RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TELUH JAHAT


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha saat ini sedang berada di ruang pribadi Raja. Mereka sedang membahas sesuatu dengan Putri Bestari Dhatu, mengenai hubungan batin mereka yang tidak bisa terhubung seperti dulu.


"Sungguh!. Kami telah mencobanya beberapa kali. Jika tidak menggunakan tenaga dalam, kami tidak bisa melakukannya lagi. Bahkan apa yang aku lihat sekarang tidak merasakan kehadiran gusti prabu lagi."


"Aku juga kadang bertanya, apakah aku dan raden cakara casugraha telah terpisah?."


"Tidak sepenuhnya terpisah. Itu karena mustika naga merah delima telah bersatu dengan batu nirwana dewa. Sehingga Rayi prabu, juga rayi cakara casugraha merasa terpisah. Namun sebenarnya tetap dekat."


"Itu artinya, kami tidak akan merasakan sakit yang sama lagi?. Apakah pikiran gusti prabu suatu hari nanti bisa berubah?."


"Bisa jadi seperti itu. Hanya dewata yang agung yang mengetahuinya."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


"Apakah itu akan berbahaya bagi kami?."


"Berbahaya atau tidaknya tergantung pada rayi prabu berdua. Tapi rasanya ada hal yang lebih menarik dari yang sebelumnya."


"Apa maksud yunda?. Hal unik apa?."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha sungguh tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan oleh Putri Bestari Dhatu.


"Jika rayi prabu berdua ingin bertarung dalam satu tubuh, itu bisa saja dilakukan. Jika raden cakara ingin bersembunyi di dalam tubuh gusti prabu, atau sebaliknya. Itu bisa dilakukan."


"Benarkah?."


"Benar rayi prabu. Jika rayi prabu berdua tidak percaya. Rayi prabu berdua bisa buktikan."


Tentu saja perasaan penasaran menyelimuti diri mereka. Apakah benar yang dikatakan oleh Putri Bestari Dhatu?. Tapi selama ini Putri Bestari Dhatu tidak pernah berbohong sama sekali pada mereka.


...***...


Masih di lingkungan Istana Kerajaan Suka Damai.


Di halaman Pendopo Istana. Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Rajaswa Pranawa. Sedangkan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara dan Prabu Nitisara Prabawa telah kembali ke istana masing-masing. Karena mereka tidak bisa meninggalkan istana terlalu lama.


"Raden bisa belajar banyak di istana ini mengenai agama islam."


"Benar raden. Belajar agama islam itu sangat menyenangkan. Aku yakin raden tidak akan bosan mempelajarinya."


"Rasanya saya tidak sabar lagi mempelajarinya."


"Sabarlah raden. Semuanya ada pada waktunya. Saya dulu agak membutuhkan waktu, untuk masuk Islam. Tapi saya yakin, raden bisa dalam waktu yang singkat mempelajarinya."


"Semoga saja saya bisa belajar dengan baik nimas."


"Karena kami telah belajar lebih banyak dari raden. Jika raden ingin bertanya banyak, mungkin kami bisa menjawabnya walaupun sedikit."

__ADS_1


"Mohon bimbingannya raden hadyan hastanta. Saya akan belajar dengan baik. Saya benar-benar ingin masuk agama islam."


"Kalau begitu belajarlah dengan cepat. Setelah itu kita sama-sama mengucap kalimat syahadat. Setelah itu kalian juga bisa menikah."


"Yunda. Jangan berkata seperti itu."


Putri Andhini Andita sangat malu dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Sedangkan Raden Hadyan Hastanta malah menertawakan keduanya. Karena sikap malu-malu keduanya ketika Putri Andhini Andita mengatakan kata menikah.


...***...


Sedangkan Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati, saat ini juga sedang belajar ilmu agama Islam. Namun keduanya masih memikirkan hubungan antara Putri Andhini Andita dengan Raden Cakara Casugraha.


"Tanpa kita sadari anak-anak kita telah besar rayi dewi. Rasanya aku terlalu terpaku pada masa kecil mereka."


"Yunda benar. Anak-anak kita telah tumbuh dewasa. Nanda hadyan hastanta telah menikah. Itu artinya ia telah berani bertanggung jawab. Selain itu, nanda putri andhini andita juga berani menyatakan perasaannya, meskipun pada saudaranya sendiri."


"Aku tidak menyangka, jika putriku malah jatuh cinta pada putramu rayi dewi. Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa."


"Aku juga tidak bisa berkata apa-apa yunda. Meskipun banyak cerita mengenai pernikahan satu darah. Tapi mereka berakhir dengan kematian."


"Kematian?. Apa maksud rayi dewi?."


"Itu karena mereka, tidak bisa menguasai diri mereka yunda. Tapi aku yakin, putra putri kita masih memiliki akal yang sehat. Sehingga mereka pada saat ini masih baik-baik saja yunda."


"Aku sangat khawatir sekali dengan hubungan keduanya. Aku harap putriku andhini andita mampu mengendalikan perasaannya yunda."


Namun, disaat yang bersamaan. Tiba-tiba saja Putri Agniasari merintih sakit. Kulitnya terasa panas, dan wajahnya seperti ditusuk benda tajam. Mereka semua panik melihat keadaan Putri Agniasari Ariani yang seperti itu.


"Kegh sakit, sakit sekali yunda."


"Rayi. Apa yang terjadi padamu rayi?."


"Nimas. Apa yang terjadi pada nimas."


"Sakit, saya merasakan sakit raden. Kulit saya terasa panas. Dan wajah saya seperti sedang ditusuk sesuatu."


"Kalau begitu aku akan memanggil rayi prabu. Kalian semua jaga rayi agniasari ariani.


"Baiklah raka, bawa segera rayi prabu juga yunda bestari dhatu."


Raden Hadyan Hastanta segera menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Putri Bestari Dhatu.


"Bertahanlah rayi. Sebentar lagi rayi prabu akan datang. Bertahanlah rayi."


"Sakit yunda. Rasanya sangat sakit sekali."


Rintihan kesakitan terus dirasakan oleh Putri Agniasari Ariani. Dan saat itulah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Raden Cakara Casugraha, dan Putri Bestari Dhatu datang.


"Rayi prabu. Cepat periksa keadaan rayi agniasari ariani."

__ADS_1


"Sabarlah yunda. Biar kami periksa keadaan yunda agniasari ariani."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha memeriksa keadaan Putri Agniasari Ariani. Keduanya sangat terkejut saat melihat penerawangan melalui mata batin mereka. Dan mereka semua sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Keduanya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Yunda agniasari ariani terkena teluh."


"Siapa yang telah meneluh rayiku."


"Nimas agniasari ariani kena teluh?."


"Rayi agniasari ariani diteluh?."


"Tenanglah yunda, raka. Kami akan berusaha mengobatinya."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha mencoba untuk mengobati Putri Agniasari Ariani. Dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an, keduanya mengusir hawa jahat yang menyakiti kakaknya.


" وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْٓ اِنَّكُمْ مُّتَّبَعُوْنَ."


Tiba-tiba keluar sosok wanita yang sedang mengerang sakit, karena tidak tahan dengan apa yang dibacakan oleh keduanya.


"Keghaaakh hentikan!. Hentikan!. Aku tidak tahan lagi!."


"Hei!. Bukankah kau adalah Wunitari yang berada di bukit duri?. Kenapa kau ada di sini?."


"Raden mengenalinya?."


"Tentu saja dia mengenaliku. Karena aku adalah kekasihnya."


"Kekasih?."


"Jangan dengarkan dia. Aku tidak pernah memiliki hubungan apa-apa dengannya. Dia saja yang tergila-gila padaku. Aku tidak menyukai wanita tukang teluh seperti dia."


"Hei!. Wanita tukang teluh. Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku akan mengampunimu, jika kau pergi dengan baik-baik. Tapi jika kau membantah, aku akan mengusirmu dengan paksa, karena kau telah mencoba menabur perang denganku. Kau telah meneluh yundaku." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat marah. Sehingga ia mengeluarkan pedang pelebur Sukma.


"Aku akan kembali lagi. Ingat itu!. Tidak akan aku biarkan siapapun mendapatkan raden rajaswa kecuali aku. Akan aku bunuh!. Siapa saja yang mencoba mendekati raden rajaswa."


Shak


Tanpa diduga Raden Cakara Casugraha yang menebas sebuah serangan ke arah wanita asing itu. Hingga melayang entah kemana.


"Berani sekali dia mengancam keselamatan yundaku." Dengan geramnya ia tadi mengambil pedang pelebur suka dari tangan Prabu Asmalaraya Arya.


"Rayi. Rayi tidak apa-apa?."


"Tidak apa-apa yunda."


Sepertinya akan ada masalah baru yang dihadapi oleh keluarga istana. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2