
...***...
Di kamarnya.
"Aku tidak menyangka bahwa kau dengan teganya mengkhianati keluargamu sendiri ambarsari?!."
"Maafkan saya ibunda, saya sudah berkata pada ibunda? Bahwa saya telah memutuskan untuk membela kebenaran!."
"Jadi apa yang telah aku lakukan itu adalah salah?!." Ia menangis sedih setelah mendengar cerita tentang apa yang terjadi pada kedua anaknya yang melarikan diri.
"Mohon ampun ibunda? Apakah ibunda tidak memikirkan bagaimana sedihnya hati ayahanda Prabu? Betapa sedihnya hati ayahanda prabu menyaksikan Permaisuri yang ditinggalkannya malah memberontak pada negerinya sendiri? Serta bagaimana pilunya hati kakek Prabu dengan apa yang telah kita lakukan?!." Ia juga menangis, menangis sedih mengingat semuanya.
"Diam kau ambarsari! Aku hanya ingin menuntut hakku! Seharusnya putraku yang memimpin kerajaan suka damai! Karena putraku ganendra garjitha adalah putra pertama dari kanda Prabu!." Hatinya belum bisa menerima apa yang terjadi. "Bagaimana mungkin seorang penjahat yang hampir saja membunuhku di masa lalu itu bisa menjadi raja?! Apakah kau masih tidak memikirkan itu?! Kau masih mau menyalahkan aku?! Kau itu anakku atau tidak ambarsari?!." Sakit, sesak, itu yang ia rasakan.
"Ibunda? Saya tidak mau bertengkar dengan ibunda? Hanya karena mengungkit siapa yang pantas menjadi raja di kerajaan suka damai setelah kematian ayahanda Prabu?!." Ia juga merasa sedih karena ibundanya masih saja belum mau menerima kenyataan itu. "Siapa yang menyebabkan rayi prabu dimasa lalunya menjadi seorang penjahat?! Apakah ibunda pikir kita ini sudah suci?! Setelah apa yang ibunda lakukan pada keluarga ibunda Ratu dewi anindyaswari?!" Ia hapus air matanya.
Tidak ada tanggapan dari Ratu Ardiningrum Bintari, hatinya terlanjur sesak mendengarkan ucapan anaknya?. Walaupun di satu sisi ia memang mengakui apa yang telah ia lakukan sesuai dengan ucapan anaknya.
"Apa saja yang ibunda katakan pada kami? Pada saya? Pada raka ganendra garjitha? Raka gentala giandra tentang keluarga ibunda dewi anindyaswari?." Seakan-akan ucapan di masa lalu masih membayangi pikirannya saat itu. "Hati kami hanya diisi dengan kebencian pada orang yang jelas-jelas tidak memiliki salah apapun, apakah ibunda lupa dengan kejadian itu? Mau sampai kapan ibunda akan meracuni pikiran kami dengan ambisi ibunda?."
"Jadi kau ingin menyalahkan aku ambarsari?!." Hatinya sangat geram mendengarnya.
"Ya, saya menyalahkan ibunda karena telah mendidik saya dengan cara seperti itu, saya benci ada dendam seperti itu di dalam hati saya sebelumnya." Jawabnya dengan tegas.
"Ambarsari!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. "Kau mau bermusuhan denganku?!." Amarahnya tidak bisa ditahan lagi.
"Saya harap ibunda memikirkan kembali apa yang telah terjadi." Putri Ambarsari mengabaikan ucapan ibundanya. "Merenungkan apa penyebab dari semua ini dengan hati yang tenang! Sebelum kakek prabu sampai di istana ini? Saya harap ibunda mau berubah! Minta maaf pada kakek prabu dengan tulus! Sampurasun."
Setelah itu ia meninggalkan ibundanya. Rasanya tidak tahan berlama-lama berada di sana. Ia takut melawan ibundanya?.
Sedangkan ratu Ardiningrum Bintari, masih menangis karena kedua anaknya yang kalah dalam pertarungan itu, dan ia tidak tahu keberadaan kedua anaknya?.
"Putraku ganendra garjitha? Putraku Gentala Giandra? Malang sekali nasib kalian nak?." Ratapan tangis seorang ibu yang memikirkan keadaan anaknya yang entah berada di mana. hatinya sangat iba memikirkan nasib kedua anaknya.
...***...
Sementara itu.
Di suatu tempat terpencil.
Raden Gentala Giandra telah berhasil mengobati kakaknya atas bantuan seorang tabib yang cukup ahli.
"Satu atau dua hari ia kan segera sembuh, tapi untuk saat ini ia belum sadar karena luka yang diakibatkan oleh sabetan pedang itu cukup parah."
"Rakaku akan tertidur selama itu ki?."
"Seperti itulah den."
Ia hanya diam, melihat wajah pucat kakaknya, tertidur dalam kegelisahan karena menahan sakit.
"Aden boleh menginap beberapa hari di sini sampai keadaannya benar-benar pulih, kebetulan saya hanya tinggal sendirian di hutan ini."
"Terima kasih aki, aku merasa terbantu." Setidaknya untuk beberapa hari ke depan ia tidak memikirkan bagaimana ia akan tinggal, atau bagaimana ia merawat kakaknya.
Namun hatinya terasa panas mengingat apa yang telah ia alami setelah kakaknya terluka akibat serangan putri Andhini Andita.
"Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kalian lakukan padaku, juga rakaku!." Dalam hatinya mulai lahir dendam baru. Sakit hati karena kekalahan itu.
"Rayi ambarsari? Aku tidak menyangka kau berani mengkhianati kami?!." Ya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi saat ia mengingat apa yang dilakukan adiknya?.
"Ibunda? Aku harap mereka tidak berlaku kasar pada ibunda! Aku harap ibunda masih bisa bertahan! Setelah keadaan raka ganendra garjitha pulih kembali? Aku dan raka akan menjemput ibunda!."
Meskipun hatinya membenci, namun ia masih menyayangi ibundanya. Memikirkan keselamatan ibundanya. Ia masih menyayangi ibundanya, karena baginya ibundanya adalah segala-gala nya.
"Mari silahkan makan den? Aden butuh tenaga juga." Dengan ramahnya ki Jenar menawarkan makanan pada Raden Gentala Giandra.
"Terima kasih ki."
Bagaimana Raden Gentala Giandra melewati harinya sebagai rakyat biasa untuk sementara waktu?. Temukan jawabannya.
...***...
Di Istana kerajaan Suka Damai.
Di gerbang Istana.
__ADS_1
"Maafkan saya yang tidak bisa mengiringi kepulangan kakek Prabu ke istana kerajaan mekar jaya."
"Tidak apa-apa nanda Prabu, rasanya akan berbahaya jika nanda Prabu meninggalkan istana."
Saat ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melepaskan kepergian prabu Rahwana Bimantara. Setelah keadaan di Istana kerajaan Mekar Jaya benar-benar aman.
"Terima kasih aku ucapkan padamu nanda Prabu, bukan hanya merawatku saja? Namun nanda Prabu juga menyelamatkan kerajaan mekar jaya dari pemberontakan! Rasanya aku sangat malu dengan apa yang aku lakukan padamu nanda prabu?." Ada perasaan bersalah hinggap dihatinya.
"Jangan terlalu dipikirkan kakek Prabu, semuanya telah berlalu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Melangkahlah dengan baik di masa ini, jangan sampai kita meresapi kesalahan masa lalu, dan jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama."
"Suatu saat nanti." Prabu Rahwana Bimantara tersenyum kecil. "Aku akan membalas semua kebaikan yang telah kau berikan padaku nanda prabu." Itulah janjinya. "Meskipun kebaikan itu tidak bisa dibalas dengan emas manapun? Namun aku akan berusaha untuk membayarnya."
"Kakek prabu jangan berkata seperti itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali tersenyum. "Allah SWT tidak pernah mengungkit, atau meminta balasan atas kebaikan yang diberikan-Nya pada umat-Nya, Allah SWT selalu menolong umat-Nya, apa lagi saya yang hanya hamba-Nya?."
"Rasanya aku memang melihat kembali mendiang menantuku, Prabu kawiswara arya ragnala pada dirimu, kebaikannya sangat menyentuh jiwaku, tidak pamrih sama sekali."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Ratu Dewi Anindyaswari, dan Ratu Gendhis Cendrawati tersenyum ramah mendengarkan itu.
"Kalau begitu aku pamit." Prabu Rahwana Bimantara mengucapkan kalimat perpisahan. "Semoga kebaikan, kesejahteraan selalu dilimpahkan pada negeri ini.
"Aamiin."
"Aku juga mengucapkan terima kasih pada kalian berdua karena telah bersedia merawatku, maaf jika aku telah membuat kalian berdua kerepotan."
"Ayahanda Prabu jangan berkata seperti itu, kami tidak kerepotan sama sekali."
"Benar yang dikatakan rayi dewi, ayahanda bisa datang kapan saja ke istana ini jika merindukan kami."
"Tentu saja."
"Berhati-hatilah kakek Prabu selama diperjalanan, saya akan mendoakan, semoga perjalanan kakek Prabu tidak mendapatkan hambatan."
"Terima kasih nanda Prabu, semoga dewata yang agung selalu melindungiku, selama diperjalanan nantinya."
"Berhati-hatilah ayahanda prabu, jaga kesehatan ayahanda prabu selama diperjalanan."
"Benar ayahanda Prabu, Jika merasa lelah? Beristirahatlah! Jangan terlalu memaksakan diri."
"Terimakasih putriku dewi anindyaswari, putriku gendhis cendrawati, kalian juga tetaplah rukun di istana ini! Aku juga akan mendoakan kesehatan untuk kalian berdua."
...***...
Sementara itu, di istana kerajaan Mekar Jaya.
Di alun-alun istana.
Saat ini Jaya Satria, Putri Ambarsari, Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta, Nyai Bestari Dhatu, dan Syekh Asmawan Mulia sedang berunding tentang masalah penyambutan kedatangan prabu Rahwana Bimantara.
"Gusti prabu rahwana telah meninggalkan istana kerajaan suka damai." Jaya Satria memberitahukan kepada mereka. "Seperti yang kita ketahui bahwa membutuhkan dua hari paling lama untuk sampai ke istana ini."
"Jadi kakek prabu telah mengetahui berita bahagia ini?." Putri Ambarsari sangat antusias sekali.
"Benar gusti putri, saya telah berhasil berkomunikasi dengan gusti prabu semalam, dan gusti Prabu asmalaraya arya ardhana mengatakan bahwa Gusti Prabu rahwana bimantara akan berangkat hari ini dari istana kerajaan suka damai." Balas Jaya Satria.
"Tapi apakah keadaan kakek prabu sudah pulih?." Putri Andhini Andita sedikit cemas. "Aku takut terjadi sesuatu padanya ketika berada di perjalanan."
"Gusti putri tenang saja." Jaya Satria tersenyum kecil. "Jika keadaan Gusti Prabu rahwana bimantara belum pulih? Mana mungkin gusti prabu asmalaraya arya ardhana memperbolehkan beliau berangkat ke istana ini?."
"Benar yang dikatakan jaya satria." Putri Agniasari Ariani sangat setuju. "Pasti rayi Prabu akan menyuruh kakek Prabu tetap tinggal di istana sampai keadaannya benar-benar pulih." putri Agniasari Ariani yakin dengan apa yang ia pikirkan.
"Semoga saja kakek prabu baik-baik saja selama diperjalanan."
"Semoga saja."
Mereka semua sangat berharap jika prabu Rahwana Bimantara akan baik-baik saja selama diperjalanan.
"Untuk sementara waktu saya mohon pada syekh asmawan mulia, serta nyai bestari dhatu untuk tetap berada di istana ini." Putri Ambarsari menatap mereka semua. "Karena saya yakin kakek Prabu ingin bertemu dengan orang-orang yang telah ikut berjasa, dalam membantu kami untuk melakukan penumpasan terhadap para pemberontak."
"Sandika gusti putri." Balas syekh Asmawan Mulia dan nyai bestari dhatu, mencoba untuk memahami situasi.
"Maaf yunda, kita juga harus waspada terhadap serangan balik dari kedua pelarian itu." Dengan agak kesal Putri Andhini Andita berkata seperti itu.
"Termasuk itu juga rayi." Putri Ambarsari tidak menyangkal itu. "Tapi setidaknya saat ini kondisi istana sudah mulai membaik." Lanjutnya. Saya bersyukur karena keadaan prajurit juga mulai membaik setelah mendapatkan tekanan dari golongan pendekar golongan hitam yang telah memaksa mereka untuk berlatih ilmu kanuragan, selain itu rakyat kota raja telah kembali ke rumah masing-masing dengan selamat."
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin, dengan begitu aku yakin, kakek prabu akan benar-benar bahagia saat sampai di istana ini nantinya." Putri Agniasari Ariani juga merasa tenang.
__ADS_1
"Ya, rayi benar, Syukurlah semuanya sudah mulai membaik semoga saja kondisi seperti ini dapat mengobati hati kakek prabu nantinya."
"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk menyambut kedatangan kakek prabu?! Tentunya kita harus menyambut kedatangan kakek prabu dengan suka cita? Aku yakin semua rakyat juga akan setuju." Sepertinya putri Andhini Andita.
"Kalau masalah itu, sebaiknya kita buatkan perayaan penyambutan kepulangan kakek Prabu, serta perayaan kesehatan kakek prabu." Raden Hadyan Hastanta terlihat sangat bersemangat.
"Ya, saya setuju dengan ide rayi hadyan hastanta, semoga dengan penyambutan tersebut kakek prabu bisa melupakan sejenak apa yang telah terjadi."
Mereka semua sepakat akan membuat acara penyambutan kedatangan prabu rahwana bimantara. Mereka akan mempersiapkan acara tersebut dengan sebaik-baiknya. Apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di satu sisi.
Matanya mencoba menatap sekitar, namun terasa gelap? Ia kebingungan, karena gelap yang ia rasakan begitu terasa sesak.
"Tenanglah dinda."
Suara itu, suara yang dulunya selalu menyebut namanya. suara yang sangat ia rindukan.
"Dinda?."
Perlahan-lahan ia mulai bisa melihat, ada seberkas cahaya yang menerangi sekitarnya.
"Kanda prabu?."
Ia melihat sosok suaminya. Sementara itu? Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang sedang duduk di depan api unggun.
"Kanda prabu?."Ia sangat ingin mendekati suaminya, duduk di samping suaminya, ingin menceritakan apa saja yang telah ia alami, tapi, ia tidak bisa bergerak. ia seakan terpaku ditempat.
"Duduklah dengan tenang dinda." Senyuman itu, senyuman yang selalu ia lihat ketika suaminya hidup. Dan senyuman itu masih bisa ia lihat bahkan ketika ia gelisah karena tidak bisa mendekati suaminya?.
"Kanda Prabu?."
"Dinda? Apakah dinda tidak ingin mendengar sebuah cerita mengenai kehidupan kita sebelumnya?."
Ratu Ardiningrum Bintari yang tadinya berusaha memberontak, ia terdiam karena mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Dinda? Hidup ini pasti ada pihak yang salah, dan ada juga pihak yang benar." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap istrinya dengan lembut, membuat sang Ratu perlahan mulai tenang di tempat duduknya meskipun agak berjauhan.
"Ada juga yang salah? Namun masih ada kebaikan yang tidak bisa dilihat oleh orang lain? Ada juga pihak yang benar? Akan tetapi bisa terlihat salah karena pandangan orang lain?." Lanjutnya. "Dinda ada di pihak yang mana?."
Ratu Ardiningrum Bintari terdiam, ia tampak berpikir. "Aku ada di pihak yang mana?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Hatinya mulai bertanya bagaimana sikapnya selama ini?.
"Kanda tidak akan menghakimi dinda, biarlah dinda yang memikirkan apa yang kanda katakan, kanda hanya menginginkan yang terbaik untuk dinda, tidak pernah kanda berniat untuk berlaku tidak adil pada dinda."
Setelah berkata seperti itu, perlahan-lahan Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang dari pandangannya, membuatnya panik.
"Kanda prabu? Kanda?." Ia berusaha memanggil suaminya, namun tidak ada tanggapan. Apalagi ketika cahaya dari api unggun itu mulai meredup, perlahan-lahan menghilang, dan sekitarnya kembali menjadi gelap.
"Kanda prabu?!." Ia terbangun dari tidurnya?. Ya!. Ternyata ia tertidur karena lelah menangisi nasib yang menimpa kedua anaknya.
"Kanda prabu?." Ia menangis sambil merapatkan tubuhnya, memeluk dirinya sendiri dalam tangisnya.
"Bahkan kanda prabu pun meninggalkan aku?." Hatinya kembali sedih karena suaminya tidak bisa berlama-lama bersamanya. Pada hal ia sangat ingin mengadu semua apa yang ia rasakan.
"Apakah kanda tidak merasa kasihan pada dinda? Yang dinda inginkan hanyalah putra kita ganendra garjitha yang memimpin kerajaan suka damai! Bukan anaknya dewi anindyaswari yang dulunya hampir saja membunuhku di masa lalu!."
Ia masih saja mengingat kejadian saat itu, dimana ia hampir saja mati karena amukan dari Raden Cakara Casugraha. Hatinya sangat tidak terima sama sekali dengan kejadian hari itu.
"Ibunda harusnya memikirkan kembali, apa yang menjadi penyebab rayi prabu di masa lalu bersikap seperti itu?." Ucapan putrinya terngiang-ngiang di kepalanya. Seakan mengingatkan dirinya. menyadari semua kesalahannya, menyadari pikirannya.
"Tidak! Aku berada di pihak yang benar! Aku tidak mungkin salah! Aku tidak mungkin salah karena hak tahta kerajaan suka damai adalah milik putraku! Bukan dari wanita busuk yang telah menggoda suamiku Prabu kawiswara arya ragnala!."
Ia masih saja menepis semua kenyataan itu, meskipun di satu sisi dihatinya menginginkan drinya kembali ke jalan yang penuh kejujuran?. Jauh sebelum datangnya Ratu Dewi Anindyaswari yang dilamar oleh suaminya tanpa sepengetahuannya?.
Sejak saat itu hatinya sudah tidak terima. Ia pikir hanya ada dua wanita saja yang mampu menaklukkan hati suaminya?. Namun siapa sangka saat ia pertamanya berumur lima tahun. suaminya menikah lagi dengan wanita muda?.
Hatinya sangat hancur, dipenuhi oleh rencana-rencana jahat untuk menyingkirkan Ratu Dewi Anindyaswari dari Istana Kerajaan Suka Damai.
"Mereka selalu saja mengambil apa yang aku miliki!." Hatinya saat itu masih dipenuhi dengan amarah yang sangat membara. "Aku tidak akan membiarkan mereka terus menerus mengambil apa yang aku miliki!."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
__ADS_1