
...***...
Kedatangan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara disambut dengan baik oleh keluarga Istana. Mereka sama-sama rindu, karena telah lama tidak bertemu sejak sang Prabu telah sembuh, dan kedatangan Raden Rajaswa Pranawa. Akan tetapi, kali ini sepertinya Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara tidak datang sendirian. Sepertinya ada seorang laki-laki gagah yang datang bersamanya.
"Yunda ratu." Putri Andhini Andita langsung memeluk erat kakaknya itu. "Aku sangat merindukan yunda ratu." Putri Andhini Andita hampir saja menangis karena menahan perasaan rindunya pada kakaknya. Karena jarak yang memisahkan mereka sekarang.
"Aku juga sangar merindukanmu rayi." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara memeluk adiknya, ia juga sangat merindukan adiknya.
"Kami juga sangat merindukan yunda ratu. Yunda andhini andita, jangan lama-lama memeluk yunda ratu. Aku juga rindu pada yunda ratu." Putri Agniasari Ariani merasa cemburu dengan pelukan merek yang begitu hangat.
Mereka semua melihat ke arah Putri Agniasari Ariani yang terlihat sedang merajuk, namun mereka semua malah tertawa. Ada-ada saja tingkah laku mereka yang mengundang tawa.
"Kemarilah rayi. Saya juga sangat merindukan rayi." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan adiknya.
"Yunda ratu." Putri Agniasari Ariani memeluk kakaknya. Ia juga merindukan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Haduh, kalian ini ada-ada saja. Kasihan yunda ratu diperebutkan kalian berdua." Raden Hadyan Hastanta merasa simpati dengan kakaknya itu.
"Benar rayi andhini andita, rayi agniasari ariani. Jangan merepotkan yunda ratu." Putri Bestari Dhatu juga merasakan hal yang sama.
"Katakan saja jika yunda dan raka iri. Heh." Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani malah kompak berkata seperti itu. Membuat mereka semua tertawa melihat tingkah kedua kakak adik itu.
"Sepertinya nanda ratu datang bersama seseorang. Siapa nak?. Kenalkan pada kami semua." Ratu Gendhis Cendrawati tersenyum kecil menatap seorang pemuda yang ikut bersama dengan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Benar ibunda. Nanti nanda kenalkan pada ibunda, juga pada rayi semuanya." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara mengerti apa yang dimaksud oleh Ratu Gendhis Cendrawati.
Ratu Dewi Anindyaswari juga melihat ada orang baru yang ikut bersama Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara. "Baiklah nak. Mari kita duduk, pasti nanda sangat lelah. Setelah melakukan perjalanan jauh. Mari masuk raden." Ratu Dewi Anindyaswari mengajak Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara, serta tamu yang ikut untuk masuk.
"Mari masuk semuanya." Ratu Gendhis Cendrawati mengajak mereka semua untuk masuk. "Mari kita duduk bersama menjelang magrib. Nanti kita sama-sama melakukan sholat tarawih." Lanjut Ratu Gendhis Cendrawati.
"Jadi ibunda ratu gendhis telah memeluk agama islam?." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara penasaran. Apakah Ratu Gendhis Cendrawati benar-benar telah masuk agama Islam?.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, ibunda telah masuk agama islam nak." Balas Ratu Gendhis Cendrawati dengan senyuman lembut.
"Syukurlah kalau begitu." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara sangat senang mendengarnya.
Setelah itu mereka masuk ke dalam istana. Hal menarik apa yang akan terjadi?. Simak terus ceritanya.
...***...
Malam telah datang, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah menyelesaikan semedinya. Dan saat ini ia berada di biliknya sambil berkemas. Mengenakan jubah kebesarannya, karena ada dua orang pangeran dari kerajaan Buana Dewa yang ingin bertemu dengannya. Setelah berpakaian rapi, sang Prabu menuju ruang utama istana. Karena kedua pangeran tersebut telah menunggu kedatangannya. Namun di sana sepertinya ada Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara, dan juga seseorang yang masih belum memperkenalkan namanya.
"Yunda ratu. Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaan yunda ratu. Semoga yunda ratu baik-baik saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap kakak perempuannya.
__ADS_1
"Saya baik-baik rayi. Semuanya berjalan dengan baik. Paman Patih telah mengajari saya dengan baik." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara senang karena adiknya bertanya seperti itu.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin kalau begitu yunda ratu. Maaf, jika saya tidak bisa amanah atas pesan mendiang kakek prabu." Ada perasaan bersalah dari dalam dirinya, karena tidak bisa membantu kakaknya Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara untuk menjalankan roda pemerintahan Kerajaan Mekar Jaya.
"Tidak apa-apa rayi prabu. Istana kerajaan ini juga sangat memerlukan dirimu. Mereka semua juga memakluminya. Jadi jangan sungkan seperti itu rayi prabu." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara hanya ingin adiknya tidak menanggung banyak beban.
"Terima kasih yunda ratu. Terima kasih atas pengertian dari yunda ratu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat tersenyum lega mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Sama-sama rayi prabu." Balas Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
Setelah itu mata sang Prabu tertuju pada dua orang tamu, yang katanya menunggunya dari siang. Tamu yang katanya hampir saja berdebat dengan Putri Andhini Andita. Apakah mereka tamunya itu?.
"Apakah raden berdua yang ingin bertemu dengan saya?." Kali Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya pada Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa.
"Hormat kami gusti prabu." Keduanya berdiri, dan memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Silahkan duduk raden." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Terima kasih gusti prabu." Balas keduanya.
"Apa gerangan yang membuat raden berdua datang jauh dari kerajaan buana dewa menuju istana kerajaan suka damai. Tentunya ada hal penting yang ingin raden berdua sampaikan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana penasaran dengan tujuan mereka mencari dirinya.
"Hamba gusti prabu." Keduanya memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun matanya Raden Jatiya Dewa melirik ke arah Putri Andhini Andita.
"Bencana apa yang telah terjadi di sana?. Sehingga datang ke sini?." Tentunya menjadi tanda tanya bagi sang prabu.
"Mohon ampun gusti prabu. Negeri kami, tepatnya di desa mata air dewa. Di sana terdapat sumber mata air dewa, namun tempat itu sekarang telah menjadi tempat yang paling mengerikan gusti prabu." Jawab Raden Jatiya Dewa.
Sang Prabu belum menanggapinya, karena ia masih mau mendengarkan lanjutan dari cerita mereka. Begitu juga dengan Ratu Dewi Anindyaswari dan yang lainnya.
"Sumber mata air dewa, sekarang dihuni oleh sosok merah yang sangat mengerikan. Sosok merah yang telah banyak memakan manusia untuk menambah kekuatannya." Lanjut Raden Jatiya Dewa.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Itu sangat berbahaya. Tapi kenapa tidak segera diatasi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit heran mengapa tidak diatasi jika memang berbahaya?.
"Kami telah mencobanya gusti prabu. Namun semuanya gagal. Bahkan kami hampir saja menjadi korban, dan banyak korban yang berjatuhan karena ingin menghentikan sosok merah itu. Apalagi karena diiming-imingi oleh hadiah yang besar jika ada yang bisa membasmi sosok jahat itu. Nyatanya masih saja gagal gusti prabu." Ada bentuk kekecewaan yang ia rasakan, namun itulah kenyatannya.
"Gagal?. Lalu apa hubungan kedatangan raden berdua ke sini?. Apakah minta bantuan dari kerajaan suka damai?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir saja tidak percaya dengan apa yang ia dengar, jika mereka semua tidak mampu mengatasi masalah itu?.
"Mohon ampun rayi prabu. Jika menyela pembicaraan. Mereka datang ke sini untuk meminta keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma." Putri Andhini Andita sudah gerah dengan pembicaraan mereka yang berbelit-belit. "Mereka tadi sempat memohon pada yunda, raka, serta rayi untuk bertemu denganmu. Memaksa untuk meminta keris pusaka kembar itu padamu rayi." Lanjut Putri Andhini Andita sambil menatap Raden Jatiya Dewa yang terlihat sangat gugup.
"Ah. Malah dia yang mengatakannya." Dalam hati Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa mulai panik.
"Meminta keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sedang berpikir.
__ADS_1
"I-i-iya gusti prabu." Raden Jatiya Dewa mendadak gugup karena pertanyaan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Heh!. Rasakan kau pembalasan dariku. Aku yakin rayi prabu tidak akan mudah memberikan pusaka itu pada kalian berdua." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa puasa karena bisa membalas dendam atas perbuatan Raden Jatiya Dewa padanya.
"Memang benar, keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma itu digunakan untuk menyegel setan dan sebangsanya. Namun saya tidak menduga, jika kalian bisa mengetahui keris kembar itu berada di tangan saya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa heran, bagaimana mungkin orang luar ada yang mengetahuinya?. "Katakan pada saya dari mana kau bisa mengetahui keris itu berada di tangan saya." Tatapan mata sang Prabu begitu menusuk, seakan ia ingin masuk ke alam sukma dan segera mengetahuinya.
"So-so-soal itu, hamba melakukan semedi gusti prabu." Entah mengapa, Raden Jatiya Dewa merasa gugup. Apalagi ditatap intimidasi oleh Putri Andhini Andita, bahkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga.
"Kau ini aneh sekali jatiya. Kau tadi berkata akan melakukan apapun untuk mendapatkan keris kembar itu. Tapi sekarang kau malah terkena penyakit gagap dadakan seperti ini. Dasar adik tidak berguna." Raden Antajaya Dewa menatap lelah adiknya. Dalam hatinya mengutuk sikap adiknya yang tidak bisa konsisten dengan apa yang dikatakan tadi.
"Dalam semedi, hamba mendapatkan petunjuk. Hanya dengan menggunakan keris kembar itu, roh jahat itu bisa diatasi gusti prabu. Karena itulah hamba mohon berikan keris kembar itu pada hamba gusti prabu." Raden Jatiya Dewa mencoba menekan perasaan gugupnya. Agar apa yang ia sampaikan dapat dimengerti oleh mereka semua.
Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Raden Jatiya Dewa. Ia benar-benar bersujud di hadapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, hanya untuk meminta keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma?.
"Ra-rasanya urat malu ku. Oh dewata yang agung, urat malu ku hampir saja putus. Melihat kelakuan adikku ini." Dalam hati Raden Antajaya Dewa ingin menangis melihat kelakuan adiknya.
"Bfhu sungguh sangat memalukan sekali orang ini." Putri Andhini Andita malah terlihat menahan tawanya.
Sementara yang lainnya malah tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Raden Jatiya Dewa. Seorang pangeran meminta sebuah benda pusaka dengan cara seperti itu?.
"Bangunlah raden. Tidak pantas raden bersujud dihadapan manusia. Hanya Allah SWT, tempat yang patut kita sembah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyuruh Raden Jatiya Dewa untuk bangun dan duduk ke tempat duduknya.
"Bagaimana pendapat yunda ratu?. Sebagai yunda, saya ingin mendengarkan tanggapan yunda ratu mengenai keris pusaka kembar yang diminta oleh raden jatiya dewa. Sebagai seroang ratu, benda pusaka itu untuk apa?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta pendapat kakaknya Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Menurut saya. Benda pusaka bagi seorang ratu atau raja, itu sebagai simbol kekuatan dari raja atau ratu. Maka benda pusaka tersebut tidak mudah diberikan kepada orang lain. Bahkan kepada saudaranya sendiri atau bahkan ibundanya jika tidak diturunkan oleh penerusnya. Mungkin begitu pendapat saya rayi prabu." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara memberikan jawaban yang dimengerti oleh mereka semua.
"Apakah raden bisa mendengarkan apa yang yunda ratu saya jelaskan?. Mungkin raden bisa memikirkannya. Meminta keris pusaka pada seorang raja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap Raden Jatiya Dewa.
"Tapi keris pusaka kembar itu sangat penting gusti prabu. Hamba mohon untuk memberikannya pada hamba." Sepertinya Raden Jatiya Dewa masih belum mengerti juga.
"Apa yang akan nanda lakukan. Jika ia masih ingin meminta keris pusaka kembar itu nak?. Meskipun ibunda belum melihat bagaimana bentuk keris itu." Ratu Dewi Anindyaswari merasa tidak nyaman sekali, jika ada seseorang yang terkesan memaksa anaknya.
"Bukankah keris pusaka kembar itu sangat penting bagi nanda, apa yang akan terjadi jika keris itu diberikan pada orang lain?." Ratu Gendhis Cendrawati juga tampak cemas.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum lembut menatap kedua ibundanya. "Ibunda tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Nanda akan memberikannya jika itu memang bisa mengambilnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana turun dari singgasananya, berjalan menuju ke arah Raden Jatiya Dewa, sambil mengeluarkan keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma.
Raden Jatiya Dewa berdiri, ia sangat senang ketika melihat kedua keris kembar itu. Sedangkan Putri Andhini Andita sama sekali tidak suka melihat itu.
"Kau lihat putri galak?. Adikmu akan memberikan keris kembar dengan suka rela." Dalam hati Raden Jatiya Dewa dengan penuh kemenangan melirik ke arah Putri Andhini Andita.
Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1