RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK


__ADS_3

...****...


Di Istana kerajaan Mekar Jaya.


Setelah Prabu Rahwana Bimantara dimakamkan, para petinggi Istana berkumpul di balai pertemuan. Mereka tidak menyangka sama sekali jika, Prabu Rahwana Bimantara dibunuh oleh anaknya sendiri, Ratu Ardiningrum Bintari.


"Saya baru saja kembali dari desa lindung sejati, karena saya telah menemukan obat untuk menyembuhkan sakit gusti prabu." Patih Arda Turan merasa sedih. Ia tidak menyangka akan terjadi hal yang mengerikan di Istana ini selama ia pergi.


"Maafkan saya paman patih, saya tidak bisa menjaga kakek prabu. Saya tidak bisa mencegah kejadian itu, sehingga kita semua kehilangan kakek prabu."


"Nimas tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Saya juga merasa bersalah, serta merasa tidak berguna sama sekali menjadi seorang patih, yang dipercayai oleh mendiang gusti prabu."


Mereka semua dapat merasakan kesedihan atas kepergian Prabu Rahwana Bimantara. Apa yang akan mereka lakukan dengan kerajaan ini?.


"Karena tahta kosong, siapa yang akan kita angkat untuk menjadi raja?. Sementara itu, satu-satunya keturunan sang prabu hanyalah gusti putri ardiningrum bintari. Namun beliau saat ini mendekam di penjara karena kesalahan fatal yang ia lakukan."


"Benar. Kita tidak bisa sembarangan menggantinya."


Suasana sedikit ribut karena mereka saling membisikkan satu sama lain. Pikiran mereka jadi kacau karena tidak tahu siapa yang akan menjadi Raja berikutnya.


"Mohon maaf semuanya. Ada hal yang ingin saya sampaikan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akhirnya bersuara, karena ia merasa pusing melihat keributan mereka.


"Mohon maaf sebelumnya, siapakah nanda?. Mengapa nanda ada di istana ini?. Apa hubungan dengan mendiang gusti prabu?."


"Apakah kalian kenalan gusti prabu?."


Mereka bertanya-tanya karena dari tadi penasaran dengan kehadiran Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta.


"Maaf semuanya. Mereka berdua adalah adik saya, namun beda ibu." Putri Ambarsari segera memperkenalkan siapa yang duduk diantaranya. "Di sebelah kiri saya, namanya raden hadyan hastanta. Rayi saya dari ibunda ratu gendhis cendrawati."


Mereka semua memperhatikan Putri Ambarsari memperkenalkan keluarganya dari ibu yang berbeda?. Mereka hanya menyimak saja, belum menanggapi, atau berkomentar tentang siapa Raden Hadyan Hastanta. Itu artinya masih ada hubungan kekeluargaan diantara mereka.


"Sementara di sebelah kanan saya, juga rayi saya dari ibunda ratu dewi anindyaswari." Ia memberi jeda dari ucapannya. "Namun beliau saat ini sedang menduduki tahta kerajaan suka damai, beliau adalah raja dari kerjaan suka damai."

__ADS_1


Tentu saja mereka semua terkejut tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putri Ambarsari.


"Kakek prabu yang meminta rayi prabu untuk datang ke istana ini, karena kakek prabu sangat merindukan rayi prabu."


Jadi karena itulah asalan raja muda itu berada di sini?. Namun siapa sangka jika anak muda itu adalah seorang raja?. Tapi pakaian yang ia kenakan sangat sederhana sekali. Akan tetapi masih memiliki kesan mewah, karena ketampanan yang ia miliki. Jadi, tidak ada yang menyangka jika ia adalah seorang raja.


"Lalu apa yang hendak gusti prabu sampaikan pada kami?."


"Tapi sebelum itu maafkan kami, karena telah berpikiran buruk tentang gusti prabu."


"Tidak apa-apa, saya juga minta maaf karena telah lancang." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum kecil menatap mereka semua. "Sebelum kakek prabu meninggal, kakek prabu berpesan, untuk mengangkat yunda ambarsari untuk menjadi ratu di istana ini."


Lagi, mereka agak ribut setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Apakah gusti prabu tidak salah dalam berkata?. Apakah benar gusti prabu rahwana bimantara berkata seperti itu?."


"Benar, bagaimana mungkin istana kerajaan ini akan dipimpin oleh seorang wanita?. Kerajaan ini akan melemah jika dipimpin oleh seorang wanita."


"Ya, itu benar. Rasanya sangat mustahil jika sebuah kerajaan dipimpin oleh seorang wanita."


Mereka semua menganggap remeh kaum wanita?. Apakah mereka tidak bisa mendengarkan apa yang akan disampaikan?.


"Mohon maaf semuanya, jika diperkenankan. Bolehkah saya berbicara?."


Mereka semua terdiam sejenak, mencoba untuk menenangkan diri setelah berdebat masalah siapa yang akan menjadi raja di kerajaan ini.


"Silahkan gusti prabu."


"Berhati-hatilah dalam berkata rayi prabu. Karena tidak semua dari mereka sepertinya mau mendengarkan apa yang akan rayi katakan." Bisik Raden Hadyan Hastanta, agar adiknya berhati-hati menyampaikan sesuatu pada mereka.


"Baiklah raka."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap mereka dengan senyuman ramah. "Dalam Islam, tidak ada diskriminasi antara kaum wanita dan kaum laki-laki dalam memimpin." Dengan pelan ia mencoba mengatakannya. "Bahkan dari kerajaan majapahit, setelah wafatnya gusti prabu wijaya, gusti prabu jayanagara atau Jayanegara, kerajaan majapahit dipimpin oleh seorang wanita. Yaitunya gusti ratu trubhuana wijayatubggadewi. Beliau adalah wanita yang sanggup memimpin kerajaan besar, kerajaan majapahit."

__ADS_1


Mereka semua memang pernah mendengar tentang kisah Kerajaan Majapahit, namun siapa sangka raja muda ini juga mengetahuinya?.


"Gusti ratu tribhuwana wijayatunggadewi dengan gelar abhisekanya ialah Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. Mampu menjalankan roda tahta kerajaan dengan baik, bahkan kerajaannya makmur, dan semuanya berjalan dengan harapan rakyatnya." Senyuman sang prabu terlihat begitu meyakinkan mereka. "Jadi, saya yakin yunda ambarsari mampu melakukannya dengan baik. Tentunya dibawah bimbingan petinggi istana yang akan memberikan masukan-masukan yang baik, sehingga istana ini kembali sesuai dengan harapan kakek prabu."


Mereka semuanya mulai tenang, benar yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Saya juga percaya dengan yunda saya. Karena yunda saya adalah seorang wanita yang sangat kuat hati, kuat fisik. Jika tuan-tuan sekalian mengenali ayahanda saya, gusti prabu kawiswara arya ragnala. Pasti tuan-tuan sekalian tidak akan kecewa."


"Selain itu, bukti bahwa seorang keturunan bahuwirya tidak akan berkhianat, ialah pedang panggilan jiwa yang bersemayam di dalam tubuhnya. Pedan itu adalah simbol dari dirinya, dan jika ia berkhianat. Maka pedang panggilan jiwa akan memakan dirinya, menelan habis jiwanya."


"Lalu apakah kedua putra dari ratu ardiningrum bintari akan dimakan oleh pedang panggilan jiwa?."


"Ya, apakah mereka akan mati seperti itu?."


"Tidak. Mereka tidak akan mati seperti itu."


"Kenapa seperti itu?. Bukankah mereka keturunan langsung dari raja bahuwirya?."


"Ya, apakah ada perbedaan?."


"Orang-orang yang mampu menggenggam pedang panggilan jiwa, ialah orang yang berjuang dari hatinya demi orang-orang yang ia sayangi. Tanpa adanya perasaan benci, dendam, ataupun kemarahan yang merugikan diri sendiri, juga ambisi yang menyesatkan."


"Itu benar. Pedang panggilan jiwa adalah, pedang yang tidak bisa dipanggil begitu saja. Jadi hati yang tidak tentram, maka tidak akan pernah bisa menggunakannya."


"Karena mereka tidak bisa menggunakannya, jadi mereka tidak akan mati seperti itu. Hanya orang-orang yang berhasil menggunakan pedang itu, jika ia berkhianat, maka kematian mengenaskan yang akan mereka terima." Putri Ambarsari mengeluarkan pedang panggilan jiwa miliknya, yaitu pedang Batari Saka Raksa.


Mereka semua terkejut melihat pedang itu, meskipun bentuknya kecil namun pamornya luar biasa.


"Dari pedang ini, yunda saya telah menunjukkan bagaimana sifatnya yang bisa menjadi penyangga. Jadi, saya rasa yunda saya bisa menjadi tiang penyangga berdirinya kerajaan ini dengan baik."


"Saya sendiri yang akan menjamin, bahwa yunda saya bisa menjalani kerajaan ini dengan baik. Apalagi ini adalah permintaan dari kakek prabu."


Mereka semua mulai berdiskusi. Apakah mereka akan memberikan keputusan, jika Putri Ambarsari akan menjadi ratu di istana ini?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2