RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN JAYA SATRIA


__ADS_3

...***...


Jaya Satria sangat takut mendengarkan ancaman itu, hingga amarahnya keluar begitu saja dari tubuhnya. Ia tidak dapat lagi menahan amarah yang bergejolak itu.


"Kghah!." Dengan sekuat tenaga ia melepaskan tubuhnya dari kekangan jurus musuh.


"Kegkh!."


Bandana Sekata dan Betung Sekata terkejut karena jurus mereka dipatahkan oleh Jaya Satria. Bayangan itu juga menghilang?.


"Jangan bunuh hamba gusti prabu!." Jaya Satria mengamuk, dan pedang yang hampir keluar dari tubuhnya itu masuk kembali. Amarah berkobar dari tubuhnya membuat pedang itu terkunci dengan eratnya.


"Jaya satria?!."


Prabu Guntur Herdian, Ratu Cahya Bhanurasmi dan Putri Cahya Candrakanti terkejut melihat aura merah yang menyelimuti tubuh Jaya Satria.


"Pedang dengan pamor yang luar biasa?." Bandana Sekata memang melihatnya sekilas. "Tidak salah lagi itu adalah pedang pusaka milik kerajaan suka samai." Ia mengenali Pedang itu. "Pedang itu pemiliknya adalah seorang raja?! Pedang itu bernama pedang sukma naga pembelah bumi?!." Ia bahkan sampai melotot tidak percaya.


"Pedang sukma naga pembelah bumi kakang?." Betung Sekata juga tidak percaya mendengarnya.


"Ya, pedang itulah yang aku lihat dari dalam tubuhnya." Jawabnya.


"Diam kau!." Jaya Satria semakin emosi mendengarnya. "Aku tidak akan mengampuni kau!." Tunjuknya dengan kasar. "Karena telah berani mengusik pedang pusaka itu?! Akan aku bunuh kau!."


"Lakukan saja kalau kau bisa? Aku akan mengalahkan kau! Dan aku akan mengambil paksa pusaka itu." Ia tidak takut sama sekali dengan ancaman Jaya Satria.


Jaya Satria langsung menyerang kedua pendekar pemburu benda pusaka itu. Ia tidak akan mengampuni siapa saja yang berani melihat pedagang Sukma Naga Pembelah Bumi dan menariknya dengan paksa. Pedang itu memang digunakan untuk bertarung dengan musuh yang sangat kuat, tapi tidak akan ia biarkan ada seorangpun yang mengambil pedang yang merupakan simbolnya menjadi Raja.


"Mereka ini benar kurang ajar! Berani sekali mereka menyentuh pedang sukma naga pembelah bumi yang ada di dalam tubuhku." Dalam hati Jaya Satria sangat kesal, ia harus mengalahkan orang itu supaya rahasia yang ia simpan tidak sampai bocor mengenai identitas aslinya sebagai Jaya Satria.


Sementara itu, Prabu Guntur Herdian dan putrinya mengamati apa yang terjadi?. Mereka sempat mendengarkan pembicaraan itu dengan baik mengenai pedang sukma naga pembelah bumi.


"Jaya Satria? Sebenarnya dia siapa?." Prabu Guntur Herdian bertanya-tanya. "Sepertinya dia bukan orang biasa." Ia bahkan dapat melihat bagaimana kekuatan Jaya Satria yang sangat hebat dalam bertarung.


"Entahlah ayahanda." Putri Cahya Candrakanti juga bingung. "Tadi ananda mendengarkan ucapan orang itu yang mengatakan? Jaya satria memiliki pedang sukma naga pembelah bumi? Apakah ayahanda mengetahuinya?."


"Kalau tidak salah itu adalah salah satu pedang pusaka yang terkenal, dari turun temurun kerajaan suka damai." Prabu Guntur Herdian mengingat informasi itu. "Ya, pedang itu merupakan simbol utama dari seorang Raja yang memimpin kerajaan suka damai." Lanjutnya.


"Jadi jaya satria sebenarnya adalah seorang raja? Apakah memang seperti itu ayahanda?." Putri Cahya Candrakanti menebaknya.


"Ayahanda tidak tahu juga." Prabu Guntur Herdian kurang mengetahuinya. "Tapi pedang itu tercipta dari perasaan yang dimiliki oleh keturunan prabu bahuwirya jayantaka byakta, Raja pertama kerajaan suka damai." Setidaknya itu yang diketahui Prabu Guntur Herdian. "Namun tidak semua pedang itu sama, karena sesuai dengan perilaku keturunannya masing-masing."


"Kanda prabu." Ratu Cahya Bhanurasmi menghampiri suami dan anaknya.


"Dinda." Prabu Guntur Herdian bersyukur Ratu Cahya Bhanurasmu baik-baik saja.


Sedangkan Jaya Satria?.


"Kalian pikir semudah itu mengambil pedang ini? Heh! Jangan membuatku tertawa." Jaya Satria memainkan jurus angin penusuk sukma. "Akan aku bunuh kalian dengan jurus yang aku ciptakan sendiri."


Mereka terkejut karena jurus itu memiliki tekanan angin yang sangat kuat. Angin yang seakan-akan mengandung jarum yang sangat tajam menusuk kulit mereka, rasanya sangat perih dan menyakitkan.


"Kurang ajar!." Umpatnya dengan sangat kesal. "Kalau begitu akan aku gunakan pusaka perintis buana ini untuk mengalahkan kau!." Ia mengeluarkan keris itu dari dalam tubuhnya.


"Kakang! Gunakan saja tombak kelana jaya! Kita bunuh saja dia, setelah itu kita ambil senjata pusaka miliknya." Betung Sekata menyarankan senjata itu untuk mengalahkan musuhnya.


"Aku rasa kau benar." Bandana Sekata sangat setuju dengan itu.


"Kalau tidak salah? Aku juga memiliki satu panah dan satu pedang lain?." Dalam pikirannya yang dipenuhi oleh amarah yang memuncak, ia memikirkan cara mengalahkan dua orang itu. "Apakah aku gunakan itu saja untuk mengalahkan mereka berdua?." Jaya Satria sedang menimbang rencananya


Sementara itu di istana kerajaan Suka Damai.


Ratu Dewi Anindyaswari, Putri Andhini Andita, dan Putri Agniasari Ariani sangat terkejut ketika melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Putraku?!." Ratu Dewi Anindyaswari terkejut melihat kondisi anaknya. "Putraku nanda Prabu? Apa yang terjadi padamu nak?." Hatinya sangat sedih melihat kondisi anaknya.


"Raka? Apa yang terjadi pada rayi prabu? Mengapa ada hawa kemerahan ditubuh rayi prabu?." Putri Andhini Andita sangat cemas melihat itu.


"Kalau tidak salah? Hawa kemerahan itu adalah hawa yang muncul ketika rayi prabu marah?." Putri Agniasari Ariani masih ingat itu. "Apakah rayi Prabu sedang hilang kendali atas kemarahannya raka?." Perasaan gelisah itu membuat pikirannya tidak tenang mengenai adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ibunda, rayi?." Raden Hadyan Hastanta melihat dengan sangat jelas bagaimana kecemasan mereka. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada rayi Prabu? Aku tidak sengaja melihat rayi tadi kesakitan, rayi Prabu juga memintaku untuk menotoknya, aku juga belum mengetahui apa yang terjadi pada rayi Prabu." Ia juga cemas dengan kondisi adiknya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani sangat cemas mendengarnya.


"Putraku nanda cakara casugraha." Hati Ratu Dewi Anindyaswari bergetar sedih mendengarnya.


"Apakah terjadi sesuatu pada jaya satria?." Putri Andhini Andita berpikiran ke arah sana. "Itu karena mereka saling terhubung satu sama lain, Jika perkiraan dariku tidak salah? Aku yakin itu bisa jadi alasan kenapa rayi Prabu seperti ini."


"Ya, tidak salah lagi." Putri Agniasari Ariani sangat setuju dengan ucapan itu. "Pasti terjadi sesuatu pada jaya satria, sehingga rayi Prabu dalam kondisi seperti ini."


Mereka semua sangat cemas karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sama sekali tidak bergerak, hanya diam seperti patung?. Namun hawa merah menyelimuti tubuhnya terlihat sangat jelas, itulah yang membuat mereka semakin cemas.


"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat lagi membendung air matanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua putrinya. "Putraku." Ia peluk anaknya dengan erat, ia elus-elus punggungnya dengan lembut. "Tenangkan dirimu nak, ibunda di sini selalu bersama nanda."


"Ibunda?."


Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Hadyan Hastanta sangat tersentuh mendengarnya.


"Putraku cakara casugraha." Sambil menahan tangisnya Ratu Dewi Anindyaswari menyebut nama anaknya. "Nanda adalah putra kesayangan ibunda, pahlawan ibunda selamanya." Bisiknya dengan suara lembut. "Nanda adalah putra yang sangat ibunda cintai, apakah nanda bisa mendengarnya?."


"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meneteskan air matanya ketika mendengarkan suara ibundanya yang berkata seperti itu.


Seakan merespon, sang prabu dapat merasakan kasih sayang ibundanya yang sangat tulus. Ucapan ibundanya sangat menyentuh hatinya yang selama ini merindukan kasih sayang ibundanya selama 10 tahun tidak bisa bersama ibundanya karena hukuman buang. Perasaan sakit dan kerinduan itu sangat menyiksa batinnya.

__ADS_1


Sementara itu.


Jaya Satria mengeluarkan Panah Raja Baskara membuat mereka semua terkejut. Termasuk dua pendekar pemburu benda pusaka yang tidak menduga sama sekali jika Jaya Satria memiliki panah pusaka yang sangat kuat?.


"Bedebah!." Umpatnya semakin marah. "Bagaimana mungkin mau bisa memiliki panah itu? Bukankah itu panah yang sangat sulit untuk digunakan?." Dengan amarahnya ia hampir saja hilang kendali.


"Rupanya kau memang bukan orang biasa, aku yakin kau seorang pangeran? Atau bahkan seorang Raja? Walaupun usiamu masih muda?." Betung Sekata sangat yakin dengan itu.


"Heh!." Jaya Satria mendengus kesal. "Kalian tidak perlu mengetahuinya." Jaya Satria siap-siap menarik anak panah Raka Baskara. "Namun yang harus kalian ketahui adalah?! Kalian akan mati ditanganku dengan panah ini!." Jaya Satria menarik kuat busur itu hingga terlihat panah api yang menyala di tangannya. Panah itu bukan panah biasa, panah yang dapat membakar musuhnya sampai hangus seperti abu.


"Panah raja baskara? Panah raja matahari yang sangat mengerikan." Ya, Bandana Sekata sangat mengetahuinya. "Hanya sekali tarikan saja akan membunuh target orang yang diinginkan pemiliknya."


"Kakang, sepertinya kita salah memilih lawan kali ini." Betung Sekata terlihat ketakutan. "Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini kakang." Ada perasaan takut yang menghantui pikirannya.


"Jangan takut!." Bantahnya dengan cepat. "Adi bisa menggunakan cambuk sakti dewi untuk menghentikan panah itu." Hanya itu yang ia rasa dapat mengalahkan panah Raja Baskara.


"Ya, ya, ya, kakang benar, aku akan menggunakan cambuk itu." Betung Sekata mencoba mengeluarkan benda pusaka tersebut dari tubuhnya.


"Sepertinya jaya satria memiliki senjata yang sangat hebat ayahanda." Putri Cahya Candrakanti sangat kagum. "Apa yang akan kita lakukan ayahanda?."


"Kita lihat saja putriku, rasanya akan berbahaya jika kita terlibat dalam pertarungan itu." Itulah yang dirasakan Prabu Guntur Herdian.


"Ya, mereka semuanya bertarung dengan ganas, akan celaka jika terlibat dengan mereka." Ratu Cahya Bhanurasmi sangat setuju.


Memang sangat berbahaya jika terlibat dalam pertarungan mereka yang sangat ganas itu, bisa jadi mereka akan terkena dampak buruknya jika memaksa ikut bertarung.


Disisi lainnya.


Ratu Dewi Anindyaswari seakan berada di sebuah tempat yang sangat aneh, namun saat itu Ratu Dewi Anindyaswari melihat kedua anaknya yang sedang berdiri dalam keadaan kemarahan yang menyelimuti tubuh mereka. Ia mendekati kedua anaknya, menangis pilu menatap kedua anaknya.


"Putraku cakara casugraha, cakara haryatma." Hatinya sangat sakit melihat keadaan kedua anaknya.


"Ibunda." Keduanya menangis melihat Ratu Dewi Anindyaswari.


"Oh? Putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk keduanya. "Ibunda sangat menyayangi kalian, putra ibunda yang selalu ibunda banggakan."


"Ibunda? Maafkan kami ibunda, pasti kami membuat ibunda menangis lagi." Jaya Satria tidak dapat menahan tangisnya.


"Maafkan kami ibunda, maafkan kami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga menangis sedih.


Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan pelukannya, menatap kedua anaknya dengan penuh kelembutan. Ia elus kepala anaknya, setelah itu ia cium puncak kepala anaknya dengan sayang.


"Ibunda selalu menyayangi nanda sepenuh hati ibunda." Dengan senyuman yang lembut Ratu Dewi Anindyaswari berkata seperti itu. "Jika ibunda menangis? Itu adalah air mata kebahagiaan, karena nanda selalu ada untuk ibunda, nanda adalah kekuatan bagi ibunda untuk bertahan."


"Ibunda." Keduanya menangis terharu mendengar ucapan ibundanya.


Sementara itu di alam nyata.


Putri Andhini Andita, putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta juga menangis melihat itu. Ucapan Ratu Dewi Anindyaswari sangat menyentuh hati mereka. Perasaan haru setiap kata yang diungkapkan Ratu Dewi Anindyaswari menggambarkan bagaimana kerinduan yang dirasakan selama berpisah dengan anaknya. Perasaan bangga pada Raden Cakara Casugraha yang selama ini bertekad untuk membuatnya bahagia, tentu saja itu membuat Ratu Dewi Anindyaswari sangat bangga.


"Ya, yunda benar." Putri Agniasari Ariani dapat merasakan itu.


"Ya, ibunda pasti sangat rindu pada rayi cakara casugraha, hingga berkata seperti itu." Raden Hadyan Hastanta juga sangat tersentuh mendengarnya.


Kembali ke pertarungan.


Jaya Satria melepaskan anak panah ke arah dua pendekar pemburu benda pusaka. Namun saat anak panah itu hendak mengenai mereka?. Betung Sekata menghalangi anak panah itu dengan menggunakan Cambuk Sakti Dewi. Sebuah ledakan keras tercipta dari senjata itu, membuat mereka harus menjaga jarak jika tidak ingin terluka akibat serangan itu


"Sialan! Panah raja baskara memang tidak bisa diremehkan." Umpatnya dengan sangat kesalnya. "Aku benar-benar kewalahan menghadapinya."


"Benar kakang." Betung Sekata tampak kewalahan. "Pengaruh dari ledakannya saja membuat kulitku hampir terbakar? Apalagi kalau sampai terkena panahnya." Nafas mereka sudah ngos-ngosan karena kewalahan menghadapi serangan dari Jaya Satria.


Kembali ke alam bawah sadar Ratu Dewi Anindyaswari.


"Nanda boleh marah, karena sesungguhnya kemarahan itu memang selalu ada pada diri seseorang." Dengan hati-hati Ratu Dewi Anindyaswari berbicara pada kedua anaknya yang masih dikuasai oleh kemarahan. "Nanda boleh marah jika memang nanda merasa itu memang waktu yang tepat untuk marah.


Jaya Satria seakan dapat mendengarkan suara Ratu Dewi Anindyaswari. Ia seakan merasakan pelukan hangat dari ibundanya. "Ibunda." Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja, meskipun terhalang oleh topeng itu. Namun hatinya dapat merasakannya, seakan tersedot oleh ruang dan waktu.


Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyandar di pundak Ratu Dewi Anindyaswari, namun Jaya Satria menyandar di bahu kiri Ratu Dewi Anindyaswari sambil menghadap ke belakang, sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tepatnya di belakang Ratu Dewi Anindyaswari sambil menghadap ke depan. Keduanya saling bertolak belaka, sama seperti sifat yang mereka miliki?. Namun kasih sayangya pada sosok ibundanya Ratu Dewi Anindyaswari tetap sama.


"Wajar saja kemarahan itu muncul, namun ibunda percaya masih ada kebaikan yang tersimpan di dalam hati putra ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari mengusap kepala anaknya, dan tak lupa mencium puncak kepalanya dengan sayang. "Ibunda selalu melihat itu dimata nanda, ibunda akan selalu menyayangi nanda dengan segenap hati dan perasaan ibunda." Kembali ia mencium puncak kepala kedua anaknya.


"Ibunda." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat tersentuh dengan ucapan Ratu Dewi Anindyaswari.


"Nanda adalah belahan jiwa ibunda, ayahanda." Ratu Dewi Anindyaswari benar-benar mengatakannya. "Nanda adalah wujud cinta ibunda dan ayahanda, dengan hadirnya nanda? Kehidupan kami sangat bahagia." Ratu Dewi Anindyaswari merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. "Sungguh nanda adalah harta ibunda yang paling berharga, ibunda sangat menyayangi nanda dengan sepenuh hati ibunda."


Setelah itu ratu Dewi Anindyaswari membacakan Sholawat badar dengan penuh perasaan. Berharap kedua anaknya bisa sedikit lebih tenang.


"Ibunda."


"Ibunda."


Jaya Satria dan prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat mendengarkan suara itu. Rasanya sangat dekat, sehingga mereka menangis karena perasaan yang mereka miliki.


"Hawa kemarahan itu?."


Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta dan Putri Agniasari Ariani terkejut melihat hawa kemerahan yang menyelimuti tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana perlahan-lahan menghilang?. Begitu juga dengan Jaya Satria, ia dapat merasakan amarahnya mulai tenang, tidak seperti sebelumnya.


"Ibunda." Dalam hati Jaya Satria dapat merasakan kehangatan dekapan ibundanya yang menenangkan dirinya.


Sedangkan mereka terkejut melihat itu?. Hawa yang menyelimuti tubuh Jaya Satria tidak terlihat lagi, lenyap seketika dalam kehangatan. Hanyut dalam lantunan suara Ratu Dewi Anindyaswari yang merdu.


"Meskipun nanda marah? nanda jangan lupa bahwa Allah SWT tidak pernah marah pada hamba-Nya, dengan penuh kesabaran memberikan kesempatan kepada hamba-nya untuk memperbaiki dirinya." Suara Ratu Dewi Anindyaswari berbisik dihati Jaya Satria hingga membuat ia tersadar.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria menghela nafasnya. Ia mencoba mengatur hawa murninya. Setelah itu ia menyimpan kembali panah Baskara didalam tubuhnya.


Setelah itu ia alihkan pandangannya ke arah dua orang pendekar pemburu benda pusaka. Sorot matanya sangat tajam, seakan-akan hendak memakan mereka hidup-hidup.


"Sepertinya kemarahan jaya satria mulai mereda ayahanda."


"Ya, nanda benar, ia sudah mulai tenang dan tidak seganas tadi."


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, tadi itu sangat mengerikan untuk dilihat."


Mereka hampir tak bisa bergeming saking ngerinya melihat penampilan Jaya Satria yang diselimuti kemarahan yang luar biasa.


"Kalian yang suka mengumbar kesaktian di hadapanku? Bersikap sombong hanya karena berhasil mengambil senjata pusaka milik orang lain?." Jaya Satria menunjuk ke arah Bandana Sekata dan Betung Sekata.


"Kau tidak usah banyak bicara! Aku juga akan merebut pedang sakti itu darimu." Bandana Sekata sangat kesal.


"Pedang hanyalah senjata." Balasnya dengan sangat santainya. "Namun kekuatan sejati ada pada hati nurani yang bersih." Jaya Satria menyentuh dadanya, merasakan amarahnya yang mulai mereda. "Aku sudah membuktikan, bahwa kemarahan yang aku rasakan hanyalah membawa kerugian, dan aku ingatkan pada kalian."


"Kakang, tidak usah mendengarkan ucapan orang itu." Betung Sekata sangat kesal. "Sebaiknya kita akhiri pertarungan ini."


"Ya, kau benar adi, aku tidak suka dengan ucapannya yang seperti itu." Bandana Sekata juga kesal mendengarkan ceramah itu.


"Berhentilah kalian memburu harta benda pusaka yang tidak seharusnya menjadi hak kalian! Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong."


"Diam kau! Aku tidak butuh ocehanmu!." Bandana Sekata semakin marah. "Yang aku inginkan adalah pedang milikmu! Jika kau tidak menyerahkannya?! Akan aku habisi kau!."


"Ocehanmu itu tidak akan memberikan apapun pada kami! Jadi ku jangan berlagak untuk menceramahi kami!." Betung Sekata telah siap dengan senjata andalannya untuk menyerang musuhnya.


Mereka sangat marah, karena merasa waktu mereka diulur-ulur oleh Jaya Satria?. Apakah menceramahi orang lain adalah keahlian pemuda bertopeng itu?. Jaya Satria membacakan surat Al Luqman ayat delapan belas.


"Walaa tusho'ar qhoddaka lin-naasi walaa tamsyi fil Ardi marohaa, innallahalaa yuhibbu Kullu muqkhtaa Lin faqhuur." Jaya Satria membacakannya dengan suara yang lantang. "Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah Berjalan di bumi dengan angkuh! Sungguh! Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."


"Subhanallah, sungguh suara yang sangat merdu sekali."


"Benar ayahanda, ananda baru kali ini mendengarkan suara indah seperti itu."


"Luar biasa sekali pemuda itu."


Prabu Guntur Herdian, Putri Cahya Candrakanti dan Ratu Cahya Bhanurasmi merasa kagum mendengarkan suara Jaya Satria.


"Aku ingatkan pada kalian agar segera bertaubat!." Jaya Satria masih mencoba memberikan nasihat kepada mereka. "Hilangkan kesombongan yang kalian miliki! Hanya karena merasa ilmu Kanuragan kalian lebih hebat dari orang lain! Sehingga dengan seenaknya saja kalian ingin merampas benda milik orang lain?!."


"Bedebah! Kau jangan main-main dengan kami." Bandana Sekata semakin emosi mendengarnya.


"Kakang.! Kita serang saja orang itu! Aku sudah muak dengannya!."


"Ya, kau benar adi, ayo kita serang dia."


Kemarahan yang mereka rasakan semakin berkobar karena mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.


Sementara itu Jaya Satria mengatur hawa murninya. Ia juga membuat gerakan mengeluarkan pedang yang ia miliki, meskipun bukan pedang pusaka?. Jaya Satria juga mengayun pedang miliknya, hingga menimbulkan hawa ledakan keras ke arah kedua pendekar pemburu benda pusaka itu. Mereka berdua terkejut, dan terpaksa mundur.


"Kurang ajar! Pedang apa itu?."


"Aku baru melihatnya kakang."


Mereka tidak pernah melihat pedang itu, namun sepertinya pedang itu sangat berbahaya untuk manusia biasa.


"Apakah pedang itu pedang pusaka juga?."


"Heh!." Jaya Satria mendengus kesal. "Pedang ini juga termasuk pedang pusaka, pedang yang diberikan oleh seorang pendekar pembunuh bayaran kepadaku sebelum ajal menjemputnya." Ia mencium pedang itu, merasakan aromanya. "Pedang pelebur sukma, pedang serap jiwa kegelapan."


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut mendengar ucapan itu, mereka tidak menduga sama sekali jika pedang itu memang sangat berbahaya. Pedang pusaka yang menyimpan hawa kegelapan dari kebencian manusia.


"Pendekar pembunuh bayaran itu telah bersumpah! Bahwa pedang ini akan membunuh orang-orang yang bersikap sombong, mengumbar kesaktian, mereka yang suka mengambil hak orang lain."


"Diam kau! Tidak usah mengancam kami hanya dengan bualan kosongmu."


"Kakang! Kita memang harus segera membunuhnya."


Keduanya mengeluarkan jurus-jurus andalan mereka. Rasanya tidak sabar lagi mereka ingin membunuh orang bertopeng itu.


"Gusti Prabu, Gusti Ratu, Gusti Putri." Jaya Satria melihat ke arah keluarga Prabu Guntur Herdian. "Hamba mohon lebih menjauh dari sini, karena akan berbahaya jika berada di sini." Jaya Satria mengingatkan keluarga Prabu Guntur Herdian.


"Baiklah jaya satria, berhati-hatilah menghadapi mereka." Prabu Guntur Herdian sangat cemas.


"Berhati-hatilah jaya satria, kami akan membantumu jika terjadi sesuatu." Putri Cahya Candrakanti juga cemas.


Setelah itu mereka menjauh, mereka masuk ke depan istana sambil melihat apa yang akan dilakukan oleh Jaya Satria Pada kedua orang itu.


Jaya Satria memainkan jurus cakar naga cakar petir, yang kemudian ia alirkan kekuatannya ke dalamĀ  pedang pelebur sukma.


"Jurus cakar naga cakar petir? Jurus itu sangat berbahaya kakang."


"Jurus cakar naga cakar petir adalah jurus yang dimiliki oleh pendekar golongan hitam."


Keduanya sangat terkejut, jurus berbahaya itu?. Apakah mereka tidak salah dalam mengenali jurus itu?.


"Bagaimana bisa kau memiliki jurus cakar naga cakar petir? Bukankah jurus itu milik pendekar tuak gila dari hutan ranting panjang?."


Bagaimana dengan tanggapan Jaya Satria?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2