
...***...
Jaya Satria telah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk mengalahkan mereka semua?. Siapa saja yang menyerangnya akan dia hajar!. Apalagi kemarahan yang menyelimuti dirinya. Ia tidak akan mengampuni siapa saja yang telah membunuh raden Raksa Wardhana, juga selir Ratna Wardhani. Hatinya sangat membara, ia sedang diburu oleh hawa kemarahan yang luar biasa.
"Kegh!." Suta Sena dan semua anak buahnya telah dilumpuhkan oleh Jaya Satria. Ia benar-benar seperti orang kesetanan menyerang mereka semua.
"Hentikan!." Tiba-tiba saja ada suara yang sangat keras menghentikan Jaya Satria untuk menyerang mereka semua yang masih berani ingin berhadapan dengannya?. "Orang asing, siapa kau beraninya menghajar mereka semua?!." Kemarahannya sangat luar biasa memuncak melihat kondisi bawahannya yang terluka parah?.
"Berhati-hatilah raden. Sepertinya dia orang yang sangat berbahaya." Bisik Prabu Bumi Jaya merasakan hawa yang tidak baik dari laki-laki yang mengenakan mahkota hitam aneh.
"Gusti prabu tenang saja. Hamba akan menghadapinya, jika dia berani melukai kita semua." Balas Jaya Satria melirik pada laki-laki berbadan tegap itu.
"Hei!. Aku bertanya padamu anak muda." Ia menunjuk ke arah Jaya Satria. Ada bentuk kemarahan dan rasa tidak suka yang ia tunjukkan. Apalagi matanya menatap semua bawahannya yang tergolek tidak berdaya sama sekali setelah dihajar Jaya Satria. "Siapa kau?!. Berani sekali kau berbuat keonaran di wilayah kekuasaan ku!." Suaranya terdengar tinggi, seakan-akan ia ingin menunjukkan siapa dirinya.
"Aku akan membunuh mereka semua. Karana nyawa harus dibayar dengan nyawa." Jaya Satria tidak takut sama sekali. "Mereka telah membunuh banyak nyawa, dan salah satunya adalah nyawa dari putra mahkota dari kerajaan restu agung." Hawa kemarahan itu semakin memuncak. "Mereka semua harus membayar nyawa yang telah mereka bunuh!. Termasuk kau!. Sebagai raja yang tidak pernah bersahabat dengan siapapun juga!." Jaya Satria sangat marah. Tangannya sampai bergetar menahan amarahnya.
Namun siapa sangka, Jaya Satria malah menerima sebuah serangan yang tidak terduga sama sekali. Ia terlempar agak jauh. Sungguh tenaga dalam yang sangat luar biasa menghantam dadanya.
__ADS_1
"Raden!." Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra sangat terkejut melihat serangan kuat itu. Tapi sayangnya, ketika mereka hendak membantu Jaya Satria, mereka juga malah mendapatkan serangan tidak terduga itu.
"Keghakh!." Keduanya juga terlempar, terguling di tanah. Sungguh serangan yang sangat kuat dan tidak bisa mereka tajam sama sekali.
"Ohokh!." Jaya Satria terbatuk setelah menerima serangan itu. Ia memuntahkan darah segar karena aliran tenaga dalamnya sedikit kacau setelah diserang kuat. Jaya Satria mencoba untuk mengatur tenaga dalamnya dengan baik, sehingga sakit yang ia rasakan agak berkurang. Setelah itu ia berjalan mendekati laki-laki yang telah menyerangnya tadi.
"Heh!. Boleh juga tenaga dalam yang kau miliki anak muda." Ia menatap remeh ke arah Jaya Satria yang masih diselimuti oleh hawa kemarahannya.
"Huuufh." Jaya Satria menarik nafasnya dengan pelan. "Tadi itu hanyalah pemanasan saja. Prabu canggra dharmantara." Jaya Satria saat ini sedang dikuasai oleh kemarahannya?. Ia sangat marah, apalagi matanya melihat ke arah Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra yang sedang terluka parah.
"Siapa kau sebenarnya anak muda?. Kau memiliki hawa yang sama dengan prabu guindara arya jiwatrisna." Ia teringat dengan seorang Raja dari kerajaan Suka Damai yang pernah berhadapan dengannya.
"Kurang ajar!." Ia sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar. "Aku tidak menyangka, jika yang aku hajar tadi adalah raja muda dari negeri tetangga?." Rasanya ia memang tidak percaya dengan semua ini.
"Kau tidak usah banyak bicara canggra dharmantara!. Mari kita tentukan nasib ini dengan pertarungan." Jaya Satria menyimpan panah Semara Naga. Ia mengeluarkan pedang pelebur Sukma, supaya ia bisa menyerap semua kegelapan yang ada pada Raja kejam itu. Dengan hawa kemarahan yang ia miliki sekarang, pedang itu akan mudah digunakan, karena pedang itu takluk akan hawa kemarahan Jaya Satria, dan ia hanya menyerap kegelapan dari musuh saja. Dengan kata lain ia akan akan walaupun ada kegelapan yang tersimpan dari kemarahannya. Namun tidak akan berpengaruh apapun padanya.
"Bukankah itu pedang pelebur Sukma?. Bagaimana mungkin kau memiliki pedang pelebur sukma yang selama ini aku cari?." Ia tidak menyangka akan melihat pedang jahat itu. Pedang yang katanya dapat menyerap kegelapan dalam diri seseorang.
__ADS_1
"Kau tidak perlu mengetahui dari mana aku mendapatkan pedang ini. Namun yang harus kau ketahui adalah, banyak nyawa yang tak berdosa di sini menjerit merintih kesakitan ingin keluar dari daerah sini." Dalam kemarahan yang ia rasakan, ia seakan-akan melihat Sukma orang-orang yang telah tewas di tempat ini dengan cara yang mengenaskan. Mereka semua seakan-akan menggambarkan apa yang terjadi di hari itu pada Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha. Hatinya sangat sesak, sangat sakit melihat itu semua.
"Kau juga tidak usah banyak bicara!. Walaupun kau memiliki pedang yang sangat bagus, tapi aku tidak akan takut sama sekali." Prabu Canggra Dharmantara marah dengan apa yang dikatakan Jaya Satria. Tanpa basa-basi lagi ia menyerang Jaya Satria. Hingga terjadi pertarungan yang sangat sengit diantara mereka berdua.
Sedangkan Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra sedang berusaha untuk mengobati diri mereka dengan mengatur hawa murni mereka. Tapi sepertinya serangan yang mereka terima tadi sangat kuat. Tenaga dalam yang mereka miliki seakan-akan terkuras habis oleh serangan tadi.
"Apa yang harus kita lakukan ayahanda prabu. Kegh!." Ia tidak bisa bangkit, rasanya tubuh sangat kaku dan berat.
"Kita harus segera memulihkan tenaga dalam kita. Supaya kita bisa membantunya." Prabu Bumi Jaya mencoba untuk mengatur hawa murninya dengan baik. Tapi tetap saja, tenaga dalamnya terasa sangat kacau setelah mendapatkan serang kuat itu.
Kembali pada Jaya Satria yang masih gentar mengayun pedang yang ada di tangan. Gerakan yang ia mainkan semakin cepat, dan sangat bertenaga. Sehingga Prabu Canggra Dharmantara merasa sangat jengkel karena Jaya Satria terus mengikuti kemana langkahnya pergi.
Cekh!.
Jaya Satria berhasil menggores lengan kanan Prabu Canggra Dharmantara dengan pedang pelebur sukma, hingga terdengar suara rintihan sakit dari mulutnya. Selain itu ada hawa kegelapan yang keluar dari tubuhnya saat ini. Membuatnya sangat terkejut, karena hanya goresan pedang itu akan memberikan dampak yang tidak baik pada dirinya.
"Kegh!." Ia tidak dapat menahan rasa sakit dari goresan itu.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Apakah mereka akan saling membunuh satu sama lain. Apakah benar Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha tidak lagi dapat menggunakan akal pikiran sehatnya saat ini?. Temukan jawabannya. Maaf tidak bisa up banyak episode, karena author lagi kerja lembur di sebuah kantor. Terima kasih atas dukungan yang pembaca tercinta berikan. Tanpa adanya reader setia, mungkin karya ini sudah lama ingin author hentikan. Semoga pembaca tercinta sehat-sehat selalu. Aamiin ya rabbal yang. Selamat beristirahat, jangan lupa jaga kesehatan supaya selalu semangat dalam menjalani aktivitas. Salam cinta untuk pembaca tercinta yang selalu menyemangati author yang tidak berwujud ini.
...***...