
...****...
"Ada apa ibunda ratu?. Apa yang ingin ibunda sampaikan pada nanda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, melihat Ratu Gendhis Cendrawati yang sedang gelisah.
"Mohon maaf nanda prabu. Ibunda hanya ingin menuntut keadilan, pada nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati berkata seperti itu?. Tapi mengapa?.
"Mohon ampun ibunda ratu. Mengapa ibunda berkata seperti itu?. Keadilan apa yang ibunda maksudkan?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa heran dengan apa yang ia dengar. Keadilan apa yang dinginkan oleh Ratu Gendhis Cendrawati?.
"Sebagai seorang raja, kepala keluarga istana. Ibunda tidak pernah melihat, nanda menjenguk raden hadyan hastanta." Ada perasaan sakit hati, yang ia tunjukkan pada sang prabu.
"Nanda sama sekali tidak peduli dengan keselamatan putraku. Jadi ibunda ingin menuntut tanggungjawab ananda, sebagai raja sekaligus kepala keluarga istana ini."
Ratu Gendhis Cendrawati telah mengatakannya dengan jelas, ia tidak pernah melihat prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kondisi anaknya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya pelan. Ia mengerti sekarang, mengapa ibundanya Ratu Gendhis Cendrawati terlihat marah.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bangkit dari duduknya, ia mendekati Ratu Gendhis Cendrawati, ia bersimpuh dihadapan ibundanya.
"Sungguh, maafkan nanda, ibunda ratu gendhis cendrawati. Jika nanda tidak memperhatikan raka hadyan hastanta."
Suara itu terdengar tulus, permintaan maaf seorang anak kepada ibunya. Ratu Gendhis Cendrawati dapat merasakannya. Merasakan perasaan tulus itu. Sama persis ketika mendiang suaminya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang meminta maaf kepadanya.
"Maafkan nanda, yang belum sempat mengunjungi raka hadyan hastanta. Rencananya nanda akan segera, menjenguk raka hadyan hastanta setelah selesai pertemuan. Maafkan nanda, ibunda ratu."
Ucapan tulus dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana rasanya begitu menyentuh hati ratu Gendhis Cendrawati, rasanya ia tidak tega memarahi putranya ini.
Ia tahu, kesibukan seorang raja. Bahkan sampai malam hari pun, seorang raja masih melihat laporan-laporan yang masuk ke istana, melalui menteri yang telah menyaring laporan mana saja yang pantas masuk ke ruang raja.
Tapi saat itu juga, Ratu Ardiningrum Bintari datang bersama kedua putranya.
"Rayi gendhis cendrawati. Jangan kau begitu saja mau memaafkan, apa yang dilakukan oleh nanda prabu asmalaraya arya ardhana."
Ratu Ardiningrum Bintari mendekati Ratu Gendhis Cendrawati, yang terlihat bingung. Apalagi yang harus ia perbuat?. Bukankah prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah mengatakan, bahwa ia akan segera menemui putranya?.
"Ibunda ratu ardiningrum bintari."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kedatangan ibundanya Ratu Ardiningrum Bintari, bersama kedua kakaknya. Ia segera memberi hormat kepada ibundanya.
"Apa maksud ibunda?. Nanda sudah mengatakan bahwa, nanda akan mengunjungi raka hadyan hastanta. Tapi kenapa ibunda berkata seperti itu?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungguh tidak mengerti. Ada masalah apa ibundanya Ratu Ardiningrum Bintari hingga berkata seperti itu?.
"Bukankah sudah jelas?. Kau tidak peduli dengan rayi hadyan hastanta. Tapi saat ibunda ratu gendhis cendrawati datang menemuimu, baru kau mengatakan ingin menjenguknya. Kau ini pandai sekali dalam berkata-kata rayi prabu."
Raden Ganendra Garjitha malah berkata seperti itu, menuduh yang tidak-tidak terhadap prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aastaghfirullah hal'azim, raka ganendra garjitha. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu!. Aku sungguh-sungguh ingin melakukannya."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungguh tidak mengerti, mengapa saudaranya ini malah membuat ia terkesan tidak peduli pada kakaknya Raden Hadyan Hastanta?.
"Sudahlah rayi prabu!. Kau tidak usah membela diri lagi. Akuilah perbuatanmu, jika kau masih menganggap dirimu sebagai raja, yang bertanggungjawab kepada keluargamu sendiri!."
Raden Gentala Giandra juga memojokkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk mengakui kesalahan dan kelalaiannya.
Di saat yang bersamaan, putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari masuk ke ruangan itu. Karena mereka tadi penasaran mengapa Ratu Ardiningrum Bintari dan kedua kakaknya menuju ruang pertemuan raja?.
Saat mereka masuk, mereka melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang dipojokkan oleh mereka.
"Ada apa ini rayi prabu?. Mengapa kau membuat ibundaku marah!."
putri Ambarsari bertanya kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana, tapi nada bertanyanya itu, sungguh tidak enak untuk didengar oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Maaf yunda. Aku tidak bermaksud membuat ibunda marah. Aku sudah menjelaskan bahwa, aku ingin mengunjungi raka hadyan hastanta, setelah selesai pertemuan. Akan tetapi, ibunda ratu ardiningrum bintari malah menuduhku yang bukan-bukan."
Sepertinya prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mejelaskan apa yang ia katakan tadi, mungkin kakak perempuannya itu mengerti.
Tapi...
"Bukankah, kau sudah menjenguk rakaku secara diam-diam, dan malah mengobatinya rayi prabu?."
__ADS_1
Entah refleks atau tidak sengaja, Putri Andhini Andita mengatakan apa yang pernah ia lihat. Tentu saja ucapannya membuat mereka semua terkejut, bahkan dirinya juga terkejut, dan segera menutup mulutnya.
"Apa maksudmu, putriku andhini andita."
Ratu Gendhis Cendrawati mendekati putrinya, dan berdiri di samping anaknya itu. Ia ingin mendengarkan penjelasan dari ucapan putrinya tadi, begitu juga dengan mereka semua.
"Katakanlah yunda. Dewata yang agung, telah menyaksikannya. Jika yunda berbohong, dewata agung akan murka kepada yunda, yang telah menjadi saksi apa yang yunda lihat."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terpaksa berkata seperti itu, ia tidak menyangka, kakaknya melihat apa yang ia lakukan?.
"Sepertinya aku harus berhati-hati bertindak. Apalagi jika bersama jaya satria. Aku takut lama-lama yunda andhini andita mengetahui semuanya."
Batin Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai mewaspadai, jika kakaknya itu memata-matai gerak-geriknya di istana ini.
Putri Andhini Andita yang mendengarkan, apa yang dikatakan adiknya, sedikit bergetar takut. Ia takut Dewata yang Agung, murka padanya dan memberikan kutukan kepadanya, seperti yang dikatakan oleh mendiang ayahandanya.
Jika kita terus hidup dalam kebohongan, Dewata Yang Agung akan mengutuknya, dan hidupnya akan dibalas dengan kebohongan pula.
"Katakanlah kebenarannya, putriku!."
Ratu Gendhis Cendrawati menunggu jawaban dari putrinya. Apakah benar yang dilakukan prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Dewata yang agung, aku telah keceplosan dalam berbicara." Batin putri Andhini Andita merasa gugup.
Matanya kini menatap mata adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mata itu sangat tulus, juga jujur. Apakah ia akan tega membiarkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana diperlakukan seperti itu, meskipun ia memang membenci adiknya?.
Bagaimanapun juga adiknya juga pernah mendengarkan, apa yang ia katakan. Apakah ia juga akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya?.
Saat ini ia tahu bahwa, mereka semua hanyalah ingin memojokkan adiknya, untuk bertanggungjawab sebagai seorang raja kepada keluarganya?. Bukankah ia yang menjadi saksi bahwa adiknya melakukannya tanpa diketahui siapapun?.
Bahkan sebagai raja yang sangat sibuk dengan tugasnya, ia secara diam-diam masih sempat mendatangi saudaranya, mengobatinya?.
Lalu dimana lagi letak salahnya?.
"Ya, aku melihat rayi prabu mengobati raka hadyan hastanta. Ketika raka masih terbaring lemah karena pengaruh racun, rayi prabu yang mengobatinya. Meracik kan ramuan obat , sebelum ia pergi meninggalkan kamar raka hadyan hastanta."
Putri Andhini Andita menjelaskan semua yang ia lihat, apa saja yang dilakukan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh putri Andhini Andita.
"Apakah benar yang kau katakan rayi?."
"Tidak raka!. Aku mengatakannya demi dewata agung, aku memang melihatnya."
Putri Andhini Andita meyakinkan kesaksiannya terhadap, apa yang dilakukan oleh adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana memang betul. Namun mereka masih ragu?.
"Katakan yang sebenarnya, putriku. Apakah kau bermaksud membelanya?." Bahkan Ratu Gendhis Cendrawati merasa ragu dengan ucapan putrinya.
"Benar ibunda. Ananda tidak berbohong sama sekali." putri Andhini Andita menatap mata ibundanya. Bahwa ia memang tidak berbohong, atau bermaksud membela adiknya. Tapi itulah kenyataan yang terjadi.
"Dua malam berturut-turut, rayi prabu mendatangi kamar raka hadyan hastanta. Larut malam ketika semuanya sudah tidur, namun aku masih terbangun. Ananda melihat rayi prabu yang hampir sempoyongan, menuju kamar raka hadyan hastanta. Dengan tenaga dalamnya ia menyalurkan hawa murninya untuk mengobati raka hadyan hastanta yang masih terkena racun. Ananda bahkan melihat rayi prabu meramu obat, meninggalkannya di meja itu, untuk paginya diminum oleh raka hadyan hastanta."
Putri Andhini Andita menjelaskan semuanya, tidak ada yang tertinggal, ataupun ditambah atau dikurang, semua ceritanya sesuai fakta yang ia lihat.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, jika memang saksi dari yunda andhini andita. Setidaknya aku selamat dari tuduhan mereka, yang mengatakan bahwa aku tidak bertanggungjawab sama sekali sebagai kepala keluarga istana." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa bersyukur.
Sedangkan mereka semua terdiam, setelah mendengarkan penjelasan dari Putri Andhini Andita.
Jadi seperti itu yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Lalu tuntutan apa yang mereka inginkan?.
"Jadi nanda prabu melakukannya diam-diam, setelah kami semua terlelap?." Ratu Gendhis Cendrawati yang bertanya.
"Benar ibunda. Nanda melakukan seperti yang dikatakan oleh yunda Andhini Andita." Jawabnya.
"Sungguh, aku tidak menyangka sama sekali. ketika ia telah mengerjakan semua pekerjaan istana, dan ia memang masih menyempatkan waktunya, untuk mengunjungi kamar putraku raden hadyan hastanta?. Bahkan ia mengabaikan rasa lelahnya untuk mengobati putraku?."
Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa bersalah, karena terburu-buru menyalahkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, yang jelas-jelas memang memperhatikan keluarga istana dengan caranya sendiri?.
"Tapi mengapa kau melakukannya diam-diam rayi prabu?. Apakah kau sebenarnya ingin berniat mencelakai rayi hadyan hastanta?. Tapi tidak jadi, karena rayi andhini adnita melihatmu?. Dan kau juga melihat rayi andhini adnita mengintipmu?." Begitu kejam tuduhan yang dikatakan oleh Raden Ganendra Garjitha. Benar-benar membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tersinggung.
"Astaghfirullah hal'azim, raka!. Jaga ucapan raka. Jika aku berniat untuk membunuh raka hadyan hastanta, untuk apa aku mengobatinya." Suara itu terdengar sangat keras, dan membentak Raden Ganendra Garjitha.
"Jujur saja rayi prabu. Tidak usah berusaha untuk menutupi kesalahanmu." Putri Ambarsari yang malah memojokkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk mengakui perbuatan yang sama sekali tidak ia lakukan?.
__ADS_1
"Benar,,, tidak usah kau tutupi kebohonganmu, dengan membuat alasan yang meyakinkan kami semua." Raden Gentala Giandra semakin memanasi suasana.
"Rayi prabu sepertinya terdesak, karena perkataan mereka." Dalam hati Putri Andhini Andita memperhatikan itu. Sangat jelas, bagaimana ketiga saudara itu berusaha mencari-cari kesalahan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Dalam suasana yang panas itu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan surah An-Nur ayat 11.
"
اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ."
Mereka semua terdiam saat mendengarkan suara merdu dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga membacakan arti dari ayat tersebut.
"Berburuk sangka, hanyalah akan menimbulkan noda dosa dihari kita. Lama-kelamaan, akan menjadi menghitam. Hati kita akan selalu dipenuhi oleh kedengkian. Atau itu yang ibunda, raka, juga yunda inginkan?." Suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdengar marah.
"Apa manfaat yang akan aku dapatkan, jika aku membunuh raka hadyan hastanta, jika tahta yang aku dapatkan sekarang, bisa membuat raka, bahkan kalian semua terusir dari istana ini. Seperti yang kalian lakukan padaku dikala itu." Sebenarnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak berniat marah, hanya saja ia tidak suka jika dirinya didesak, untuk mengakui hal yang sudah jelas tidak ia lakukan.
"Kau jangan coba-coba mengancam kami rayi. Ingat!. Suatu hari nanti, akan aku rebut, semua yang kau miliki, termasuk mahkota itu." Raden Ganendra Garjitha sangat geram. Tentunya ia ingat dengan kejadian itu.
"Kau akan membayar apa yang kau lakukan hari ini, cakara casugraha." Raden Gentala Giandra juga terlihat marah. Apalagi mendapatkan ancaman seperti itu.
"Aku juga akan merebut tahta itu darimu. Kau tunggu saja." Putri Andhini Andita juga marah?.
Setelah itu, mereka meninggalkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, kecuali Putri Andhini Andita yang merasa heran. Apakah ia akan berada dipihak adiknya Prabu Asmalaraya Arya, setelah apa yang ia lihat tadi?. Ia bisa menilai, mana yang baik, dan mana yang salah.
Selama ini, ia hanya terpengaruh oleh ucapan mereka, tanpa melihat fakta yang sesungguhnya.
"Oh dewata yang agung. Hamba berada dipihak mana?." Dalam hatinya mulai bimbang.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...****...
Disisi lain
Jaya Satria berusaha mencari keberadaan kawanan perompak, beberapa hari yang lalu telah menyerang Raden Hadyan Hastanta.
Ketika ia sampai di hutan di dekat desa Damai Selangit, ia dicegat oleh seorang laki-laki yang terlihat marah padanya.
"Jadi kau!. Sibedebah, yang telah menyandera anak buahku!."
Marah, dendam dan tidak suka tergambar jelas di wajah itu.
"Siapa kau? Datang, dan marah-marah padaku?."
"Aku ini ketua dari salah satu orang yang telah kau sandera." jawabnya dengan nada membentak.
"Oh, jadi kau ketuanya?." Jaya Satria hanya ingin memastikannya.
"Ya!. Aku adalah ketuanya!. Namaku Dharma Seta. Dan kau!. Telah berani membuat masalah denganku!. Menyandera anak buahku, itu artinya kau mencari mati denganku!."
ki Dharma Seta sangat jelas terlihat marah, ia marah karena merasa dipermalukan oleh orang misterius itu memiliki ilmu Kanuragan yang bisa menandinginya?.
"Astaghfirullah hal'azim paman. Bertaubatlah!. Sebelum ajal mendekat." Jaya Satria terkejut, jadi dia adalah ketua dari kelompok sengkar iblis?.
"Diam kau bedebah!. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku, setelah kau menyandera anak buahku!."
Ki Dharma Seta benar-benar murka, mendengarkan apa yang dikatakan Jaya Satria.
"Paman. Allah SWT maha pengasih, juga maha penyayang. Aku mohon dengarkan, apa yang akan aku katakan padamu. Jangan sampai paman menyesal, dengan apa yang paman lakukan selama ini."
Jaya Satria masih bersikap tenang, ucapannya masih santai. Tapi apakah Ki Dharma Seta mau menerima, apa yang dikatakan oleh Jaya Satria?.
Wadidaw, jadi penasaran nih kelanjutannya. Salam cinta buat pembaca, jangan lupa ya, tinggalkan jejaknya. Agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya. Like, Vote, Share ceritanya, n komentarnya.
oke pantun dulu, hehehe.
Makan sayur bayam dengan nasi hangat.
selamat malam, dan tetap semangat.
__ADS_1
Hehehe gak nyambung ya pantunnya, maaf ya pembaca tercinta.
Next halaman.