
...***...
Kita lupakan untuk sementara waktu perasaan Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang resah karena menerima kabar perjodohan dengan Putri Cahya Candrakanti. Saat ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari telah sampai di istana Kerajaan Mekar Jaya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana langsung menemui Prabu Rahwana Bimantara yang masih terbaring di tempat tidurnya. Keadaanya semakin lemah karena memikirkan kepergian putrinya. Sementara itu Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari menunggu di luar.
"Terima kasih karena nanda prabu telah datang jauh-jauh dari istana kerajaan suka damai. Maafkan aku yang tua ini jika telah merepotkan nanda prabu."
"Kakek prabu jangan berkata seperti itu. Nanda tidak merasa direpotkan. Nanda sangat senang bila bertemu dengan kakek prabu. Karena nanda bisa belajar banyak hal dari kakek prabu. Nanda sangat merindukan kakek prabu."
Prabu Rahwana Bimantara meneteskan air matanya, mendengarkan apa yang diucapkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku juga merindukan nanda prabu. Aku selalu ingin mendengarkan bacaan sholat dari nanda prabu yang sangat merdu."
"Kakek prabu jangan terlalu bersedih hati. Kakek prabu adalah orang yang kuat. Nanda yakin, kakek prabu mampu menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah SWT."
"Rasanya aku tidak sanggup lagi nanda prabu. Putri serta cucu yang aku banggakan malah berkhianat padaku. Malah mereka selalu menjelak-jelekkan tentang nanda prabu dihadapanku."
"Allah SWT selalu menguji umat-Nya dengan berbagai macam cara kakek prabu. Tentunya semua tergantung kesabaran yang ada di dalam diri seseorang. Apakah dirinya mampu memikul beban itu, atau justru tenggelam larut dalam kesedihan yang ia rasakan."
"Rasanya aku tidak sanggup lagi nanda prabu. Bukan hanya sekali saja mereka berkhianat kepadaku. Bahkan mereka mengancam akan menyerbu istana ini dengan kekuatan penuh nanda Prabu."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh keterlaluan sekali mereka hingga merencanakan kejahatan pada kakek prabu."
Seketika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingat apa yang dikatakan oleh Ayahandanya. Ia ingat mengapa dirinya yang dimintai oleh ayahandanya untuk menggantikan dirinya.
"Untuk saat ini kakek prabu beristirahatlah dengan baik. Biarkan keselamatan istana ini kami yang akan menanganinya kakek prabu. Insyaallah dengan izin Allah SWT. Kami berharap, kami bisa melindungi istana ini kakek prabu."
"Oh nanda prabu. Harus bagaimana caranya aku mengucapkan terima kasih padamu. Rasanya aku sangat malu padamu nanda prabu."
"Kakek prabu jangan berkata seperti itu. Nanda sangat sedih jika kakek prabu berkata seperti itu."
"Maafkan aku jika membuat nanda bersedih."
Bagaimana ia tidak sedih dengan keadaan yang menyedihkan yang ia terima dari anak dan cucunya.
__ADS_1
"Kalau begitu izinkan nanda untuk memeriksa keadaan kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai memeriksa keadaan Prabu Rahwana Bimantara.
"Nanda prabu. Sebentar lagi acara pengangkatan ratu istana akan diselenggarakan. Jika terjadi sesuatu padaku nanti, tolong jaga istana ini. Dan bimbinglah yundamu agar menjadi pemimpin yang baik seperti nanda."
"Kakek prabu jangan meminta hal yang mustahil nanda lakukan. Percayalah bahwa kakek prabu akan sembuh. Nanda akan berusaha untuk mengobati kakek prabu. Kakek prabu jangan berkata seakan kakek prabu akan pergi, sama seperti ayahanda prabu."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyalurkan tenaga dalamnya. Ia berusaha untuk mengobati Prabu Rahwana Bimantara. Air matanya menetes membasahi pipinya, saat ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Rahwana Bimantara.
Sementara itu di luar. Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta. Mereka juga sedang berbincang-bincang tentang banyak hal. Termasuk hubungan mereka yang sempat terputus ketika terjadinya perang pertama waktu itu.
"Maafkan saya rayi. Karena selama ini saya telah menghasut rayi untuk berbuat jahat pada saudara sendiri."
"Itu hanyalah masa lalu yunda. Masa kini kita benar-benar baikan. Yunda jangan sampai membebani pikiran hanya untuk memikirkan hal seperti itu. Sebagai orang yang terlahir dari ayah yang sama, tentunya kita memiliki masalah yang membuat kita harus bersebrangan pendapat yunda."
"Ya, rasanya saya sangat menyesal sekali rayi. Terutama pada ibunda ratu dewi, rayi agniasari, rayi cakara casugraha. Bahkan mereka masih memperlakukan saya dengan baik."
"Rayi prabu pernah berkata. Setiap orang memiliki salah yunda. Tapi manusia yang baik adalah orang yang memperbaiki dirinya ke arah yang lebih baik demi menjaga ketenangan hatinya, dengan cara tidak menabur kebencian, dendam, amarah ataupun keinginan buruk lainnya yunda."
"Ya. Itu benar rayi. Saya telah menyadarinya. Bagaimana sikap saya yang seharusnya menghormati seorang ibu harusnya saya lebih menghormati ibunda ratu dewi, perkataan saya pada ibunda ratu dewi sangat kurang ajar dan tidak pantas sama sekali."
Kembali ke masa itu.
Saat itu, Putri Ambarsari sedang berada di taman Istana bersama adiknya Putri Andhini Andita. Mereka sepertinya sedang melakukan hal yang tidak baik di sana.
"Oh ya ampun putriku ambarsari, andhini andita. Apa yang kalian lakukan nak?. Mengapa nanda merusak tanaman itu?."
"Tanamannya sangat jelek, sama seperti kau. Jelek hatinya, sehingga kau berani menggoda ayahandaku!."
"Benar!. Bunga ini kami hancur karena kami benci, terutama benci pada kau yang memiliki hati jelek!."
"Oh dewata yang agung. Mengapa nanda putri berdua berkata seperti itu nak?. Siapa yang mengajari nanda berdua berkata seperti itu?."
Hatinya sangat iba mendengarkan apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Apa salahnya sehingga anak-anak yang polos ini berkata hal yang menyakitkan padanya.
"Katakan saja jika memang itu kebenarannya. Tidak usah menutupi kebusukanmu sebagai wanita penggoda. Kau tidak akan pernah kami anggap sebagai ibunda kami. Karena kami tidak sudi memiliki ibunda jahat seperti kau!."
__ADS_1
Kembali ke masa ini.
"Perkataan saya pada hari itu telah menusuk hati ibunda. Sehingga ibunda menangis pada saat itu."
"Sudahlah yunda. ibunda dewi tidak pernah dendam pada kita. Meskipun kita sering menyakitinya, ataupun menyakiti anak-anaknya. Meskipun marah, namun ibunda dewi menasihati kita agar kita tidak membenci anak-anaknya. Akan tetapi justru kita yang malah tidak mau mendengarkan apa yang ibunda dewi katakan.
Kembali ke masa itu.
Raden Hadyan Hastanta sangat kesal, marah dan benci. Karena ia mendapatkan hukuman dari ayahandanya. Ketika kemarahannya membuncah, Ratu Dewi Anindyaswari datang menghampiri dirinya.
"Hah!. Kenapa malah aku yang disalahkan?. Jelas-jelas dia yang salah!."
"Nanda hadyan hastanta. Mengapa nanda marah seperti itu nak?. Tidak baik marah sambil membuat kerusakan seperti itu."
"Diam kau!. Aku tidak butuh nasihat dari kau!. Aku dihukum ayahanda prabu karena ulah anakmu yang kurang ajar itu!. Aku dibenci ayahanda prabu, sehingga aku dihukum."
"Nanda hadyan hastanta. Dengarkan ibunda nak. Dihukum itu bukan berarti dibenci, melainkan untuk memberi pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Aku tidak suka itu. Aku tidak terima, aku akan mengatakan pada ibunda, bahwa kau yang telah menghasut ayahandaku untuk menghukumku. Kau yang tidak terima anakmu berbuat nakal, tetapi aku yang kena imbasnya!."
"Oh dewata yang agung. Tidak seperti itu nak. Ibunda tidak pernah berpikiran seperti itu. Nanda harusnya menyadari dua hal ketika nanda dihukum. Kita dihukum bukan berati kita orang jahat, melainkan untuk memberikan peringatan, bahwa apa saja yang kita kerjakan akan menanggung resiko. Setelah itu, hukuman untuk membuat kita berpikir, tindakan yang akan kita lakukan itu menyakiti orang lain atau tidak. Nanda harus menyadari dua hal tersebut."
"Pokonya aku tidak terima!."
Kembali ke masa ini.
"Kata-kata yang kita ucapkan pada ibunda ratu dewi, tidak ada yang menyenangkan hatinya sedikitpun rayi."
"Ya, yunda benar. Dosa kita pada ibunda dewi sangat banyak."
Saat mereka sedang berbincang-bincang masa lalu, tiba-tiba salah satu prajurit yang menjaga gerbang masuk dengan tergesa-gesa.
"Ampun gusti putri. Ada banyak pendekar yang masuk ke istana ini. Kami tidak sanggup untuk menahan mereka."
"Apa?!."
__ADS_1
Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari sangat terkejut dengan laporan prajurit tersebut. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...