
...***...
Raden Raksa Wardhana hanya tersenyum kecil. Ia tidak menyangka akan diselamatkan oleh seorang pendekar pengembara wanita?. "Terima kasih karena telah bersedia mau membantu ku yang tidak berguna ini." Namun ada kesedihan yang ia rasakan setelah berkata seperti itu. Apakah tidak ada cara lain yang bisa ia hadapi saat ini?.
"Raden jangan menyerah. Kita berjuang untuk hidup." Putri Andhini Andita mencoba untuk menguatkan hati Raden Raksa Wardhana. "Hidup ini tidak selamanya lurus, dan tidak semuanya menyenangkan." Ia teringat akan hal yang sulit ia hindari saat itu. "Allah SWT tidak akan memberikan beban hidup pada umat nya yang mau berusaha. karena itulah, raden jangan menyerah, walaupun keadaan raden seperti ini. Hamba yakin, suatu hari nanti raden akan menemukan kebahagiaan yang raden inginkan." Putri Andhini Andita terus menyemangati Raden Raksa Wardhana.
"Apa yang kau katakan, itu sama persis dengan apa yang dikatakan oleh ibunda ratu. Bahwa hidup ini tidak selamanya lurus. Ada pada saatnya kita menderita, namun tidak selamanya kita menderita. Karena dewata agung sangat menyayangi hamba-Nya." Raden Raksa Wardhana tersenyum kecil. Ia tidak menyangka akan mendengarkan kata-kata itu dari seseorang.
"Lalu apa yang akan raden lakukan setelah ini?. Apakah raden akan menghadapi semuanya?." Putri Andhini Andita ingin mengetahui, bagaimana tanggapan dari Raden Raksa Wardhana yang saat ini sedang berpikir.
"Kehidupan di istana tidaklah enak, dan aku tidak suka sama sekali. Hanya karena aku anak selir raja." Hatinya kembali terasa sakit mengingat itu semua. "Banyak yang ingin menyingkirkan aku dari istana. Apalagi keadaanku yang sekarang. Sangat mudah bagi mereka untuk menyingkirkan aku." Raden Raksa Wardhana seperti kehilangan harapan untuk kembali. "Ada aturan yang sangat menyakitkan." Ia menghela nafasnya yang terasa sangat sesak. "Akan ada pertarungan penyingkiran yang akan diadakan satu purnama lagi. Jika aku masih belum bisa melihat, maka tamatlah riwayat ku. Bukan hanya penyingkiran dari istana saja. Mungkin aku akan terbunuh dalam pertarungan itu." Lanjutnya lagi. Rasanya ia tidak kuat menerima kenyataan itu.
"Raden jangan menyerah. Masih ada yang bisa raden lakukan." Putri Andhini Andita merasa sangat bersimpati dengan keadaan Raden Raksa Wardhana. Ia tidak menyangka, akan mendengarkan kisah sedih seperti itu.
"Apa maksudmu nimas putih?. Aku yang tidak bisa melihat ini, pasti akan mudah dikalahkan." Rasanya Raden Raksa Wardhana tidak memiliki harapan untuk menang, karena itulah ia hanya menunggu kekalahannya pada hari itu.
__ADS_1
"Ada. Masih ada yang bisa raden lakukan. Coba raden ingat lagi, bagaimana caranya raden bisa berjalan jauh?. Sementara raden tidak bisa melihat sama sekali?. Apakah karena diseret oleh para prajurit istana?. Apakah karena itu?. Hamba rasa tidak mungkin hanya karena itu saja bukan?." Putri Andhini Andita hampir saja menangis saat bertanya seperti itu.
Sementara itu Raden Raksa Wardhana tampak sedang berpikir, dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. "Aku memang berjalan dalam Kegelapan. Namun ketika aku melangkah, aku mencoba untuk membuka mata hatiku. Membayangkan, jalan mana yang baik yang harus aku langkah, supaya aku tidak tersandung ataupun jatuh." Raden Raksa Wardhana seperti memiliki setitik harapan.
"Ya, itu sangat benar sekali raden. Mata boleh buta. Namun mata hati jangan sampai ikut buta juga raden." Putri Andhini Andita menghapus air matanya, karena ia terharu dengan apa yang dikatakan Raden Raksa Wardhana yang sepertinya memiliki harapan untuk menguatkan dirinya. "Jika raden masih kurang, maka hamba akan menjadi mata untuk raden." Lanjutnya lagi. Perasaannya sangat kuat saat ini untuk membantu Raden Raksa Wardhana untuk keluar dari masalah yang sedang dihadapi saat ini.
"Terima kasih, karena nimas putih telah bersedia menjadi mataku." Senyuman menawan terpampang sangat jelas di wajahnya. Baru kali ini ia merasakan semangat untuk berjuang setelah sekian tahun. "Maafkan aku, jika aku akan merepotkan nimas putih nantinya." Raden Raksa Wardhana hanya merasa tidak enak saja.
"Raden tidak usah banyak berpikir. Kebaikan itu akan selalu ada, bagi orang-orang yang mau berjuang. Jadi raden jangan mudah menyerah." Putri Andhini Andita sangat senang, melihat senyuman Raden Raksa Wardhana saat ini.
...***...
Singkatnya, Jaya Satria dan Raden Hadyan Hastanta telah kembali ke kerajaan Suka Damai bersama keluarga besar istana Kerajaan Angin Selatan. Saat ini mereka sangat senang, saat melihat Putri Bestari Dhatu baik-baik saja. Dan mereka semakin bahagia, saat melihat cucu pertama mereka yang lahir dengan selamat.
"Maafkan saya ayahanda prabu, ibunda ratu, juga raka. Karena baru bisa menjemput. Saya masih khawatir dengan keadaan dinda bestari dhatu setelah melahirkan." Raden Hadyan Hastanta merasa sangat bersalah, karena itulah ia meminta maaf pada mereka semua.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Itu tindakan yang sangat tepat." Prabu Kawanda Labdagati memahami situasi buruk yang mungkin saja terjadi. "Tapi aku tidak akan mengampunimu, jika terjadi sesuatu pada putriku." Dengan nada bercanda, Prabu Kawanda Labdagati menyentil dahi Raden Hadyan Hastanta, membuat mereka semua tertawa geli.
"Ayahanda prabu. Kanda hadyan hastanta telah menjaga ananda juga putra ananda dengan baik. Jadi mohon ayahanda prabu jangan memarahi kanda hadyan hastanta." Putri Bestari Dhatu membela suaminya dengan sepenuh hatinya, namun membuat Prabu Kawanda Labdagati terkekeh kecil. Tapi malah mengadu pada istrinya, membuat mereka semakin tertawa cekikikan melihat tingkah Prabu Kawanda Labdagati.
"Lihatlah dinda. Putri kita telah dewasa. Ia lebih memilih membela suaminya dari pada aku ayahandanya." Dengan raut wajah yang lucu, Prabu Kawanda Labdagati malah berkata seperti itu, sehingga mengundang tawa mereka semua.
"Putri kita sudah besar kanda prabu. Jadi kanda prabu jangan merasa kecewa seperti itu." Ratu Gendari Cendramaya tersenyum kecil. Dan matanya menatap ke arah Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati. "Itu semua karena didikan dari ratu dewi anindyaswari, juga ratu gendhis cendrawati." Senyumannya begitu tulus mengatakan kata itu. "Terima kasih karena telah memberikan ajaran yang baik pada Putri kami." Ia sangat senang dengan perubahan sikap anaknya ke arah yang lebih baik.
Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati tersenyum ramah. Mereka hanya membantu anak gadis mereka, jadi tidak ada salahnya mereka memberikan ajaran yang baik bukan?.
"Sebagai seorang ibu, tentunya gusti ratu mengetahuinya sendiri. Semoga kita bisa terus menjalin hubungan yang baik." Ratu Dewi Anindyaswari hanya berharap seperti itu.
"Ya, semoga saja." Itulah harapan mereka dalam pertemuan ini. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1