RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEPUTUSAN YANG BERAT


__ADS_3

...***...


Dengan terpaksa Raden Hadyan Hastanta mengikuti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, karena adiknya Putri Andhini Andita.


"Maafkan aku rayi prabu. Jika yang aku lakukan hanya karena, aku khawatir dengan keadaan adikku." Raden Hadyan Hastanta berkata yang sebenarnya. Saat ini ia menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana untuk mengatakannya.


"Tidak apa raka. Raka juga berhak untuk mempertahankannya. Tapi aku hanya berharap, semoga kita semua bisa berdamai lagi." Itulah harapan sang prabu saat ini.


"Terima kasih rayi prabu. Tapi aku rasa itu sangat sulit, karena sifat mereka yang tidak mau mendengarkan orang lain dalam berbicara." Sepertinya Raden Hadyan Hastanta mulai bisa membedakannya.


"Ya, raka benar. Seperti kata syekh guru. Tidak semua orang bisa menjadi pendengar, dan ada sebagian orang ingin didengar. Maka celakalah suatu kaum jika ia tidak mau mendengarkan sebuah berita. Namun dia hanya mengikuti hawa nafsunya hingga menimbulkan perang." Sang prabu sedikit memberi nasihat.


"Ya. Akibat dari itu, perang terjadi karena mereka merasa benar. Menginginkan tahta yang bukan menjadi hak mereka." Raden Hadyan Hastanta telah menyadari itu.


"Kita hanya berdoa kepada Allah SWT, semoga negeri ini bisa menghindari perang." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebenarnya tidak ingin perang itu terjadi, tapi apalah daya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana harus siap, jika memang ancaman itu sewaktu-waktu datang. Ia sudah menugaskan Jaya Satria untuk membimbing prajurit, untuk bersiap-siap di daerah perbatasan memasuki kerajaan Suka Damai. Dan bila mereka menyerang, bunyikan terompet agar prajurit istana dapat memberikan kode untuk prajurit lainnya, untuk mengungsikan para penduduk agar tidak menjadi korban perang.


Bisakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjaga perdamaian di negerinya?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu, Ratu Dewi Anindyaswari yang mendengar kabar itu.


"Putraku cakara casugraha akan melakukan perang dengan prabu rahwana bimantara?." Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putrinya.


"Rayi prabu terpaksa melakukan ini, karena kakek prabu rahwana bimantara, ingin merebut tahta kerajaan ini darinya. Juga ia yang menyatakan perang dengan rayi prabu." putri Andhini Andita mencoba menjelaskannya.


"Oh dewata yang agung. Kenapa ini bisa terjadi?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa cemas akan keselamatan anaknya.


"Karena itulah untuk sementara waktu. Ibunda mengungsi ke tempat nyi ayudiyah purwati. Agar ibunda bisa selamat dari perang nantinya." Putri Andhini Andita dimintai tolong adiknya menjelaskan keadaan sekarang pada ibundanya.


"Lalu bagaimana denganmu nak?." Raut wajah kecemasan itu sangat jelas dilihat oleh putri Andhini Andita. Wajah cemas seorang ibu pada anaknya.


"Ananda putri tidak apa-apa ibunda. Ananda telah berjanji pada rayi prabu, bahwa ananda akan membantunya ibunda." Hatinya merasa tersentuh dengan perhatian ibundanya.


"Tidak nak!. Tidak!. Nanda putri juga harus ikut dengan ibunda. Ibunda takut terjadi sesuatu padamu nantinya." Ratu Dewi Anindyaswari menangkup wajah putrinya. Air matanya mengalir membasahi pipinya. "Ibunda hanya tidak ingin ananda putri celaka." Lanjutnya lagi.


"Ibunda. Percayalah. Sungguh!. Ananda tidak apa-apa." Rasanya ia ingin menangis. Mengapa hatinya mendadak lemah, hanya karena perhatian kecil ini?.


"Sungguh!. Ananda putri tidak apa-apa ibunda." Ia meyakinkan ratu Dewi Anindyaswari. Ia melihat ke arah Ayudiyah Purwati.


"Saya mohon. Jagalah ibunda saya selama ia berada di tempatmu nyi. Saya tidak mau ibunda celaka." Itu tulus dari hatinya. Ia tidak bisa membohongi perasaanya saat ini.


"Sandika gusti putri. Hamba akan melindungi gusti ratu dengan segenap jiwa dan raga hamba. InsyaAllah." Ayudiyah Purwati memberi hormat pada putri Andhini Andita.


Tak lama kemudian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masuk ke kamar ibundanya. Mereka semua memperhatikannya.


"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari menghampirinya.


"Ibunda." Ia memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari.


"Rayi prabu?. Tapi pakaian berbeda." Dalam hatinya merasa aneh.


"Ah tidak. Apakah itu jaya satria yang menggunakan wajah rayi prabu?." Putri Andhini Andita menyadari pakaian yang dikenakan olehnya. "Tidak salah lagi. Itu adalah pakaian jaya satria." Dalam hatinya berkata seperti itu, ia memperhatikannya.


"Mohon maaf ibunda. Nanda terpaksa mengungsikan ibunda dari istana. Karena nanda tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada ibunda." Ucapnya dengan raut wajah sedih, dan sangat berat ia mengatakannya.


"Tidak apa-apa nak. Nanda sudah melakukan yang terbaik. Ibunda percaya itu." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba memahami tindakan anaknya jika melihat suasana yang akan terjadi.


"Nanda juga telah mengutuskan orang kepercayaan nanda, untuk menemui ibunda ratu gendhis cendrawati, agar tidak pulang ke istana ini untuk sementara waktu. Nanda takut saat ibunda ratu gendhis cendrawati sampai di sini, perang sedang berlangsung." Ia juga mengatakan bahwa ia telah memberi kabar pada ratu Gendhis Cendrawati.


"Terima kasih banyak. Karena rayi prabu memikirkan keselamatan ibunda ratu gendhis cendrawati." putri Andhini Andita merasa bersyukur akan hal itu, ia jadi sedikit lega.

__ADS_1


"Sama-sama yunda. Kita semua mengharapkan keselamatan untuk kedua ibunda ratu." Ia hanya tersenyum kecil, kemudian ia menatap lagi Ratu Dewi Anindyaswari.


"Syukurlah. Aku merasa tenang sekarang." Dalam hatinya ia merasa lega. "Nanti akan aku sampaikan ucapan terima kasihku pada rayi prabu." Ternyata adiknya juga memikirkan keselamatan ibundanya. Ia tadinya sangat khawatir akan keselamatan ibunda jika perang ini berlangsung.


"Kalau begitu segeralah berangkat ibunda. Maaf jika ananda tidak bisa mengiringi kepergian ibunda." Rasanya sangat menyesal, karena tidak bisa bersama ibundanya.


"Tidak apa-apa nak. Ibunda mengerti. Banyak persiapan yang akan nanda lakukan. Tapi ibunda hanya berdoa keselamatanmu nak." Ya. Ratu Dewi Anindyaswari mengerti situasinya. Ia juga tidak mau membebankan anaknya ketika perang terjadi.


"Terima kasih karena ibunda memahaminya." Ia berharap semuanya akan baik-baik saja. "Nanda akan selalu mendoakan keselamatan ibunda. Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul kembali."


"Tapi nanda prabu harus menepati janji pada ibunda. Bahwa nanda prabu akan menjadi saksi, ketika ibunda masuk agama islam. Setelah masalah ini selesai." Air mata itu telah berderai jatuh membasahi pipinya. padahal tinggal sedikit lagi. Namun situasi yang menimbulkan perang, membuatnya menjauh dari putranya.


"InsyaAllah ibunda. InsyaAllah, jika Allah masih melindungi nanda. Nanda akan menjadi saksinya, ibunda." Ia juga tidak bisa menahan perasaannya. Ia bersujud mendekap kaki ibundanya. Ia menangis sedih, karena hatinya terasa pilu.


Sementara Ayudiyah Purwati dan para dayang yang akan ikut bersama dengan ratu Dewi Anindyaswari terharu melihat perpisahan ibu dan anak.


"Semoga saja kita semuanya baik-baik saja ibunda." Ia mendekap ibundanya penuh kerinduan. Seakan ada perasaan tak tersampaikan yang selama ini ia tahan, membuatnya menangis pilu.


"Ya. Ibunda juga berdoa seperti itu nak." Berat sekali rasanya berpisah dengan anaknya. Namun apalah daya, semuanya terjadi tanpa mereka duga.


Hari itu, Ratu Dewi Anindyaswari meninggalkan istana atas saran anaknya, yang sangat mencemaskan keselamatan ibundanya. Sangat berat baginya untuk melepaskan kepergian sang bunda.


Saat mereka telah meninggalkan kaputren.


"Apakah begitu berat, bagi rayi prabu berpisah dari ibundanya?. Sehingga ia menyuruhmu, yang melepaskan kepergian ibunda ratu dewi anindyaswari?. Jaya satria." Putri Andhini Andita hanya ingin memastikannya.


"Ya, itu benar." Ia kembali mengenakan topengnya untuk menutupi air matanya, ia kembali menjadi Jaya Satria. Tapi perasaannya itu sangat nyata. Tidak dibuat-buat sedikitpun, karena ia memang berat melepaskan kepergian Ratu Dewi Anindyaswari.


"Memang berat melepaskan kepergian, orang yang kita cintai dalam kondisi perang." Ucap Putri Andhini Andita sambil melirik ke arah Jaya Satria.


"Tentu saja yunda, ah maaf, maksud hamba gusti putri." Ia keceplosan dalam berbicara. Karena ia terbawa suasana tadi, makanya ia memanggil Putri Andhini Andita dengan sebutan yunda. "Memang berat, karena sewaktu-waktu kita tidak tahu. Marabahaya apa yang akan menimpa kita semua." Ia merapikan penampilannya, menghilangkan rasa gugupnya karena memanggil Putri Andhini Andita dengan sebutan yunda.


"Setelah ini apa yang akan kau lakukan jaya satria?." Ia ingin tahu rencana berikutnya.


"Kalau begitu, aku minta izin rayi prabu. Untuk memintamu mengajariku berlatih ilmu Kanuragan. Aku tidak ingin menjadi beban saat perang nantinya." Itulah permintaannya.


"Hamba akan mengatakannya pada gusti prabu. Hamba yakin gusti prabu akan setuju." Ucap Jaya Satria. Karena ia tidak mau mengecewakan Putri Andhini Andita.


...***...


Di kerajaan Mekar Jaya.


Mereka sedang mengatur siasat perang. Mereka begitu berambisi untuk menguasai istana kerajaan Suka Damai, yang jelas-jelas sudah memiliki pewaris tahta yang sah. Namun hati nurani mereka tertutup untuk menerima kenyataan itu, hingga lahirlah perang akibat perkataan mereka.


"Ada beberapa titik kelemahan dari istana yang bisa kita serang. Yaitunya di dekat belakang istana yang kurang penjagaan. Tepian anak sungai yang dalam, kita menghujani istana dengan anak panah." Dengan perasan bangga Raden Ganendra Garjitha mengatakan dimana saja letak titik kelemahan istana. Dan dengan bangga pula mereka mendengarkan penjelasan itu.


"Kau memang hebat raka. Aku tidak pernah memperhatikan istana sedemikian terperinci nya titik-titik kelemahan itu." Putri Ambarsari merasa kagum.


"Baguslah cucuku. Dengan begitu kakek prabu bisa mengandalkan mu, untuk menjatuhkan anak ingusan kurang ajar itu." Raja Rahwana Bimantara merasakan kemenangan didepan matanya. Ia tersenyum lebar membayangkan jika ia berhasil merebut istana itu.


"Ayahanda prabu bisa mengandalkan mereka semua. Aku yakin dengan kehebatan anak-anakku, kita dapat menundukkan istana kerajaan suka damai." Ratu Ardiningrum Bintari juga bangga dengan anak-anaknya.


"Jika kita berhasil menduduki istana itu, maka orang yang akan aku penggal lehernya adalah prabu asmalaraya arya ardhana juga ibundanya." Kebencian itu lahir lagi dari hatinya, rasa tidak puas selama ini. Ratu Ardiningrum Bintari berkata, seakan-akan itu mudah ia lakukan. Tapi entah mengapa. Mereka semua malah tertawa mendengarnya, ibunda mereka memiliki ambisi yang sangat kuat ternyata.


"Tentu saja ibunda. Keinginan ibunda pasti akan kami wujudkan." Raden Ganendra Garjitha berjanji akan melakukannya.


"Benar ibunda. Aku setuju dengan raka. Ibunda tenang di istana kakek prabu, sementara kami akan menyerang mereka semua." Raden Gentala Giandra juga akan melakukannya.


"Ya. Aku juga bersumpah akan melakukannya untuk ibunda." Putri Ambarsari juga ingin melakukannya?.


Apakah siasat perang yang akan mereka gunakan?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


Di ruang pribadinya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan dirinya. Ia memang menyuruh Jaya Satria melepaskan kepergian ibundanya, karena ia tidak sanggup untuk melakukannya.


"Ibunda. Maafkan nanda yang tidak kuasa menahan kepergian ibunda. Tapi lebih sedih lagi, jika keselamatan ibunda terancam berada di istana ini." Ia berusaha untuk menguatkan hatinya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menutup matanya, mencari ketenangan dalam semedinya.


"Ayahanda. Ayahanda. Nanda mohon bimbingan ayahanda." Hatinya memanggil-manggil ayahandanya prabu Kawiswara Arya Ragnala.


Allah SWT telah mendengar rintihan hambanya, dengan mendatangkan prabu Kawiswara Arya Ragnala dihadapan putranya.


"Bukalah matamu, putraku cakara casugraha." Suara itu, suara yang sangat dikenali olehnya.


Saat ia membuka mata itu, ia melihat sosok yang sangat ia rindukan. Dan tanpa sadar, sukmanya langsung memeluk ayahandanya.


"Ayahanda." Begitu erat pelukannya. Karena ia melepaskan rasa rindu pada ayahandanya.


"Jangan bersedih nak. Jangan lah engkau larut dalam kesedihan." Sang prabu berusaha menguatkan hati anaknya.


"Perang memang tidak bisa dihindarkan. Namun nanda bisa menyiasatinya." Sang prabu memeluk anaknya. Ia mencoba menenangkan anaknya agar tidak bersedih.


"Tapi nanda sudah berusaha melindungi kerajaan ini dengan baik. Ayahanda bangga padamu, putraku." Ia mencium kepala anaknya. Perasaan rindu yang ia tuangkan pada putranya, yang selalu membantunya ketika ia masih hidup?.


"Restuilah nanda dalam perperangan ini ayahanda. Sungguh nanda tidak menginginkan perperangan ini terjadi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangis sedih, perang saudara yang tidak dapat ia cegah.


"Berdoalah kepada sang pencipta. Semoga keselamatan selalu dilimpahkan pada kerajaan ini." Setelah berkata seperti itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang dari sana.


Sementara itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membuka matanya, air matanya membasahi pipinya.


"Semoga saja nanda bisa melakukannya dengan baik, ayahanda." ia mencoba menguatkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihan.


Ketika ia larut dalam kesedihannya, mereka semua masuk ke ruang pribadinya.


"Sampurasun." Raden Hadyan Hastanta, Senopati Mandaka Sakuta, Putri Andhini Andita mengucap salam pada sang prabu.


"Rampes." Sang prabu berdiri, mendekati mereka.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria juga mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balanya.


Ia tidak menyangka akan melihat dimana masa Jaya Satria berkumpul dengan mereka?. Karena selama ini jaya Satria bersembunyi dibalik punggungnya.


"Terima kasih saya ucapkan sekali lagi, pada raja Hadyan Hastanta dan yunda andhini andita mau bergabung." Ia menghela nafasnya pelan.


"Sama-sama rayi prabu. Kami juga akan melakukan yang terbaik, untuk membela harga diri kerajaan suka damai." Raden Hadyan Hastanta masih ragu, namun penjelasan adiknya masuk akal.


"Mohon ampun gusti prabu." Senopati Mandaka Sakuta ingin membicarakan sesuatu pada rajanya. "Bagaimana tindakan selanjutnya gusti prabu. Bagaimana rencana perang ini?." Ya, masalah ini perlu dibahas secepatnya, agar ada persiapan yang matang.


"Kita membahasnya sambil duduk saja." Sang prabu menunjuk ke arah pojok ruangan itu. Ada tempat duduk, supaya mereka lebih nyaman saat membicarakan tentang persiapan perang "Silahkan duduk." lanjutnya.


"Terima kasih gusti prabu." Mereka semua duduk bersama untuk berdiskusi.


"Untuk sementara waktu, kita membahas rencana kecil saja dulu. Setelah itu baru kita meminta para sepuh, untuk memberikan pendapat tentang apa yang akan kita rencanakan." Sang prabu terlihat serius.


"Saya mohon yunda nanti bekerja sama dengan para sepuh, untuk menyusun rencana perang. Sementara raka hadyan hastanta juga sekaligus berlatih dengan para sepuh, untuk menjadi panglima perang. Sedangkan senopati mandaka sakuta, juga belajar bagaimana menyusun strategi dengan para sepuh, membimbing prajurit agar lebih berani dalam perperangan." Sang prabu menjelaskan kepada mereka.


"Dalam keadaan seperti ini. Kita yang masih muda, pasti meminta pengalaman perang yang banyak dari para sepuh. Jangan sampai kita gegabah dalam perang. Saya yakin, para sepuh bisa memberikan pendapat, atau bimbingan yang menguntungkan." Itulah saran sang prabu.


"Sandika gusti prabu." Mereka semua akan melakukan apa yang telah dititahkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Semoga saja mereka mampu melakukannya dengan baik saat perang terjadi.


Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2