RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
USAHA JAYA SATRIA


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari berlalu. Jaya Satria masih melakukan perjalanan. Namun ia masih tetap terhubung dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, disetiap ia melangkah.


Namun ketika Jaya Satria hampir memasuki perbatasan kerajaan Teluk Mutiara. Ia di cegat oleh seorang wanita yang tampak tidak bersahabat sama sekali.


"Siapakah engkau kisanak. Berani sekali engkau memasuki wilayah ini tanpa izin." Suaranya seperti ingin mengajak keributan saja. Tidak bisakah ia bertanya sedikit lebih sopan lagi?.


"Maaf nisanak. Kepada siapa, aku meminta izin masuk ke wilayah kerajaan ini?. Aku tidak melihat penjaga, atau prajurit disekitar sini." Ucap Jaya Satria.


"Aku!. Aku adalah penjaga di sini." Dengan nada membentak, ia mengatakan dirinya adalah penjaganya?.


"Tenangkan dirimu jaya satria. Biarkan saja wanita itu marah. Yang penting tujuanmu adalah, menemui prabu maheswara jumanta." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingatkan Jaya Satria, agar tidak meladani kemarahan wanita itu.


"Baiklah gusti prabu. Hamba akan mengusahakannya." Balas Jaya Satria.


"Kau terlihat mencurigakan sekali. Mengapa kau menggunakan topeng?. Apakah engkau seorang mata-mata yang ingin menyusup ke istana ini?." Wanita itu menunjuk ke arah Jaya Satria. Kecurigaannya terhadap Jaya Satria sangat besar.


"Aku tidak akan membiarkanmu memasuki wilayah ini. Kau pasti mata-mata yang mencurigakan. Aku yakin kau akan membawa keburukan di wilayah ini." Lanjutnya lagi. Kemarahan tergambar jelas di raut wajah wanita itu. Rasa tidak suka yang ia tunjukkan pada Jaya Satria, terlalu berlebihan.


"Dengarkan aku baik-baik nisanak." Lama-lama Jaya Satria kesal juga, hingga menunjuk ke arah wanita itu dengan tangan kirinya. "Bukalah telingamu, nilai lah dengan hatimu yang masih memiliki kebaikan, dengan apa yang akan aku katakan padamu." Jaya Satria menarik nafasnya dengan pelan. Ia membacakan surah An-Najm ayat 28 dengan suara yang sangat merdu.


"


وَمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۚ


Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran."


Dan membacakan sebuah hadist.


"


إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ


“Hati-hatilah kalian dari prasangka (buruk), karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” [Bukhari (5143), Muslim (2563)]."


"Tidak baik mencurigai seseorang, karena tidak semua orang itu jahat nisanak." Lanjut Jaya Satria. Ia menghela nafasnya dengan pelan.


"Jadi kisanak adalah seorang muslim?." Wanita itu mulai melunak, karena itu begitu terkesima dengan apa yang dibacakan oleh Jaya Satria.


"Ya, aku seorang muslim. Karena itukah nisanak. Jangan terlalu berburuk sangka pada orang lain. Meskipun mengenakan penutup wajah sekalipun." Jawab Jaya Satria.


"Maafkan aku kisanak." Wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya. "Lalu apa tujuan kisanak datang ke sini?." Ia mendekati Jaya Satria dengan wajah bersahabat.

__ADS_1


"Aku hendak menemui mpu mahaprana. Apakah benar beliau, tinggal di wilayah ini?." Jawabnya.


"Mpu mahaprana?." Wanita itu terlihat heran. Hingga keningnya terlihat mengkerut, karena bingung saat mendengarkan nama itu.


"Ya, aku ingin bertemu dengannya." Ucap Jaya Satria. "Apakah, nisanak mengetahuinya?."


Wanita itu menatap lekat pada Jaya Satria. "Untuk apa kisanak ingin bertemu dengan eyang ku?. Ada keperluan apa?."


"Jadi nisanak adalah cucu dari mpu mahaprana?."


"Ya, itu benar. Tapi apa tujuan kisanak mencari eyang mpu?."


"Ada hal penting, yang hendak aku sampaikan padanya. Ini adalah perintah dari seorang raja."


"Baiklah kalau begitu. Ayo ikut denganku."


"Terima kasih nisanak."


"Panggil saja aku pupuh ayu."


"Baiklah. Terima kasih atas kebaikan nini pupuh ayu."


Pupuh Ayu hanya tersenyum kecil. Ia tidak menyangka, jika ada orang luar dari kerajaan Teluk Mutiara, mencari eyangnya.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, jaya satria. Aku akan selalu bersamamu. Semoga Allah SWT, melancarkan urusan kita." Itulah harapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Semoga saja gusti." Jaya Satria juga berharap, semoga apa yang mereka inginkan akan segera tercapai.


Tidur selama diperjalanan, mimpi buruk, itu sama sekali bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Mengingat mimpi buruk yang sangat mencekam itu.


...***...


Sementara itu, di Istana Kerajaan Suka Damai.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meninggalkan ruangan pribadi Raja. Ia ingin melihat, apa yang sedang dilakukan oleh keluarganya, dalam persiapan lamaran nanti.


"Nanda prabu. Mendekatlah nak." Ratu Gendhis Cendrawati melihat kedatangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Oh rayi,,, kebetulan sekali rayi prabu ada di sini." Putri Andhini Andita yang malah terlihat bersemangat.


"Rayi prabu. Tolong rakamu." Dengan wajah memelas, Raden Hadyan Hastanta meminta pertolongan dari adiknya itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'azim bfffh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak bisa menahan tawanya, melihat bagaimana keadaan kakaknya yang sedang dimanja oleh kedua Ratu Kerajaan Suka Damai.


"Lihatlah ibunda. Rayi prabu saja, menertawai nanda." Raden Hadyan Hastanta merengek seperti anak kecil. Ia benar-benar seperti dimanja habis-habisan oleh kedua ibundanya, juga adiknya.


"Jangan banyak bergerak dulu nanda, nanti perawatan wajahnya bisa retak. Nanda harus tampil sempurna dihadapan nyai bestari dhatu nanti." Ratu Dewi Anindyaswari menahan gerakan tangan Raden Hadyan Hastanta yang ingin segera menghapus terapung aneh yang menempel di wajahnya. Sungguh ia tidak merasa nyaman sekali, sangat aneh menurutnya.


"Benar nanda. Nanda harus dengarkan, apa yang ibunda katakan." Ratu Gendhis Cendrawati hanya ingin anaknya terlihat sempurna dihadapan calon istrinya.


"Tidak apa-apa raka. Ini semua demi kebaikan raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah mendukung kedua ibundanya.


"Dengarkan apa yang dikatakan oleh rayi prabu. Raka harus benar-benar tampil sempurna, demi nyai bestari dhatu." Putri Andhini Andita semakin semangat. Malah ia sempat menggagalkan Jaya Satria yang nantinya ia dandan. Sungguh hayalan yang terbang jauh entah kemana.


Sedangkan Raden Hadyan Hastanta, hanya bisa pasrah saja ketika dirinya diperlakukan dengan manja oleh keluarga.


"Apakah tidak ada cara lain agar terlihat sempurna?. Ibunda,,, nanda ini laki-laki,,, tidak seharusnya menggunakan seperti ini."


Kelakuan Raden Hadyan Hastanta yang sekarang mengundang gelak tawa bagi mereka. Begitulah jika anak laki-laki jika ingin didandan oleh ibundanya. Merasa malu, karena diperlakukan seperti wanita. Tapi setidaknya berbenah diri, merawat diri itu sangat penting bukan?.


"Semoga saja, raka hadyan hastanta merasakan kebahagiaan dalam lamaran nanti ya Allah." Itulah harapan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana untuk Raden Hadyan Hastanta.


...***...


Lalu bagaimana dengan Jaya Satria?. Mari kita lihat, apakah ia berhasil bertemu dengan MPU Mahaprana?.


Di kerajaan Teluk Mutiara.


Di kediaman MPU Mahaprana.


"Jadi eyang mpu saat ini berada di istana?." Pupuh Ayu bertanya pada pembantu di rumahnya.


"Benar nimas. Gusti mpu saat ini dipanggil ke istana. Kabarnya gusti prabu semakin parah." Jawab emban itu.


Pupuh Ayu menghela nafasnya dengan pelan. "Maafkan aku kisanak, sepertinya kau harus menunggu sampai eyang mpu kembali."


"Kalau begitu, bisakah nini mengantarku ke istana?. Selain bertemu dengan mpu mahaprana. Aku juga membawa perintah untuk menemui raja dari kerajaan teluk mutiara." Ucapnya sambil menunjukkan lencana kerajaan Suka Damai padanya.


"Baiklah kalau begitu. Ayo ikuti aku ke istana. Semoga saja kau diterima dengan baik, karena saat ini keadaan istana agak rawan terhadap orang asing."


"Terima kasih, karena telah bersedia membantuku."


Setelah itu mereka meninggalkan kediaman MPU Mahaprana. Menuju Istana Kerajaan Teluk Mutiara.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi setelah ini?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya.


__ADS_2