RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PATUH PADA ORANGTUA


__ADS_3

***


BEgitu besar rasa sayang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria pada Ratu Dewi Anindyaswari, rasa sayang yang ia tanamkan sejak ia kecil, hingga sekarang. Rasa cintanya pada ibundanya sangat tulus, bahkan ketika mejalani hukuman buang tidak memudarkan rasa sayangnya.


"Ibunda hanya memohon pada nanda berdua, untuk selalu menjaga amarah." Hanya itu harapannya sebagai ibu. "Ingatlah selalu apa yang ayahanda kalian katakan, bahwa kemarahan yang kalian keluarkan hanya akan memberikan dampak buruk pada tubuh kalian." Ratu Dewi Anindyaswari juga sangat mencintai anaknya dengan sepenuh hatinya.


"Tentu saja kami akan selalu mengingatnya ibunda, kami akan selalu ingat dengan apa yang dikatakan ayahanda Prabu."


"Kami akan selalu ingat itu ibunda, semoga saja kami selalu menjadi anak yang bisa patuh pada orang tua."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mencium tangan ratu Dewi Anindyaswari dengan perasaan yang sangat tulus. Air mata membasahi pipi mereka ketika mengingat semua kejadian masa lalu menyakitkan yang mereka alami.


"Nanda bersumpah kepada Allah, bahwa nanda tidak akan pernah membuat ibunda menangis karena sikap nanda."


"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Nanda telah memberikan kebahagiaan yang berlimpah pada ibunda, terima kasih nak, maaf jika selama ini ibunda tidak memperhatikan nanda." Air matanya memang tidak bisa ia tahan lagi mendengarkan ucapan anaknya.


"Ibunda, nanda sangat ingin dekat dengan ibunda walaupun topeng ini menjadi pemisah kita." Jaya Satria merasakan kesedihan yang sangat dalam karena kondisinya


"Tetaplah berada di samping ibunda walaupun topeng ini kadang memisahkan kita, putraku." Tangannya mengelus wajah anaknya yang menggunakan topeng hitam. "Ibunda akan selalu menyayangimu, bahkan ketika kau terlelap putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk Jaya Satria sambil menahan isak tangisnya. "Ibunda juga selalu merindukanmu, ibunda juga tidak ingin kau jauh dari ibunda, karena itulah nanda jangan pergi lagi dari ibunda."


"Ibunda, nanda sangat menyayangi ibunda." Jaya Satria tidak dapat menahan tangisnya ketika masa lalunya yang sangat kelam, berpisah dengan ibundanya dalam waktu yang lama.


Kerinduan yang sangat dalam, walaupun Raden Cakara Casugraha sebenarnya telah kembali ke istana secara rahasia?. Namun sangat disayangkan sekali tidak bisa bersama ibundanya, karena harus menyelesaikan masalah hukuman buang.


***


Kita tinggalkan sang prabu yang menyesali perbuatan masa lalunya. Mari kita lihat nasib Raden Semana Hayana setelah bertarung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Saat ini ia berada di pinggir hutan kota raja. Ia tidak sanggup lagi untuk berjalan karena tangan kanannya gosong, seperti terbakar.


"Kegh! Saki sekali!." Ia mengeluh sakit, tubuhnya mati rasa, seperti kebas. Tubuhnya semakin tidak bisa digerakkan lagi, rasanya mati rasa. "Raden cakara casugraha benar-benar bedebah!." Umpatnya dengan sangat kesalnya. "Jurus yang ia gunakan sangat kuat, sehingga aku tidak bisa memulihkan tenaga dalamku dengan cepat." Ia sangat mengutuk Raden Cakara Casugraha, yang memiliki jurus berbahaya, dan ia tidak menyangka akan menerima jurus itu.


Hatinya yang saat itu hanya teringat dengan perlakuan masa lalu Raden Cakara Casugraha padanya. Hatinya sangat tidak terima dengan kejadian yang membuat ia cacat, hatinya sangat tidak terima, namun sayangnya ia masih saja belum bisa mengalahkan Raden Cakara Casugraha.


"Kurang ajar! Bahkan aku terpaksa melarikan diri karena tidak sanggup berhadapan dengannya!." Hatinya semakin membenci kelemahan yang ia miliki saat itu. "Sial! Tubuhku semakin terasa sakit." Itulah yang ia rasakan, nafasnya terasa berat, bahkan kesadarannya hampir tidak bisa ia kendalikan lagi.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau mati." Ada perasaan takut yang tiba-tiba saja menghantuinya. "Aku tidak mau mati sebelum aku bisa membalaskan sakit hatiku padanya." Ia semakin gelisah.


"Ingatlah Raden semana hayana, kau memiliki seorang ibu yang telah kau sakiti!." Suara Raden Cakara Casugraha seakan-akan menghantui pikirannya. "Kau telah berdosa padanya, kau yang telah menyakiti perasaanya, kau yang telah membuat ia menangis darah karena sikapmu."


"Diam kau cakara casugraha, di saat kondisiku yang seperti ini kai jangan berkata yang tidak akan bisa menyembuhkan luka ku ini." Suaranya terdengar sayup-sayup, begitu juga dengan kesadaran yang ia miliki.


Apakah yang akan terjadi pada Raden Semana Hayana?. Simak dengan baik kisahnya.


...****...


Kembali ke masa itu.


Di kerajaan Suragawi, kerajaan yang lumayan terkenal dikala itu. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang baik, bahkan kebaikannya sangat dipuja oleh rakyatnya.


Sang prabu hanya memiliki seorang putra dari persemaiannya. Tapi sayangnya tidak pernah peduli dengan tahta kerajaannya, ia hanya bersenang-senang saja. Bahkan ketika ayahandanya meninggal karena sakit, ia tidak sama sekali merasa bersimpati atau kehilangan.


"Apakah nanda tidak sedikitpun merasa sedih setelah ayahandamu tiada?." Ratu Dewi Cempaka menangis sedih, melihat anaknya yang sedang dalam emosi yang luar biasa, setelah pulang dari tempat yang sama sekali tidak ia ketahui dari mana. "Apakah kau tidak peduli sama sekali dengan keadaan kerajaan ini?." Hatinya sangat sakit dengan sikap anaknya.


"Sudahlah ibunda! Ibunda tidak usah menangisi yang sudah pergi!." Hatinya memanas dengan ucapan ibundanya. "Ayahanda tidak akan kembali, meskipun ibunda menangis darah!." Suaranya terdengar keras, membentak ibundanya. Apakah ia sudah tidak memiliki perasaan lembut lagi?. "Ibunda jangan terlalu berlebihan dengan situasi seperti ini!."


"Oh putraku." Ratu Dewi Cempaka sangat terluka mendengarnya. "Ibunda hanya ingin engkau tahu, bahwa ayahandamu menginginkan engkau meneruskan tahta ini nak." Dengan perasaan sedih begitu menyayat hatinya, ia tidak sanggup mendengarkan apa yang dikatakan anaknya.


"Siapa yang peduli dengan tahta ini?!." Suaranya semakin meninggi, tidak ada rasa hormatnya pada ibundanya. "Aku tidak sudi menjadi raja!. Yang aku inginkan hanyalah kesenangan! Ibunda tidak berhak untuk mengaturku!." Tanpa perasaan ia malah berkata seperti itu.


"Kenapa engkau tidak mau menjadi raja, putraku?!." Ratu Dewi Cempaka menangis sedih. "Engkau adalah pewaris tahta yang sah! Kau lah yang harus meneruskan kepemimpinan ayahandamu untuk menjaga kerajaan ini." Hatinya terluka sangat dalam mendengarkan ucapan anaknya.


"Aku sudah bilang ibunda!." Balasnya dengan suara yang masih tinggi. "Bahwa aku tidak mau! Bukankah ayahanda memiliki selir? Suruh saja anak dari selir itu menjadi raja! Aku yakin dia mau menjadi Raja baru."


"Oh, putraku!." Ratu Dewi Cempaka semakin menangis mendengarnya. "Kata-katamu sungguh menyakitkan nak, mengapa engkau memiliki hati sekeras batu? Sehingga tidak mau mendengarkan apa yang ibunda katakan?." Kesedihan yang dirasakan oleh Ratu Dewi Cempaka, didengar oleh sang pencipta. Allah SWT, tidak meridhoi apapun yang dikerjakan oleh Raden Semana Hayana.


Apalagi perlakuan buruknya terhadap ibundanya. Bukan hanya kata-kata saja, melainkan perbuatan yang sangat keterlaluan.


Kembali ke masa ini.


......****......


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah mendapatkan kabar, dari prajurit yang berjaga di hutan-hutan sekitar. Mereka mengatakan bahwa, mereka menemukan sosok mayat di sana. Setelah diperiksa, ternyata itu adalah mayat Raden Semana Hayana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memerintahkan Jaya Satria membawanya ke Istana Kerajaan Suragawi. Kerajaan yang cukup jauh dari kerajaan Suka Damai.


Saat ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berkumpul bersama ibunda, yunda, dan rakanya di Pendopo Istana. Menikmati kebersamaan yang sudah mulai terjalin dengan eratnya, hubungan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


"Bagaimana ceritanya? Nanda bisa terlibat dalam masalah itu? Apakah nanda bisa menceritakan pada kami?." Ratu Dewi Anindyaswari penasaran dengan apa yang dialami oleh anaknya.


"Benar itu nanda prabu, mengapa nanda bisa terlibat dengan pangeran istana kerajaan suragawi?." Ratu Gendhis Cendrawati juga penasaran. "Apakah itu terjadi ketika nanda menjalani hukuman buang?."


Mereka sedikit miris mendengarkan kata hukuman buang, hukuman yang sangat kejam sebenarnya. Hanya saja karena penasaran?. Kata itu keluar begitu saja, hanya berharap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak tersinggung dengan ucapan itu.


"Ya, memang seperti itulah yang terjadi ibunda Ratu gendhis cendrawati." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman kecil. "Kejadian itu memang lumayan lama, ketika nanda menjalani hukuman buang."


"Tapi bagaimana bisa rayi Prabu terlibat dengan masalah itu?." Putri Andhini Andita juga penasaran.


"Kejadian itu sebenarnya sangat tidak terduga sekali yunda, kejadian yang sangat menguras emosi, perasaan hati, kemanusiaan, dan juga masalah wanita."


Mereka saling menatap satu sama lain ketika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyebut kata Wanita.


"Apakah kau memiliki kekasih ketika di luar? Sehingga kau sakit hati, dan terlibat dengan Raden semana hayana?." Putri Andhini Andita malah menebak seperti itu. "Kau sakit hati padanya karena dia merebut kekasih yang kau cintai, apakah seperti itu yang terjadi?."


Benarkah seperti itu rayi Prabu?." Putri Agniasari Ariani dan Raden Hadyan Hastanta dengan sangat serius bertanya seperti itu.


"Jangan menebak hal yang membuat pemikiran aneh yunda andhini andita." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kesal dengan ucapan kakaknya. "Dengarkan dulu apa yang hendak aku katakan, jangan asal tebak saja."


Mereka tertawa kecil melihat betapa kesalnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pada Putri Andhini Andita, entah kenapa mereka merasa lucu saat itu.


"Hahaha! Baiklah, maafkan aku." Tanpa merasa bersalah?. Namun kata maaf terucap begitu saja. "Silahkan Gusti Prabu melanjutkan ceritanya."

__ADS_1


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan lelahnya dengan sikap kakaknya Putri Andhini Andita yang sangat melelahkan.


"Disebuah tempat, dimana para pangeran kerajaan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingat kejadian itu. "Pangeran kerajaan yang ingin memamerkan kesaktian dengan adu tanding., harta, dan apa saja."


Mereka mencoba menyimak apa yang hendak disampaikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mereka sangat penasaran dengan kisah yang dialami sang Prabu, karena lawannya sampai memiliki dendam yang sangat dalam padanya, hingga dicari sampai ke istana Kerajaan Suka Damai.


"Sebenarnya nanda sangat tidak peduli dengan apa yang mereka rasakan, namun saat itu ada beberapa orang wanita yang datang menemui nanda untuk meminta bantuan."


"Meminta bantuan?."


Secara spontan mereka bertanya seperti itu, mereka yang tidak percaya karena ada beberapa orang wanita yang meminta bantuan pada Raden Cakara Casugraha?.


"Apakah mereka tidak salah meminta bantuan padamu rayi? Aku rasa mereka hanya putus asa saja karena tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa."


Kembali mereka tertawa mendengarkan ucapan Putri Andhini Andita yang meragukan apa yang dikatakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Hufh! Yunda jangan berkata seperti itu, aku tidak seburuk yang yunda bayangkan saat itu."


"Hehehe, hanya khawatir saja, silahkan lanjutkan Gusti Prabu." Putri Andhini Andita malah tertawa cengegesan.


Tentu saja itu membuat mereka semakin tertawa, benar-benar kedekatan yang sangat langka antara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Putri Andhini Andita.


"Sudahlah rayi andhini andita, jangan potong terus ucapan rayi Prabu." Raden Hadyan Hastanta merasa bersimpati. "Kita semua sangat penasaran dengan cerita rayi Prabu."


"Ya, maaf." Putri Andhini Andita malah terlihat merajuk.


"Silahkan lanjutkan rayi Prabu." Putri Agniasari Ariani sangat penasaran.


"Tapi kenapa nanda malah terlibat dengan Raden semana hayana? Apakah terjadi sesuatu saat itu?."


"Apakah karena permintaan dari mereka? Sehingga rayi Prabu terlibat dengan Raden semana hayana?." Putri Agniasari Ariani mencoba menebaknya.


"Benar yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membenarkannya. "Wanita itu sedang mengandung." Entah kenapa suasana hatinya sangat tidak nyaman. "Mengandung anak dari Raden semana hayana."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari Terkejut mendengarnya. "Mengandung?."


"Benar sekali ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat menghela nafas. "Bukan hanya dia saja yang waktu itu yang mengandung, ada beberapa wanita yang menjadi korban kejahatannya juga."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, sungguh kejam orang itu pada kaum wanita." Putri Agniasari Ariani merasa prihatin mendengarnya. "Apakah dia tidak memiliki hati nurani untuk menilai apa yang telah ia lakukan itu sangat salah?."


"Aku rasa dia itu binatang rayi, bahkan lebih hina dari binatang." Putri Andhini Andita terlihat kesal. "Tega sekali dia melakukan itu."


"Ya, benar yang dikatakan rayi andhini andita, bahkan hewan melihat mangsanya dengan tepat, tega sekali dia merusak harga diri wanita seperti itu." Raden Hadyan Hastanta malah terbawa suasana.


"Lantas? Apa yang nanda lakukan saat itu? Apa yang nanda lakukan untuk menegurnya?." Ratu Gendhis Cendrawati yang bertanya.


"Nanda ikut dalam pertarungan itu, nanda terpaksa ikut dan berniat membunuhnya setelah nanda selidiki, jika apa yang telah dilakukannya sangat keterlaluan, sangat melebihi batas." Suasana hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terbakar jika ingat kejadian itu.


"Lalu bagaimana dia masih bisa hidup, rayi prabu?." Raden Hadyan Hastanta sedikit bingung. "Apakah kau mengampuninya?."


"Pada saat itu aku tidak membunuhnya raka." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Tapi aku memberinya satu kesempatan untuk menyadari kesalahannya." Sang Prabu sangat ingat itu. "Karena jika aku membunuhnya. Akan ada anak-anak yang tak berdosa lahir tanpa adanya seorang ayah." Sedih memang mengingat semua yang ia lihat pada saat itu.


"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari sangat tersentuh mendengarnya. "Meskipun orang lain menilaimu dari sisi jahat? Namun nanda masih memiliki rasa kasih sayang pada wanita, ibunda sangat bangga padamu, kau adalah putra ibunda yang sangat luar biasa." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari mengagumi keputusan anaknya. Sungguh luar biasa, dalam kemarahan, masih memikirkan perasaan orang lain, terutama terhadap wanita.


"Lalu bagaimana lanjutannya rayi prabu?." Tanya putri Andhini Andita. "Apa yang rayi Prabu lakukan padanya?."


"Benar rayi, apa yang rayi lakukan pada mereka? Juga pada pangeran berhati jahat itu." Putri Agniasari Ariani tampak terbawa suasana.


"Kami ingin mendengarnya rayi, rasanya aku geram dengan cerita tentang raden semana hayana." Raden Hadyan Hastanta ikutan kesal.


"Hufff" prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan pelan. "Ya Allah, bukan hamba bermaksud untuk membuka aib tentang raden semana hayana, tapi hamba harus menceritakannya pada keluarga hamba ya Allah." Dalam hati sang prabu berharap, jika ini tidak akan mengundang dosa, karena telah membuka aib bagi orang yang sudah meninggal.


Mereka dengan sangat sabar menuggu tanggapan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang terlihat sedikit keberatan menceritakan kejadian masa lalu.


"Tapi sebelum pertarungan itu terjadi, aku mencari tahu kebenarannya." Hatinya mendadak bergemuruh. "Melihat semua bagaimana ia memperlakukan ibundanya dengan kasar, bahkan memukul ibundanya." Hatinya terasa sakit mengingatnya. "Bukan hanya itu saja, dia bermain serong dengan istri pejabat istana, memadu kasih untuk kesenangan sementara, sungguh perbuatan yang tidak bisa dimaafkan."


Mereka semua yang mendengar itu merasakan perasaan luka, walaupun tidak mengalaminya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi yang terjadi, hati siapa yang tidak sesak mendengarkan cerita itu?.


"Sungguh pembuatan yang sangat kejam, tidak patut untuk dicontoh, tidak menghargai kaum wanita." Ratu Gendhis Cendrawati tidak bisa membayangkan ada anak yang seperti itu pada ibundanya?. "Ibunda rasa dia memiliki masalah gangguan jiwa sehingga tega melakukan itu."


"Apakah ia tidak bisa menilai bagaimana kasih sayang seorang ibu? Sehingga dengan teganya ia berbuat seperti itu." Rasanya sangat miris, membuat Ratu Dewi Anindyaswari merasa terluka mendengar cerita itu. "Tega sekali dia berbuat sejauh itu."


"Sangat kejam, sehingga membuatku geram mendengarnya." Putri Agniasari Ariani rasanya ingin meneteskan air mata mendengar cerita adiknya. "Aku rasa kematiannya itu adalah karma atas apa yang telah dia lakukan di masa lalu." Bukan hanya itu saja, ada kemarahan yang ia rasakan.


"Aku rasa benar apa yang kau katakan rayi." Raden Hadyan Hastanta sangat setuju. "Karma yang ia lakukan terhadap wanita, terhadap ibundanya."


"Meskipun rayi prabu orangnya kasar, namun ia tetap menghormati ibundanya, membela kehormatan ibundanya dengan sepenuh hatinya masih memiliki hati, tidak seperti Raden semana hayana." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta merasa kagum dengan sikap adiknya, yang membela mati-matian hak ibundanya selama berada di Istana.


"Harusnya ia belajar dengan baik setelah berhadapan dengan nanda, namun sangat disayangkan sekali dia tidak menyadari kesalahannya." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sangat menyayangi itu.


"Ya, kau benar rayi dewi, sangat disayangkan sekali karena ia tidak menggunakan kesempatan itu untuk memperbaiki diri." Ratu Gendhis Cendrawati menghela nafasnya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya pelan. Sang Prabu tidak menduga akan seperti itu reaksi mereka tehadap ucapannya.


"Padahal melawan pada orangtua, sangat dilarang dalam agama Islam, terutama pada seorang ibu." Sang Prabu memandang lembut pada kedua ibundanya. "Karena Rasullullah Saw, menjawab tiga kali ketika seorang laki-laki bertanya, siapa yang harus ia hormati dan diperlukan dengan baik, Rasulullah Saw menjawab, ibumu, setelah itu baru bapak mu." Sang Prabu sedikit menjelaskan kepada keluarganya, tentang seorang ibu.


"Ya, rayi prabu benar." Putri Agniasari Ariani sangat setuju. "Nini dewi cantika pernah mengatakannya padaku seperti itu, dan juga ridho orang tua ridhonya Allah, dan murkanya orang tua, murkanya Allah." Putri Agniasari Ariani sangat ingat dengan pelajaran itu. "Karena itulah kita harus berbakti kepada orang tua kita, terutama kepada ibunda kita." Tatapannya sangat lembut ketika melihat ke arah Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Sepertinya nanda putri telah belajar dengan sangat baik." Ratu Gendhis Cendrawati terkesan dengan itu. "Tapi kenapa hanya kepada seorang ibu saja, lantas? Bagaimana dengan ayah?." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sedikit heran dengan penjelasan yang diberikan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Mungkin rayi Prabu bisa menjawabnya." Putri Agniasari Ariani malah melemparkan pertanyaan itu pada sang Prabu.


"Coba nanda jelaskan pada ibunda kenapa seperti itu?." Ratu Gendhis Cendrawati bertanya seperti itu.


"Kenapa Allah SWT melebihkan derajat, seorang ibu dari pada seorang ayah? Itu sudah ada jawabannya di dalam Alquran, ibunda." Ia tersenyum kecil menatap Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari.


"Di dalam surah Al Luqman ayat 14." Sang Prabu membacakan ayat tersebut dengan merdunya, hingga mereka merasa terkesima mendengarnya.


"Sementara itu, seorang ayah? Seorang anak tetap wajib menghormati ayahnya, karena ayahnya yang memberikan nafkah, mengajarkan kebaikan pada anak-anaknya, entah dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan." Sang Prabu mengingat bagaimana kedekatannya dengan ayahandanya dulu.

__ADS_1


"Bagi seorang ayah, kemuliaan yang luar biasa ia dapatkan, yaitunya jika anaknya menjadi anak yang bukan hanya kuat fisiknya saja? Namun kuat hatinya untuk memilih jalan yang benar atau jalan yang salah." Lanjutnya lagi.


"Sebagai seorang anak, sudah menjadi kewajibannya untuk paruh pada kedua orangtuanya, menghormati keduanya." Dengan sangat hati-hati menjelaskannya. "Mengistimewakan kedua orangtuanya, Allah SWT akan melaknat seorang hamba, jika ia durhaka kepada kedua orangtuanya." Sang prabu menatap lembut ke arah Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Allah tidak ridho padanya, Allah akan memberikan azab yang pedih padanya, karena dia telah melukai perasaan kedua orang tuanya dengan membentaknya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta, dan Putri Agniasari Ariani. "Dengan memperlakukannya seperti budak, atau hal yang kejam seperti menganiaya kedua orangtuanya. semua itu akan mendapatkan balasan yang setimpal." Sang prabu benar-benar menyampaikannya dengan baik pada mereka semua.


"Tapi, bagi mereka yang mencintai kedua orang tuanya dengan hatinya? Menyenangkan hatinya, mendoakan hal yang baik-baik? Maka ia akan mendapatkan pahala yang luar biasa, ia akan masuk ke dalam surga-Nya Allah dengan wajah penuh kebahagiaan." Dengan raut wajah penuh kebahagiaan, sang Prabu menjelaskan kepada merek semua.


"Oh putraku, nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati tersenyum lembut. "Penjelasan yang sangat luar biasa. Ibunda sangat tersentuh mendengarnya nak." Ratu Gendhis Cendrawati menangis terharu, ia merasa kagum dengan penjelasan dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ibund, maafkan nanda, jika selama ini nanda bersikap kurang ajar pada ibunda." Sang prabu mencium tangan Ratu Gendhis Cendrawati dengan tulus, ia meminta maaf dengan baik dan benar pada sang ratu.


"Ibunda juga minta maaf pada nanda, karena ibunda lah yang membuat nanda menjadi anak yang pembangkangan, maafkan ibunda." Ratu Gendhis Cendrawati tidak dapat menahan tangisnya, ia mengingat semua perlakuan kasarnya pada Raden Cakara Casugraha. "Ibunda telah berdosa padamu."


"Nanda lah yang seharusnya minta maaf, ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga menangis mengingat perlakuan kasarnya, amarahnya yang tidak bisa ia tahan.


"Putraku cakara casugraha." Ratu Gendhis Cendrawati mengelus kepala prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sayang, bahkan ia mencium puncak kepalanya.


Dan ini untuk pertama kalinya ia lakukan setelah bertahun-tahun hidup bersama. Rasanya sangat menyedihkan, dan tidak ingin diingat saking sakitnya kejadian-kejadian masa lalu.


"Ibunda." Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta juga ikut terharu melihat itu.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah, kami semuanya bisa berbaikan berkata putra hamba." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa terharu, saat melihat putranya yang sungkeman pada ratu Gendhis Cendrawati. "Putraku, apa yang nanda lakukan tidaklah sia-sia untuk menyatukan serta memberikan perdamaian bagi keluarga besar istana, ibunda sangat bangga padamu nak." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut menyambut putranya yang kembali duduk di sampingnya.


"Ibunda memang sudah berubah, rayi prabu memang luar biasa, dari dia yang dulu seorang pembangkang, dan sekarang menjadi raja yang sangat perhatian pada keluarganya, serta rakyatnya." Batin Raden Hadyan Hastanta, ia dapat merasakan perubahan ibundanya, serta kekagumannya pada adiknya yang sekarang.


"Rayi prabu sangat luar biasa, sama seperti ayahanda prabu." Putri Agniasari Ariani juga merasa kagum pada adiknya. "Semoga Allah SWT selalu memberikan kebaikan padamu, rayi prabu." Dalam hatinya selalu mendoakan adiknya, agar lancar dalam menjalankan tahta kerajaan ini dibawah naungan Islam.


"Sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang ingin ibunda katakan pada nanda prabu." Ada sedikit keraguan di dalam hati ratu Gendhis Cendrawati, namun ia akan mengatakannya.


"Apa yang ingin ibunda katakan? Nanda akan mendengarkannya."


"Sebenarnya, ibunda ingin juga mempelajari tentang agama Islam, ibunda sangat tersentuh saat mendengarkan suara mengaji rayi dewi anindyaswari, putri agniasari ariani, bahkan suara nanda prabu."


"Benar rayi prabu. Apakah aku juga bisa mempelajari agama Islam darimu? Aku sangat ingin mengetahuinya, apalagi saat mendengarkan rayi agniasari ariani mengaji, atau ibunda yang mengaji, rasanya hatiku bergetar aneh."


"Tapi apakah kami bisa mempelajarinya? Saat mendengarkan jaya satria membacakan sholawat badar, rasanya sangat tentram sekali." Raden Hadyan Hastanta mengingatnya dengan baik. "Itu sangat luar biasa sekali rayi Prabu.


"Yunda, raka, ibunda, tentu saja bisa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya. "Selama masih ada kemauan untuk belajar, insyaallah, Allah akan memberikan kemudahan, untuk hamba-Nya yang mau memperbaiki dirinya ke arah yang lebih baik lagi."


Rasanya sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh kakak dan ibundanya. Itu artinya jika memang mereka mau mempelajari agama Islam dengan baik dan benar, maka keluarga Bahuwirya yang berada di bawah kepemimpinannya akan masuk agama Islam?.


"Apakah yunda sudah memikirkannya? Belajar masalah agama islam memang harus sangat serius." Ratu Dewi Anindyaswari hanya ingin memastikannya.


"Tentu saja rayi dewi." Tidak ada keraguan lagi di matanya. "Aku sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh! Aku ingin belajar tentang agama yang baik dan yang benar." Keinginan untuk berubah sangatlah besar.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin yunda, semoga saja yunda bisa belajar dengan baik." Ratu Dewi Anindyaswari sangat senang. "Begitu juga dengan nanda berdua."


"Kami akan berusaha dengan baik ibunda."


"Kami akan mencobanya walaupun sulit."


"Semangat belajar ibunda, yunda, raka, kami akan selalu mendukungnya.


"Ya, benar yang dikatakan yunda agniasari ariani, kami akan selalu mendukungnya ibunda, yunda, raka."


"Terima kasih rayi nanda Prabu, rayi dewi, nanda putri agniasari ariani."


"Terima kasih rayi ibunda, rayi Prabu, rayi agniasari ariani."


Mereka semua merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Tidak hanya merasakan kerukunan, namun mereka juga merasakan kedekatan yang belum mereka rasakan selama ini.


"Ayahanda? Ayahanda bisa melihatnya? Keluarga ini akan memeluk agama Islam, namum belum dengan keluarga dari ibunda ratu ardiningrum  bintari." Dalam hati Sang prabu merasakan kebahagiaan, serta kesedihan diwaktu yang sama. Manis pahitnya kehidupan, akan membayangi seseorang, karena kehidupan ini sebenarnya seimbang. "Semoga mereka mau merubah diri juga." Hanya seperti itu harapan sang Prabu.


......****......


Singkatnya.


Jaya Satria telah sampai di kerajaan Suragawi, kedatangannya disambut oleh prabu Biantara Cayapta, juga Ratu Dewi Cempaka.


"Putraku!." Tangisnya menyambut putranya yang sudah terbujur kaku. "Mengapa nanda kembali dalam keadaan seperti ini? Kenapa nanda?." Begitu pedih hatinya, ia belum sempat berbaikan dengan anak semata wayangnya.


"Kisanak? Silahkan masuk ke dalam istana, aku meminta penjelasan dari kisanak tentang apa yang terjadi pada raka semana hayana."


"Sandika gusti Prabu." Jaya Satria ikut masuk ke istana, sedangkan mayat Raden Semana Hayana dibawa ke tempat pemandian jenazah, dan harus segera dikebumikan.


"Ibunda, mari kita masuk!." Prabu Biantara Cayapta mengajak ibundanya ke dalam Istana. "Mari kita dengarkan penjelasan dari orang asing itu mengenai raka semana hayana."


Saat berada di dalam istana.


"Hormat hamba Gusti Prabu."


"Hormatmu aku terima kisanak, silahkan duduk."


"Terima kasih Gusti prabu."


Ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana bersama mereka karena ada suatu masalah yang hendak ia selesaikan.


"Aku mohon, jelaskan apa yang terjadi pada putraku? Katakan padaku apa yang ia perbuat hingga menemui kematiannya?." Tangisnya sangat pilu, ia sangat merasa terpukul menerima kenyataan itu.


"Tapi sebelum itu, bolehkah aku mengetahui siapa kisanak? Dan mengapa kisanak mengenakan topeng penutup wajah? Serta mengapa, kisanak bersama prajurit?. Dari kerajaan manakah kisanak ini datang?." Begitu banyak pertanyaan yang diajukan oleh Prau Biantara Cayapta karena rasa penasaran yang membuncah dari hatinya.


"Mohon ampun gusti prabu." Ia memberi hormat. "Nama hamba adalah jaya satria, utusan dari kerajaan suka damai."


"Kerajaan suka damai? Jauh sekali." Ratu Dewi Cempaka dan Prabu Biantara Cayapta sangat heran dengan itu.


"Apa yang dilakukan anakku sampai sejauh itu ia berjalan?." Dalam hati Ratu Dewi Cempaka masih penasaran


"Maaf jika hamba tidak bisa menunjukkan wajah hamba karena ini adalah perintah dari prabu asmalaraya arya Ardhana, dan sebelum itu." Jaya Satria meneruskan penjelasannya. "Hamba adalah abdinya prabu kawiswara arya ragnala, dan beliau juga melarang hamba memperlihatkan wajah ini pada siapapun."

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.


...****...


__ADS_2