
...***...
Di kamar Putri Andhini Andita.
"Putriku, apa yang nanda putri rasakan sebenarnya pada jaya satria nak?." Sebagai seorang ibu, tentunya ia ingin tau apa yang dirasakan oleh putrinya. Ia ingin memastikan jika anaknya sedang jatuh cinta pada seorang laki-laki. "Apakah nanda putri menyukainya?." Raut wajah cemas seorang ibu yang melepaskan anaknya menuju dunia baru dalam hidupnya. Yaitunya masalah hati, masalah asmara yang akan dihadapinya nanti.
"Apakah ibunda akan marah? Jika nanda putri mengatakan iya?." Dengan takut-takut ia menjawabnya. Ia tidak berbohong masalah perasaannya terhadap Jaya Satria.
"Ibunda tidak marah nak." Ucapnya dengan nada lembut. "Tapi ibunda tidak mengerti bagaimana, bisa putri ibunda menyukai orang yang tidak pernah memperlihatkan wajahnya pada orang lain?."
"Maaf ibunda, mungkin wajah suatu hari bisa berubah, namun yang membuat aku menyukainya adalah kebaikan hatinya, ibunda."
"Ibunda tidak pernah melihat nanda putri bersamanya, bagaimana bisa nanda putri mengatakan jika dia adalah orang yang baik? Bagaimana jika dia adalah orang jahat?."
"Ibunda, tidak mungkin rayi prabu memiliki bawahan yang jahat." Jawabnya. "Meskipun kami jarang bertemu, entah mengapa hati nanda putri tertuju padanya ibunda." Entah kenapa ia seakan sedang menahan perasaan sakit.
"Jangan menyukai seseorang dari rasa penasaran anakku, suatu hari nanti engkau akan kecewa, jika mengetahui apa yang terjadi sebenarnya."
"Semoga saja tidak ibunda, semoga saja jaya satria benar-benar orang yang baik ibunda."
"Semoga saja putriku, semoga saja ia tidak mengecewakanmu suatu hari nanti." Hanya itu harapannya. "Ibunda hanya menginginkan kebahagiaanmu saja putriku."
Tentunya sebagai seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya, yang sedang merasakan kasmaran dengan orang yang sama sekali belum ia ketahui. Hatinya sangat berat untuk memberikan izin pada anaknya untuk melangkah lebih maju. Ia hanya tidak ingin anaknya merasakan pahitnya dunia percintaan itu.
...****...
Sementara itu di ruang pribadi Raja.
"Itulah kenapa hamba tidak bisa menampakkan diri di istana ini gusti prabu." Ia merasa resah dengan apa yang ia alami.
"Maafkan aku, mereka semua juga menunggu kedatangan mu jaya satria, aku juga tidak menduganya." Ia juga terkejut melihat kakaknya memeluk jaya Satria waktu itu. "Mereka semua sangat cemas ketika kau tidak kembali ke istana ini ketika kondisiku mengalami kebutaan."
"Hamba mohon maaf masalah itu, hamba juga tidak menduga itu akan terjadi."
"Semoga kau berhati-hati setelah ini, apalagi ada masalah lain yang harus kau selesaikan jaya satria."
"Rasanya memang seperti itu Gusti Prabu." Ia tampak menghela nafas. "Belum lagi gusti ratu, kelembutan dan kasih sayangnya, serta firasat yang ia rasakan tentang hamba, itu sangat membuat hati hamba semakin diluluh lantahkan."
"Jika masalah ibunda, aku juga tidak bisa menolaknya, sebab dulu aku juga mencoba untuk tetap bertahan sambil bersabar."
"Ya, gusti prabu benar itu sangat sulit, oh? Rasanya hamba ingin menangis." Ia menghela nafasnya, sentuhan kasih sayang yang sangat lembut yang ia rasakan, seakan mengobrak-abrik hatinya yang selama ini dipenuhi oleh gumpalan amarah.
"Baiklah, kita lupakan sejenak masalah lain, bagaimana dengan keris itu? Apakah kau mendapatkan keris itu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin melupakan sejenak masalah perasaan, dan ia ingin membahas masalah rencana lanjutan antara mereka.
Memang mereka telah setuju jika putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta, dan Putri Agniasari Ariani ikut dalam penyerangan itu. Namun mereka masih belum sempat menyinggung tentang Keris Naga Penyegel Sukma, karena itu pembicaraan yang agak sensitif.
Jaya Satria mengeluarkan pusaka kembar keris naga penyegel sukma, yang ia sembunyikan di dalam tubuhnya dengan bantuan tenaga dalamnya.
"Jadi ini? Bentuk dari pusaka kembar keris naga penyegel sukma?."
"Benar, hamba juga terkejut melihat benda ini."
"Bentuknya sangat mengerikan, mengeluarkan pamor hitam yang pekat."
"kita harus berhati-hati menggunakannya"
"Ya, jika tidak, keris ini justru akan mencelakai kita."
"Lalu apa saja yang dikatakan oleh eyang prabu?. Apakah eyang prabu mengatakan pada gusti prabu, bagaimana caranya menggunakan keris ini untuk menyegel raja kegelapan?."
"Eyang prabu mengatakannya padaku, bagaimana cara menggunakannya."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menceritakan pada Jaya Satria, bagaimana caranya?. Temukan jawabannya.
"Baiklah gusti prabu, hamba mengerti. Tapi kita tetap waspada, karena hamba merasakan kekuatan jahat yang akan kita hadapi kali ini terasa berbeda. Bahkan ayahanda prabu pun tidak bisa mengatasinya."
"Aku juga merasakannya jaya satria, aku hanya berharap bisa menghentikan kejahatan raja kegelapan."
"Semoga saja bisa gusti prabu."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap, mereka mampu melakukannya dengan baik.
"Kalau begitu, aku simpan satu, dan kau simpan yang lainnya."
"Hamba setuju, tapi sebelum itu kita benar-benar harus menguasai keris ini gusti prabu."
__ADS_1
"Kita akan melakukannya bersama-sama jaya satria."
Bisakah prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan jaya Satria melakukannya?. Temukan jawabannya.
...****...
Masih di lingkungan Istana.
Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara sedang berbincang-bincang di pendopo belakang istana.
"Jadi syekh adalah gurunya gusti Prabu?."
"Itu benar kakang, saya adalah guru nanda Prabu."
"Pantas saja gusti prabu sangat baik, karena memiliki guru yang baik juga."
"Kebaikan lahir dari hati yang baik, siapa saja bisa berbuat baik, termasuk kakang."
"Aku tidak sebaik yang adi pikirkan."
"Kakang merendah sekali, tapi setidaknya saya sangat berterima kasih, karena kakang mau membantu murid saya jaya satria."
"Saya melakukan kebaikan demi gusti prabu, dulu jaya satria yang telah menyelamatkan saya dari kubangan dosa."
"Kakang mengetahui jaya satria?."
"Hanya sedikit yang saya ketahui tentang dirinya, karena kami bertemu hanya beberapa kali saja." Ucapnya sambil menatap jauh, mengingat kejadian masa lalu. "Mungkin orang normal akan mengira mereka orang yang berbeda, namun kebaikan, sikapnya, suaranya, perawakannya, saya tidak akan pernah melupakannya, bahkan ketika ia diangkat menjadi raja karena pilihan singgasana, saya yakin dia akan menjadi raja yang baik dan peduli pada siapa saja."
"Jadi begitu? Tapi saya mohon, agar kakang dapat menyembunyikan rahasia ini dari siapapun, bahkan pada gusti ratu."
"Saya sangat mengerti adi, jaya satria telah menjelaskannya sebelum masuk istana ini." Perapian Suramuara sangat mengerti, ia sudah mendengar semua penjelasan dari Jaya Satria. Rahasia apa yang sedang ia sembunyikan.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin jika memang seperti itu kakang." Syekh Asmawan Mulia sangat bersyukur, jika Perapian Suramuara mau merahasiakan tentang sang prabu. Untuk sementara waktu, rahasia sang prabu masih aman, dan ada kemungkinan banyak orang yang mengetahui sang prabu.
"Kalau boleh saya minta pendapat, bagaimana rencana adi untuk mengatasi raja kegelapan?. Entah mengapa, saya merasa gelisah, saat jaya satria mengatakan akan melakukannya."
"Sebagai orang yang mengenali nanda prabu, saya juga sangat khawatir, apalagi raja Kegelapan bukanlah lawan yang mudah, bahkan gusti prabu kawiswara arya ragnala tidak mampu mengatasinya." Syekh Asmawan Mulia menghela nafasnya. "Gusti prabu kawiswara arya ragnala telah menitipkan putranya pada saya, karena itulah saya merasa bertanggung jawab, untuk mendukung apa saja yang akan ia lakukan, termasuk menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh raja kegelapan."
"Saya juga akan ikut membantu, karena saya sangat berhutang budi pada keduanya." Tentunya ia sangat ingat kejadian masa lalu itu.
...***...
Disatu sisi.
Ratu Dewi Anindyaswari saat ini sedang melakukan sholat duha. Hatinya sangat gelisah, ia sangat sedih karena anaknya lagi-lagi akan berperang.
"Ya Allah tidak ada kesedihan seorang ibu, melainkan ketika mendengar putranya akan pergi ke medan perang, mudahkan lah apa yang akan dilakukan putra hamba ya Allah." Dalam doanya, ia meminta kepada Allah, agar anaknya selamat dari marabahaya ketika pertarungan itu terjadi. Hatinya sangat sedih, kesedihan yang ia rasakan begitu dalam hingga ia larut dalam kesedihan itu.
"Sampurasun, dinda dewi." Suara itu, suara yang sangat ingin ia dengar ketika sedih melanda hatinya. Suara itu berasal dari arah belakangnya.
"Rampes." Ia menoleh kebelakang, matanya menangkap sosok yang sangat dirindukannya. "Kanda prabu? Benarkah ini adalah kanda prabu?." Ia langsung berdiri menghampiri sosok itu, ia memperhatikan dengan seksama. Apakah ia tidak salah lihat?.
"Dinda dewi tidak perlu menangis ataupun mencemaskan putra kita cakara casugraha." Senyuman itu, senyuman yang sangat ia rindukan, dan tidak salah lagi. "Semuanya akan baik-baik saja."
"Kanda prabu, dinda sangat merindukan kanda prabu." Ia memeluk suaminya dengan erat, ia menangis di pelukan sang prabu.
"Dinda dewi, kuatkan lah hati dinda, jika dinda dewi melepaskan putra kita cakara casugraha dengan keadaan bersedih, putra kita tidak akan mampu mengatasi masalahnya dengan kuat, dinda." Sang prabu mengelus kepala Ratu Dewi Anindyaswari dengan lembut, setelah itu ia kecup kening istrinya dengan kasih sayang hatinya yang tulus.
"Maafkan dinda, kanda prabu, dinda hanya mencemaskan putra kita cakara casugraha, karena putra kita beberapa kali diserang secara gaib! Dinda sangat sedih kanda." Ia menatap suaminya dengan perasaan sedih.
"Suatu saat nanti, dinda akan mengerti mengapa putra kita seperti itu, namun kanda hanya berharap, dinda yang sekarang selalu mengiringi putra kita cakara casugraha dengan do'a, agar ia selalu mendapatkan kemudahan disetiap langkahnya."
"Tentu saja kanda prabu, dinda akan selalu berdo'a untuk putra kita cakara casugraha, juga do'a untuk kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari mencium tangan sang prabu dengan segenap hatinya, kerinduannya yang mendalam pada suaminya.
Namun setelah ia berhasil mencium tangan suaminya, ia seakan tersadar, ia seakan bangun dari tidurnya yang singkat?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apakah hamba baru saja bermimpi bertemu dengan kanda prabu?." Ia masih menangis terisak?.
"Assalamualaikum, ibunda."
"Wa'alaikumussalam, putraku."
Ratu Dewi Anindyaswari melihat kedatangan anaknya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ibunda. Ada apa ibunda? Nanda tadi mendengar ibunda menyebut nama ayahanda Prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana duduk bersimpuh dihadapan ibundanya. Ia sangat khawatir karena ibundanya yang seakan memanggil-manggil ayahandanya. "Apakah ibunda bermimpi bertemu dengan ayahanda Prabu?."
__ADS_1
"Putraku, ibunda baru saja bertemu dengan ayahandamu, kanda prabu berkata agar ibunda selalu mendoakanmu nak." Ratu Dewi Anindyaswari menggenggam kedua putranya dengan lembut. Perasaan sedih dihatinya, akan ia usahakan untuk tersenyum, meskipun terasa berat untuk dilakukan.
"Jadi ayahanda berkata seperti itu ibunda?."
"Benar nak, ibunda sangat senang, ayahandamu selalu memikirkan anak-anaknya, termasuk nanda prabu." Ia mencium dengan pelan tangan anaknya, seakan ia sedang mencium tangan mendiang suaminya, prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Ibunda, pasti sangat berat untuk ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan perasaan sedih yang disembunyikan oleh ibundanya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berharap, jika ibundanya selalu kuat dalam kondisi apapun. Dan ia juga berusaha untuk menguatkan hati ibundanya agar terus berjalan dengan baik.
...***...
Malam telah menyapa. Dan kini, Raden Hadyan Hastanta, syekh Asmawan Mulia, Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, dan Perapian Suramuara. Mereka mencoba menyusun rencana yang akan mereka gunakan untuk penyerangan besok.
"Karena lawan kita bukanlah bangsa manusia, melainkan bangsa jin, kita harus waspada karena bangsa jin sangat berbeda." Syekh Asmawan Mulia menjelaskan pada mereka.
"Lalu apa yang harus kita lakukan syekh?."
"Di dalam Al-Qur'an, cara mengatasi bangsa jin adalah dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk mengusir mereka, saya akan berada di belakang kalian untuk membacakannya." Jawabnya. "Namun kalian di depannya, dapat menyerang mereka dengan ilmu kanuragan yang kalian miliki, anggap saja saya adalah tameng yang membuat mereka melemah, dengan begitu kalian akan mudah menghancurkan mereka semua." Lanjutnya.
"Baiklah syekh, kami setuju."
"Lalu bagaimana dengan gusti Prabu dan jaya satria?." Perapian Suramuara bertanya.
"Biarkan gusti prabu dan jaya Satria melawan raja kegelapan, kita tetap fokus pada rencana kita masing-masing."
Dan malam itu mereka habiskan untuk membahas penyerbuan mereka terhadap kerajaan kegelapan. Mengapa mereka malah masuk ke kawasan kerajaan Kegelapan?. Karena akan berbahaya jika pasukan kegelapan yang datang menyerang kerajaan Suka Damai. Pasukan jin yang menyerang tidak mudah untuk diatasi.
Tapi mereka akan berusaha untuk melakukan yang terbaik demi kesejahteraan rakyat Suka Damai. Mereka akan melakukannya dengan segenap jiwa dan raga.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria berlatih mengendalikan pusaka kembar keris naga penyegel sukma. Mereka salurkan ilmu Kanuragan mereka di dalam keris itu, salah satu jurus mematikan yang mereka miliki adalah, jurus cakar naga cakar petir.
...****...
Hari telah berganti dengan pagi, mereka semua bersiap-siap untuk meninggalkan istana, menuju kerajaan kegelapan.
"Putriku, ibunda harap nanda putri berhati-hati saat berperang nak." Ratu Gendhis Cendrawati merasa berat melepaskan kepergian anaknya. "Putraku hadyan hastanta, ibunda mohon agar engkau selalu mengawasi rayimu dengan baik, ibunda tidak mau ia terluka." Ia berusaha untuk tidak menangis, rasanya tidak sanggup ia melewati hari ini.
"Ibunda tenang saja, do'akan kami selalu baik-baik saja." Putri Andhini Andita tersenyum lembut pada ibundanya.
"Benar yang dikatakan rayi andhini andita, doakan kami baik-baik saja ibunda, nanda akan berusaha melindungi rayi andhini andita, jadi ibunda jangan terlalu cemas." Raden Hadyan berusaha untuk meyakinkan ibundanya.
"Syekh, saya mohon tolong jaga mereka semua, saya berharap semoga kalian semua baik-baik, namun melalui tangan syekh, saya juga berharap mereka akan aman." Ratu Dewi Anindyaswari juga berusaha menguatkan hatinya untuk tidak menangis.
"InsyaAllah gusti ratu, semoga Allah SWT mengabulkan semua doa dan harapan gusti ratu dewi anindyaswari."
"Aamiin aamiin ya rabbal aalaamiin" mereka semua berharap akan dapat perlindungan dari Allah SWT.
"Putriku, jagalah rayimu dengan baik, ibunda harap nanda putri juga baik-baik saja nak."
"Semoga saja ibunda."
"Putraku, tetaplah jaga keselamatanmu nak, ibunda akan selalu mengiringi langkah nanda dengan do'a."
"Terima kasih ibunda."
" Nanda jaya satria, bunda harap engkau selalu mengiringi mereka dengan baik nak." Ratu Dewi Anindyaswari menyentuh bahu Jaya Satria dengan lembut, ia tersenyum dengan tulus, membuat Jaya Satria gugup.
"Ibunda juga akan mendoakan keselamatanmu, ibunda sangat bersyukur nanda masih setia pada nanda prabu dalam keadaan apapun." Ia mengelus kepala jaya satria, dengan kasih sayang yang luar biasa.
"Semoga hamba bisa melakukannya gusti ratu." Jaya Satria berusaha untuk menekan perasaannya.
"Berhati-hatilah nak, semoga semuanya akan baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala Jaya Satria. Entah mengapa, nalurinya ingin melakukannya.
"Terima kasih gusti ratu, hamba akan mengingat apa saja yang telah gusti ratu katakan pada hamba." Rasanya tidak kuat untuk melangkah, namun ia sudah membulatkan tekadnya. Hatinya tidak akan goyah lagi, dengan apapun yang akan terjadi.
"Ibunda, jika nanda boleh berharap memanggil gusti ratu dengan sebutan ibunda, nanda ingin memanggil ibunda, sekali saja." Dalam hati Jaya Satria berharap, jika ia memanggil Ratu Dewi Anindyaswari dengan sebutan ibunda.
"Jaya Satria, kau bisa melakukannya, setelah pertarungan ini selesai, kita akan sama-sama menyebut ratu dewi anindyaswari dengan sebutan ibunda." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana berharap mereka akan mendapatkan kesetaraan. Karena bagaimanapun juga, mereka adalah orang yang sama.
"Kami mohon pamit gusti ratu dewi anindyaswari, gusti ratu gendhis cendrawati." Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara izin pamit pada kedua Ratu kerajaan Suka Damai.
"Berhati-hatilah kalian semua, kami akan mendoakan keselamatan kalian."
Apakah mereka akan berhasil mengalahkan Raja Kegelapan?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta. Next halaman.
__ADS_1
...***...