Nanda harus tetap mengendalikan amarahnya. Nanda tetap bersalah, karena nanda telah menggunakan kekerasan pada seorang wanita, jika memang nanda menghormati ibunda ratu dewi anindyaswari."


"Ampuni nanda, ayahanda. Jika nanda telah berbuat salah dengan menyerang ibunda ratu ardiningrum bintari. Itu karena ucapannya yang menyakitkan tentang ibunda. Bahkan mereka berencana ingin menyingkirkan ibunda dari istana ini." Hatinya sangat bergemuruh luar biasa. "Nanda tidak terima, karena mereka memberikan kesan buruk pada ibunda ratu. Nanda hanya membela hak ibunda, serta yunda agniasari ariani."

__ADS_1


"Ayahanda mengerti dengan perasaanmu nak. Ayahanda hanya ingin nanda tetap tenang. Jangan sampai menyakiti orang lain, karena nanda mengikuti amarah yang membuncah di dalam hati nanda."


"Mohon ampun ayahanda prabu. Memang sulit bagi nanda untuk mengendalikan amarah tersebut. Mereka benar-benar ingin menyingkirkan nanda dari istana ini. Karena mereka menganggap, nanda hanyalah penghalang bagi mereka untuk mendapatkan hak waris tahta kerajaan ini ayahanda."


Ternyata apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha, sesuai dengan laporan telik sandi yang ia tugaskan secara diam-diam untuk mencaritahu, apa saja yang telah direncanakan oleh mereka.


"Ayahanda hanya berharap, jika nanda mampu mengendalikan diri nanda. Ayahanda sangat sedih, jika nanda tidak mampu mengatasi komplik batin yang nanda rasakan."


"Sekali lagi maafkan nanda. Sungguh!. Apa yang nanda lakukan demi membela ibunda ratu dewi anindyaswari, yang sama sekali tidak bersalah ayahanda."


"Tetaplah jaga ibundamu, juga yundamu. Ayahanda akan selalu bersamamu, putraku."


"Terima kasih ayahanda. Sekali lagi ampuni kesalahan nanda."


"Kalau begitu, mari kita temui ibunda ratu ardiningrum bintari. Nanda harus meminta maaf, karena nanda telah memukul ibunda ratu."


"Baiklah ayahanda prabu."


"Mari nak."


Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruang pribadi Raja. Mereka menuju kaputren, untuk meminta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.


Begitu sampai di Kaputren.


"Mengapa kanda prabu membawa orang jahat itu. Dia hampir saja membunuh dinda." Ratu Ardiningrum Bintari terlihat sedikit takut.


"Benar ayahanda prabu. Mengapa ayahanda membawanya ke sini. Nanti dia bisa melukai ibunda ratu, juga kami." Putri Ambarsari menatap tidak suka pada Raden Cakara Casugraha.


"Kanda prabu. Apa tujuan kanda membawanya ke sini?. Apakah kanda prabu tidak kasihan pada kami yang selalu diancam oleh nanda cakara casugraha." Ratu Gendhis Cendrawati menatap suaminya dengan tatapan penuh iba.


"Kalian semua tenanglah. Nanda cakara casugraha datang ke sini untuk meminta maaf pada dinda ardiningrum bintari."


"Meminta maaf?."


Mereka semua tidak percaya, jika kedatangan Raden Cakara Casugraha meminta maaf pada Ratu Ardiningrum Bintari.


"Kali ini sandiwara apa yang kau mainkan rayi." Putri Andhini Andita menyipitkan matanya, ia sangat curiga dengan apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hal yang mustahil kau lakukan cakara casugraha." Ratu Ardiningrum Bintari tidak percaya dengan itu.


"Ibunda ratu benar. Rasanya mustahil kau meminta maaf pada ibundaku." Raden Gentala Giandra tidak percaya sama sekali.

__ADS_1


"Kau pasti merencanakan sesuatu. Kau ingin menutupi kesalahan yang telah kau perbuat bukan?." Raden Ganendra Garjitha juga tidak percaya.


"Apa tujuanmu sebenarnya cakara casugraha. Rasanya mustahil kau meminta maaf pada ibunda ratu." Ratu Gendhis Cendrawati tidak begitu mudah mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Mohon ampun ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada ayahandanya. "Lihatlah ayahanda prabu. Siapa yang berpikiran buruk terhadap nanda. Niat baik Nanda malah disambut seperti ini oleh mereka semua."


Mereka semua terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Mereka telah kelepasan dalam bertindak, karena mereka sangat tidak percaya jika Raden Cakara Casugraha yang ganas, meminta maaf pada mereka.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghela nafasnya dengan berat. Memang sulit dalam keadaan seperti ini ia bertindak. Karena memang itu kenyataan yang ia lihat. Anaknya telah berbuat baik meminta maaf, namun mereka malah berpikiran buruk padanya?.


"Bagaimana dinda?. Apakah dinda akan memaafkan putra kita?. Maafkanlah kesalahannya."


"Dinda mau saja memaafkannya kanda prabu. Tetapi dinda akan menghukumnya terlebih dahulu."


Raden Cakara Casugraha dan Prabu Kawiswara Arya Ragnala terkejut mendengarkan ucapan itu.


"Masalah hukuman, kanda telah menetapkannya dinda. Apakah dinda ingin membuat masalah baru?."


"Dinda tidak berniat membuat masalah baru kanda. Dinda sakit hati karena nanda cakara casugraha telah berniat membunuh dinda."


"Lalu apa yang ingin dinda lakukan terhadap putra kita cakara casugraha?."


"Dinda akan memukul tangannya yang kurang ajar itu dengan bambu, agar dia jera. Tangannya yang lancang itu, hampir saja membunuh dinda."


"Mohon ampun ayahanda prabu, nanda menolak hukuman itu."


"Kau ingin dimaafkan atau tidak nanda cakara casugraha!." Ratu Ardiningrum Bintari benar-benar marah.


"Jika kau memang ingin dimaafkan, maka turuti apa yang diinginkan ibunda ratu sebagai hukuman mu rayi cakara casugraha." Raden Ganendra Garjitha menyeringai aneh.


"Ya, jika kau memang berniat baik, maka terima saja hukuman itu."


"Atau kau hanya berpura-pura saja meminta maaf, dan setelah itu kami melupakan apa yang kau lakukan. Itu bukan hukuman namanya rayi." Raden Gentala Giandra ikut bersuara.


"Kau harus dihukum dulu seperti yang diinginkan ibunda ratu, agar kau mengerti, bahwa tanganmu itu sangat berbahaya. Tanganmu itu benar-benar hampir membunuh kami semua rayi cakara casugraha." Raden Hadyan Hastanta juga ikut bersuara.


"Kau terima hukuman itu, atau kau selamanya tidak akan mendapatkan maaf dari ibunda ratu." Bahkan Putri Andhini Andita juga?.


"Pikirkan baik-baik rayi. Jika kau menolak, itu artinya kau memang ingin bermusuhan terus dengan kami." Putri Ambarsari berkata seperti itu.


"Kalau begitu jangan beri maaf yunda. Enak saja dia meminta maaf dengan mudahnya." Ratu Gendhis Cendrawati merasa geram melihat Raden Cakara Casugraha.

__ADS_1


Apa tanggapan sang Prabu, juga Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2