
Di Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum lebar setelah mengetahui semua yang ia lihat melalui penglihatan Jaya Satria.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, itulah yang diharapkan." Batin Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Jaya Satria. Kerja bagus. Aku telah melihat Semuanya." Sang prabu tersenyum kecil saat berkomunikasi dengan Jaya Satria.
Sementara itu Jaya Satria yang sedang dalam perjalanan.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin gusti prabu. Semuanya berjalan lancar." Jaya Satria juga tersenyum kecil setelah mendapatkan hasil sesuai dengan harapan.
"Kalau begitu cepatlah kembali ke istana. Aku menunggu kedatanganmu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sangat dekat dengan Jaya Satria.
"Sandika gusti prabu. Hamba akan segera kembali." Jaya Satria menjawab ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan cepat.
Sepertinya hubungan batin mereka semakin dekat. Karena pada dasarnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria adalah satu raga. Karena itulah, apa yang dilihat oleh Jaya Satria, bisa dilihat oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Begitu juga sebaliknya. Seakan mereka berbagi penglihatan. Ups, sepertinya tidak bisa dijelaskan secara rinci disini mengapa mereka bisa seperti.
Temukan jawabannya dengan terus menyimak ceritanya.
Jaya Satria kembali meneruskan perjalanannya. Ia melewati hutan-hutan yang masih lebat. Namun siapa sangka belum berapa lama ia melangkah, tiba-tiba ada seseorang yang menyambar topengnya. Jaya Satria terkejut karena karena tidak bisa menahannya.
Jaya Satria melihat dua orang pendekar yang berdiri dihadapannya. Pendekar wanita itu memegang topengnya.
"Sudah aku duga. Kau adalah raden cakara casugraha." Ucap pendekar wanita itu dengan senyuman mengejek ke arah Jaya Satria.
"Apa yang kau lakukan dengan menyamar seperti itu. Aku dengar kau sudah menjadi raja dengan gelar asmalaraya arya ardhana." Pendekar satunya, laki-laki yang berewokan menatap sinis Jaya Satria.
Entah mengapa tiba-tiba, aura kemerahan menyelimuti tubuh Jaya Satria. Ia sangat marah pada kedua pendekar itu?.
"Beraninya. Kau menyentuh topeng pemberian ayahandaku!." Suara Jaya Satria tampak berbeda. Terdengar ganas dan menyeramkan.
__ADS_1
Apalagi ketika angin kemerahan yang keluar dari tubuhnya mempengaruhi udara sekitarnya. Hawa auman kemarahan itu menerpa tubuh kedua pendekar itu, hingga membuat mereka terkejut karena serangan hawa kemerahan itu. Membuat tubuh mereka terhempas beberapa langkah ke belakang.
"Ah." Pendekar wanita itu terkejut ketika topeng yang ia pegang tadi tiba-tiba tertarik kuat, terlepas dari tangannya. Siapa sangka malah terbang dengan cepat, ditangkap oleh Jaya Satria.
"Berani sekali kau menyentuh topeng pemberian ayahandaku." Kemarahan itu semakin besar. Menghasilkan hawa kemarahan yang menyelimuti tubuhnya.
"Lihatlah kakang. Tidak salah lagi, itu adalah hawa kemarahan yang pernah kita lihat pada waktu itu." Pendekar wanita yang bernama Asinah Rembulan.
"Benar nini. Kemarahan hawa merah itu yang dulunya hampir merenggut nyawa kita." Pendekar satunya bernama Kendati Gulana.
Mereka dulunya pernah bertarung dengan Jaya Satria. Ah lebih tepatnya Raden Cakara Casugraha di desa Relung Sempurna. Pada saat itu ada berita yang mengatakan jika ada yang berhasil melewati hutan di desa itu. Maka dia akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Namun siapa sangka malah bertarung dengan Raden Cakara Casugraha yang kebetulan berada di hutan itu.
Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita kebetulan ingin melihat adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun ia terkejut melihat hawa merah yang menyelimuti tubuh adiknya. Sedangkan mata adiknya terpejam sambil menahan emosi yang ia rasakan.
"Rayi prabu. Apa yang terjadi padamu?. Mengapa terlihat marah begitu?." Putri Andhini Andita sangat panik. Hingga ia memperhatikan bagaimana adiknya saat ini.
"Ibunda. Ya, aku harus memanggil ibunda ratu dewi anindyaswari." Putri Andhini Andita memutuskan untuk memanggil Ratu Dewi Anindyaswari. Semoga saja beliau dapat meredam kemarahan adiknya itu.
Putri Andhini Andita segera meninggalkan kamar adiknya, mencari keberadaan Ratu Dewi Anindyaswari.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang dikuasai oleh kemarahan. Ia mencoba berzikir di dalam hati. Semoga saja kemarahan yang dirasakan oleh Jaya Satria tidak terlalu berdampak pada tubuhnya.
Kembali ke Jaya Satria yang sedang dikuasai oleh kemarahan.
"Aku tidak akan mengampunimu. Kurang ajar sekali kau berani menyentuh topengku dengan tangan kotormu." Jaya Satria mengibas-ngibas topeng yang berhasil ia rebut. Setelah itu ia gunakan lagi topeng itu untuk menutupi wajahnya.
"Hanya karena topeng jelek itu kau marah?. Heh!. Bodoh sekali kau raden cakara casugraha." Asinah Rembulan merasa kesal.
__ADS_1
"Berani sekali kau mengatai topeng ini jelek." Kemarahannya semakin bertambah besar. Hingga aura kemerahan itu semakin terlihat jelas menyelimuti tubuhnya.
"Mudah sekali memancing amarahnya." Kendati Gulana terheran melihat kemarahan itu.
Tanpa banyak basa-basi lagi. Jaya Satria langsung menyerang kedua orang itu. Ia sangat marah, hingga tanpa banyak bicara ia menghajar kedua pendekar itu.
Pertarungan mereka cukup cepat, kuat, dan bertenaga. Menyerang atau diserang. Mengadu ilmu kadigjayaan, serta ilmu Kanuragan yang mereka miliki.
"Jaya Satria. Tenangkan dirimu. Jangan terlalu cepat terbawa amarah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha berkomunikasi dengan Jaya Satria.
"Maafkan hamba gusti prabu. Mereka sangat lancang menyentuh topeng pemberian ayahanda prabu dengan tangan kotor mereka. Hamba tidak akan pernah memaafkannya." Balas Jaya Satria dalam hati. Ia tidak terima topeng itu disentuh orang lain selain dirinya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana ataupun ibundanya Ratu Dewi Anindyaswari.
"Kau dan aku memiliki perasaan yang sama. Aku juga tidak terima jika topeng pemberian ayahanda prabu disentuh orang jahat seperti mereka. Tapi aku mohon reda amarahmu. Apakah kau ingin aku dicurigai oleh yunda andhini andita lagi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit memperingati Jaya Satria.
Jaya Satria yang sedang bertarung mencoba untuk mengatur hawa murninya. Ia melompat beberapa langkah dari kedua pendekar yang sedang mengincarnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria mencoba untuk menenangkan dirinya. Namun rasanya tidak bisa ia lakukan karena ia sudah terlanjur marah pada kedua pendekar itu.
"Jurus-jurus yang dimainkan oleh raden cakara casugraha masih berbahaya seperti dulu kakang. Kita harus berhati-hati menghadapinya." Asinah Rembulan sedikit kewalahan saat berhadapan dengan Jaya Satria.
"Nini benar. Kekuatan itu sama sekali tidak berubah. Pukulan angin diruang hampa yang ia miliki masih sama seperti dulu." Kendati Gulana benar-benar kerepotan menghadapi jurus yang memanfaat kekuatan angin.
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai. Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Andhini Andita masuk ke dalam bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Astaghfirullah hal'azim putraku." Ratu Dewi Anindyaswari terkejut melihat hawa merah yang menyelimuti tubuh anaknya. Anaknya dalam keadaan tidak sadarkan diri karena menahan amarah itu?. Namun, dalam keadaan duduk seperti ini, membuat hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih melihat kondisi anaknya yang seperti ini.
"Putraku. Apakah nanda prabu bisa mendengarkan ibunda nak?." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk tubuh anaknya. Ia berharap bisa menenangkan kemarahan anaknya.
"Nanda jaya satria. Apakah nanda bisa mendengarkan ibunda nak?." Dalam hatinya ia berusaha untuk berkomunikasi dengan Jaya Satria.
__ADS_1
Apakah berhasil?. Temukan Jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Terima kasih atas dukungannya ya. Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Salam cinta untuk pembaca tercinta.