RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TIDAK PERCAYA?.


__ADS_3

...***...


Saat ini Jaya Satria, Raden Jatiya Dewa, Raden Antajaya Dewa dan beberapa pendekar menghadap ke Istana Kerajaan Buana Dewa. Saat itu Prabu Lingga Dewa masih marah, karena kedua anaknya datang terlalu lama.


"Jatiya dewa,  antajaya dewa!. Kenapa kalian lama sekali kembalinya?. Apakah kalian tidak bisa membujuk raja muda itu untuk memberikan keris kembar itu pada kalian?. Sehingga kalian kembali dengan tangan kosong?." Itu karena kedua anaknya tidak membawa keris kembar yang dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa. "Apakah kalian tidak mengetahui, begitu banyak korban yang berjatuhan karena roh jahat itu?!."


"Mohon ampun ayahanda prabu. Masalah roh jahat itu telah berhasil ditangani oleh Pendekar jaya satria. Jadi ayahanda prabu tidak perlu khawatir lagi."


"Benar ayahanda prabu. Masalah roh jahat sudah selesai. Dan Pendekar jaya satria yang telah menyelesaikannya ayahanda prabu."


Prabu Lingga Dewa dan yang hadir di sana, para penggawa istana terdiam. Karena mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa, dan Raden Antajaya Dewa. Tidak mungkin ada orang yang dapat mengalahkan roh jahat itu dengan mudah?.


"Siapa orang yang bernama jaya satria itu!. Katakan padaku siapa orangnya!."


"Beliau adalah pendekar jaya satria ayahanda." Raden Jatiya Dewa memperkenalkan Jaya Satria kepada mereka semua.


"Benarkah kau yang bernama jaya satria?." Prabu Lingga Dewa menatap seorang pemuda yang menggunakan topeng penutup wajah?.


"Hamba gusti prabu. Hamba bernama jaya satria." Ia memberi hormat pada Prabu Lingga Dewa.


Sedangkan Raden Jatiya Dewa merasa terharu, karena melihat Jaya Satria yang merendahkan diri dihadapan seorang raja, walaupun aslinya ia juga seorang raja?.


"Bagaimana kau bisa mengalahkan roh jahat itu?." Prabu Lingga Dewa sangat penasaran sekali. "Karena anakku jatiya dewa mengatakan. Hanya dengan menggunakan keris pusaka kembar, roh jahat itu dikalahkan." Lanjutnya. "Apakah kau memiliki keris kembar itu?. Karena keris kembar itu adalah miliki raja muda dari kerajaan suka damai." Ada keraguan dari apa yang ia ucapkan. Karena keraguannya akan kemampuan seseorang.


"Mohon ampun ayahanda prabu. Jaya satria, dia adalah-."


"Hamba memang hanyalah manusia biasa gusti prabu. Maaf jika hamba tidak meyakinkan gusti prabu untuk mengalahkan roh jahat itu." Jaya Satria menyela ucapan Raden Jatiya Dewa.


"Ya. Aku tidak yakin kau mampu mengalahkannya. Karena aku tidak melihat ada keistimewaan yang kau miliki."

__ADS_1


"Ayahanda prabu." Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Lingga Dewa.


"Ayahanda prabu. Kami semua menyaksikan bagaimana pertarungan itu terjadi. Jaya satria menggunakan keris pusaka kembar itu."


"Benar ayahanda prabu. Keris kembar itu hanya bisa digunakan oleh jaya satria. Mereka semua menjadi saksi atas apa yang telah terjadi."


Kembali setelah selesai menyegel sosok roh jahat itu.


Jaya Satria hendak mengambil Keris pusaka keris kembar naga penyegel sukma yang satunya lagi. Namun, tiba-tiba ia dihalangi oleh dua orang Pendekar yang tadinya menyaksikan pertarungan itu.


"Keris kembar itu menjadi milik kami. Kau tidak akan bisa mengambil lagi keris itu."


"Kau akan celaka jika kau melawan kami."


"Hei!. Apa yang kalian lakukan?." Raden Jatiya Dewa ingin sekali menghajar mereka, namun ditahan oleh Jaya Satria.


"Atas dasar apa, kalian ingin memiliki salah satu keris kembar itu?."


"Ya!. Jurus itu harusnya telah terkubur bersama dewa tuak di desa hutan ranting pohon panjang!. Tapi kenapa kau malah bisa menguasai jurus itu!."


"Jurus cakar naga cakar petir itu, telah lama aku kuasai. Aku sendiri yang dituntun oleh kakek dewa tuak, untuk menguasai jurus cakar naga cakar petir." Mereka semua mendengarkan penjelasan Jaya Satria. Mereka tidak percaya dengan ucapan itu.


"Kau jangan berbohong pada kami!. Sebab, kabar yang kami dengar. Tidak semudah itu mempelajari jurus cakar naga cakar petir itu!."


"Maaf, tapi kalian melihat sendiri bukan?. Bagaimana aku memainkan jurus cakar naga cakar petir itu tadi."


"Sombong!. Kau jangan sombong dulu!. Hanya karena kau memiliki jurus cakar naga cakar petir!."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Tidak pantas aku bersikap sombong. Aku hanyalah manusia biasa." Jaya Satria membacakan surat Al Luqman Ayat 18.

__ADS_1


^^^"وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّا سِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ^^^


Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."


Mereka semua tercengang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Tapi mereka berdua yang terlanjur benci, malah ingin menyerang Jaya Satria dengan menggunakan salah satu Keris pusaka Keris kembar naga penyegel sukma. Namun apa yang terjadi?.


Mereka semua menyaksikan, dua pendekar itu tersengat hawa petir dari jurus cakar naga cakar petir yang telah menyatu di dalam keris pusaka itu. Tubuh mereka kejang-kejang, dan hal yang mengerikan yang terjadi adalah pergelangan tangan kedua Pendekar itu putus. Mereka merasa ngeri melihat pemandangan itu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun." Jaya Satria segera mengambil Keris pusaka Keris kembar Naga Penyegel Sukma. Setelah itu, ia masukkan ke dalam tubuhnya dengan menggunakan tenaga dalamnya.


"Oh demi dewata agung. Aku untung saja aku tidak bernasib malang seperti itu." Raden Jatiya Dewa merinding membayangkan dirinya saat itu. Seandainya ia tidak ditolong Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mungkin saja ia kembali hanya namanya saja.


"Uhuk." Jaya Satria terbatuk, dan sedikit memuntahkan darah.


"Jaya satria." Raden Jatiya Dewa sangat khawatir dengan keadaan Jaya Satria. Ia memberikan kain kecil, untuk menghapus darah yang menempel di sudut bibir Jaya Satria.


"Tidak apa-apa raden. Ini hanyalah pengaruh dari jurus cakar naga cakar petir yang digabungkan ke keris pusaka. Masih butuh penyesuaian lagi, sehingga tidak melukai tubuhku." Setelah itu Jaya Satria mencoba mengatur hawa murninya. Agar tidak berantakan karena pengaruh dari aliran jurus cakar naga cakar petir. Itulah alasan mengapa Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana perlu latihan menyesuaikan diri dengan ketiga sukma naga yang berbeda kekuatan itu.


Kembali pada saat ini.


Mereka semua tidak percaya dengan cerita Raden Jatiya Dewa?.


"Mohon ampun gusti prabu. Memang itulah yang terjadi. Kami semua menyaksikan bagaimana salah keris kembar itu menolak untuk disentuh siapa saja."


"Tapi bagaimana mungkin, orang biasa seperti kau. Bisa menggunakan keris Kembar itu?. Bukankah keris itu milik seorang raja?. Bagaimana kau bisa memiliki keris kembar itu?. Rasanya itu sangat mustahil sekali."


"Ayahanda prabu. Sebenarnya-."


Bukan hanya Prabu Lingga Dewa saja yang penasaran, tapi mereka semua yang ada di sana juga penasaran akan siapa jati diri dibalik topeng itu.

__ADS_1


Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2