RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
RADEN HADYAN HASTANTA DISERANG


__ADS_3

Ki Dharma Seta telah berusaha melakukan penerawangan. Ia berusaha mencari keberadaan anak buahnya. Sayangnya ia gagal melakukan itu karena ia merasakan ada suatu penghalang kuat seperti pagar gaib yang tidak dapat ia tembus.


"Kurang ajar!. Sepertinya orang misterius yang dikatakan oleh anak buahku memiliki ilmu Kanuragan yang tidak bisa aku remehkan."


Ki Dharma Seta merasa kesal, tidak bisa melakukan penerawangan karena rajah pelindung gaib itu sangat kuat. Namun ia tidak akan menyerah begitu saja.


"Baiklah. Sepertinya aku akan meminta bantuan dari nini kabut bidadari."


Ya. Ia meminta bantuan pada temannya. Yaitunya Nini Kabut Bidadari, seorang pendekar wanita yang dapat mematahkan ajian rajah pelindung manapun.


"Kalau begitu aku akan segera menemuinya. Aku tidak mau anak buahku mayang sari kenapa-kenapa. Karena dia banyak membantuku selama ini."


Sebagai ketua, ia memiliki tanggung jawab pada anak buah yang ia kumpulkan. Meskipun mereka semua adalah orang-orang yang tidak beres dalam artian pendekar jahat semua.


"Narumi putih, raksa bumi, kemarilah kalian!." Ki Dharma Seta memanggil kedua anak buahnya dengan suara yang cukup keras. Tak berselang lama anak buahnya itu datang.


"Ada apa Ki?." Tanya keduanya penasaran. Mengapa ketuanya itu memanggil mereka?.


"Aku akan pergi ke telaga warna bidadari untuk sementara waktu. Kalian tetaplah bergerak, bawa pasukan yang lainnya." Ucap Ki Dharma Seta memberi pesan pada anak buahnya.


"Apa yang akan aki lakukan di sana?." Tanya Raksa Bumi sedikit penasaran, apa yang akan dilakukan oleh ketuanya?.


"Aku ingin bertemu dengan temanku nini kabut bidadari. Aku ingin minta bantuan darinya mengatasi pagar gaib yang menghalangiku untuk mencari keberadaan mayang sari. Jadi kalian tetap berbuat kerusuhan. Tapi jangan di wilayah yang bisa dijangkau oleh orang misterius itu. Ingat!. Jangan sampai tertangkap lagi, atau aku akan membiarkan kalian mati ditangannya."


Kali ini ucapan Ki Dharma Seta terdengar seperti ancaman jika mereka melakukan kecerobohan lagi.


"Baik Ki." Dengan suara yang agak takut, mereka mengiyakan apa yang dikatakan oleh ketua mereka. Setelah itu Ki Dharma Seta pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sialan!. Gara-gara mayang sari tertangkap kita yang jadi kerepotan." Narumi Putih malah mengumpat kesal, kenapa malah ia yang diancam oleh ketuanya?.


"Sudahlah. Kita harus bersiap-siap!. Aku tidak mau kena amukan ketua kita." Raksa Bumi tidak mau kena sembur gurunya, ia takut ketuanya itu murka padanya. Mau tidak mau mereka harus mengikuti apa yang dikatakan oleh Ki Dharma Seta.


...****************...


Di taman istana. Prabu Asmalaraya sedang duduk bersama anak-anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Ia sedang bersenandung menyiarkan agama islam kepada anak-anak lucu itu.


Ia melantunkan shalawat badar dihadapan anak-anak itu. Mereka semua merasa tertarik dengan suara merdu dari sang Prabu.


"Nah. Anak-anak sekalian. Tadi itu shalawat kepada baginda Muhammad Saw."


Sang prabu menjelaskannya dengan hati-hati agar mereka yang masih kecil mengerti dengan apa yang ia jelaskan.


"Mengapa kita harus bershalawat kepada baginda nabi Muhammad Saw gusti prabu?." Tanya salah satu anak-anak itu. pertanyaan itu membuat sang Prabu tersenyum lebar, ia sangat senang mendengarkan pertanyaan dari anak yang menggemaskan seperti mereka.


"Benar?. Kalian ingin tahu mengapa?." Sang Prabu malah usil balik bertanya kepada anak-anak tersebut.


"Mau tau Gusti Prabu." Jawab mereka dengan serentak, membuat sang Prabu tertawa kecil.


"subhanallah. Mereka sangat menggemaskan, aku tidak tahan melihat wajah lucu mereka." Sang prabu berucap dalam hati, ia merasa senang tadinya ia melihat anak-anak kecil yang bermain di sekitar istana. Ia melihat anak-anak kecil itu berlari di gerbang istana. Prajurit mengusir mereka, namun sang prabu malah menyuruh anak-anak itu masuk.


"Baiklah. Akan aku jelaskan kepada kalian semua, mengapa kita harus bershalawat kepada nabi Muhammad Saw?." Sang prabu mengulang kalimat pertanyaannya.


"Karena hanya Baginda nabi Muhammad Saw yang akan membantu kita diakhirat kelak, nabi Muhammad Saw lah yang memberi syafaat kepada kita semua nantinya."


Sang prabu menjelaskannya , dan mereka mengangguk tanda mengerti penjelasannya.


"Apa kalian mau mengulangnya lagi?. apa kalian suka?." Tanya sang prabu sambil tersenyum ramah pada anak-anak itu.


"Mau gusti prabu. Kami suka dengan shalawatnya."


Terlihat dengan jelas ketulusan dari mereka, wajah-wajah putih tanpa noda dan dosa.


"subhanallah." Sang prabu sangat senang mendengarkan apa yang mereka katakan. Sang Prabu kembali menuntut anak-anak tersebut membaca shalawat badar.


Sementara itu ibundanya Ratu Dewi Anindyaswari sedang mengamati putranya dari kejauhan bersama anaknya putri Agniasari Ariani.


"Lihatlah rayimu. Dia sangat baik kepada siapapun termasuk kepada anak kecil."


Dewi Anindyaswari tidak dapat menyembunyikan bentuk kekaguman anaknya itu. Sepertinya keputusan anaknya untuk memeluk agama Islam bukanlah suatu kesalahan yang besar. Awalnya ia akan mengira anaknya akan berubah, namun perubahan itu ternyata ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


"Ibunda benar. Entah mengapa aku merasakan bahwa rayi prabu benar-benar luar biasa."


putri Agniasari Ariani juga dapat merasakan perubahan itu. Adiknya semakin terlihat berwibawa, apalagi ketika menyelesaikan permasalahan kemarin antara dirinya dengan yundanya.


Kembali pada hari itu.


Saat mereka memasuki ruangan pribadi raja, mereka mulai menceritakan apa yang terjadi pada sang prabu.


"Mohon maaf rayi prabu. Ketika aku mau ke ruanganmu. Aku tadi melihat gerak gerik yunda andhini adnita yang mencurigakan, karena itulah aku menegurnya." Putri Agniasari Ariani menjelaskan mengapa ia marah pada putri Andhini Andita.


"Benarkah itu yunda andhini adnita?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya kepada kakaknya putri Andhini Andita.


"Mohon maaf rayi prabu." Putri Andhini Andita memberi hormat pada adiknya.


"Sebenarnya aku ingin masuk ke ruanganmu, hanya saja tidak berani karena aku melihat ada seseorang bersamamu. Aku hendak menyampaikan sesuatu padamu rayi prabu." Putri Andhini Andita tidak ingin adiknya salah faham, memang awalnya bukan itu niatnya.


"Yunda andhini adnita telah menjelaskan alasan mengapa ia berada di sana. Jadi yunda tenanglah. Aku rasa yunda andhini adnita hanya tidak mau menggangguku saja."


prabu Asmalaraya tersenyum kecil pada kakaknya, ia tidak mau kakaknya menuduh yang bukan-bukan.


"Baiklah rayi prabu, maafkan aku." Amarah putri Agniasari Ariani mulai reda, ucapannya sudah mulai tenang.


"Maafkan aku yunda. Karena telah berkata kasar padamu." Putri Agniasari juga meminta maaf.


"Baiklah rayi. Aku memaafkanmu." Balasnya. "Terima kasih banyak rayi prabu." Putri Andhini Andita merasa lega, karena prabu Asmalaraya mau mendengarkan ucapannya. Ia kira prabu Asmalaraya akan membela kakak kandungnya putri Agniasari Ariani dari pada dirinya.


"Sama-sama yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum kecil.


"Lain kali lihat dulu situasinya rayi. Kita ini saudara, jadi tidak ada alasan kita untuk bertengkar." Ia memaafkan apa yang dituduhkan adiknya, meski ia akui ia tidak terlalu akur dengan kedua adik tirinya ini.


"Setidaknya rayi prabu tidak marah padaku karena aku berani mendekati ruang pribadinya." Batin putri Andhini Andita. Namun rasa penasarannya pada sosok itu tidaklah hilang begitu saja.


"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu. Maaf mengganggumu rayi prabu." putri Andhini Andita mohon undur diri setelah memberi hormat pada adiknya.


Kembali ke masa ini.


"Rayi prabu mendengarkan siapa saja. Langsung menyelesaikan masalah yang terjadi. Sungguh luar biasa."


"Ibunda juga kagum dengan adikmu." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh putranya.


"Mungkin ibunda juga akan mempelajari agama islam bersama adikmu."


Ya, sejak mendengarkan anaknya prabu Asmalaraya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hatinya merasa damai, tenang dan tentram. Bahkan mendiang suaminya juga mengatakan, jika suara anaknya adalah embun kesejukan ditengah panas yang gersang.


"Aku juga ibunda."


putri Agniasari juga ingin mempelajari agama islam, ia tertarik dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu. Entah ketika ia tidak sengaja melihat adiknya sedang sholat, atau membaca Alquran setiap ia mengunjungi kamar adiknya.


...****************...


Di suatu tempat.


Raden Hadyan Hastanta sepertinya sedang berjalan-jalan di luar istana. Ia sedang bosan berada di istana, karena itulah ia mencoba berjalan keluar menikmati suasana luar istana. Namun siapa sangka ia malah bertemu dengan kawanan perampok yang datang menghampirinya.


"Hei!. kau!. Sepertinya kau membawa bekal, serahkan pada kami atau kau akan mati!."


Orang-orang itu mengancam Raden Hadyan Hastanta, karena mereka tidak tau siapa dia.


"Perampok kelas teri macam kalian mau mengancam raden hadyan hastanta?. Apakah kalian sudah bosan hidup?. Hah?!." Raden Hadyan merasa kesal. Mengapa disaat mau menikmati suasana indah di luar istana, malah dicegat oleh kawanan perampok?.


Mereka yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Hadyan malah tertawa keras.


"Sepertinya kita akan mendapatkan penghasilan melimpah karena merampok dari seorang pangeran ahahaha."


Mereka malah tertawa keras, namun Raden Hadyan sangat tidak suka itu. Setelah itu terjadi pertarungan antara Raden Hadyan Hastanta dengan kawanan perampok itu.


Satu dua jurus telah ia keluarkan, ia berhasil melumpuhkan beberapa dari mereka.


"Kurang ajar!. Beri tau ketua!."

__ADS_1


Perintah salah satu dari mereka agar pergi melapor. mereka tidak mampu mengatasi Raden Hadyan Hastanta yang memiliki ilmu Kanuragan diatas mereka. Raden Hadyan Hastanta masih fokus menyerang kawanan perampok yang tersisa.


"Sialan!. Mereka cukup tangguh juga untukku atasi sendiri. Meskipun ilmu Kanuragan mereka tidak seberapa, namun tetap saja merepotkan juga menghadapi mereka." Dalam hati Raden Hadyan mengakui kewalahan menghadapi kawanan perompak itu.


Fhyuh.


Tiba-tiba saja Raden Hadyan Hastanta mendapatkan serangan yang entah datang dari mana. Ia tidak dapat menghindarinya, bahu kirinya terkena jarum yang menancap cukup dalam.


"Aakh."


Raden Hadyan Hastanta berteriak kesakitan, sedangkan kawanan perampok terkejut melihat itu. Setelah itu mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat Raden Hadyan Hastanta kesakitan.


Setelah itu muncul seorang laki-laki sambil tertawa. Dia adalah Nala Gareng, salah satu anak buah kelompok sengkar iblis.


"Hanya segitukah kemampuan yang kau miliki raden?." Nala Gareng tertawa keras, ia tidak menduga semudah itu mengalahkan seorang pangeran?.


"Kurang ajar!." Raden Hadyan Hastanta mengumpat kesal. Tenaganya sedikit demi sedikit terkuras karena jarum itu sepertinya mengandung racun.


"Kau akan menerima kematianmu pangeran bodoh!."


Nala Gareng merasa senang, ia akan mendapatkan pujian dari golongan hitam karena berhasil membunuh salah satu putra raja.


Nala Gareng telah siap dengan senjatanya yang akan memenggal kepala Raden Hadyan Hastanta. Mereka semua tertawa diatas rasa sakit dan ketidakberdayaan Raden Hadyan saat ini.


Tapi siapa sangka tubuhnya malah terkena sebuah serangan yang membuatnya terlempar jauh. Sedangkan yang lainnya terkejut melihat ketua mereka terjatuh tersungkur?.


"Kau lagi!."


Ucap orang misterius itu, yang tak lain adalah Jaya Satria.


"Kau?."


Nala Gareng tidak menyangka akan bertemu lagi dengan orang bertopeng itu lagi. Sesuai dengan kata temannya, jika bertemu dengan orang misterius itu lebih baik menghindar dulu, dari pada ditangkap lagi olehnya.


"Kalian semua mundur!."


Perintah Nala Gareng kepada anak buahnya. Mau tak mau mereka menuruti perkataan ketua mereka.


"Raden, apakah raden baik-baik saja?."


Jaya Satria membantu Raden Hadyan Hastanta berdiri. Melihat ada jarum beracun yang tertancap di bahu kirinya.


"Siapapun kau. Bantu aku ke istana!. Aku tidak mau mati sia-sia disini, akh."


Raden Hadyan merintih kesakitan, ia menyuruh orang misterius itu membawanya ke istana agar segera diobati.


Namun sebelum itu, Jaya Satria menotok aliran darah Raden Hadyan agar racunnya tidak menyebar kemana-mana.


"Baiklah raden. Untuk sementara rasanya aman. Hamba akan membawa raden ke istana." Ucap jaya satria sambil memapah tubuh Raden Hadyan Hastanta yang terasa kaku. Jaya Satria segera membawa Raden Hadyan ke istana.


...****************...


Begitu sampai di Istana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan kehadiran Jaya Satria. Ia segera keluar istana, menuju gerbang istana.


"Prajurit, bantu raden hadyan hastanta menuju ruang pengobatan." Perintah Jaya Satria, meskipun mereka awalnya ragu siapa yang membawa Raden Hadyan Hastanta dalam keadaan terluka.


"Tunggu apalagi!. Apa kalian menginginkan junjungan kalian mati?."


Agak kesal juga Jaya Satria karena prajurit istana malah seperti mau menyerangnya. Namun akhirnya mereka menyambut Raden Hadyan Hastanta karena ia terlihat kesakitan.


"Ada apa jaya Satria?. Mengapa raka hadyan hastanta terluka begitu?." Tanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana begitu sampai dihadapan Jaya Satria.


"Tadi ia terkena jarum beracun, serangan dari salah satu kelompok sengkar iblis." Jawab Jaya Satria.


"Apa?. Raka hadyan hastanta terkena jarum beracun?." prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menyangka jika kakaknya itu mendapatkan serangan yang cukup parah.


"Tapi gusti prabu tenang saja, hamba telah menghentikan aliran darahnya. Setidaknya racun itu tidak terlalu menyebar hingga membuat kehilangan nyawanya." Jaya Satria menjelaskan sedikit pada Prabu Asmalaraya agar tidak terlalu khawatir.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin syukurlah. Kau memang dapat aku andalkan jaya satria." Prabu Asmalaraya merasa senang, ia memang mengkhawatirkan keadaan kakaknya itu.

__ADS_1


Namun yang tak terduga adalah, putri Andhini Andita lagi-lagi melihat kedekatan adiknya dengan sosok misterius itu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Baca terus ceritanya. semangatnya selalu ditunggu dari pembaca setia. Jadilah pembaca yang baik dengan meninggalkan jejaknya.


__ADS_2