
...***...
Mereka semua menyaksikan pertarungan itu dengan seksama. Bagiamana Raden Bumi Putra menyerang Raden Raksa Wardhana dengan kemampuan yang ia miliki. Namun siapa sangka, meskipun matanya tertutup seperti itu, ia mampu menghalau semua serangan yang datang padanya. Bahkan mereka tidak menyangka sama sekali, jika Raden Raksa Wardhana bisa membalikkan serangan Raden Bumi Putra dengan sangat baik.
"Tidak mungkin!. Tidak mungkin dia mendapatkan kekuatan untuk bertarung dalam keadaan mata buta seperti itu." Prabu Bumi Jaya sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Rasanya sangat mustahil, dan itu tidak masuk akal sama sekali baginya. "Bagaimana mungkin orang buta bisa bertarung seperti orang normal?. Apalagi ditutup seperti itu matanya." Prabu Bumi Jaya sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Duakh!.
Raden Raksa Wardhana berhasil menendang punggung Raden Bumi putra dengan kuat, hingga ia terjajar. Mereka semua hampir tidak percaya, jika Raden Raksa Wardhana melakukan itu?. Bagaimana mungkin keadaannya yang benar-benar buta mampu melakukan itu?. Raden Bumi Putra menatap tajam ke arah Raden Raksa Wardhana.
"Bagaimana mungkin kau bisa melakukan pertarungan ini raksa wardhana?. Apakah kau telah berbuat curang?. Atau telah menipu kami semua dengan berpura-pura buta?. Sehingga aku lengah dan menduga bahwa kau tidak akan sanggup melawan aku yang dalam keadaan buta. Kau memang pandai bermain sandiwara raksa wardhana. Karena pertarungan yang kau lakukan itu seperti seorang yang tidak buta sama sekali. Kau memainkan semua jurus yang kau miliki." Raden Bumi Putra hanya ingin memastikan, bahwa tidak ada tindakan kecurangan yang dilakukan oleh Raden Raksa Wardhana.
"Maaf saja raka. Mataku ini sungguh-sungguh tidak bisa melihat. Bukankah kau pernah mendengarkannya langsung dari tabib istana. Bahwa aku mengalami kebutaan, dan aku dipastikan buta selamanya." Raden Raksa Wardhana hanya tidak ingin mereka semua salah paham padanya.
"Lalu bagaimana bisa kau mendapatkan kekuatan untuk melawan aku!. Kau pasti telah melakukan sesuatu yang sangat tidak terpuji!. Akui saja perbuatanmu raksa wardhana!." Ia sangat geram dengan penjelasan dari Raden Raksa Wardhana.
"Seseorang pernah berkata padaku. Mata boleh buta, namun mata hati jangan sampai buta. Percayalah, setiap kesulitan ada kemudahan. Setiap rasa sakit yang kita rasakan suatu hari nanti akan tergantikan dengan kebahagiaan yang sama sekali tidak kita duga sebelumnya." Raden Raksa Wardhana tersenyum kecil. Kata-katanya menyentuh mereka yang mendengarkan apa yang ia katakan.
__ADS_1
"Oh putraku. Kau telah belajar dengan baik nak. Ibunda sangat bangga padamu." Selir Ratna Wardhani sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Rasanya ia sangat bangga pada anaknya saat ini.
"Kau terlalu banyak bicara raksa wardhana!. Aku tidak akan memberi ampun padamu!. Hyah!." Raden Bumi Putra sudah muak dengan kata-kata yang sama sekali tidak berguna baginya. Karena itulah, kali ini ia menyerang Raden Raksa Wardhana dengan gencarnya. Terjadi pertarungan yang sangat sengit antara kedua putra mahkota. Sementara itu Prabu Bumi Jaya masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Raden Raksa Bumi anaknya.
"Sepertinya memang ada seseorang yang telah menyalakan obor percaya diri di dalam hatinya. Sehingga ia berani bertarung seperti itu. Aku yakin, ada seseorang yang membantunya. Tidak mungkin ia menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya." Dalam hati Prabu Bumi Jaya merasakan perubahan yang terjadi pada putranya itu. Tidak mungkin putranya mengalami perubahan sangat cepat hanya dalam waktu satu bulan bukan?.
Sementara itu, pertarungan masih berlanjut. Mereka terus mengadu kekuatan yang mereka miliki. Hingga mereka yang melihat pertarungan itu ikut tegang, dan jadi bingung mau berpihak pada siapa. Seperti nama pertarungan itu, pertarungan maut. Mereka telah mengerahkan semua tenaga dalam yang mereka miliki. Bahkan dentingan suara pedang membuat mereka semua merasa gelisah. Suara dentingan dua pedang yang sedang diadu, sehingga menciptakan bunyi yang sangat nyaring.
"Kau boleh juga raksa wardhana!. Tapi sayang sekali!. Karena akulah yang akan menang!." Ia terus mengayunkan pedangnya, dan berusaha untuk membunuh Raden Raksa Bumi dengan semua kemampuan yang ia miliki. Sayangnya Raden Raksa Wardhana tidak akan menyerahkan dirinya begitu saja.
"Hwah!." Mereka semua sangat terkejut, dan tidak menyangkut. Bagaimana mungkin si buta itu mampu mengalahkan
Nafas keduanya naik turun setelah pertarungan itu hampir berakhir?. Mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini?.
"Kenapa kau tidak langsung membunuh aku bajingan!. Apakah kau sedang merasa bangga karena telah mengalahkan aku?!." Raden Bumi Putra tidak memiliki kekuatan lagi untuk bergerak. Jika memang ia akan menemui kematiannya, setidaknya ia telah menunjukkan bagaimana pertarungan hebat tadi.
Namun saat mereka larut dengan rasa kagum itu, tiba-tiba saja ada sebuah belati yang melayang ke arah Raden Bumi Putra. Belati itu hampir saja menancap dengan kejamnya ke arah kepala belakang Raden Bumi Putra.
__ADS_1
Tetapi sepertinya seseorang membantu dengan tepat waktu. Ada seorang wanita yang masuk ke area pertarungan itu. Menahan tusukan belati itu ke kepala Raden Bumi Putra. Mereka semua sangat terkejut, dan tidak menduga ada yang mencoba untuk menghentikan pertarungan maut itu?.
Deg!.
"Bukankah kau wanita yang waktu itu?." Raden Bumi Putra sangat terkejut, dan tidak menyangka sama sekali, jika ia akan bertemu dengan wanita yang waktu itu berhadapan dengannya di pasar kota raja waktu itu.
"Hei!. Siapa kau?. Kenapa kau malah ikut campur dalam pertarungan ini?. Apakah kau tidak dengar apa yang telah aku katakan tadi hah?." Tampaknya Prabu Bumi Jaya sangat marah, karena ia tidak suka ada yang ikut campur.
"Hei!. Siapa kau?!." Petinggi istana, serta penonton merasa tidak suka dengan kehadiran Putri Andhini Andita.
"Katakan padaku!. Apa yang membuatmu menghentikan pertarungan ini, hah?. Jika alasan yang kau berikan tidak masuk akal, maka aku akan membunuhmu anak muda. Aku tidak peduli jika kau adalah seorang wanita." Prabu Bumi Jaya terlihat sangat marah, dan tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Putri Andhini Andita.
"Maafkan hamba gusti prabu. Jika hamba lancang karena telah ikut campur dalam masalah ini." Wanita misterius itu ternyata Putri Andhini Andita. "Namun pertarungan ini telah dinodai oleh seseorang." Lanjut Putri Andhini Andita.
"Apa yang kau maksud kan?. Apakah kau berusaha untuk mengelabui aku?." Prabu Bumi Jaya sama sekali tidak suka, dan ia ingin mengetahui apa yang diinginkan wanita itu?.
"Maaf sekali lagi gusti prabu. Dari pancaran yang ditangkap pedang hamba. Ada energi jahat yang sedang mengintai istana ini, serta calon putra mahkota yang sedang berusaha untuk bertarung dengan baik selama ini." Putri Andhini Andita mengayun pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi. Mereka semua sangat terkejut dengan hawa yang dipancarkan oleh pedang tersebut. Raden Bumi Putra bahkan terpaksa berdiri jika tidak mau mendapatkan masalah buruk. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...