RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MIMPI BURUK RATU DEWI ANINDYASWARI


__ADS_3

...***...


Ratu Dewi Anindyaswari saat ini sedang bersama kedua anaknya. Setelah seminggu kembali ke Istana, ia baru bisa bersama kedua anaknya. Akan tetapi ia merasa sedih karena melihat keadaan anaknya yang sedikit berbeda.


"Ada nak?. Kenapa nanda berdua terlihat pucat?. Apakah nanda berdua sakit?."


"Tidak apa-apa ibunda. Kami baik-baik saja."


"Benar ibunda. Kami baik-baik saja, hanya saja kami akhir-akhir ini larut dalam menyelesaikan masalah di luar."


"Jangan terlalu memaksakan diri nak. Apa jadinya nanti jika yundamu datang ke istana ini, akan tetapi nanda dalam keadaan sakit."


"Kami akan baik-baik saja ibunda. Sungguh, kami hanya mengharapkan doa dari ibunda."


"Hanya do'a dari ibunda yang membuat kami merasa lebih kuat. Karena itulah, ibunda jangan berhenti berdoa untuk kami ibunda."


"Tentu saja ibunda akan selalu berdoa untuk nanda berdua. Ibunda tidak akan lupa berdoa untuk nanda berdua, putra kesayangan ibunda."


"Terima kasih ibunda. Nanda sangat menyayangi ibunda."


"Sungguh, nanda sangat menyayangi ibunda."


"Ibunda juga sangat menyayangi nanda berdua." Tapi entah mengapa, perasaanya sangat gelisah saat menatap sorot mata kedua anaknya yang menyimpan kesedihan.


"Nanda sangat menyayangi ibunda."


Namun tiba-tiba, Jaya Satria menghilang dari hadapannya. Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut, ia sampai bangkit dari duduknya?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Putraku jaya satria."


Tidak, lebih tepatnya ia bangun dari tidurnya. Karena ia terkejut, anaknya Jaya Satria menghilang dari pandangannya?. Jantungnya berdebar-debar dengan kencang. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya. Namun ia tidak menggubriskan masalah itu, pikirannya saat ini sangat tidak tenang.


"Putraku jaya satria. Mengapa nanda tiba-tiba menghilang nak?." Hatinya sangat gelisah, pikirannya terbayang pada anaknya Jaya Satria.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua putraku?." Tanpa sadar ia menangis sedih. "Nanda prabu, nanda jaya satria. Kalian berada dimana nak?." Ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Ia keluar kamar, mencari keberadaan kedua anaknya. Ia takut terjadi sesuatu pada mereka.


"Semoga saja putraku jaya satria baik-baik saja ya Allah." Dalam hatinya sangat tak henti-hentinya berharap, jika anaknya baik-baik saja.


Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria saat ini berada di ruang pribadi Raja.

__ADS_1


"Persiapannya sesuai dengan rencana gusti prabu. Semoga saja yunda ratu menyukai penyambutan ini."


"Semoga saja yunda ratu suka. Semoga saja yunda ratu tidak berduka lagi. Rasanya pasti sangat sedih, kehilangan orang-orang yang kita cintai."


"Ya, kau benar jaya satria. Tapi sebisa mungkin, kita harus membuat yunda ratu tetap tegar. Bagaimanapun juga, kita adalah saudaranya."


"Tentu saja gusti Prabu. Itu adalah kewajiban kita sebagai saudara yunda ratu."


Namun saat mereka sedang berbicara, terdengar suara Ratu Dewi Anindyaswari dari luar.


"Assalamualaikum, nanda prabu, nanda jaya satria?. Apakah nanda berdua ada di dalam nak?."


"Wa'alaikumussalam ibunda. Kami memang ada di dalam, masuklah ibunda."


Ratu Dewi Anindyaswari masuk ke dalam, ia terlihat cemas. Ia memeluk kedua anaknya yang kebetulan duduk berdampingan.


"Syukurlah kalian baik-baik saja nak." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus kepala belakang anaknya, tak lupa ia mencium puncak kepala anaknya.


"Ada apa ibunda?. Mengapa ibunda belum istirahat?."


"Iya ibunda. Hari telah malam, mengapa ibunda belum tidur?."


"Tadi ibunda sudah terlelap sebentar nak. Tapi ibunda bermimpi."


"Ibunda bermimpi?. Memangnya ibunda bermimpi apa?."


"Benar ibunda. Katakan pada kami, mimpi apa yang membuat ibunda terbangun?."


Agak berat rasanya Ratu Dewi Anindyaswari mengatakannya kepada kedua anaknya.


"Ibunda?." Keduanya mendekati ibundanya. Tidak menyangka akan melihat Ratu Dewi Anindyaswari menangis?.


"Ibunda. Mengapa ibunda menangis?. Katakan pada kami ada apa ibunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyeka air mata ibundanya.


"Katakan pada nanda, apa yang membuat ibunda bersedih."


Ratu Dewi Anindyaswari memeluk erat Jaya Satria, membuatnya sedikit terkejut. Dalam hatinya bertanya-tanya mimpi apa yang membuat ibundanya menangis sedih seperti ini?.


"Ibunda tidak mau kehilangan dirimu nak. Tetaplah berada didekat ibunda. Jangan pergi tinggalkan ibunda."

__ADS_1


"Mengapa ibunda berkata seperti itu?."


"Iya ibunda. Katakan pada kami."


"Tadi ibunda bermimpi nak. Ketika kita sedang membahas acara yang akan kita laksanakan, tiba-tiba saja nanda jaya satria menghilang. Ibunda sangat takut sekali nak."


Deg!!!


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari. Itulah kecemasan yang mereka rasakan. Kecemasan akan ketakutan, Jaya Satria yang menghilang tanpa sebab.


"Apakah ibunda merasakan kegelisahan yang kita rasakan jaya satria?."


"Hamba tidak mengetahuinya gusti prabu. Tapi setidaknya, mari kita tenangkan Ibunda." Dalam hati keduanya mencoba saling berkomunikasi.


"Tenanglah ibunda. Itu hanyalah mimpi, bunga tidur. Nanda masih bersama ibunda."


"Tetaplah bersama ibunda ya nak. Jangan pergi lagi. Rasanya ibunda tidak sanggup untuk berpisah dengan nanda. Cukup sekali saja, dalam jangka panjang ibunda berpisah denganmu nak."


"Ibunda. Jangan berkata seperti itu ibunda. Rasanya kami sangat sedih ibunda."


"Iya ibunda. Jaya satria masih bersama kita ibunda. Jangan menangis ibunda."


Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menghapus air matanya. Ia tidak bisa menahan perasaan sedihnya, ia takut dengan mimpinya. Karena ia tidak sanggup lagi berpisah dengan anaknya.


Kegelisahan, dan mimpi. Keduanya seakan memberikan pertanda yang sangat buruk. Tapi mereka hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja.


...***...


Di sebuah tempat. Sorot matanya menatap tajam ke arah langit malam, ia sedang menunggu kedatangan anak buahnya. Ia memang menyuruh anak buahnya untuk memata-matai sekitar istana. Karena ia ingin menyerang Raden Cakara Casugraha dengan kekuatan penuh.


"Jika tidak dipantau, menyerang secara mendadak. Aku takut cakara casugraha akan mengagalkan semua rencana yang aku perbuat." Ia masih mengingat bagaimana kejadian tujuh tahun yang lalu. Luka yang ia derita, luka jiwa dan raganya yang disebabkan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Dendam ini harus segera tuntas. Hampir memasuki delapan tahun berlalu, dan aku masih belum bisa membalaskan amarah ini padanya." Hatinya bergemuruh sakit, dendam yang membara, membakar hatinya.


"Selama enam tahun ini aku menggembleng diriku dengan berbagai macam jurus, hanya untuk menambah kesaktian ku. Memikirkan mengalahkan kekuatan kutukan itu. Dan kali ini, akan aku pastikan." Ia kepal kuat buku-buku jarinya, menggambarkan bahwa dirinya sedang dikuasai oleh kemarahan.


"Akan aku hancurkan kau cakara casugraha!. Akan aku hancurkan kau hingga tidak bisa berkutik lagi." Setelah itu ia tertawa keras, membayangkan jika dirinya berhasil mengalahkan Raden Cakara Casugraha.


Sebenarnya siapa dia?. Mengapa ia bisa memiliki dendam pada Raden Cakara Casugraha?. Apa masalah yang membuatnya ingin melampiaskan rasa sakit hatinya pada Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2