
Jaya Satria masih bertarung dengan sepasang pendekar itu. Kali ini ia sangat serius memainkan jurus pedang pelebur Sukma. Apalagi dengan jurus cakar naga cakar petir yang ia satukan dengan hawa pedang pelebur Sukma.
"Jurus itu. Harusnya kita yang mendapatkan jurus itu kakang." Asinah Rembulan mengingat bagaimana saat itu ada sayembara yang melewati hutan ranting panjang yang berada di desa Relung Sempurna.
"Dia telah mencurinya dari kita nini. Dan dia juga yang telah mempermalukan kita Nini." Matanya menatap penuh kebencian ketika Jaya Satria yang memainkan jurus Cakar Naga Cakar Petir dengan sempurna.
"Bagaimana caranya kita mengatasi jurus itu kakang?." Asinah Rembulan sedikit meringis kesakitan karena angin disekitar mendadak berubah menjadi menyakitkan. Ada hawa petir yang merupakan pengaruh dari jurus itu.
"Sepertinya jurus itu memang agak sedikit berbeda. Jurus ini sangat kuat dari pemilik aslinya, si tua bangka tuak gila itu." Kendati Gulana merasakan tubuhnya mulai kaku dan terasa sakit.
Seakan aliran tenaga dalamnya terhenti, dan kacau dibolak-balik oleh pengaruh aliran petir itu. Ditambah tubuh mereka dicakar naga petir yang ganas.
"Kita harus pergi dari sini kakang. Aku tidak mau mati sia-sia karena jurus mengerikan itu." Asinah Rembulan sudah tidak kuat lagi. Apalagi tenaga dalamnya benar-benar terkuras karena pedang itu.
Hawa Kegelapan yang ada didalam tubuhnya seakan-akan tersedot perlahan-lahan oleh pedang pelebur sukma.
"Nini benar. Sebaiknya kita tinggalkan dulu tempat ini. Nanti kita lanjutkan pertarungan kita dengannya." Kendati Gulana juga sudah tidak tahan. Ia tidak mau mengantarkan nyawanya pada Jaya Satria, atau yang mereka kenal dengan nama Raden Cakara Casugraha.
Mereka berdua berusaha mengatur kembali hawa murni mereka. Mencoba membentengi diri mereka dengan tenaga dalam agar tidak terlalu kena dampak dari jurus yang dimainkan oleh Jaya Satria. Setelah merasa aman, mereka segera meninggalkan tempat. Melompat dengan menggunakan jurus peringan tubuh.
Sementara itu. Jaya Satria berhenti memainkan jurus pedang pelebur sukma. Ia kembali menyarungkan pedang itu ke warangkanya. Setelah itu menyimpan kembali pedang itu ke dalam tubuhnya.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Akhirnya mereka pergi juga." Jaya Satria merasa lega karena telah aman. Memang tujuannya bukan untuk membunuh kedua pendekar itu. Ia hanya memainkan jurusnya saja, tidak melepaskan jurus itu untuk mencelakai lawannya.
"Uhuk." Namun ia terbatuk dan memuntahkan darah karena masih merasakan sakit yang ia rasakan sebelumnya.
Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai.
"Uhuk." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga terbatuk dan memuntahkan darah bersamaan dengan Jaya Satria.
"Rayi prabu."
"Nanda prabu."
Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta, Ratu Dewi Anindyaswari, dan Ratu Gendhis Cendrawati terkejut melihat melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Astaghfirullah hal'azim, Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari semakin mencemaskan kondisi anaknya. Dengan nalurinya sebagai seorang ibu, ia mencoba menenangkan anaknya.
"Oh dewata yang agung. Nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati tidak sampai hati melihat kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
__ADS_1
"Tidak apa-apa yunda. Raka, ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengatur hawa murninya.
"Tapi nanda prabu. Lagi-lagi nanda prabu muntah darah nak." Ratu Dewi Anindyaswari sangat mengkhawatirkan anaknya.
"Tidak apa-apa ibunda. Sungguh anada sudah baikan. Begitu juga dengan jaya satria." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil berusaha meyakinkan ibundanya.
"Rayi prabu. Biarkan kami melanjutkan menyalurkan tenaga dalam kami padamu rayi." Putri Andhini Andita masih cemas.
"Benar rayi prabu. Keadaanmu masih sakit. Semoga dengan tenaga dalam yang kami berikan, keadaanmu dan jaya satria lebih baik Rayi." Raden Hadyan Hastanta juga khawatir.
"Tidak apa-apa yunda, raka. Simpan saja dulu tenaga dalam yunda, dan raka untuk sementara waktu."
"Tapi rayi-."
"Aku mohon bantuan pada Raka agar menyusul jaya satria ke perbatasan desa damai setia."
"Sandika rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta mengerti ke khawatiran adiknya pada jaya Satria. "Kalau begitu aku akan segera ke sana."
"Terima kasih raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa terbantu.
"Ibunda. Ananda mohon pamit. Doakan saja ananda secepatnya bertemu dengan jaya satria. Dan semoga saja ia tidak mengalami luka yang parah."
"Jika nanda telah bertemu dengan jaya satria, segeralah bawa Ia segera ke istana nak. Ibunda sangat mengkhawatirkannya." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha menahan perasaannya yang gelisah.
"Baiklah ibunda. Akan nanda usahakan. Nanda harap ibunda menjaga rayi prabu di istana."
"Terima kasih nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit lega.
"Ibunda, rayi andhini andita, rayi prabu. Sampurasun."
"Rampes." Balas mereka semua.
Raden Hadyan Hastanta segera pergi menuju Desa Damai Setia. Sementara mereka akan menjaga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana di Istana.
"Lalu apa yang harus aku lakukan rayi prabu?. Apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi sakit yang rayi prabu rasakan?." Putri Andhini Andita masih mencemaskan keadaan adiknya.
"Kalau begitu aku minta tolong pada yunda untuk menjemput syekh asmawan mulia di desa damai jati. Hanya syekh guru yang dapat mengobati luka dari jurus letusan merapi ditengah badai."
"Sandika rayi prabu." Putri Andhini Andita menghapus air matanya.
__ADS_1
"Terima kasih yunda."
"Sama-sama rayi prabu." Ia mencoba untuk menenangkan dirinya. "Bertahanlah rayi prabu. Aku akan segera kembali bersama bersama syekh asmawan mulia." Ucapnya.
"Semoga saja yunda." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ibunda. Ananda mohon tolong jaga rayi prabu sampai kami datang."
"Tentu saja saja putriku."
"Tentu saja nak. Tapi berhati-hatilah saat menuju desa itu."
"Baiklah ibunda. Rayi prabu. Sampurasun."
"Rampes."
Putri Andhini Andita juga pergi meninggalkan mereka. Ia menuju Desa Damai Jati untuk menemui Syekh Asmawan Mulia.
"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari duduk di samping putranya yang masih kesakitan.
"Sungguh nanda masih baik-baik saja ibunda." Ia tidak mau membuat ibundanya khawatir.
Apalagi ketika ibundanya membersihkan sisa darah yang menempel disudut mulutnya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali merasakan kasih sayang ibundanya. Disaat yang bersamaan ia merasa sedih karena telah membuat ibundanya cemas.
"Jaya Satria, cepatlah kembali. Aku berharap kau baik-baik saja." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang berkomunikasi dengan Jaya Satria.
Sementara itu Jaya Satria.
"Sandika gusti prabu. Hamba akan berusaha sampai di desa damai setia. Hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk sampai ke sana." Jaya Satria menjawabnya. "Hamba mohon gusti prabu juga bertahan karena kondisi hamba yang sekarang." Jaya Satria sekuat tenaga berusaha untuk menahan dirinya.
Akan berbahaya jika dirinya pingsan di hutan seperti ini. Apalagi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga akan pingsan karena pengaruh dari tubuhnya.
"Jangan sampai kita membuat ibunda semakin cemas dengan kondisi kita saat ini." Jaya Satria akan berusaha menahannya.
Tanpa sadar melalui tangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Perasaan itu sampai pada Ratu Dewi Anindyaswari.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana Menggenggam tangan ibundanya dengan lembut. Mencium kedua tangan ibunda dengan rasa haru.
Kasih sayang yang ia rasakan begitu dalam dari ibundanya. Sehingga tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya.